Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Siang itu, suasana perpustakaan sekolah terasa begitu hening dan tenang. Sinar matahari menerobos masuk dari sela-sela jendela kaca besar, membiaskan titik-titik debu yang melayang di udara. Di sudut ruangan yang paling sepi, Maya duduk sendirian menghadapi tumpukan buku tebal Biologi dan kumpulan soal-soal olimpiade tahun lalu. Jemarinya yang kurus menari-nari di atas kertas catatan, mencoret rumus-rumus genetika dan menghafal istilah-istilah medis dengan ketekunan yang teramat sangat. Bagi Maya, perpustakaan adalah benteng terakhir, tempat ia bisa melupakan sejenak beban hidup dan hinaan yang terus menerus menghantamnya.
Namun, ketenangan itu tak pernah bertahan lama jika Lexa sudah mengincarnya.
Suara langkah kaki berdentang nyaring di atas lantai kayu perpustakaan yang bisu. Tanpa memedulikan papan petunjuk "Harap Tenang" yang tergantung di dinding, Lexa melangkah masuk dengan gaya anggun yang angkuh. Di belakangnya, Hani, Aurel, dan Lana mengekor erat. Mereka bergerak mengepung meja di mana Maya sedang belajar.
"Duh, rajin banget si anak penjual sayur ini," suara Lexa mengalun lambat, bernada ejekan yang menusuk telinga.
Maya tersentak. Tangannya yang sedang memegang pulpen seketika berhenti. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, meremas ujung rok seragamnya saat aroma parfum mahal milik Lexa mulai menusuk hidungnya.
Lexa melangkah lebih dekat, lalu tanpa permisi menarik salah satu buku tebal yang sedang dibaca Maya. Dengan raut wajah penuh jijik, Lexa membolak-balik lembaran buku tersebut, lalu menghempasnya begitu saja ke atas meja hingga menimbulkan dentuman keras yang bergema di dalam ruangan yang sunyi. Petugas perpustakaan yang berada di sudut lain sempat menoleh, namun langsung membuang muka begitu melihat sosok Lexa yang merupakan putri dari penyokong dana terbesar sekolah.
"Lu tuh kasihan banget ya, Maya," ujar Lexa seraya menyandarkan kedua tangannya di atas meja, menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan Maya yang ketakutan. "Capek-capek rela in waktu tidur, matamu sampai mau lepas baca buku-buku kotor begini. Buat apa sih?"
Hani dan Aurel tertawa terkekeh di belakang Lexa. "Iya nih, Maya. Mending lu pulang aja deh, bantu ibu lu ngikat sayur di pasar daripada sok-sokan kerja keras di sini," timpal Hani dengan nada melecehkan.
Maya tetap membisu, berusaha menahan guncangan di dadanya. Air mata mulai tergenang di balik kacamata tebalnya, namun ia sekuat tenaga menahannya agar tidak menetes di depan para penindasnya.
Lexa tersenyum miring, merasa puas melihat reaksi korban perundungannya. Dengan jemarinya yang terawat rapi, ia mengetuk-ngetuk meja tepat di hadapan Maya.
"Gue mau kasih tahu lu satu rahasia kecil, Maya," bisik Lexa penuh racun. "Mending lu berhenti belajar dari sekarang. Nggak usah buang-buang tenaga lu yang murah itu. Karena apa pun yang lu lakukan, piala olimpiade minggu depan itu udah ada di dalam genggaman gue. Kemenangan itu udah pasti milik gue!"
Maya memberanikan diri mendongak sedikit, menatap kacamata hitam yang bertengger di wajah Lexa. "Kenapa kamu bisa seyakin itu, Lexa...?" cicit Maya dengan suara serak.
"Kenapa?" Lexa tertawa melengking, suara tawanya sarat akan kesombongan murni. "Lu lupa siapa gue dan siapa papa gue? Lu itu cuma serangga kecil yang kebetulan pintar di atas kertas murah. Tapi di dunia nyata, uang, kuasa, dan nama besar keluarga gue yang bakal selalu menang. Mau setinggi apa pun nilai lu nanti, tempat lu bakal tetap ada di bawah telapak kaki gue!"
Lexa menyenggol tumpukan buku catatan Maya hingga berserakan di lantai dingin perpustakaan. Lana dan Aurel ikut menendang-nendang kertas catatan itu dengan sepatu bersih mereka, mengotorinya dengan debu.
"Udah yuk, cabut," ujar Lexa santai seraya mengibas-ibaskan tangannya seolah baru saja menyentuh kotoran. "Nggak usah lama-lama di sini, baunya kotor kayak gubuk si Maya."
Tanpa rasa penyesalan sedikit pun, Lexa dan ketiga pengikutnya berbalik arah dan melangkah pergi, melontarkan tawa puas yang terus bergema sepanjang lorong perpustakaan hingga suara pintu depan tertutup.
Di dalam ruangan yang kembali sunyi, Maya terduduk lemas di kursinya. Bahunya tergetar hebat. Ia berlutut di atas lantai yang dingin, memunguti lembar demi lembar catatan belajarnya yang telah kotor terinjak sepatu Lexa dan gengnya. Saat jemarinya mengusap noda hitam di atas kertas yang ia tulis dengan susah payah hingga larut malam, air matanya akhirnya lolos dan menetes membasahi kertas tersebut.
Hinaan tentang rumahnya, ibunya, status sosialnya, serta kesombongan Lexa yang merasa bisa membeli segalanya dengan uang, menancap teramat dalam di dalam ulu hati Maya.Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda di dalam dada gadis itu.Rasa takut dan kepasrahan yang selama ini membelenggu jiwanya perlahan-lahan menguap, berganti menjadi ledakan tekad yang teramat dahsyat. Api keberanian meletup di balik dadanya yang sesak. Maya menyapu air mata di pipinya dengan kasar. Ia menggenggam erat kertas catatannya hingga remuk."Kamu salah, Lexa..." bisik Maya lirih pada dirinya sendiri, suaranya kini tak lagi bergetar oleh ketakutan, melainkan bergetar oleh amarah yang terarah. "Uang kamu mungkin bisa beli segalanya, tapi kamu nggak akan pernah bisa beli otak dan kerja keras aku."
Maya bangkit berdiri dari lantai, menegakkan punggungnya yang selama ini selalu tertekuk pasrah. Ia merapikan kacamatanya yang miring, lalu menata kembali tumpukan buku-buku tebalnya di atas meja. Rasa lelah di tubuhnya mendadak sirna, tergantikan oleh ketetapan hati yang tak tergoyahkan.
Olimpiade minggu depan bukan lagi sekadar ajang perlombaan akademik biasa bagi Maya. Ini telah menjadi medan pertempuran harga diri. Maya bertekad dengan seluruh jiwa dan raganya bahwa ia akan merebut posisi Juara Pertama dalam perlombaan tersebut. Ia ingin menghancurkan keangkuhan Lexa tepat di panggung terhormat, menunjukkan kepada sekolah, kepada orang tua Lexa, dan kepada dunia bahwa seorang anak penjual sayur yang dihina sanggup meruntuhkan kesombongan harta dengan kejujuran dan ketekunan yang sejati.
Dengan mata berbinar penuh keberanian yang belum pernah terpancar sebelumnya, Maya kembali menarik kursinya, membuka buku pelajaran Biologi Molekuler, dan mulai menenggelamkan diri dalam lembaran-lembaran ilmu siap menyongsong hari di mana ia akan membuktikan kemenangannya.