NovelToon NovelToon
Pilihan Hati

Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Inisial EY

"Aku milih kamu."

"Tapi kita berbeda, Tuan."

"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"

"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."

"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."

Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka lama

Arini memegang kepalanya yang masih terasa pening saat ia mulai sadar dari pingsan, dan saat menyadari dirinya berada di atas kasur, Arini tiba-tiba menegakkan badannya lalu menajamkan penglihatannya dengan mengamati sekitar.

Kini, Arini baru sadar jika ia tengah berada di sebuah kamar yang begitu luas ukurannya, kamar yang didominasi cat berwarna pink itu seakan-akan diperuntukkan untuk dirinya yang seorang perempuan.

Tapi, Arini sadar kalau itu bukan kamarnya dan saat ia sadar jika hari ini ia seharusnya pergi ke Jerman pun seketika menoleh ke atas nakas dan mencari tas untuk mengambil ponselnya.

Istri Arnold itu ingin mengabari Bundanya dan tentunya semua orang yang pasti tengah mencarinya.

Arini masih ingat dan sangat ingat jika tadi ia berbohong pada Bundanya akan ke toilet padahal yang sebenarnya ia akan menemui suaminya, namun karena Bunda Jennifer mengawasinya melalui tatapannya, Arini pun akhirnya benar-benar ke toilet dahulu dan sebelum masuk ke toilet ia dibekap dari belakang.

Ya, Arini sadar kalau Arini tadi diculik. Namun, kalau benar ia diculik, kenapa ia berada di kamar yang begitu luas seperti ini?

Arini tiba-tiba mengesah saat memikirkannya dan saat mencari ponselnya namun tidak ada, bahkan tas yang ia pakai tadi pun tidak ada.

Ceklek~~

Pintu kamar yang ditempati Arini terbuka dari luar dan kini yang masuk ke dalam kamarnya adalah orang yang tak ia sangka berdiri di depannya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Arini." panggilnya lembut sembari memajukan tangannya ingin mendekap Arini, dan membuat Arini seketika beringsut mundur. "Jangan takut, Arini. Ini Papa."

"Ayahku cuman Ayah Darius. Anda Papanya Nona Jessica. Jangan mengada-ada, Pak. Dan apa maksud Anda menculik Saya?" Arini menampakkan pedih di hatinya saat mengetahui jika Ayah biologisnya lah yang ternyata menculiknya.

Ia kira ia diculik oleh suaminya sendiri karena Arnold tidak mau berpisah dengannya.

Namun ternyata tidak, ternyata Ayah biologis yang belum pernah ia kenal semenjak ia lahir ke dunia itu lah yang menculiknya.

Benar kata Bundanya, kalau laki-laki ini penuh obsesi.

Dengan mengetahui jika Arini adalah anaknya, ia menunggu momen yang tepat untuk menculik Arini agar bisa di dekatnya.

Dan sekarang Arini membenarkan perilaku Bundanya yang tiba-tiba mengurungnya di rumah semenjak Raka mengetahui jika Arini anaknya.

"Aku hanya ingin dekat dengan anakku." Raka duduk di tepi kasur sembari menatap Arini dengan penuh rasa sesal, karena wajah Arini tidak mirip dengannya.

Arini mirip dengan Bunda Jennifer, tapi dengan Bunda Jennifer mengajak Arini tiba-tiba pergi setelah melihat dirinya, Raka sudah bisa menyimpulkan jika Arini anaknya tanpa melakukan tes DNA.

Bunda Jennifer sangat membenci dirinya, dan jika Arini anak Darius tentu ia tidak akan sepanik itu saat melihat dirinya.

"Siapa yang dimaksud anak oleh Anda? Nona Jessica?" Arini meneteskan air mata sembari menatap ayah biologisnya yang kini menggelengkan kepalanya.

"Kamu anakku, Arini. Aku Papamu yang sebenarnya. Bukan Darius. Dia--"

"Dia adalah Ayah saya yang sebenarnya. Dia yang saya lihat semenjak saya lahir, saya mulai bisa ngoceh, saya mulai bisa berjalan, saya mulai sekolah bahkan Ayah Darius rela kehujanan saat menjemput saya ke sekolah dan tidak menyuruh sopir untuk menunggu saya di gerbang hanya karena hujan turun begitu derasnya. Dia begitu menyayangi saya, Pak." potong Arini saat Pak Raka mulai membuka luka lamanya.

Luka lama saat mengetahui jika Ayah Darius bukan Ayah Kandungnya adalah part sedih di bagian hidupnya.

Laki-laki yang begitu menyayanginya semenjak kecil, bahkan tidak membedakannya dengan adik-adiknya, tidak bisa membuat Arini untuk tidak mencintai Darius layaknya Ayah kandung untuk dirinya.

"Itu semua karena Bundamu tidak mengizinkan Papa dekat denganmu, Arini. Kalau Papa diizinkan, Papa juga akan senang hati melakukannya." Raka tetap membantah, bagaimanapun masa lalunya, ia ingin tetap diakui Arini sebagai Ayahnya.

"Jangan menyalahkan Bunda. Anda tidak tau bagaimana Bunda menghadapi lukanya yang disebabkan oleh Anda."

"Unclemu. Chandra lah yang membuat Papa tidak bisa bertanggung jawab pada Bundamu waktu itu, Arini." Raka ganti menyalahkan Chandra, ia tidak mau mengaku salah, karena ia memang sudah berusaha waktu itu untuk dekat dan diakui Ayah oleh Arini namun ditolak oleh Jennifer.

"Jangan menyalahkan Uncle juga. Karena Uncle hanya ingin yang terbaik buat Bunda. Stop menyalahkan orang-orang yang menyayangi saya, Pak Raka." hardik Arini yang membuat Raka tiba-tiba menundukkan kepalanya sembari memejamkan mata.

"Andai kamu tau kalau Papa juga tersiksa, Arini. Bertahun-tahun semenjak kamu lahir bahkan saat kamu masih di dalam kandungan Bundamu, Papa ingin sekali menyapamu, namun semua itu hanya angan Papa saja." Raka kembali menatap Arini dengan meneteskan air mata sekilas, "Dulu Papa sudah berusaha memberikan saham 30 persen untukmu agar Papa bisa dekat denganmu, namun semua itu ditolak oleh Unclemu, Arini."

"Uncle tidak mungkin salah mengambil langkah." Arini tetap membela Uncle-nya.

"Iya. Papa yang salah. Maafkan Papa Arini. Maafkan semua kesalahan Papa." Raka mengaku salah akhirnya, setelah putrinya terus membantahnya.

"Lepaskan saya. Bunda pasti mencari saya. Saya tidak mau membuat Bunda khawatir." pinta Arini tanpa menerima permintaan maaf Ayah biologisnya.

"Papa ingin dekat denganmu, Arini." Raka tetap teguh pendirian.

"Tapi dengan tidak menculik saya kan?" Arini menatap sengit Raka, "Saya punya orang tua, punya suami, punya keluarga yang pasti akan mencari saya jika saya tiba-tiba diculik orang lain."

"Aku Papamu, bukan orang lain." kekeh Raka yang membuat Arini menggelengkan kepalanya pelan sembari tertawa getir.

"Papa darimana? Anda hanya mengaku-ngaku saja."

"Aku memang Papamu. Mau kamu percaya atau tidak, aku adalah Papamu yang sebenarnya. Dan tempat kamu di sini."

"Tempat saya di rumah Bunda."

"Arini!" Raka geram juga akhirnya saat Arini terus melawannya dan tidak mau sedikitpun mendengarkan perkataannya, bahkan permintaan maafnya hanya dianggap omong kosong belaka.

"Apa? Mau membuang saya karena melawan anda?" Arini menoleh ke samping menatap tembok di depannya, "Anda dan Saya baru kenal saat peluncuran produk baru di perusahaan Anda, bahkan waktu itu saya dimusuhi oleh putri Anda. Anda membela karena tidak mau kredibilitas perusahaan Anda turun bahkan Anda tidak mengenali saya waktu itu. Tapi sekarang, Anda tiba-tiba menculik saya lalu tiba-tiba mengaku jika Anda Ayah saya, apa saya harus percaya begitu saja?"

"Kamu memang harus percaya. Karena itulah kenyataannya." Raka mencoba memegang tangan Arini yang bertumpu di atas kaki yang ditekuk.

"Jangan sentuh saya!" sergah Arini lalu turun dari ranjang dengan tergesa-gesa.

Istri Arnold pun dengan segera lari ke pintu yang terbuka ingin segera pergi dari rumah Raka, namun saat sampai di pintu ternyata banyak sekali bodyguard yang berjaga.

Tiba-tiba Arini tertawa getir, kemarin ia baru saja mau lepas dari kurungan Bundanya dengan menuruti pinta Bundanya mengikuti pergi ke Jerman, namun sekarang, kenapa ia ganti dikurung oleh laki-laki yang baru saja mengakui kalau ia ayah biologisnya?

Kemana kehidupan bebas yang sedari kemarin bisa Arini lalui? Kenapa ia bisa lahir dengan cerita rumit seperti ini? Kenapa harus dia?

Arini tiba-tiba mendongakkan wajahnya menatap langit-langit kamar untuk menghalau air matanya yang akan terjun bebas, lalu menatap Raka saat ia sudah bisa menormalkan hatinya. "Izinkan saya pergi. Rumah saya bukan di sini."

Raka kekeh menggelengkan kepala, "Kamu anakku. Rumah ini rumahmu."

Arini menggelengkan kepalanya, "Sudah saya bilang, kalau ini bukan rumah saya. Dan saya bukan anak anda. Tolong Anda mengerti, Pak."

"Lebih baik kamu makan, Arini. Percuma kalau kamu mau keluar dari rumah ini, karena itu tidak akan bisa terjadi." jelas Raka sembari melangkah mendekati Arini lalu mengusap lengannya yang tertutup baju kemudian keluar dari kamar yang ditempati Arini dengan mengunci Arini kembali dari luar.

Arini tertawa getir, bingung harus bagaimana, karena satu hal yang ia lupa, ia lupa meminta ponselnya pada laki-laki yang mengaku Papanya, walaupun ia juga mengetahui jika memang Raka adalah ayah biologisnya.

Bersambung...

1
Inisial EY
Hai-hai readers, ini kisah tentang Arini anak jennifer ya, kalau kalian pengen tau siapa Arini, kalian boleh baca novel aku sebelumnya yang judulnya "JANDA ITU ISTRIKU" oke.. makasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!