Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Di Balik Pintu Tertutup
“Bu, tolong buka pintunya, Bu! Kumohon, biarkan aku bertemu dengan Gala!”
Suara Mawar memecah keheningan rumah disertai bunyi ketukan pintu yang semakin keras, berulang-ulang, penuh keputusasaan dan kegelisahan. Ia tahu betul bahwa hari ini, tepat pada jam yang disepakati, Gala akan datang berkunjung ke rumahnya. Namun nampaknya, kabar rencana kedatangan itu lebih dulu sampai ke telinga Bu Gendis, dan sang ibu telah bertindak cepat. Tanpa ampun, tanpa penjelasan, pintu kamar Mawar telah dikunci rapat dari luar, sehingga gadis itu terperangkap sendirian di dalam ruangan yang terasa semakin sempit dan pengap.
Mawar meluruhkan tubuhnya bersandar di balik daun pintu yang kokoh itu, lututnya tak lagi kuat menahan beban tubuh dan kekhawatiran yang memuncak. Napasnya terengah-engah, bahunya naik turun menahan tangis yang nyaris meledak. Di luar sana, di halaman depan, ia bisa mendengar suara gaduh, teriakan-teriakan keras, hingga amarah yang meluap-luap. Setiap kali suara keras terdengar, jantungnya berdegup makin kencang hingga terasa nyeri di dada, seolah akan hancur berantakan.
“Ya Tuhan… lindungilah Gala. Semoga mereka tidak menyakiti dia… semoga dia selamat…” gumam Mawar lirih, air mata jatuh berderai membasahi pipi. Tak ada kekuatan lain yang ia miliki saat ini selain menyerahkan segalanya pada Tuhan dan berdoa sekuat tenaga, berharap doa itu bisa menembus dinding tebal dan sampai ke pada Gala.
Beberapa menit berlalu, namun rasanya seperti berjam-jam. Waktu berjalan begitu lambat, setiap detik terasa berat dan menyiksa. Hingga akhirnya, suara kunci pintu berputar perlahan, bunyi gesekan logam yang terdengar nyaring di keheningan. Pintu terbuka perlahan, dan tampaklah Jingga, kakak kandungnya, berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat pasi, matanya penuh kecemasan, kebingungan, dan rasa tidak tenang yang mendalam.
“Kak…”
Mawar langsung melompat bangkit dan masuk ke dalam pelukan sang kakak, tangisnya meledak sejadi-jadinya, seolah menumpahkan segala ketakutan, kesedihan, dan rasa sesak yang selama ini tertahan di dalam dadanya.
Jingga memeluk sang adik sekuat tenaga, mengusap punggungnya berulang kali dengan lembut, berusaha menenangkan, namun getaran halus di tubuhnya sendiri tak bisa disembunyikan.
“Mawar, tenanglah… tarik napas pelan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua ini bisa jadi seperti ini? Kenapa Ibu sampai mengurungmu?” tanya Jingga penuh kebingungan.
Mawar mengangkat wajahnya yang basah kuyup oleh air mata, menatap mata sang kakak dengan pandangan penuh kepasrahan namun juga ketegasan yang belum pernah terlihat sebelumnya.
“Aku dan Gala saling mencintai, Kak. Kami berdua sudah sepakat untuk membangun masa depan bersama. Apa itu salah? Apa mencintai seseorang dengan tulus harus menjadi dosa yang membuat kami dipisahkan seperti ini?”
Jingga terdiam sesaat, bibirnya terkatup rapat. Di dalam hatinya, ia merasa bimbang, di satu sisi ia mengerti kekhawatiran sang ibu, namun di sisi lain, ia melihat ketulusan yang terpancar jelas dari mata adiknya. Perlahan, Jingga menatap Mawar dengan tatapan lembut namun penuh keyakinan.
“Itu tidak salah, Mawar. Mencintai dan berniat membangun rumah tangga yang baik itu memang hal yang luhur. Tapi aku ingin bertanya padamu sekali lagi, apakah kamu benar-benar yakin? Apakah kamu yakin Gala itu cinta sejatimu, orang yang sanggup melindungimu, memegang janji, dan bertahan melewati segala rintangan berat yang ada di depan mata?”
Tanpa ragu sedikit pun, Mawar mengangguk mantap.
“Aku yakin, Kak. Dia satu-satunya orang yang aku percaya, satu-satunya yang membuatku merasa aman, dan satu-satunya yang mau menerima aku apa adanya. Tak ada orang lain selain dia.”
“Kalau begitu, percayakan semua ini pada Kakak. Kamu istirahatlah sebentar, tenangkan hatimu. Kakak akan keluar dan bicara baik-baik dengan Ibu, berusaha meyakinkan beliau agar hubungan kalian direstui dan dihargai,” janji Jingga dengan nada tegas namun menenangkan, lalu ia mengusap sisa air mata di pipi adiknya sebelum berbalik keluar kamar untuk menghadapi kenyataan yang berat di luar sana.
Sementara itu, di balik rimbunan semak dan tembok tinggi pembatas pekarangan, Gala berdiri terhuyung-huyung, nyaris tak mampu berdiri tegak. Wajahnya kini penuh memar dan lebam, sudut bibirnya berdarah, pelipisnya bengkak, dan seluruh tubuhnya terasa nyeri luar biasa akibat pukulan-pukulan keras dari Bima yang selama ini menyembunyikan rasa benci dan keinginan posesif yang gila.
Dengan sisa tenaga dan kesadaran yang masih ada, Gala berjalan menyusuri sisi tembok, berusaha bergerak pelan dan rendah agar tidak terlihat oleh siapa pun, terutama oleh Bima. Ia ingat betul letak jendela kamar Mawar, jendela yang menghadap ke kebun belakang. Perlahan, ia sampai di sana, lalu mengetuk kaca jendela itu dengan sangat pelan, berulang kali, agar tidak menimbulkan suara yang bisa didengar orang lain.
“Mawar… ini aku, Gala. Buka jendelanya sebentar,” bisik pria itu dengan suara parau, serak, dan berat.
Di dalam kamar, Mawar belum juga bisa beristirahat atau memejamkan mata, hatinya masih gelisah tak menentu. Mendengar suara samar itu, ia tersentak kaget, bulu kuduknya berdiri. Ia segera melangkah mendekat, membuka tirai kain tebal itu perlahan, dan matanya terbelalak lebar, seakan tak percaya melihat sosok yang berdiri di sana, penuh luka, berdarah, namun masih berdiri tegak demi menemuinya.
“Gala!” seru Mawar tertahan, menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak keras. Ia segera membuka jendela dan menarik Gala masuk ke dalam kamar dengan cepat namun hati-hati.
Begitu melihat wajah Gala yang babak belur, mata Mawar memerah kembali, air mata mengucur deras tanpa henti. Ia menyentuh pipi, dahi, dan bahu Gala dengan tangan yang gemetar hebat.
“Siapa yang melakukan ini padamu? Siapa yang berani menyakitimu begini? Rasanya pasti sangat perih dan sakit sekali…”
Gala tersenyum tipis, senyum yang berusaha menyembunyikan rasa perih yang menyengat seluruh tubuhnya, agar Mawar tidak semakin sedih dan menderita.
“Tidak apa-apa, Mawar… ini hanya luka luar saja. Daging akan sembuh, memar akan hilang. Yang penting, aku masih bisa menemuimu, masih bisa melihatmu sekali lagi sebelum aku pergi.”
Mawar mengerutkan dahi bingung, matanya menatap tajam penuh pertanyaan. “Maksudmu pergi? Ke mana? Kapan?”
Gala mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan kayu dari saku kemejanya yang sudah kusut dan kotor. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia membuka tutup kotak itu, memperlihatkan sebuah cincin emas sederhana namun berkilau indah di bawah cahaya lampu yang redup. Dengan gerakan lembut dan penuh kasih sayang, Gala mengambil tangan kanan Mawar, lalu memasangkan cincin itu perlahan ke jari manis gadis itu.
“Besok pagi, sebelum matahari terbit, aku akan berangkat ke kota untuk bekerja. Mungkin butuh waktu lama, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelum aku bisa kembali lagi ke sini. Selama aku pergi, biarkan cincin ini yang mewakili kehadiranku, biarkan ia menjadi tanda janji kita. Ingatlah, di mana pun aku berada, hatiku tetap di sini, tetap bersamamu, tak akan pernah berubah dan tak akan pernah berpaling,” ucap Gala dengan suara tulus, berat, namun penuh ketegasan.
Air mata Mawar kembali mengalir deras, kali ini bukan hanya karena sedih, tapi karena rasa haru yang mendalam. Ia memeluk tubuh Gala erat sekali, seakan takut jika melepaskan pelukan itu sedetik saja, pria itu akan lenyap dan hilang selamanya.
“Terima kasih, Gala… Terima kasih sudah berjuang untukku. Aku akan menunggumu, apa pun yang terjadi, berapa pun lama waktunya. Aku akan tetap setia, menunggumu pulang membawa keberhasilan dan janji yang kau ucapkan hari ini.”
Namun keheningan yang penuh rasa dan kehangatan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, pintu kamar didorong dengan sangat keras dan kuat hingga membentur dinding di belakangnya, menimbulkan bunyi nyaring yang menggetarkan seisi ruangan.
“BRUK!”
Bima berdiri tegak di ambang pintu dengan wajah merah padam, urat lehernya menonjol jelas, matanya melotot penuh api amarah yang tak terkendali. Di belakangnya, tampak Bu Gendis yang berdiri gemetar, wajahnya bercampur antara rasa marah, kecewa, dan ngeri melihat pemandangan di hadapannya.
Melihat adegan pelukan dan keakraban itu, Bima meluapkan seluruh emosinya yang selama ini ia tahan.
“Apa yang kalian berdua lakukan?! Dasar tidak tahu malu! Berani sekali kalian berbuat kotor di rumah ini!” teriak Bima lantang, suaranya menggelegar.
Tanpa memberi kesempatan pada Mawar maupun Gala untuk menjelaskan, tanpa mendengar sepatah kata pun pembelaan, Bima melangkah cepat dan lebar ke arah mereka, lalu melayangkan satu pukulan keras lagi yang mendarat tepat di wajah Gala. Kekuatan pukulan itu membuat pria itu terhuyung mundur, kakinya tak mampu menahan, lalu terjatuh keras ke lantai.
“Kau kira kau bisa main-main dengan kami, bisa merusak kehormatan keluarga ini lalu pergi begitu saja?!” bentak Bima lagi, matanya menatap tajam ke arah Gala yang berusaha bangkit sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.
Mawar berteriak kencang, langsung menjatuhkan diri ke lantai di samping kekasihnya, melindungi tubuh Gala dengan tubuhnya sendiri.
“Jangan sentuh dia! Jangan sakiti dia lagi! Apa salahnya?! Apa salah kami berdua?!” jerit Mawar sambil menangis tersedu-sedu.
Bima menghentikan langkahnya sejenak, napasnya masih memburu, namun sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum miring yang menyeramkan. Tatapannya beralih dari Gala ke wajah Mawar, tatapan yang bukan lagi sekadar amarah, melainkan keinginan posesif yang gelap dan mengerikan.
Bersambung...