Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Akhirnya Agung memilih untuk mengantarkan surat itu sendiri. Berangkat sepulang kerja agar sampai di rumahnya pada pagi buta.
Perjalanan panjang di tempuh Agung, di dalam perjalanan dia membuat kata-kata agar dapat meyakinkan istrinya ketika memberikan surat itu.
"Dek, maafkan sikap Mas," ujar Agung belajar menyusun kata-kata. "Mas melakukan itu karena Mas di jodohkan oleh pemilik perusahaan."
Agung tersenyum. "Pasti jika alasanku seperti itu Giwang tidak akan marah, dia terlalu lugu dan satu lagi terlalu baik," ujar suaminya senang. Agung menahan kantuknya untuk tiba di kampung halamannya.
Dan dia tiba pada saat masih pagi buta. Memberhentikan mobil tepat di depan rumahnya. Agung melihat sekeliling yang masih sepi dari warga. Dia menatap rumahnya yang sudah lama di tinggalnya.
"Kenapa gelap," gumamnya sembari melihat ke arah rumahnya. Agung mengetuk pintu rumahnya tapi tidak ada sahutan dari dalam. Dia terus mengetuk pintu secara keras.
Agung membuka paksa pintu rumahnya dengan alat yang ada di mobilnya. Dan tentu saja perbuatan Agung membangunkan si pemilik rumah.
"Hei mau apa?" tanya pemilik rumah yang tidak mengenali kalau itu adalah Agung. Karena tidak ada penerangan membuat pemilik rumah teriak maling.
"Maling....!" teriak pemilik rumah. Warga mulai keluar dari rumah tapi Agung telah berhasil masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat ada beberapa surat yang ada di bawah pintu. Agung mencari istrinya di kamar dan dia tidak menemukan.
"Ke mana perginya," gumamnya pelan.
"Hei maling keluar!" teriak warga.
Agung keluar dan salah satu warga menyorotnya dengan senter.
"Itu Agung!" teriak warga.
"Agung kenapa kamu seperti maling," ujar pemilik rumah.
"Di mana Giwang?" tanyanya.
Semua warga saling pandang. "Kami tidak tau, yang jelas Giwang menghilang beberapa bulan yang lalu," ujar pemilik rumah. "Agung kamu belum bayar uang kontrakan beberapa bulan," ujar pemilik rumah lagi.
"Aku tidak akan bayar karena aku tidak menempati rumah ini lama," sahutnya yang enggan mengeluarkan uangnya.
"Tidak boleh seperti itu, barang-barang kamu dan Giwang masih ada di sana pada saat kalian menghilang dan itu artinya kalian masih menyewa walaupun tidak ada orangnya," ujar pemilik kontrakan.
"Ambil semua barang yang ada di dalam rumah ini aku tidak perlu dengan itu semua," ujarnya sombong.
"Barang kamu tidak ada yang berharga mana bisa di jadikan untuk membayar kontrakan," ujar pemilik kontrakan.
Agung dan pria itu berdebat, perdebatan itu membuat Pakde Adi dan istrinya datang.
"Agung," ujar Pakde Adi menghampiri pria itu. Sedangkan Bude Nanik memperhatikan mobil yang ada di depan rumah.
"Di mana Giwang?" tanya Agung ke pria paruh baya itu.
"Justru Pakde yang mau tanya, kemana kamu bawa Giwang?" tanya pria paruh baya itu.
"Aku tidak tau kedatanganku ke sini hanya ingin menyerahkan ini," Agung menunjukkan surat yang ada di tangannya.
"Apa itu?" tanya Pakde Adi.
"Surat cerai." Ucapan Agung membuat warga riuh pikiran mereka tentang Giwang ternyata benar. Pakde Adi merasa sedih mendengar itu semua, keponakannya menghilang dan sekarang akan di cerai.
"Apa imbalan kalau Giwang berhasil kami temukan?" tanya Bude Nanik.
Agung menatap wanita paruh baya itu. "Aku akan memberikan uang seratus ribu," sahut Agung.
Warga tertawa mendengar imbalan yang di sebutkan Agung. "Datang ke sini bermobil tapi imbalan hanya seratus ribu," ejek Bude Nanik.
"Ok aku akan memberikan lima ratus ribu sekarang bagi siapa yang bisa menemukan keberadaan Giwang," ujar Agung.
Bude Nanik mendekati Agung. "Kamu jangan pergi dalam lima belas menit keberadaan Giwang akan diketahui," ujar Bude Nanik langsung berlari. Warga ada yang mau mencari Giwang tapi mereka tidak tau mencari di mana sedangkan Bude Nanik tau harus mencari di mana.
Pakde Adi mendekati Agung. Pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya. "Kamu memohon kepada Pakde untuk menikahi Giwang tapi belum sebulan kamu meninggalkannya dan sekarang kamu balik mau menceraikannya!" seru Pakde Adi marah.
Agung hanya tersenyum tipis. "Di mana rasa tanggung jawabmu!" bentak Pakde Adi.
"Aku berhak untuk menceraikan Giwang dan kamu tidak ada urusan lagi denganku!" Agung menuding wajah Pakde Adi.
Plak... Pria paruh baya itu langsung menampar Agung. Agung mengepalkan dan ingin membalas tapi tangannya di tahan.
"Jangan pernah sentuh Bapakku!" Dodit memelintir tangan Agung. Pria itu meringis kesakitan.
"Dasar pria tidak tau diri setelah meniduri Giwang kamu pergi begitu saja!" seru Dodit marah. "Kamu pikir Giwang sampah!" dodit ingin memukul Agung tapi Bapaknya menggelengkan kepalanya.
"Lebih bagus Giwang bercerai dari pria ini," Pakde Adi membawa anaknya menjauh dari Agung.
Bude Nanik menggedor pintu rumah Siti secara berulang. Siti heran ketika melihat Bude Nanik ada di depan rumahnya.
"Di mana Giwang?" tanya Bude Nanik.
"Tumben," sindir Siti.
"Ayo cepat katakan!" teriak Bude Nanik.
"Mana aku tau!" sahut Siti dengan berteriak.
Tapi Bude Nanik sudah menarik tangannya. "Ayo ikut," ujar Bude Nanik sembari menarik tangan Siti.
"Mau apa?" tanya Siti lagi.
"Agung datang," sahutnya.
Tanpa di suruh Siti langsung bergegas menemui Agung.
"Oh di sini orang yang tidak tau berterima kasih sudah di masukkan kerja tapi sombongnya bukan main!" teriak Siti.
Agung menoleh ke Siti. "Woi orang sombong ngapain kamu di sini!" teriak Siti lagi.
"Aku mencari Giwang!" sahut Agung berteriak.
"Apa peduli mu dengan Giwang!" teriak Siti lagi.
"Aku ingin menceraikannya," sahut Agung.
Ucapan itu membuat Siti marah.
"Dasar pria kurang ajar, aku doakan kamu mandul!" teriak Siti.
Agung tersenyum. "Yang mandul di sini siapa?" tanya Agung balik. "Menikah lama tapi sampai sekarang belum punya anak," sindiran Agung membuat semua warga menoleh ke Siti.
Siti diam, dia dan Paijo belum mendapatkan keturunan dan pernikahannya termasuk lama.
"Katakan di mana Giwang!" teriak Agung.
"Aku tidak tau!" teriak Siti lagi.
"Jangan bohong!" bentak Agung. "Kalau kamu bohong aku bisa memecat Paijo kapan pun aku mau!" Agung mengancam.
Siti bingung, berbohong akan berimbas kepada pekerjaan suaminya. "Yang aku tau Giwang ada di kota," sahutnya pelan.
"Tepatnya?" tanya Agung lagi.
"Aku enggak tau! dia menghubungiku menggunakan telepon umum," sahut Siti lagi.
Agung tersenyum dia berjalan mendekati Siti. "Terima kasih tapi sayang suamimu tetap akan aku pecat," ujar Agung pelan dan berlalu ke mobilnya.
"Apa!" teriak Siti.
Agung ingin naik ke mobilnya tapi Bude Nanik menutup pintu mobil itu dengan tangannya. Bude Nanik menggerakkan tangannya ke arah Agung.
"Bude sudah membawanya dan sekarang mana lima ratus ribu nya?" tanya wanita paruh baya itu.
"Sayangnya yang mengatakan bukan kamu," Agung tersenyum dan mendorong Bude Nanik sampai terjatuh ke tanah. Agung pergi dengan mobilnya meninggalkan kampung halamannya. Warga mengumpat, mereka sangat kecewa dengan sikap Agung.
Bersambung...
Bantu vote ya.
Follow Instagram : anita_rachman83
seputar novel hanya di info di instagram tidak ada di grup.
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!