NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Jejak Kopi di Antara Hujan

Sebelum situasi gila di ruang VIP restoran otentik malam ini terjadi, ingatanku harus ditarik mundur ke beberapa bulan lalu ke sebuah hari kelabu di Jakarta yang menjadi alasan mengapa aku bisa bertabrakan dengan pria bertangan dingin bernama Dimas Arjowibowo ini.

Hari itu, aku nekat naik KRL menuju Jakarta. Bukan untuk berlibur atau sekadar jalan-jalan, melainkan untuk mencari kejelasan dari Juan pria yang sudah dua tahun mengisi hari-hariku sebagai kekasih. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk memadukan dua kepala. Namun, hanya dalam satu malam, Juan memutuskan hubungan kami secara sepihak. Dan alibinya hanya satu, pesan singkat dingin yang menuduh aku tidak pernah benar-benar mencintainya.

Alasannya sederhana, tapi menusuk: aku menolak menyerahkan kesucianku padanya.

Aku sungguh tidak pernah paham dengan konsep gaya berpacaran anak muda zaman sekarang yang seolah mewajibkan hubungan seksual sebagai bukti cinta. Bahkan bagi sebagian orang, kalau belum berciuman bibir rasanya seperti belum afdol berpacaran.

Aku tidak membenci romansa ciuman bibir. Aku menyukai hubungan yang hangat dan manis sebuah kecupan lembut di kening saat mengantar pulang, usapan di kepala, atau bisikan kasih sayang di pipi sebagai tanda perlindungan dan rasa hormat. Bukan paksaan keintiman fisik yang merenggut nilai-nilai yang selama ini aku pegang teguh. Aku bukan tidak mau memberikannya sama sekali; aku hanya ingin menyimpan hal paling berharga itu untuk pria yang kelak sah menjadi suamiku di hadapan Tuhan dan keluarga.

Namun bagi Juan, pendirianku adalah bentuk penolakan. Dia menganggap aku dingin, kaku, dan tidak memiliki rasa yang sama dengannya.

Saat membaca pesan pemutusan itu, aku tidak menangis. Aku juga tidak meledak dalam amarah. Yang tersisa di dadaku hanyalah rasa kecewa yang amat sangat membendung. Apa salahku? Apakah salah jika seorang wanita berusaha menjaga kehormatan dan kesucian dirinya sendiri sebelum waktunya tiba?

Karena itulah aku naik KRL menuju Jakarta hari itu, berdesakan di dalam gerbong dingin tanpa membawa penginapan atau pakaian ganti. Aku hanya ingin mendengar kebenaran langsung dari mulutnya.

Namun, kenyataan menghantam lebih keras dari yang aku bayangkan.

Sesampainya di stasiun tujuan, dengan jemari gemetar aku mencoba menghubungi nomor Juan. Telepon dialihkan cukup lama sebelum akhirnya diangkat. Tapi yang menyambut di ujung telepon bukanlah suara berat Juan, melainkan suara desahan seorang perempuan yang asing.

"Halo? Siapa sih? Juan-nya lagi mabuk berat, masih tidur. Kami lagi di hotel, jangan ganggu dulu ya," ucap perempuan itu tanpa dosa sebelum langsung mematikan sambungan.

Aku mematung di tengah hiruk-pikuk stasiun. Anehnya, rasa marah yang aku perkirakan akan membakar dada justru tidak hadir. Yang ada hanyalah sebuah perasaan lega yang menyeruak pelan sebuah konfirmasi jujur bahwa ketakutanku selama ini benar. Ternyata, ketika dia tidak bisa mendapatkan hal itu dariku, dia dengan sangat mudah mencarinya dari perempuan lain. Juan tidak pernah mencintaiku sebagai Maizara, dia hanya menginginkan tubuhku.

Malam itu, aku merasa seperti orang paling bodoh di dunia. Aku berjalan menyusuri trotoar beraspal basah di kawasan Senopati, berhenti tepat di seberang hotel yang sempat disebutkan perempuan tadi. Di bawah rintik hujan dan hembusan angin malam Jakarta yang menusuk tulang, aku berdiri mematung di sana selama berjam-jam, menunggu keajaiban atau sekadar kebodohanku berakhir.

Sampai fajar menyingsing dan matahari pagi mulai membiaskan cahaya jingga di antara gedung-gedung tinggi, aku baru tersadar dari kelumpuhan emosi itu. Tubuhku gemetar dan lelah. Aku melangkah pelan menuju sebuah coffee shop estetis yang terletak tak jauh dari depan hotel tersebut untuk menghangatkan diri.

Di dalam coffee shop yang baru saja buka itu, aroma biji kopi sangrai menyeruak lembut. Aku memesan dua gelas Iced Americano ukuran besar di kasir satu untukku, dan satu lagi yang tadinya berniat aku siramkan ke wajah Juan sebagai penutup hubungan sampah kami.

Namun, saat aku melangkah keluar dari kasir membawa dua gelas plastik berisi es kopi hitam pekat itu, mataku menangkap sosok yang baru saja keluar dari gerbang hotel di seberang jalan.

Itu Juan. Dia keluar sambil merangkul mesra pinggang perempuan berbaju ketat dengan rambut berantakan. Mereka tertawa-tawa di bawah kanopi hotel, menunggu taksi.

Melihat pemandangan jahat di depan mata, darahku mendadak berdesir cepat. Kesadaran dan rasa amarah yang tertahan sejak semalam meledak seketika. Aku memutar badan secara terburu-buru, berniat menerobos pintu kaca coffee shop untuk menghampiri mereka.

BRUK!

Karena langkahku yang tergesa-gesa tanpa memperhatikan jalan, tubuhku menghantam dada kokoh seorang pria yang baru saja hendak melangkah masuk ke dalam area kasir.

Guncangan keras itu membuat peganganku terlepas. Dua gelas Iced Americano dingin yang penuh hingga ke batas tutupnya langsung tumpah berhamburan. Cairan kopi hitam pekat bercampur es batu meluncur deras, membasahi gaun katunku dan tepat mengguyur kemeja putih mewah milik pria di hadapanku!

"Aduh! Maaf, maaf!" ucapku panik tanpa sempat mendongak melihat wajah pria itu. Aku hanya bisa melihat kemeja putihnya yang di dalamnya terbalut kaos polos kini ternoda warna cokelat gelap yang melebar cepat.

Aku terlalu panik. Pandangan mataku terus melirik liar ke arah luar jendela kaca, memastikan bahwa Juan dan perempuan itu tidak menghilang sebelum aku sempat meluapkan kekesalanku. Mereka masih berdiri di sana, menunggu taksi yang belum kunjung datang.

"Kamu tahu saya ada rapat penting pagi ini?" suara berat dan serak yang sarat akan kekesalan tinggi tiba-tiba memotong kepanikanku.

Aku mengalihkan pandangan sebentar, mendongak menatap pria itu. Dia memiliki wajah tajam, hidung bangir, dan alis tebal yang menukik tajam. Gaya rambutnya sedikit gondrong berantakan namun tertata, dan ekspresi wajahnya sangat jutek seolah dunia baru saja berhutang padanya.

Pria itu yang kini aku ketahui bernama Dimas Arjowibowo menatap kemeja mewahnya yang basah kuyup dengan tatapan tak percaya, lalu mengalihkan tatapan tajamnya lurus ke mataku.

"Maaf banget, Mas! Saya benar-benar tidak sengaja!" cecarku seraya merogoh tas selempang dengan cepat. Aku mengambil selembar kartu nama kerjaku dari dompet.

Tanpa berpikir panjang dan tanpa permisi, aku menyodorkan dan menjejalkan kartu nama itu tepat ke dalam kantong kemeja putihnya yang basah.

"Ini kartu nama saya. Nanti Mas telepon saja berapa biaya laundry atau ganti rugi kemejanya ya. Maaf Mas, saya benar-benar buru-buru!" jelasku cepat, lalu berbalik berlari keluar dari pintu kaca coffee shop.

Dari belakang, aku sempat mendengar pria berambut gondrong itu terkekeh sinis sebuah tawa kecil yang dipenuhi kekehan ketidakpercayaan atas kelakuan konyol dan tidak sopan dari seorang wanita asing yang baru saja merusak kemeja mewahnya.

Langkah kakiku terburu-buru menyeberangi jalanan kota yang mulai ramai. Tanganku mencengkeram sisa gelas kopi yang tersisa di genggaman, niat hati sudah bulat untuk menyiramkan sisa es Americano ini tepat ke wajah Juan yang berengsek itu.

Namun, saat jarakku tinggal sepuluh langkah dari tempat Juan berdiri... langkah kakiku mendadak terhenti di atas trotoar.

Aku menatap Juan dari dekat. Wajahnya tampak kusut, tatapan matanya kuyu karena pengaruh alkohol malam sebelumnya, dan senyumnya terlihat begitu murah di samping perempuan yang tak henti-hentinya membelai lengannya.

Seketika itu juga, sebuah pemikiran melintas dingin di dalam kepalaku: Untuk apa?

Untuk apa aku membuang-buang energi, menurunkan harga diri, dan mempermalukan diriku sendiri di pinggir jalan hanya demi seorang pria yang bahkan tidak bernilai setetes air mata pun? Menyiramnya dengan kopi tidak akan mengubah fakta bahwa dia telah mengkhianatiku, dan itu tidak akan pernah memulihkan rasa sakit di dadaku.

Aku menghela napas panjang, sebuah napas kebebasan yang dalam.

Dengan gerakan perlahan, aku memutar tubuh. Aku berjalan mendekati sebuah tempat sampah besar di sudut jalan, lalu melempar sisa gelas Americano itu tepat ke dalamnya. Aku berbalik arah, berjalan lurus menuju stasiun KRL tanpa sekali pun menoleh lagi ke belakang. Hubungan dua tahun itu mati di sana, di trotoar Senopati, tanpa kata perpisahan.

Sementara itu, di balik jendela kaca coffee shop yang hangat, Dimas Arjowibowo berdiri mematung. Dengan jemari yang memegang kartu nama berukuran kecil di tangannya, mata hitam pekatnya terus mengawasi gerak-gerik wanita aneh berbaju katun basah itu mengamatinya dari saat berlari berapi-api, mendadak berhenti, membuang kopinya ke tempat sampah, hingga akhirnya menghilang ditelan keramaian pagi Jakarta.

Kembali ke Ruang VIP Restoran Otentik

Keheningan yang mencekam masih menggantung berat di udara ruang VIP malam ini.

Semua orang di sekitar meja makan terdiam mematung. Romo menatapku dengan sorot mata menajam, Ibu menahan napas sambil mengelus dadanya, dan Bulek Partini tampak membeku dengan cangkir di tangannya.

Dimas Arjowibowo pria yang berdiri di hadapanku dengan setelan jas birunya yang sangat rapi masih mempertahankan posisinya. Telapak tangannya yang hangat masih berada di dalam genggaman tanganku yang dingin.

Alis tebalnya yang menukik tajam perlahan mengendur. Kerutan di keningnya berangsur hilang saat ingatan tentang insiden kemeja basah dan tumpahan kopi di Senopati tiga bulan lalu akhirnya terangkai utuh di dalam benaknya.

"Kamu..." suara berat Dimas memecah keheningan, sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman miring yang begitu tipis namun sarat akan intrik. "Wanita tumpahan kopi yang menjejalkan kartu nama ke kantong saya lalu lari begitu saja?"

Aku seketika menarik tanganku dari genggamannya dengan canggung, merapikan kebayaku yang mendadak terasa makin menyempit. Pipiku terasa membakar hebat karena malu yang luar biasa. Dari ribuan pria di Indonesia, kenapa harus pria jutek bernoda kopi ini yang dijodohkan denganku?

"Ngapunten... Dimas, Maizara," Romo akhirnya bersuara, nadanya tenang namun ada penekanan berat di setiap kata. Beliau menatap kami berdua secara bergantian. "Apakah kalian berdua... sudah saling mengenal sebelumnya?"

Dimas menoleh ke arah Romo, lalu kembali menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan campuran antara geli, penasaran, dan dominasi yang dingin.

"Mengenal secara resmi, belum, Om Haryadi," jawab Dimas santai sambil menarik kursinya dan kembali duduk dengan anggun. "Tapi kami pernah memiliki... 'urusan bisnis' kecil yang belum selesai di Jakarta beberapa bulan lalu."

Mata Bulek Partini melirikku tajam, seolah memberi sinyal 'Gunakan kesempatan ini!' yang pernah dibisikkannya di kamar tadi.

Dimas menyesap air mineralnya perlahan, matanya tidak pernah lepas menatap wajahku yang memerah. "Kartu namamu masih ada di meja kerja saya, Maizara. Dan kalau saya tidak salah ingat, kamu belum membayar biaya laundry kemeja kustom saya hari itu."

Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kembali seluruh sisa keanggunan dan harga diri yang sempat tercecer. Aku duduk kembali di kursiku, menatap lurus ke dalam manik mata hitam milik calon suamiku itu tanpa rasa gentar lagi.

"Kalau begitu, Mas Dimas," balasku dengan nada suara yang tertata halus namun penuh ketegasan, "mungkin pernikahan ini bisa jadi cara yang sangat efisien untuk melunasi hutang laundry itu."

Seketika, tawa kecil yang renyah keluar dari bibir Dimas Arjowibowo sebuah tawa langka yang bahkan membuat kedua orang tuanya saling pandang terkejut. Perang dingin dan aliansi dua dunia baru saja resmi dimulai.

1
Adira🍓
Karena Hati Mei masih ragu 🤪🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Yah,,, gagal ngerasain lolipop nya Dimas lagi donk /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Adira🍓
Kan Dimas udah pernah bilang pas pertama kalian ketemuan Mei 🤪🤪🤪
Adira🍓
gara-gara Video oh no oh yes mu sama Kartika 🤪🤪🤣🤣🤣
Adira🍓
Gak bakal.... yang ada bakal ketagihan oh yes oh no 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Habis lolipop nya Dimas enak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
falea sezi
buat bapaknya dimas laki kayak dimas g cocok dpet cwek baik🤣 dia cocok sama kartika sama sama sampah😒
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!