NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

w

Pagi di Kelas 12A terasa janggal. Matahari merambat naik, menyinari deretan bangku, namun ada satu sudut yang kehilangan sinarnya. Bangku di sebelah Karin kosong melompong.

​Sejak bel masuk berbunyi tiga puluh menit yang lalu, Karin sudah gelisah. Berkali-kali ia mengecek ponselnya, mengetuk-ngetuk bolpoin ke meja, hingga akhirnya menyerah dan memutar tubuhnya ke belakang.

​"Nadiva mana?"

​Pertanyaan tajam itu tak dialamatkan pada Andrew yang asyik menggambar di buku catatannya, melainkan pada dua sosok jangkung yang duduk di barisan belakang. Dereen yang sejak tadi menatap nanar kursi kosong Nadiva, dan Mex yang sibuk memutar-mutar pulpen dengan kening berkerut.

​"Kenapa nanya ke gue?" balas Dereen dingin, meski suaranya terdengar sedikit kaku. Matanya masih tak lepas dari meja kosong itu.

​"Ya karena lo bos tirani-nya, Dereen!" sembur Karin kesal, tak peduli pada aura menakutkan sang kapten basket. "Kemarin malam lo paksa dia izin dari kedai, kan? Terus pagi ini dia ngirim pesan ke gue, bilang izin sakit. Lo apain dia semalam, Hah?!"

​Gerakan pulpen di tangan Mex terhenti seketika. Cowok itu mendongak, menatap Dereen dengan raut wajah yang menegang. "Lo bawa Nadiva ke mana semalam, Ren?" tanya Mex, suaranya berat dan mengancam.

​Dereen mengusap wajahnya kasar. Rasa bersalah yang sejak semalam berusaha ia kubur dalam-dalam, kini meledak keluar. Bayangan Nadiva yang memejamkan mata rapat-rapat sambil merapal selawat di dalam mobilnya berputar seperti kaset rusak. Wajah pucat pasi gadis itu, tangannya yang gemetar saat turun dari mobil, dan tatapan matanya yang... entahlah.

​"Gue bawa dia ke sirkuit," aku Dereen pelan.

​Mata Mex membulat sempurna. Tangannya refleks menggebrak meja, menimbulkan suara Brak! yang membuat seisi kelas, termasuk guru Sejarah di depan, menoleh terkejut.

​"Lo gila?!" bentak Mex setengah berbisik, wajahnya memerah menahan murka. "Dia bukan cewek-cewek groupies lo yang biasa lo bawa nongkrong di jalanan, Ren! Lo tau kan dia gampang kaget?! Lo ajak dia masuk ke mobil pas balapan?!"

​"Gue cuma mau ngetes dia!" bela Dereen, rahangnya mengetat, tak terima dihakimi. "Gue nggak nyangka efeknya bakal sampai dia sakit!"

​"Ngetes apa?! Ngetes nyawa orang?!" Karin ikut menyela dengan emosi memuncak, wajahnya semerah tomat. "Div itu shock berat tau nggak! Lo bener-bener bad boy nggak ada otak, Dereen Hilton!"

​Teguran keras dari guru Sejarah membuat keributan di pojok belakang itu terhenti paksa. Namun, hingga jam istirahat berbunyi, ketegangan di antara Dereen dan Mex sama sekali tak mengendur.

​Dua cowok yang biasanya selalu kompak itu kini berjalan beriringan dalam diam menuju kantin. Keduanya menyimpan kepanikan yang sama, namun dengan alasan yang berbeda. Mex panik karena rasa protektifnya yang terluka, sementara Dereen... Dereen diombang-ambingkan oleh rasa bersalah yang mencekik dan rindu aneh yang tak bisa ia jelaskan.

​"Gue mau jenguk dia," putus Mex tiba-tiba saat mereka tiba di lorong loker. "Gue bakal minta alamat kosnya ke Karin."

​"Gue ikut," sahut Dereen cepat, tanpa ragu sedikit pun.

​Mex menoleh, menatap sahabatnya dengan senyum sinis. "Buat apa? Mau nambahin trauma dia?"

​"Ini tanggung jawab gue. Gue yang bikin dia sakit, gue yang bakal minta maaf langsung," tegas Dereen tak mau kalah. Harga dirinya menolak untuk mundur selangkah pun.

​Sore itu juga, bermodalkan alamat yang diberikan Karin dengan setengah hati dan sejuta ancaman, mobil sport Dereen dan motor sport Mex membelah jalanan ibu kota menuju daerah pinggiran. Di kursi penumpang mobil Dereen, tergeletak sekeranjang parsel buah mahal yang bahkan ukurannya lebih besar dari ember cucian.

​Namun, sesampainya mereka di depan pagar sebuah rumah kos putri yang rindang, raut wajah kekecewaan tak bisa disembunyikan.

​Ibu kos, seorang wanita paruh baya berkerudung instan, menatap dua cowok tampan itu dengan tatapan curiga dari balik pagar besi.

​"Nadiva-nya nggak ada, Mas-mas kasep," ujar ibu kos itu dengan logat Sunda yang kental.

​"Nggak ada gimana, Bu? Karin bilang dia sakit, nggak masuk sekolah," tanya Mex sopan, berusaha menutupi kepanikannya.

​"Ya emang sakit. Tadi pagi-pagi banget dia nge-grab bawa tas ransel. Katanya mau pulang dulu ke pesantren pamannya di Sukabumi buat recovery sekalian nenangin pikiran. Maklum, anak itu kalau udah stres atau badannya drop, pasti larinya ke pesantren," jelas ibu kos panjang lebar.

​Dereen dan Mex mematung. Pesantren? Sukabumi?!

​"Loh, masa sakit malah ke pesantren, Bu? Kenapa nggak ke rumah sakit atau dirawat di sini aja? Saya bisa panggilin dokter spesialis buat dia," protes Dereen frustrasi. Genggamannya pada parsel buah di tangannya mengerat.

​Ibu kos terkekeh pelan. "Ya namanya juga Neng Nadiva, Mas. Kata dia, obat paling manjur itu dengerin orang ngaji sama makan sayur asem masakan uminya di sana. Udah ya, Mas, saya mau ngangkat jemuran dulu. Assalamualaikum."

​Pagar besi ditutup kembali dengan bunyi berderit pelan. Meninggalkan Dereen dan Mex yang masih berdiri terpaku di trotoar.

​Dua pangeran penguasa SMA Nusa Bakti, yang terbiasa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan hanya dengan jentikan jari, kini harus menelan pil pahit kekalahan telak. Mereka ditaklukkan oleh jarak, aturan pesantren yang tak mungkin mereka tembus, dan tembok tak kasatmata yang lagi-lagi mengingatkan mereka pada kenyataan: dunia Nadiva jauh dari jangkauan mereka.

​Empat Hari Kemudian

​Angin pagi menerbangkan dedaunan kering di halaman sekolah saat Nadiva melangkah masuk melewati gerbang utama SMA Nusa Bakti. Gadis itu menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara ibu kota yang selalu ia rindukan.

​Meski wajahnya masih sedikit pucat, aura barbar dan cerianya telah kembali sepenuhnya. Empat hari full mendengarkan lantunan ayat suci, makan teratur, dan dijewer oleh paman kiai-nya karena keluyuran malam-malam, terbukti manjur mengembalikan kewarasan dan energinya.

​Nadiva merapikan letak ranselnya, bersenandung pelan menuju kelas.

​Begitu ia mendorong pintu Kelas 12A, suara decit engsel mengalihkan perhatian seisi ruangan.

​"NADIVA!"

​Karin nyaris melompat dari kursinya, berlari kencang, dan menubruk Nadiva dengan pelukan erat ala Teletubbies. "Ya ampun, Ukhti! Gue kangen banget! Lo utuh kan? Nggak ada organ yang ketinggalan di sirkuit, kan?!"

​"Ih, apaan sih, Rin! Sesak tahu!" Nadiva tertawa geli, menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu. "Utuh seratus persen. Malah nambah berat badan dua kilo gara-gara dikasih makan terus di pesantren."

​Perhatian Nadiva kemudian beralih saat melihat dua sosok jangkung yang berdiri dari bangku belakang mereka, berjalan perlahan menghampirinya.

​Mex tiba lebih dulu. Senyum lega yang luar biasa tulus merekah di bibirnya. Cowok kalem itu menatap Nadiva lekat-lekat, seolah sedang memastikan bahwa gadis di depannya ini nyata. "Udah mendingan, Div?" tanyanya lembut, nadanya sarat akan kekhawatiran yang mengendap berhari-hari.

​"Alhamdulillah, sehat walafiat, Kak Mex! Siap tempur lagi ngerjain soal Kimia!" sahut Nadiva ceria, membalas senyum Mex dengan binar mata yang hangat.

​Tepat di belakang Mex, Dereen berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Rambutnya sedikit berantakan. Mata kelamnya menatap Nadiva tanpa berkedip. Ada beban berat yang seolah baru saja diangkat dari bahunya melihat senyum ceria gadis itu kembali.

​"Lo..." suara Dereen tertahan sesaat. Rahangnya mengetat, berusaha menahan gengsi bad boy-nya yang meronta-ronta minta dipertahankan. "...kelihatannya udah siap buat bawain tas gue lagi."

​Nadiva berkacak pinggang, menatap bos tirani-nya itu dengan tatapan menantang. "Enak aja! Aku sakit empat hari, berarti kontrak babu kita pause selama empat hari. Dihitung cuti sakit berbayar, paham? Jangan sembarangan main potong masa jabatan!"

​Bukannya marah, sudut bibir Dereen justru tertarik ke atas, membentuk seringai miring yang tak bisa ia tahan. Tawanya pecah pelan. Keputusasaan dan kepanikan selama empat hari terakhir menguap tak bersisa hanya dengan mendengar omelan tak berfilter gadis itu.

​"Terserah lo, Cewek Aneh. Yang penting lo hidup," gumam Dereen nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat perut Nadiva tiba-tiba merasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang berterbangan.

​Di sudut ruangan, Andrew yang sedari tadi mengamati interaksi itu menyenggol lengan Mex.

​"Perang dingin udah kelar. Perang yang sesungguhnya baru aja dimulai," bisik Andrew dengan senyum misterius, menatap bergantian ke arah Mex yang menatap Nadiva dengan penuh damba, dan Dereen yang matanya memancarkan kepemilikan yang tak mau mengalah.

1
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!