Sofía hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang hidup di New York—kuliah sambil bekerja sebagai resepsionis, tanpa keluarga, tanpa sandaran. Sampai satu malam di sebuah pesta mewah, ia berpapasan dengan Alejandro: CEO miliarder yang tampan, dingin, dan menyimpan satu rahasia mematikan—ia pemimpin mafia Rusia yang ditakuti seluruh dunia hitam.
Pria yang tak percaya cinta itu tiba-tiba menginginkan Sofía menjadi miliknya seorang. Namun di balik gairah dan kemewahan yang memabukkan, tersembunyi pengkhianatan, kecemburuan, dan sebuah tragedi yang akan menghancurkan segalanya.
Ketika takdir melemparkannya jatuh, Sofía menemukan kebenaran yang mengguncang: ia bukan sekadar gadis miskin, melainkan putri yang hilang dari sebuah dinasti mafia berkuasa. Dan di sanalah ia bertemu Fernando Valentini—sang "Bestia", raja dunia hitam yang kejam sekaligus pemilik imperium bisnis yang tak tersentuh. Seorang pria yang bersumpah takkan pernah lagi mencintai... sampai ia bertemu perempuan yang mampu meruntuhkan setiap tembok di hatinya.
Di antara dua raja dunia hitam yang sama-sama berbahaya, di antara cinta, dendam, dan darah, Sofía harus memilih. Tapi dalam dunia tempat kekuasaan adalah segalanya dan nyawa bisa lenyap dalam sekejap, apakah cinta sejati sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lopez ibarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
POV Sofía
"Kau serius? Lalu aku harus bagaimana?" tanyaku.
"Tinggal di sini bersamaku dan biarkan aku memanjakanmu," jawab Alejandro.
"Aku tak bisa, Alejandro," kataku.
"Sudah diputuskan. Berpakaianlah untuk turun sarapan, atau kau lebih suka melakukannya di sini?" tanya Alejandro.
"Tidak, tentu saja tidak," jawabku.
Aku masuk ke kamar mandi, mandi, lalu keluar berbalut handuk. Kulihat beberapa kantong di ranjang, tapi Alejandro tak ada. Kulihat isi kantong-kantong itu, ada pakaian, sepatu, dan lain-lain. Saat aku selesai berganti pakaian, Alejandro masuk, sudah mandi dan berpakaian.
"Ayo, cantik," ajak Alejandro.
POV Sofía
Kami turun ke ruang makan. Kulihat aneka makanan tak terhitung banyaknya, membuat air liurku menetes.
POV Alejandro
Kulihat cara Sofía memandangi makanan, dia tampak sangat menggemaskan. Kami duduk, Sofía di sampingku. Saat kami hendak mulai makan, Jessica masuk, dan kulihat Sofía menjadi sangat tegang.
"Halo, selamat pagi," sapa Jessica.
"Selamat pagi, cantik. Jam berapa kau pulang?" tanyaku.
"Aduh, Alejandro, jangan mulai. Aku ke sebuah klub yang keren bersama beberapa teman dan bersenang-senang luar biasa," jawab Jessica.
"Kau tahu kau harus sangat berhati-hati, Jessica," kataku.
"Iya, iya, aku tahu," ujar Jessica sambil duduk di meja. Tiba-tiba dia menatap wanita yang duduk di samping kakaknya.
"Alejandro, kenapa kau tak memperkenalkanku pada wanita cantik ini?" tanya Jessica.
"Halo, aku Sofía, dan maaf sudah masuk ke rumah Anda, Nyonya, aku tak bermaksud…" ujar Sofía.
"Tunggu sebentar. Pertama, aku bukan Nyonya, dan ini bukan rumahku melainkan rumah Alejandro. Dan setahuku, kau tak punya alasan untuk minta maaf," kata Jessica.
"Aku cuma tak mau menimbulkan masalah antara Anda dan Alejandro," ujar Sofía.
"Aaah, ha, ha, ha, aku mengerti sekarang. Alejandro sialan, kau tak menjelaskan situasinya, kan?" kata Jessica.
"Aku tak tahu apa yang kaubicarakan," jawabku.
"Dengar, Sofía, Alejandro bukan pacarku ataupun suamiku," ujar Jessica.
"Lalu kenapa kalian tampak begitu saling menyayangi?" tanya Sofía.
"Masalahnya, kami ini kakak beradik," jawab Jessica.
"Oh… maafkan aku, aku sungguh tak bermaksud begitu," ujar Sofía.
"Ha, ha, ha, jangan khawatir, semuanya sudah jelas sekarang. Jadi ayo sarapan, aku kelaparan," kata Jessica.
Sarapan itu sangat menyenangkan dengan obrolan-obrolan Jessica, dia sangat lucu. Aku tak pernah makan sebanyak ini, tapi semuanya lezat, apalagi pencuci mulutnya. Yang mengejutkanku, Alejandro tak makan yang manis-manis.
POV Alejandro
Sofía begitu manis. Melihat caranya melahap makanan sungguh lucu, dan tampaknya dia sangat cocok dengan Jessica. Meski aku tak begitu menyukai itu, sebab aku tahu bagaimana Jessica, dia punya cara untuk membujuk orang melakukan berbagai hal.
"Ayo, supaya kau bisa beristirahat," ajakku.
"Baiklah," jawab Sofía.
Kami naik ke kamar, dan dia berbaring di ranjang.
"Aku harus ke kantor. Tolong jangan memaksakan diri dan jangan coba-coba kabur, karena rumah ini dijaga sangat ketat. Nanti kalau aku pulang kita bicara, bagaimana?" kataku.
"Kau yakin?" tanya Sofía.
"Ya, aku janji," jawabku.
"Oke," ujarnya.
Kucium keningnya lalu aku pergi.
Jessica Antonov, putri bungsu keluarga Antonov.