NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:746
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Menuntut Keadilan

"Kesalahan ini ada di bagian Keira."

Pernyataan senior itu membuat ruang diskusi mendadak sunyi.

Keira mengangkat kepala dari laptop. Di layar proyektor, kalimat hasil terjemahan kelompok mereka diberi garis merah oleh dosen. Kesalahan istilah kontrak tersebut mengubah makna kewajiban menjadi pilihan, sesuatu yang tidak bisa dianggap sepele.

"Bukan saya yang mengubah bagian itu," kata Keira.

Senior di ujung meja segera menyela. "Tadi malam kamu kirim revisi. Saya pakai versi itu."

"Revisi saya hanya paragraf pembuka. File akhir yang saya kirim masih memakai istilah wajib."

"Sekarang kamu mau cuci tangan?"

Ia bicara cepat dan yakin. Beberapa anggota kelompok saling berpandangan. Dosen mencatat sesuatu pada lembar penilaian.

"Pak, saya bisa tunjukkan file aslinya," Keira mencoba lagi.

"Nanti," jawab dosen. "Untuk sekarang, nilai kelompok tetap dikurangi karena hasil yang dipresentasikan salah."

Senior itu menghela napas seolah menjadi korban. "Makanya kalau revisi jangan mendadak. Saya sampai harus memperbaiki sendiri sebelum kelas."

Panas naik ke wajah Keira. Ia membuka riwayat dokumen, tetapi koneksi kelas lambat. Senior itu terus bicara, membangun cerita sebelum bukti sempat muncul.

Pintu ruang diskusi terbuka.

Reynard berdiri di sana membawa dua kotak makan siang. Ia datang menjemput Keira, tetapi ekspresinya berubah saat melihat mata perempuan itu memerah.

"Maaf mengganggu," katanya kepada dosen. "Saya tunggu di luar."

"Rey," panggil Keira. "Tunggu."

Ia tidak tahu kenapa memanggilnya. Mungkin karena tangan mulai gemetar dan ia butuh satu orang yang tidak memandangnya seperti terdakwa.

Reynard mendekat. Keira menunjukkan layar dan menjelaskan singkat. Cowok itu tidak bertanya siapa yang benar. Ia hanya meminta izin memegang ponsel Keira, membuka penyimpanan awan, lalu menghubungkannya ke layar.

"Ini riwayat versi," ujarnya. "File Keira dikirim pukul 21.14. Istilah di paragraf tujuh masih benar. Perubahan dibuat pukul 23.48 dari akun senior ini, lalu file diekspor pukul 23.51."

Senior itu pucat. "Saya cuma memperbaiki format."

"Riwayatnya menunjukkan kata yang diganti, bukan hanya format." Reynard memperbesar bagian tersebut. "Versi Keira bisa dibandingkan langsung."

Dosen berdiri dan membaca layar. Ia meminta Keira membuka surel pengiriman, lalu mencocokkan waktu. Seluruh bukti mengarah pada hal yang sama.

"Berarti kesalahan terjadi setelah revisi Keira," simpul dosen.

Bisik-bisik memenuhi ruangan.

Senior itu mencoba tertawa. "Mungkin saya salah ingat."

"Anda tadi bukan mengatakan mungkin," kata Keira. Suaranya masih bergetar, tetapi ia tidak menunduk. "Anda bilang saya yang mengubah dan mencoba cuci tangan."

Dosen menutup laptop. "Nilai Keira dan anggota lain akan saya kembalikan. Pengurangan hanya berlaku pada bagian Anda. Tuduhan tanpa memeriksa riwayat dokumen juga saya catat sebagai pelanggaran kerja kelompok."

Wajah senior itu berubah merah. Ia membereskan tas terburu-buru dan keluar tanpa menatap siapa pun.

Sebelum pintu tertutup, dosen memanggilnya kembali. "Anda belum meminta maaf."

Senior itu berhenti dengan tangan pada gagang. Semua anggota kelompok menunggu. Ia akhirnya berbalik dan mengucapkan maaf singkat kepada Keira, terlalu pelan untuk terdengar tulus.

"Lebih jelas," kata dosen.

Wajahnya semakin merah. "Maaf, Keira. Saya menuduh tanpa memeriksa."

Keira mengangguk. "Saya terima. Tolong kirim koreksi ke grup karena tuduhan tadi juga disampaikan di depan semua orang."

Permintaan itu membuat beberapa orang terkejut. Biasanya Keira memilih menyelesaikan masalah tanpa memperpanjang. Namun kali ini kesalahan tersebut sudah hampir menodai nilai dan reputasinya. Permintaan maaf pribadi tidak cukup.

Senior itu membuka grup, menulis koreksi, dan mengirimnya di depan dosen. Barulah ia diizinkan keluar.

Reynard berdiri sedikit di belakang Keira. Ia tidak bicara lagi, tetapi kehadirannya membuat punggung Keira tetap tegak ketika seluruh kelompok membaca pesan koreksi.

Salah satu anggota kelompok mendekati Keira. "Maaf, tadi aku sempat percaya. Dia ngomongnya yakin banget."

"Lain kali lihat bukti dulu," jawab Keira.

Dosen mengangguk setuju. "Itu pelajaran paling penting hari ini. Dalam penerjemahan profesional, jejak revisi melindungi semua pihak."

***

Di luar kelas, Keira berjalan terlalu cepat. Reynard menyusul dan menyerahkan kotak makan.

"Cici belum makan."

"Kok kamu selalu muncul pas ada masalah?"

"Hari ini karena janjian makan siang."

"Kalau kamu terlambat lima menit, nilai kelompokku sudah dipotong."

"Kalau aku terlambat, Cici tetap bisa membuktikannya. Tadi koneksinya cuma lambat."

Keira berhenti. "Kamu benar-benar percaya aku? Bahkan sebelum lihat riwayat?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena Cici teliti sampai label makanan di kulkas pun dikoreksi tata bahasanya. Nggak mungkin mengubah istilah kontrak sembarangan."

Tawa kecil lolos dari Keira, sekaligus mengendurkan sesuatu di dadanya. Reynard tidak menyelamatkannya dengan membuat cerita baru. Ia hanya memberi ruang agar fakta bicara.

Mereka duduk di bangku dekat taman kampus. Kotak makan berisi nasi, ayam kecap, dan sayur tanpa daun ketumbar. Keira baru menyuap dua kali ketika dua teman kelompok lewat dan mengacungkan jempol.

"Pacarmu keren," kata salah satunya.

"Bukan pacar," jawab Keira otomatis.

Reynard tidak mengoreksi. Ia hanya membuka botol minum dan menyerahkannya.

"Kenapa diam saja?"

"Cici sudah jawab."

"Kamu senyum lagi."

"Aku senang nilainya kembali."

"Bohong."

Dosen yang tadi memimpin kelas ikut melewati taman dan berhenti. Ia mengembalikan flashdisk Keira yang tertinggal.

"Dokumentasimu bagus," katanya. "Pertahankan kebiasaan menyimpan versi. Di proyek sungguhan, jejak seperti itu bisa menyelamatkan kontrak, bukan hanya nilai."

"Baik, Pak. Terima kasih sudah mengoreksi penilaian."

"Kamu juga tadi benar meminta klarifikasi di grup. Nama baik dirusak di depan orang banyak, pemulihannya juga harus terlihat orang yang sama."

Setelah dosen pergi, Keira menatap kotak makan. "Aku hampir diam saja dan membiarkan dia pergi."

"Tapi Cici nggak diam."

"Karena kamu ada di belakangku."

Reynard menahan tatapannya. "Kalau begitu, lain kali aku tetap di sana. Tapi yang bicara harus Cici sendiri."

Kalimat itu tidak mengambil kekuatannya. Justru mengembalikannya. Keira menggigit ayam agar senyum yang muncul tidak terlalu jelas.

Reynard mencondongkan tubuh sedikit. "Kalau aku bilang senang dikira pacar Cici, nanti Cici menghindar lagi?"

Keira membeku. Cowok itu segera kembali duduk lurus, memberi jarak sebelum ia merasa terdesak.

"Aku cuma bercanda," katanya.

Namun tangan Keira yang memegang sendok tidak berhenti gemetar. Bukan karena marah atau malu di kelas tadi. Kali ini penyebabnya adalah ketenangan Reynard saat membela, cara ia mengenali kebiasaan kecilnya, dan caranya mundur tepat sebelum Keira panik.

Saat mereka berjalan meninggalkan gedung, Reynard mengambil tas laptop dari bahu Keira tanpa bertanya. Keira membiarkannya.

Di kaca pintu gedung, bayangan mereka bergerak berdampingan. Terlihat cocok. Terlihat alami.

Dan untuk pertama kalinya, Keira tidak buru-buru membantah bayangan itu.

Ia bahkan memperlambat langkah agar mereka tetap sejajar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!