Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Soto Bandung untuk Tiga Orang
Kantin karyawan Sundara Group cabang Bandung terletak di lantai dasar, berbau kuah, bawang goreng, dan sedikit minyak jelantah. Pukul dua belas kurang lima, ruangan itu sudah penuh. Lia dan Basti duduk di meja pojok dekat jendela, dengan dua mangkuk soto Bandung yang masih mengepul di depan mereka.
"Ini nikmat," ujar Basti, menyendok lobak. "Cirebon tidak punya soto seperti ini."
"Cirebon punya empal gentong."
"Empal gentong tidak sama dengan soto Bandung. Ini seperti membandingkan aku dengan Bapak CEO." Basti mengedip. "Sama-sama laki-laki, tapi salah satunya lebih ramah."
"Salah satunya lebih pendek juga."
"Aku tidak pendek."
"Beda dua senti."
"Dua senti itu sepenting dua puluh."
Lia tertawa, dan tepat ketika tawa itu mereda, kantin mendadak sunyi.
Bukan sunyi total. Sendok masih beradu, tapi obrolan berhenti seperti kabel terputus. Lia mengangkat kepala, dan yang ia lihat membuat sendoknya berhenti di udara.
Navin Sundara berdiri di pintu kantin dengan nampan di tangan.
Nampan. Di tangan. CEO perusahaan yang gedung pusatnya punya restoran privat di lantai empat puluh, berdiri di ambang kantin karyawan sambil memegang nampan stainless berisi semangkuk soto dan sepiring nasi.
"Ya Tuhan," bisik seseorang.
"Itu asli?"
"Dia sakit?"
Rangga, yang duduk bersama timnya di dekat pintu, langsung berdiri. "Pak, silakan duduk di sini."
"Tidak perlu."
"Pak, kami sudah selesai..."
"Duduk, Rangga."
Rangga duduk kembali dengan wajah pucat. Navin menyapu ruangan dengan matanya, dan Lia melihat rahang pria itu mengeras. Semua meja penuh. Tidak, ada satu kursi kosong di meja pojok.
Ia melangkah. Setiap langkahnya terdengar. Lia merasakan jantungnya meloncat, dan ia berbisik cepat pada Basti, "Jangan bilang apa-apa."
"Aku tidak bilang apa-apa."
"Wajahmu bilang banyak."
Navin berhenti di depan meja mereka. "Kosong?"
Basti tersenyum ramah. "Silakan, Pak."
Ia duduk di sisi Lia, bukan di sisi Basti. Ia meletakkan nampan. Lia menyadari betapa kecilnya bangku plastik kantin untuk pria setinggi itu, betapa ia membawa dunia yang berbeda ke meja formica ini. Tapi bukan itu yang membuat perutnya mengencang, melainkan cara pria itu menunduk memandang mangkuk, seperti orang yang berpura-pura tidak gugup sambil membaca instruksi cara makan soto. Aroma kayu cendana samar melintas, membuat perut Lia mengencang untuk alasan yang tidak ingin ia periksa. Kantin perlahan kembali riuh, tapi sesekali kepala-kepala menoleh ke meja mereka seperti penonton di bioskop.
Sunyi tiga detik.
"Kamu suka soto?" tanya Navin. Ia menatap mangkuknya, bukan Lia.
"Suka, Pak."
"Dia lebih suka kalau ada kerupuk," ujar Basti.
"Ophelia tidak suka kerupuk."
Lia dan Basti menatapnya bersamaan.
"Dari mana Bapak tahu?" tanya Lia pelan.
Navin membeku dengan sendok di tangan. "Saya... melihat."
"Melihat?"
"Kamu makan di meja. Setiap siang. Kamu selalu menyingkirkan kerupuk dari kotak nasi."
Sunyi. Basti mengangkat alis sangat, sangat perlahan. Lia merasakan telinganya memanas.
"Itu... pengamatan yang teliti, Pak."
"Saya melakukan pengawasan."
"Tentu."
Navin menyendok kuah, meniupnya, dan menelannya tanpa ekspresi. Lia mengira ia akan bertanya sesuatu tentang pekerjaan, dan ia sudah menyiapkan jawaban. Tapi pertanyaan berikutnya benar-benar di luar dugaan.
"Sudah lama kalian saling kenal?"
"Dua puluh tiga tahun, Pak," jawab Basti riang.
"Kalian... bersama?"
"Berteman, Pak. Tapi kalau Bapak menganggapnya lain, saya tidak akan menyanggah."
Lia menendang. Ia mengarahkan kakinya ke tulang kering Basti, tapi ujung sepatunya menabrak sesuatu yang lebih keras dan lebih jauh.
Sepatu kulit. Bukan milik Basti.
Navin berdeham, terlalu keras. Lia menarik kakinya seperti tersengat listrik. Wajahnya memanas sampai ke leher.
"Maaf, Pak," bisiknya.
"Tidak apa-apa."
"Saya tidak bermaksud..."
"Tidak apa-apa."
Basti sibuk menatap mangkuknya dengan bahu berguncang.
"Ada rumor," ucap Navin, setelah ia meminum air, "bahwa kalian akan bertunangan."
Lia mengangkat dagunya. "Itu tidak benar, Pak."
"Belum," sahut Basti.
"Bas!"
"Maksudku, belum. Karena Lia menolak melamar aku duluan." Ia menyesap kuah dengan tenang. "Kami sudah sepakat, siapa yang duluan menikah, yang lain jadi juru foto."
Sendok Navin berhenti di udara. Lia melihatnya. Ia melihat buku jari pria itu mengencang di sekeliling gagang sendok, dan bibirnya membentuk garis tipis. Hanya sedetik. Setelah itu ia meletakkan sendok dengan sangat hati-hati.
"Saya harus kembali."
"Bapak belum menghabiskan sotonya."
"Saya tidak lapar."
"Baru tiga suap, Pak."
"Saya kenyang."
Ia berdiri, mengambil nampan yang masih penuh, dan berjalan keluar dengan langkah tegak. Kantin kembali sunyi sampai ia menghilang. Lalu bisik-bisik pecah di seluruh ruangan seperti bunyi hujan.
Lia menatap punggung itu, lalu menatap Basti dengan tatapan yang bisa membekukan kuah panas.
"Kamu."
"Aku."
"Kamu sengaja."
"Aku berbicara jujur." Basti mengangkat bahu. "Aku tidak bilang apa-apa yang bohong."
"Kamu menyiram bensin."
"Aku hanya menyalakan korek."
"Bas!"
"Ophelia." Basti menurunkan suaranya. "Kamu lihat wajahnya?"
"Aku tidak lihat."
"Kamu lihat. Dia hampir mencekik sendoknya." Ia menyandarkan punggung dan menatap Lia dengan serius. "Dia cemburu."
Lia menatap kuah, memikirkan kantung mata pria itu pagi tadi dan cara ia mengucapkan saya melihat seolah itu pengakuan yang bukan ia maksudkan. Ia tidak mau memikirkan hal itu. Ia benar-benar tidak mau.
"Dia atasanku."
"Itu bukan bantahan."
"Dia orang yang menyakitiku, ingat?"
"Aku ingat. Aku mengingatnya tiap hari." Basti menatapnya. "Tapi orang itu juga mengingat di mana kerupukmu, Lia. Dari mana dia tahu?"
Lia membuka mulut, lalu menutupnya. Ia menunduk menatap kuah sotonya yang sudah tidak lagi mengepul. Ia tidak punya jawaban. Ia hanya punya perasaan aneh di dada, seperti orang yang menemukan bahwa di kamarnya sendiri ada pintu yang tidak pernah ia sadari.
* * *
Di dalam lift yang naik dengan kecepatan konstan, Navin berdiri sendirian menatap angka lantai.
Belum.
Kata itu berputar di kepalanya, semakin keras, semakin tajam. Ia mencoba menepisnya, tapi tidak bisa. Ia mencoba memikirkan hal lain: rapat sore, draf kontrak, angka penjualan. Tapi yang muncul justru wajah pria berlesung pipi yang menyebut Lia seolah nama itu miliknya sejak kecil.
Pintu lift terbuka di lantai tiga. Ia melangkah keluar dan berdiri diam di koridor kosong.
Ia mengerti sekarang, dan pengertian itu datang dingin, seperti air yang tumpah di punggung. Sesuatu yang sudah menempel di dadanya sejak tiga minggu lalu, yang ia sebut lelah, sebut rasa bersalah, sebut ketidaknyamanan atas kekejamannya sendiri, bukan salah satunya.
Tapi ia belum sanggup menyebutkan namanya. Bahkan hanya dalam hati.
"Belum," ulangnya pelan, kepada koridor sepi.
Ia bahkan tidak ingat rasa soto tadi. Yang ia ingat hanya sepatu perempuan itu yang menyentuh sepatunya, sepersekian detik, dan betapa ia berharap ketidaksengajaan itu bukan salah alamat.
Dan untuk pertama kalinya, ia berharap kata itu tidak pernah diucapkan.