Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepalsuan dan Kegelisahan Sarah
#11
Bu Rara merapikan barang-barang yang ia bawa dari rumah, dinda menempati kamar khusus seorang diri, meski bukan VIP.
Setelah selesai, Bu Rara menghampiri Dina yang masih terbaring dalam diam, “Cobalah untuk istirahat, dan jangan memikirkan apapun,” kata Bu Rara lembut.
Kedua mata Dina kembali basah, saat teringat kondisi bayi laki-lakinya. Kepalanya besar penuh cairan, bahkan lebih besar dari tubuhnya yang masih ringkih.
“Kenapa, hmm?” Bu Rara menghapus air mata di pipi Dina.
“Bayiku, Ma. Kasihan sekali dia,” isak Dina pilu, membayangkan betapa keras perjuangan hidup anaknya kelak.
“Sesungguhnya Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar. Ingat itu, Nak,” ucap Bu Rara, lagi-lagi dengan suara lembut yang menyejukkan. “Jika kamu menangis, maka akan terlihat kamu sedang Menyesali keputusan mempertahankan bayimu.”
“Tapi— tapi— aku benar-benar tak tega, Ma.” Isak tangis Dina terdengar semakin keras.
“Istighfar, Nak, banyak-banyaklah mengingat Allah, karena dibalik kesulitan, ada kemudahan yang akan menyertainya. Percaya saja pada sang pemilik kehidupan. Dia yang akan memberimu pertolongan.”
Ardina mengangguk, ia mulai mengucap istighfar, serta memohon agar diberikan kelapangan hati dalam menerima cobaan ini.
Pak Hermanto masuk ke dalam ruangan, pria itu baru saja selesai memberi kabar pada Farhan tentang persalinan Dina. Apakah Pak Hermanto berharap Farhan akan datang? Tidak.
Sebaliknya, ia seolah sedang mengultimatum Farhan, bahwa dirinya tak akan tinggal diam setelah putrinya dizalimi oleh suaminya sendiri.
•••
Kabar bahwa Dina telah melahirkan, akhirnya didengar oleh keluarga Permana. Namun, bukan kebahagiaan yang terpancar dari wajah Farhan maupun kedua orang tuanya, tapi sikap yang dingin, seolah mereka baru saja menerima kabar duka.
“Jadi bayinya sudah lahir,” gumam Pak Jatmiko, ekspresi wajahnya tetap datar seperti triplek diampelas.
Bu Sintia pun bersikap tak jauh beda dengan suaminya.
Farhan hanya mengangguk kaku, “Iya, Yah. Sudah.”
“Kondisinya?” catus Bu Sintia, tak tahan ingin ikut bertanya.
“Tepat sesuai dengan prediksi dokter.”
Bu Sintia tertawa sinis, seolah sedang bertepuk tangan, padahal bayi Dina adalah cucunya sendiri. “Begitulah kalau tak mau menuruti nasehat dokter, sekarang sudah begini dia sendiri, kan, yang repot.”
Bu Sintia menegakkan posisi duduknya. “Dan kamu, Farhan. Segera urus perceraian kamu dengan Dina. Sebelum wanita itu dan orang tuanya merongrong harta keluarga kita.”
Farhan terdiam sejenak, perang batin sedang berkecamuk, antara iya dan tidak, ada naluri kebapaan yang sedang memanggilnya. Ia Ingin berlari menghampiri istrinya, namun, disisi lain, ia tetap ingin mempertahankan keegoisannya sebagai seorang lelaki.
“Mas, temuilah Mbak Dina, dia pasti membutuhkan kehadiranmu.” Sejak tadi hanya diam, ini saat yang tepat bagi Sarah untuk menarik simpati dari mertuanya.
Farhan menoleh ke arah istri mudanya, wanita yang sejak tadi diam itu, kini terlihat sedang menunjukkan ketulusan, meski sebenarnya palsu.
“Apa?! Jangan coba-coba datang, Farhan!” sentak Bu Sintia, kedua matanya melotot tajam.
“Ibumu benar, tak usahlah datang, nanti mereka pikir kamu lemah dan mudah melunak. Tunjukkan harga dirimu sebagai suami, Dina yang meminta cerai bukannya kamu, ingat itu!” Ucapan Pak Jatmiko membuat kegalauan Farhan sirna seketika.
“Aku ke ruang kerja dulu, ada berkas yang harus diperiksa.” Farhan pamit, meninggalkan seluruh keluarganya, ia ingin menyendiri untuk saat ini.
Selepas Farhan pergi, Bu Sintia kembali menatap menantunya. “Ngomong-ngomong kenapa kamu menyuruh suamimu datang menemui Dina? Bukankah sebaiknya Farhan tak bertemu Dina?”
“Kasihan Mbak Dina, Bu,” sahut Sarah, benar-benar sandiwara yang sempurna, seolah dia adalah istri yang pengertian.
“Kasihan itu kalau dia tertimpa musibah, lha ini musibah bukan, yang ada malah diharapkan.”
Diam-diam Sarah tertawa, ia tak melanjutkan pembahasan soal Dina, karena tujuannya telah tercapai. Maksud hati ingin mendorong musuh ke dasar jurang, tapi menggunakan cara seolah sedang memberi pertolongan. Itulah muslihatnya beberapa saat yang lalu.
Pak Jatmiko mengamati Sarah dengan tatapan sulit dibaca, sementara Bu Sintia mulai menyadari sesuatu, beberapa waktu terakhir ini, Sarah memang berubah.
Wanita itu sering gelisah, bahkan ketika Farhan hanya menerima telepon yang mengharuskannya membahas pekerjaan. Meski sudah dijawab dan dijelaskan, tapi terkadang Sarah tetap memaksa ingin tahu siapa yang menghubungi suaminya.
“Sarah,” ujar Bu Sintia.
Sarah mendongak, berpaling sejenak dari Malika yang mulai tidur pulas. “Iya, Bu?”
“Akhir-akhir ini kamu gelisah, kenapa?”
Deg!
Sarah terkejut, dalam diam ia menyimpan kepanikan, karena tak menyangka akan mendengar pertanyaan tersebut dari mertuanya. “Memang kenapa, Bu?”
“Kamu itu ditanya! Kok, malah bertanya?”
Sarah menggaruk kepalanya, “Tidak kenapa-napa, kok, Bu.”
“Tapi kamu sering diam, kadang pergi beberapa jam kemudian baru kembali.”
Sarah kembali tertawa kecil, “Kebetulan saja, ada perlu, Bu.”
Bu Sintia tidak langsung percaya begitu saja, tapi tetap memilih diam.
Sementara itu, kedua lengan Sarah memeluk tubuh Malika semakin erat, hingga tak lama kemudian bayi itu menggeliat karena merasa tak nyaman. Ia tak takut pada mertuanya, namun, ia takut dicampakkan oleh Farhan bila kelak pria itu mengetahui hubungannya dengan Cakra serta mulai mempertanyakan siapa sebenarnya ayah Malika.
“Kalau ada masalah sebaiknya kamu bercerita, jangan dipendam sendiri, takutnya masalahmu sekarang justru semakin parah, hingga menjadi penghalang kebahagiaanmu.”
Jantung Sarah semakin berdetak cepat. “Tidak, kok, Bu. Tidak ada masalah berarti.”
“Semoga saja begitu.”
Tangisan Malika memberinya sebuah alasan bagus, “Bu, aku ke kamar dulu,” pamit Sarah.
Sesampainya di kamar, Sarah menghembuskan nafas lega, sambil menatap ponselnya yang kini kosong. Rasanya dadanya semakin sesak, kebebasannya mulai terenggut karena Cakra semakin berani mengendalikan hidupnya.
Sarah mengepalkan tangannya, “Tidak, aku tak boleh kehilangan semuanya,” geramnya. “Apapun yang terjadi, aku harus tetap mempertahankan posisiku sebagai menantu pertama di keluarga Permana.”
•••