kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.
diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru
sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
...****************...
Sejak pengumuman pertunangan mereka, hubungan antara Evelyn Hills dan Arseno Andreas menjadi pusat perhatian.
Namun bukan hanya publik yang mulai percaya.
Orang-orang terdekat mereka juga mulai menyadari perubahan kecil yang terjadi.
Terutama...
Naomi dan Kosta.
Dua orang yang sudah lama bekerja dengan mereka mulai melihat sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang bahkan tidak disadari oleh Evelyn dan Arseno sendiri.
Pagi itu di Hills Corporation...
Evelyn sedang membaca laporan bisnis ketika Naomi masuk membawa kopi.
"Nona."
"Hm?"
Naomi meletakkan kopi di meja.
"Ada pesan dari Tuan Arseno."
Evelyn langsung mengangkat alis.
"Pesan?"
"Ya."
"Apa katanya?"
Naomi tersenyum kecil.
"Dia mengingatkan Nona untuk makan siang."
Evelyn langsung berhenti membaca.
"Dia?"
"Ya."
"Arseno?"
Naomi mengangguk.
Evelyn terlihat bingung.
"Sejak kapan dia peduli dengan jadwal makanku?"
Naomi menahan senyum.
"Mungkin sejak dia tahu Nona sering lupa makan kalau sedang bekerja."
Evelyn terdiam.
Karena memang benar.
Saat sedang fokus pada pekerjaan, ia sering lupa waktu.
Bahkan beberapa kali Naomi harus mengingatkannya untuk makan.
"Tidak biasanya dia melakukan itu."
Naomi menyandarkan tubuh di kursi.
"Nona."
"Apa?"
"Apakah Nona sadar?"
"Sadar apa?"
"Belakangan ini Anda sering membicarakan Tuan Arseno."
Evelyn langsung menatapnya.
"Aku membicarakan dia karena pekerjaan."
"Tentu."
Naomi mengangguk dengan wajah serius.
"Semua orang yang jatuh cinta juga biasanya berkata begitu."
Evelyn langsung meletakkan pena.
"Naomi."
"Ya?"
"Jangan mulai."
Naomi tertawa kecil.
Di sisi lain...
Di Andreas Corporation...
Kosta juga mengalami hal serupa.
Arseno sedang membaca laporan ketika Kosta masuk.
"Pak."
"Hm?"
"Jadwal makan siang Anda hari ini sudah saya kosongkan."
Arseno mengangguk.
"Bagus."
"Untuk makan bersama Nona Evelyn?"
Arseno berhenti membaca.
"Kau tahu dari mana?"
Kosta tersenyum.
"Karena saya yang mengatur jadwalnya."
Arseno diam.
Kosta melanjutkan.
"Pak."
"Apa?"
"Dulu Anda tidak pernah mengubah jadwal hanya untuk seseorang."
"Ini untuk menjaga hubungan publik."
"Benarkah?"
Arseno menatapnya tajam.
"Kosta."
"Ya, Pak."
"Kau mulai banyak bicara seperti Naomi."
Kosta langsung tertawa.
"Mungkin karena kami melihat hal yang sama."
Arseno kembali melihat dokumen.
Namun tanpa sadar...
Sudut bibirnya sedikit terangkat.
Siang hari...
Evelyn dan Arseno bertemu di restoran dekat kantor.
Seperti biasa, beberapa kamera sempat mengambil foto mereka.
Namun kali ini...
Mereka tidak merasa terganggu.
Karena mereka sudah mulai terbiasa.
Arseno duduk sambil membaca menu.
"Kau mau makan apa?"
Evelyn melihat daftar makanan.
"Sepertinya pasta."
"Lagi?"
Evelyn langsung menatapnya.
"Apa maksudmu?"
"Kau selalu memilih makanan Italia."
"Karena enak."
"Pilihanmu mudah ditebak."
Evelyn tersenyum.
"Setidaknya aku punya pilihan."
Arseno mengangkat alis.
"Maksudmu?"
"Kau selalu memesan steak."
"Itu makanan yang bagus."
"Itu makanan orang yang terlalu serius."
Arseno tersenyum tipis.
"Dan kau?"
"Aku?"
"Makananmu selalu terlihat seperti pesta kecil."
Evelyn tertawa.
"Setidaknya hidupku tidak membosankan."
Arseno menatapnya beberapa detik.
"Benar."
Evelyn sedikit terdiam.
Karena nada suara Arseno terdengar berbeda.
Lebih lembut.
Setelah makanan datang...
Mereka mulai makan sambil membahas pekerjaan.
Namun pembicaraan perlahan berubah menjadi hal pribadi.
"Aku baru tahu kau punya anjing."
Arseno berkata.
Evelyn tersenyum.
"Namanya Max."
"Seperti apa?"
"Berisik."
"Kedengarannya mirip pemiliknya."
Evelyn langsung melotot.
"Apakah kau baru saja menyebutku berisik?"
"Aku hanya mengatakan kemiripan."
"Kau semakin berani."
Arseno tertawa kecil.
Evelyn terdiam.
Itu pertama kalinya ia mendengar Arseno tertawa seperti itu.
Bukan senyum tipis penuh sindiran.
Tapi benar-benar tertawa.
Dan entah kenapa...
Pemandangan itu membuatnya merasa aneh.
Malam harinya...
Di mansion keluarga Hills...
Renata sedang berbicara dengan Antonio melalui telepon.
"Sepertinya rencana kita berhasil."
Antonio tersenyum.
"Mereka mulai nyaman."
"Ya."
"Tapi mereka masih menyangkal."
Renata tertawa kecil.
"Itu sifat anak muda."
"Mereka bisa mengelola perusahaan miliaran dolar."
"Tapi tidak bisa memahami perasaan sendiri."
Antonio ikut tertawa.
"Benar."
Beberapa hari kemudian...
Antonio dan Renata mulai membuat berbagai kesempatan agar Evelyn dan Arseno lebih sering bersama.
Mulai dari acara keluarga.
Pertemuan bisnis kecil.
Bahkan kegiatan sosial.
Namun mereka melakukannya secara alami.
Tidak terlihat seperti sebuah rencana.
Suatu malam...
Evelyn dan Arseno menghadiri acara gala amal.
Seperti biasa, mereka menjadi pusat perhatian.
Seorang wartawan bertanya,
"Pak Arseno, Nona Evelyn, bagaimana rasanya menjadi pasangan yang sama-sama sukses?"
Arseno tersenyum.
"Kami saling mendukung."
Evelyn menambahkan,
"Dan saling mengingatkan."
Wartawan tersenyum.
"Siapa yang lebih keras kepala?"
Tanpa berpikir...
Keduanya menjawab bersamaan.
"Dia."
Mereka saling melihat.
Lalu tertawa.
Para wartawan langsung mengambil foto.
Momen itu terlihat sangat alami.
Setelah acara selesai...
Mereka berjalan menuju mobil.
Angin malam bertiup pelan.
Evelyn tiba-tiba berkata,
"Arseno."
"Hm?"
"Menurutmu..."
"Apakah kita terlalu terbiasa dengan sandiwara ini?"
Arseno berhenti berjalan.
Pertanyaan itu membuatnya diam.
"Apa maksudmu?"
Evelyn melihat ke depan.
"Entahlah."
"Awalnya semuanya terasa aneh."
"Tapi sekarang..."
Ia tersenyum kecil.
"Semuanya terasa biasa."
Arseno juga terdiam.
Karena ia merasakan hal yang sama.
Awalnya Evelyn hanya seseorang yang merepotkan.
Wanita yang menendangnya di parkiran.
Wanita yang selalu membantah perkataannya.
Namun sekarang...
Ia menjadi seseorang yang ia cari ketika ingin berbicara.
Seseorang yang membuat hari-harinya tidak hanya berisi pekerjaan.
Arseno akhirnya berkata,
"Mungkin karena kita sudah bekerja sama cukup lama."
Evelyn mengangguk.
"Mungkin."
Namun keduanya tahu...
Jawaban itu tidak sepenuhnya benar.
Dari kejauhan...
Antonio dan Renata yang melihat mereka tersenyum kecil.
"Mereka sudah mulai."
Renata mengangguk.
"Tapi mereka belum sadar."
Antonio tersenyum.
"Kadang cinta memang seperti bisnis."
Renata tertawa.
"Bisnis?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena membutuhkan waktu, kesabaran, dan strategi."
Renata menggeleng sambil tersenyum.
"Kau benar-benar tidak bisa berhenti berpikir seperti pebisnis."
Sementara itu...
Evelyn dan Arseno masih berdiri bersama.
Tidak sebagai dua CEO.
Tidak sebagai pasangan palsu.
Tetapi perlahan...
Sebagai dua orang yang mulai menemukan kenyamanan satu sama lain.
Dan yang paling berbahaya...
Mereka mulai lupa bahwa semua ini awalnya hanyalah sebuah sandiwara.
...****************...