NovelToon NovelToon
Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Diva Devira

SINOPSIS
.
.
.
.
.

Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.

Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.

Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.

Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.

Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?

Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: JAMUAN TEH DI KEDIAMAN MARQUIS LU

Sehari sebelum jamuan, Nyonya Lin datang sendiri ke halaman barat dengan dua pelayan yang membawa nampan kain.

Ruyin tidak pernah melihat ibunya mengangkat kain dengan tangannya sendiri. Namun pagi itu Nyonya Lin menggelar satu per satu pakaian di atas ranjang, menyentuh sulamannya, menimbang warnanya, lalu menggeleng dan menggelar yang lain. Ruyin duduk di tepi kursi dan memperhatikan, tidak ingin mengganggu sesuatu yang tampaknya telah lama ingin dilakukan perempuan itu.

"Yang abu muda ini," kata Nyonya Lin akhirnya, mengangkat jubah dengan sulaman bambu. "Kain pilihanmu di pasar. Sederhana, tidak mencolok. Orang akan melihat bahwa kau tidak datang untuk bersaing."

"Bersaing dengan siapa, Ibu?"

"Dengan semua orang. Di jamuan seperti itu, setiap orang bersaing, hanya caranya yang berbeda." Ia merapikan lipatan lengan. "Keluarga Marquis Lu menjamu di paviliun taman. Nyonya Lu sendiri yang akan menuang teh. Hormati dia lebih dulu, lalu istri Menteri Ritus, Nyonya He. Mereka berdua tidak akur, jadi jangan terlalu lama berbicara dengan salah satunya."

"Aku mengerti."

"Jangan menolak makanan yang ditawarkan, tetapi jangan pula menghabiskannya. Jangan memuji barang orang lain secara berlebihan. Dan Ruyin..." Jarinya berhenti di pinggiran kerah. "Jika ada yang bertanya tentang Selatan, jawab bahwa udaranya baik dan tabibnya telaten. Itu cukup."

"Hanya itu?"

"Orang yang bertanya tentang delapan tahun tidak sedang mencari jawaban, Nak. Mereka mencari celah. Semakin pendek jawabanmu, semakin sedikit yang bisa mereka bawa pulang."

Kalimat itu terdengar bijak. Itu juga kalimat seseorang yang sudah lama memikirkan jawaban mana yang aman. Ruyin memperhatikan bahwa ibunya tidak sekali pun menyebut apa yang sebenarnya terjadi di Selatan, tidak pula bertanya bagaimana rasanya tinggal di sana. Ia berbicara tentang delapan tahun itu seperti orang berjalan di tepi kolam yang tertutup es tipis, setiap langkah dihitung.

"Baik, Ibu," ujar Ruyin. "Aku akan menjawab seperlunya."

Nyonya Lin tersenyum dan menyentuh pipinya sebentar, sentuhan yang canggung seperti tangan yang lupa caranya. Lalu ia pergi dengan cepat, meninggalkan aroma cendana di ruangan itu.

———

Kediaman Marquis Lu terletak di dekat Jalan Besar Zhuque, lebih dekat ke istana daripada rumah Shen, dengan gerbang berlapis tiga dan dinding putih yang membentang sepanjang separuh lorong. Kereta berhenti di gerbang kedua. Pelayan berbaju hijau tua menuntun mereka melewati taman yang ditata dengan sangat hati-hati: batu karang dari Danau Tai, jembatan melengkung di atas kolam yang sengaja dibiarkan keruh agar ikan kojinya tampak seperti emas tua, dan deretan krisan kuning yang disusun bertingkat di sepanjang koridor.

Paviliun tempat jamuan diadakan berdiri di tengah taman, dikelilingi tirai bambu yang digulung separuh. Belasan perempuan bangsawan sudah duduk berkelompok di atas bantalan sutra, pakaian mereka berlapis warna delima, ungu muda, dan biru langit, tusuk konde emas bergoyang setiap kali mereka menoleh. Di antara mereka, para pelayan bergerak tanpa suara membawa nampan teh dan kue.

Ruyin memberi hormat kepada Nyonya Lu lebih dulu, lalu kepada Nyonya He. Nyonya Lu perempuan berusia lima puluhan dengan wajah bulat dan mata yang tajam di balik senyumnya, sementara Nyonya He lebih muda dan lebih kurus, dengan cara tersenyum yang membuat seseorang merasa sedang ditimbang.

"Jadi ini Nona Kedua Shen," kata Nyonya Lu hangat. "Kemarilah, duduk di dekatku. Kau lebih tinggi dari yang kuduga."

"Terima kasih, Nyonya."

Tak seperti yang ia cemaskan, tidak semua orang menoleh. Beberapa perempuan di sudut paviliun bahkan tidak mengangkat kepala dari permainan catur mereka. Seorang gadis seusianya hanya melirik sekilas dan kembali sibuk dengan kipasnya. Chang'an sudah terlalu sibuk dengan urusannya sendiri untuk memberi seluruh perhatiannya pada satu gadis yang pulang dari Selatan.

Namun perhatian yang ada datang dengan cara yang halus.

"Delapan tahun di Selatan tentu membuat Nona Shen banyak berubah," ujar Nyonya He sambil menyesap tehnya.

"Udara di sana baik, Nyonya, dan tabibnya telaten."

"Syukurlah. Kudengar Selatan lembap. Kulit biasanya tidak tahan."

"Aku beruntung," jawab Ruyin. "Kulitku keras kepala."

Beberapa perempuan tertawa kecil. Nyonya He ikut tersenyum, tetapi matanya mencatat sesuatu. Ruyin menggeser topik dengan memuji aroma teh, dan Nyonya Lu, yang rupanya memang menunggu kesempatan itu, mulai bercerita tentang daun teh dari pegunungan Wuyi yang dikirim oleh keponakannya.

Ia menyadari bahwa setiap percakapan di tempat ini punya dua lapis. Lapis pertama tentang teh dan giok. Lapis kedua tentang siapa duduk di dekat siapa, siapa tidak disapa, dan siapa disebut dengan gelar penuh.

———

Menjelang pertengahan jamuan, percakapan beralih ke arah istana.

"Kudengar Putra Mahkota akan menghadiri perjamuan musim gugur di Aula Wenhua," kata seorang perempuan berbaju ungu.

"Xiao Jingyuan?" Nyonya He mengangkat alis. "Ia jarang hadir di perjamuan mana pun."

"Karena itulah kabarnya mengejutkan."

"Kalau ia datang, Menteri Ritus pasti sibuk menyusun tempat duduk."

Tawa kecil lagi, lalu percakapan itu meluncur ke topik lain: tentang pernikahan putri seorang jenderal, tentang harga sutra dari Shu. Nama Putra Mahkota disebut dan dilepas begitu saja, seperti batu kecil yang dilempar ke kolam. Ruyin menyesap tehnya dan tidak menambahkan apa pun. Itu hanya nama seorang tokoh penting yang dibicarakan orang-orang yang hidup di dekat kekuasaan.

———

Seorang perempuan muda mendekat ketika Ruyin berdiri untuk mencari udara di tepi paviliun. Usianya sedikit di atas dua puluh, berpakaian hijau zaitun dengan hiasan rambut perak sederhana. Ia memperkenalkan diri sebagai Lu Wanqing, menantu perempuan tertua keluarga Lu.

"Aku sudah ingin menyapamu sejak kau datang," katanya, tersenyum hangat. "Kau pasti tidak ingat aku."

"Maaf, Nyonya, aku..."

"Tentu tidak. Kau masih kecil." Wanqing tertawa lembut. "Aku baru menikah ke keluarga ini dua tahun sebelum kau pergi. Tapi aku ingat kau. Kau pernah datang ke sini bersama ibumu. Saat itu musim semi, dan kau duduk di sana, di bawah lonceng angin dekat batu karang, hampir sepanjang sore. Kau tidak mau bermain dengan anak-anak lain, hanya memandangi lonceng itu sambil menggambar di tanah dengan ranting."

Ruyin menoleh ke arah yang ditunjuk. Ada lonceng angin perunggu menggantung dari sudut atap kecil dekat batu karang. Ia tidak mengingat tempat itu. Namun sesuatu di dekatnya menarik pandangannya: sebuah pot porselen putih di atas meja rendah, dan di badan pot itu tercetak lingkaran kecil dengan bunga teratai di tengahnya.

Stempel yang sama.

Hanya sepersekian detik. Cahaya sore menembus tirai bambu dan jatuh di atas porselen itu, dan di telinganya terdengar bunyi lonceng yang berbeda dari lonceng di atas sana, lebih rendah, lebih lambat. Ada hangat di punggung tangannya, seperti ada jari yang menyentuh sebentar. Lalu aroma samar, dingin seperti embun di atas besi.

Semuanya hilang.

"Nona Shen?" Wanqing menatapnya. "Kau baik-baik saja?"

"Hanya silau." Ruyin tersenyum. "Terima kasih, Nyonya. Aku senang diingat."

"Oh, kau sungguh anak yang manis waktu itu," ujar Wanqing, tampak lega. "Hanya satu hal yang kuingat dengan jelas. Kau tidak pernah menggambar apa pun selain burung bangau. Satu sore penuh, belasan bangau, dan semuanya menghadap ke arah yang sama."

Ruyin mengangguk dan tersenyum, dan tidak mengatakan apa-apa lagi.

———

Dalam kereta pulang, Yucheng tertidur dengan kepala bersandar di dinding, kelelahan setelah berjam-jam menjadi tameng bagi percakapan yang bukan miliknya. Ruyin memandang lampu-lampu yang mulai dinyalakan di sepanjang jalan.

Bangau, ya. Itu cocok dengan ingatannya, dengan manisan di pasar, dengan buku tulis di rak. Wanqing mengingat hal yang benar.

Tetapi bukan itu yang mengganggunya.

Yang mengganggunya adalah kalimat pembuka perempuan itu. 'Kau pernah datang ke sini bersama ibumu.' Ibunya, yang pagi tadi memberinya daftar panjang tentang siapa yang harus dihormati dan siapa yang harus dihindari, tidak sekali pun menyebut bahwa Ruyin pernah menginjakkan kaki di kediaman ini.

Ia memikirkan Paman Gu dan manisan kelinci, Guru Pei dan tangan yang katanya kasar, Yucheng yang mengenal simpulnya, Wanqing dan lonceng angin yang tidak ia ingat. Setiap orang membawa potongan masa kecilnya, dan tak ada dua potongan yang benar-benar pas.

Berapa banyak orang di Chang'an yang mengenal masa kecilku lebih baik daripada aku sendiri?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!