Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
langkah canggung
Setelah Jaya pergi, anak-anak memutuskan untuk membeli makanan ringan dan berbagai kebutuhan untuk beberapa hari ke depan.
Di Perjalanan
"Ayo, absen dulu. Kalian pengin makan apa?" tanya Owen sambil tetap fokus mengemudikan mobil.
"Gue apa aja lah, Bang. Lagi nggak pengen apa-apa," jawab Rafa santai.
"Lily pengin stroberi, Kak."
"Wafa pengin burger."
"Ell pengin es krim sama pizza, Kak."
"Oke, berarti kita beli bahan makanan buat di rumah dulu ya," ujar Owen.
Sesampainya di supermarket, Lily berjalan mengikuti Owen dari belakang, "Stroberinya beli di sini atau di toko buah aja, Kak?" tanyanya.
"Di sini aja nggak apa-apa. Sana pilih yang bagus."
"Siap!"
Lily pun mengajak Ell memilih stroberi yang tampak paling segar. Bocah itu terlihat begitu antusias, sesekali menunjuk buah yang menurutnya paling merah dan besar.
Setelah selesai berbelanja, mereka mampir ke restoran cepat saji untuk membeli burger, pizza, dan es krim yang akan dibawa pulang.
Wafa dan Lily mendapat tugas memesan makanan. Beberapa menit kemudian, keduanya kembali dengan membawa pesanan. Lily berjalan sambil memegang segelas es krim stroberi di tangannya.
Sementara itu, Wafa menyerahkan kantong berisi makanan kepada Owen. Baru saja kantong itu berpindah tangan, Ell langsung mengintip ke dalamnya.
"Ell maunya es krim rasa cokelat, Kak!"
"Gimana sih, tadi Lo bilang rasa vanila," gerutu Wafa kesal.
"Iya tadi adek memang bilang maunya vanila," Lily ikut membela Wafa.
"Enggak! Ell nggak mau. Ell maunya rasa cokelat. Kalian harus beliin yang baru buat Ell," rengek Ell sambil mengembuskan pipinya.
"Udahlah, Dek. Makan aja yang ada. Temen Abang udah nunggu di rumah ini," ucap Rafa.
"Tapi..."
"Ell mau rasa stroberi nggak? Nih, punya Kak Lily."
Lily menyodorkan es krim miliknya. Meski sudah sempat ia makan beberapa suap, Ell tetap menerimanya dengan wajah berbinar.
"Makasih, Kak Lily."
Melihat tingkah adik-adiknya, Owen hanya mengembuskan napas panjang sambil memijat pelipisnya.
"Kita pulang, ya?" tanyanya memastikan.
"Iya," jawab mereka serempak.
Owen pun menyalakan mesin mobil dan kembali melajukan kendaraan menuju rumah.
Sesampainya di rumah, ternyata Javin sudah menunggu di garasi. Mereka semua turun dari mobil.
"Gila, gue udah nunggu di sini satu jam. Sampai dikira mau maling rumah Lo," gerutu Javin.
Tatapannya beberapa kali mengarah ke Lily. Namun, Lily memilih tidak menggubrisnya. Ia langsung berjalan masuk ke dalam rumah sambil menggandeng tangan Ell.
"Ya maaf bro, tadi Ell sempat rewel, jadi makannya lama," ujar Rafa sambil merangkul pundak sahabatnya.
Mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama.
Tak lama kemudian, mereka menikmati makanan yang baru dibeli. Meski suasananya ramai, entah mengapa udara di ruang makan terasa sedikit canggung sejak Javin ikut bergabung.
Lily buru-buru menghabiskan makanannya. Setelah selesai, ia berpamitan dan segera naik ke kamar.
Di Kamar Lily
Lily merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil menonton video-video lucu di ponselnya. Sesekali suara tawanya memenuhi kamar yang semula sunyi.
Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka begitu saja tanpa ketukan.
"Lily!"
Suara Wafa membuat Lily sedikit terkejut. Ia segera mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Gue ada PR, nih. Ajarin, dong," tanpa menunggu jawaban, Wafa langsung naik ke atas kasur Lily dan duduk bersila.
"PR pelajaran apa?"
Belum sempat Wafa menjawab, Ell ikut masuk ke kamar.
"Ily..." panggil Ell dengan sebutan sayangnya untuk Lily. "Ell juga ada PR."
"Loh, Bang Wafa juga di sini? Abang juga ada PR?" Ell ikut naik ke atas kasur hingga kasur itu terasa semakin sempit.
"Bang Wafa, geseran dong," rengek Ell sambil berusaha mencari tempat. Benar saja, kasur berukuran single bed itu tidak cukup luas untuk menampung mereka bertiga.
"Kalau gue geser, nanti gue yang jatuh," sahut Wafa pasrah.
"Udah, udah. Jangan bertengkar. Kita pindah tempat aja. Kalian maunya belajar di mana?" tanya Lily.
"Di ruang kerja Papi aja gimana, Kak? Di sana kan luas," usul Ell.
"Ide bagus, ayo ke sana," timpal Wafa.
Mereka bertiga pun berjalan menuruni tangga menuju ruang kerja Jaya. Saat melewati ruang tamu, Rafa dan Javin masih asyik menonton televisi.
"Kalian mau ke mana? Wafa juga kenapa bawa-bawa buku?" tanya Rafa penasaran.
"Kita mau ngerjain PR di ruang kerja Papi, Bang. Iya, kan, Bang Wafa?" jawab Ell.
Wafa mengangguk pelan.
"Hah? Seorang Wafa mau belajar? Apa dunia ini udah mau kiamat?" celetuk Rafa dengan nada dramatis.
"Kalau ngomong jangan aneh-aneh."
Owen yang baru saja keluar dari dapur langsung menjitak kepala Rafa pelan. "Kan bagus kalau dia mau belajar. Sebentar lagi Wafa juga udah mau kelas tiga."
"Tuh, dengerin, Bang. Harusnya lo nyemangatin gue, bukan malah ngeledek begini," gerutu Wafa.
"Iya, iya, semangat ya, adik-adik Abang belajarnya," ucap Rafa sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Ngomong-ngomong," sela Owen, "nanti jam tujuh Kakak mau ke supermarket. Tadi lupa beli susu. Siapa yang mau ikut?"
"Ell ikut, Kak!" jawab Ell cepat.
"Lily juga pengen ikut, Kak. Lily jadi pengen makan es krim di tempat langganan deh."
"Seru tuh. Ayo pergi rame-rame," sahut Rafa antusias.
"Ayo, tapi naik motor aja. Kayaknya bakal lebih seru," Wafa menoleh ke arah Ell, "Ell, lo sama gue, ya."
Ell mengangguk semangat.
"Wafa, tapi kamu kan belum punya SIM. Kita naik mobil aja," jelas Owen.
"Udahlah, Bang. Nggak apa-apa, aman kok. Mumpung nggak ada Papi juga," ujar Rafa santai.
Wafa yang berdiri di sampingnya ikut memasang wajah memohon. Owen mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menyerah.
"Ya udah. Kalau gitu Lily sama Rafa, ya."
"Enggak deh. Gue takut dimarahin dia lagi. Gue sama lo aja, Bang. Sekalian ngawasin Wafa dari belakang. Takut tiba-tiba dia freestyle lagi," ucap Rafa sambil melirik Lily yang masih memasang wajah datar.
"Kalau gitu... Lily sama Javin, dong. Kamu mau nggak, Dek?" tanya Owen hati-hati.
"Enggak, Lily nggak mau Kak, Lily sama Wafa aja, biar Ell yang sama dia."
"No, no, Kak. Ell nggak mau. Lagian Ell belum kenal sama dia," tolak Ell polos.
"Lily juga nggak mau," gumam Lily pelan.
Owen mengusap tengkuknya yang terasa gatal. "Kalau kakak bisa naik motor, Lily pasti sama kakak. Tapi kan Lily juga tahu kalau kakak nggak bisa naik motor."
Suasana mendadak menjadi canggung. Sejak kejadian beberapa waktu lalu, Lily memang masih menjaga jarak dengan Javin.
"Lily... masih marah ya sama Kakak?" tanya Javin akhirnya memberanikan diri. "Kakak minta maaf. Kakak janji nggak bakal iseng lagi."
Lily hanya terdiam. Tatapannya menunduk ke lantai tanpa memberikan jawaban.
"Nggak usah pasang wajah takut gitu, Ly. Yang harusnya takut itu Bang Javin. Baru ketemu orang baru aja udah main ci—"
"Wafa!" Suara Owen langsung memotong ucapan Wafa.
Ruangan seketika hening. Lily dan Owen menatap tajam ke arah Wafa. Wafa langsung menutup mulutnya sendiri.
"Aduh... gue keceplosan."
Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara. Lily menarik napas pelan, lalu mengangkat wajahnya.
"Ya udah... Lily sama Kak Javin."
Ucapan itu terdengar pelan, seolah keluar karena terpaksa.
Javin menoleh cepat ke arah Lily. Ada sedikit rasa lega yang muncul di wajahnya, meski ia tahu kepercayaan Lily belum sepenuhnya kembali.
"Ayo, jadi ngerjain PR nggak?" tanya Lily dengan nada sedikit kesal.
"Jadi, jadi," jawab Wafa cepat.
Mereka bertiga pun berjalan menuju ruang kerja Jaya untuk mengerjakan tugas sekolah. Suasana yang semula ramai berubah menjadi tenang. Sesekali hanya terdengar suara Lily yang menjelaskan soal, sementara Wafa dan Ell sibuk menulis di buku masing-masing.
Sekitar satu jam kemudian, tugas mereka akhirnya selesai.
Mereka kembali ke ruang keluarga. Rafa, Owen, dan Javin ternyata masih betah duduk di depan televisi.
"Ayo, berangkat!" ajak Wafa penuh semangat.
"Kalian udah selesai?" tanya Rafa memastikan.
"Ya iyalah. Masa gue ngajak berangkat kalau belum selesai?" balas Wafa dengan nada sarkastis.
"Berani juga lu ngomong begitu sama gue. Gue injek juga lu," balas Rafa kesal.
"Rafa, udah," tegur Owen sambil menahan tawa. "Kalau gitu kalian ganti baju dulu sana."
"Oke, Kak!" jawab Ell.
Ketiganya pun bergegas menuju kamar masing-masing untuk berganti pakaian.
Lima menit kemudian, Ell sudah menuruni tangga dengan pakaian santainya. Lily juga telah menunggu di ruang tamu. Hanya Wafa yang belum juga terlihat.
"Wafa mana, Dek?" tanya Owen.
"Biasa, Kak. Masih milih celana," jawab Ell sambil memutar bola matanya.
Owen menghela napas panjang.
"Bener-bener deh itu bocah. Milih celana aja bisa lima menit sendiri."
Tanpa aba-aba, Owen langsung berteriak.
"WAFA! BURUAAAN!!"
Suara itu menggema ke seluruh penjuru rumah.
"Buset, Bang, keras banget suara lo," celetuk Javin sambil mengusap telinganya.
"Udah biasa, Vin. Suara dia mah lebih keras daripada halilintar," ledek Rafa.
Belum sempat Owen membalas ledekan itu, suara langkah kaki terdengar dari lantai atas.
"Ayo, berangkat."
Wafa muncul sambil menuruni anak tangga dengan santai.
Namun, begitu melihat penampilannya, mata Lily dan Owen langsung membelalak.
"WAFA!!"
Teriakan mereka terdengar hampir bersamaan. Wafa menghentikan langkahnya dan mengernyit bingung.
"Kenapa?"
"Naikin celana kamu!" bentak Lily sambil melotot.
"Naikin, atau Kakak lepas sekalian di tengah jalan," ancam Owen.
Wafa mendengus kesal.
"Orang vintage kayak kalian mana ngerti. Ini namanya fashion. Dasar tua, nggak ngerti tren."
"Tua kepala lo!" balas Owen spontan.
Rafa dan Javin langsung tertawa melihat pertengkaran kakak beradik itu.
"Udah, udah. Jangan ribut terus. Ayo berangkat, nanti malah kemaleman," ujar Javin mencoba menengahi.
Mereka pun akhirnya keluar rumah menuju halaman depan.
Di area parkir, motor-motor sudah berjajar rapi.
"Nih, pakai helmnya."
Javin menyodorkan helm berwarna biru muda kepada Lily. Lily sempat ragu. Tatapannya bergantian antara helm itu dan wajah Javin. Setelah beberapa detik, ia akhirnya menerima helm tersebut.
"Makasih"
Javin hanya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. Tak lama kemudian, mereka pun berangkat.
Motor Javin berada di barisan paling depan. Di belakangnya menyusul Wafa, sedangkan Rafa berada di posisi paling belakang.
Selama beberapa menit perjalanan, suasana terasa sangat sunyi. Tak ada satu pun dari Lily maupun Javin yang berinisiatif membuka percakapan. Hanya suara angin malam dan deru mesin motor yang menemani perjalanan mereka.
Akhirnya, Javin memberanikan diri memecah keheningan.
"Rencana kuliah di mana, Dek?" tanyanya sambil sesekali melirik pantulan Lily melalui kaca spion.
"Sama kayak kakak-kakak," jawab Lily singkat.
"Oh ya? Mau ambil jurusan apa?"
"Arsitektur, Kak"
Javin tampak sedikit terkejut.
"Loh, sama dong sama Kakak"
Lily ikut terkejut.
"Hah? Aku kira Kak Javin satu jurusan sama Bang Rafa"
Javin terkekeh pelan. "Kalau boleh nanya lagi," lanjut Javin, "kenapa kamu nggak ambil fotografi aja? Kakak sering lihat hasil foto kamu dari hp Rafa. Bagus-bagus."
Lily tersenyum kecil, tetapi senyum itu hanya bertahan sesaat.
"Sebenernya Lily juga pengin. Tapi kata Papi sayang kalau kemampuan ngambar Lily nggak dimanfaatin. Jadi Papi nyaranin ambil Arsitektur."
"Berarti... nanti hobi fotografi tetap lanjut?"
"Iya, buat hobi aja."
Javin mengangguk pelan. "Bagus juga. Siapa tahu nanti kamu jadi arsitek yang jago motret."
Ucapan itu membuat Lily terkekeh kecil untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat.
Di belakang mereka, Wafa memperhatikan motor Javin dengan tatapan curiga.
"Ell, lihat deh. Mereka berdua ngobrolin apa, ya?" gumamnya.
Ell ikut mengintip ke arah motor di depan.
"Jangan-jangan Bang Javin gangguin Kak Lily lagi. Majuin, Bang!"
Ell menepuk pundak Wafa pelan. Wafa langsung memutar gas sedikit lebih dalam, memperkecil jarak dengan motor Javin.
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat