SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Pos pertama dan?
BAB 15: "POS PERTAMA & PERTANDA DI TENGAH PINUS"
Deru mesin bus yang meraung-raung perlahan mereda berganti dengan desir angin pegunungan yang menusuk kulit. Setelah empat jam perjalanan membelah jalanan berliku dan menanjak, rombongan SMA Nusantara Mandiri akhirnya tiba di area perkemahan utama Hutan Pinus Giri Kusuma.
Udara dingin berkabut menyambut kedatangan para siswa. Pohon-pohon pinus raksasa menjulang tinggi mencakar langit, menutupi sebagian besar sinar matahari sore dan menciptakan suasana remang-remang yang misterius. Bau tanah basah dan getah pinus yang khas menyeruak masuk ke dalam indra penciuman.
"Semua peserta harap berkumpul sesuai dengan kelompok masing-masing di depan Pos Utama!" suara toa dari Pembina OSIS menggema di antara pepohonan.
Aira melangkah turun dari Bus Panitia, menarik napas dalam-dalam menikmati udara segar yang bebas dari polusi kota. Di belakangnya, Langit berjalan santai sambil menyandang dua tas kerir di bahunya—tas miliknya sendiri dan tas hitam milik Aira.
"Siniin tas gue, Kanebo," pintas Aira sambil mengulurkan tangan. "Malu-maluin dilihatin anak-anak lain."
Langit menatap Aira datar, lalu menyerahkan tas kerir tersebut tanpa bersuara. "Pakai jaket lu. Udara di sini makin malam makin dingin."
"Iya, bawel," dengkus Aira, walau tangannya tetap merapatkan resleting jaket denimnya.
Di area lapangan rumput Pos Utama, Bimo berlari mendekati Aira dengan wajah kepanasan padahal cuaca sedang dingin. "Ra! Gila, tempatnya serem juga ya! Gue denger cerita dari warga lokal di warung depan, Sektor 4 hutan ini katanya ditutup total karena banyak jurang terjal sama sering ada hewan buas."
Aira menaikkan sebelah alisnya. "Sektor 4?"
"Iya, Sektor 4 itu batas luar hutan," sambung Kenzo yang baru bergabung bersama mereka sambil membawa peta wilayah. "Area itu dipasang pagar kawat dan papan peringatan bahaya. Peserta survival game besok ditegasin gak boleh melewati batas Sektor 3."
Aira menyipitkan matanya, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di sudut lapangan dekat tumpukan kayu bakar, dia menangkap sosok Valerie yang sedang berdiri sendirian.
Cewek itu tidak bergabung dengan teman-temannya, melainkan sibuk mengetik sesuatu di layar HP-nya dengan gelisah. Begitu menyadari pandangan Aira, Valerie cepat-cepat memasukkan HP-nya ke dalam saku jaket dan memalingkan wajah dengan ekspresi tegang.
Nenek sihir itu kelihatan mencurigakan banget, batin Aira curiga. Insting bertarungnya yang terasah dari kehidupan masa lalu memberi sinyal bahaya. Ada bau-bau konspirasi busuk yang sedang dirancang di tempat ini.
Malam harinya, suhu udara Hutan Giri Kusuma merosot tajam. Kabut tebal mulai turun menyelimuti tenda-tenda peserta.
Setelah acara pengarahan dan makan malam bersama di sekitar api unggun utama, para siswa mulai dibubarkan menuju area perkemahan masing-masing. Namun, sebagai Ketua OSIS dan penanggung jawab keamanan, Langit masih harus melakukan patroli keliling di perbatasan area tenda bersama tim panitia.
Aira yang merasa bosan dan gerah di dalam tenda cewek memilih untuk duduk di atas sebuah batu besar di pinggir aliran sungai kecil, tak jauh dari batas penerangan lampu pos. Dia mengayun-ayunkan kakinya, menikmati suara gemericik air dan kerikil sungai.
Sret... sret...
Suara gesekan ranting dan semak-semak kering dari balik kegelapan hutan di seberang sungai mendadak membuat Aira bersiap. Tangannya dengan cepat bergerak meraba pisau lipat yang selalu dia simpan di dalam saku kargo celananya.
Aira tidak bergerak sedikit pun, pura-pura tidak mendengar. Matanya menyempit menembus kegelapan kabut.
Di balik batang pohon pinus besar berjarak belasan meter, tampak dua bayangan pria bertubuh kekar mengenakan jaket kulit hitam dan masker penutup wajah. Di leher salah satu pria itu, Aira bisa melihat sekilas kilatan tato yang tak asing—tato kalajengking.
Anak buah geng Krava? Atau geng baru? batin Aira dingin. Cepat banget mereka nemuin tempat ini.
Dua pria bermasker itu tampak berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah Aira, lalu memberi isyarat tangan kode area—tiga jari yang mengarah ke dalam kegelapan Sektor 4. Tak lama kemudian, kedua bayangan itu menghilang secara senyap kembali menembus lebatnya hutan.
Aira menyunggingkan senyum miring yang penuh kejahatan. "Oho... jadi permainan jebakannya bakal dimainin besok, ya?"
"Lu ngapain sendirian di sini?"
Suara berat Langit mendadak terdengar dari balik punggungnya, memecah kesunyian malam.
Langit melangkah mendekat, lalu melepaskan jaket lapangan tebal warna navy yang dikenakannya dan menyampirkannya ke bahu Aira.
Suhu dingin yang sempat merayap di kulit Aira langsung tergantikan oleh rasa hangat dari jaket Langit yang beraroma harum kayu cendana dan sedikit wangi maskulin.
Aira mendongak, menatap Langit yang kini hanya mengenakan kaus hitam lengan panjang.
"Lu tuh ya, kebiasaan banget datang gak ada suaranya kayak jelangkung."
"Gue nanya, ngapain di sini?" ulang Langit, duduk di atas batu besar di samping Aira tanpa memedulikan tanah dingin. "Di luar dingin. Anak cewek lain udah pada masuk tenda."
Aira merapatkan jaket Langit di tubuhnya, menatap lurus ke arah kegelapan Sektor 4 di seberang sungai. "Langit... kalau besok ada hal buruk yang terjadi pas permainan survival, lu bakal percaya sama gue atau sama aturan sekolah?"
Langit terdiam sejenak. Matanya yang tajam menatap samping wajah Aira yang tersorot cahaya rembulan redup. Dia meraih tangan Aira yang dingin, menggenggamnya erat di dalam jemari tangannya yang hangat dan besar.
"Gue gak peduli sama aturan sekolah," kata Langit dengan nada suara yang sangat dalam, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun. "Gue cuma percaya sama lu. Siapa pun yang berani nyentuh lu besok... bakal bernasib lebih buruk daripada anak-anak Krava di pelabuhan."
Aira merasakan debaran aneh yang amat kuat di dadanya. Tatapan mata Langit begitu jujur dan dominan, seolah cowok itu bersedia membakar seluruh hutan ini hanya demi menjaga keselamatan Aira.
Aira tertawa pelan untuk menutupi rasa canggungnya. Dia menepuk bahu Langit. "Sok jagoan lu, Kanebo. Yaudah, ayo balik ke tenda. Gue udah lapar lagi nih."
Langit ikut tersenyum tipis, berdiri lalu menarik tangan Aira untuk membantunya berdiri dari batu.
Saat mereka berjalan berdampingan kembali ke area terang perkemahan, Aira mengepalkan tangan di dalam saku jaket Langit.
Valerie, Bagas, atau siapa pun bos geng kalian... batin Aira mantap. Besok di Sektor 4, kita lihat siapa yang bakal jadi pemburu dan siapa yang bakal jadi mangsa!
see you next bab 16
jangan lupa like dan komen jika suka cerita ini
dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?