Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu lagi
Di kamar Zain, setelah selesai makan malam.
Tiyas dan Zain sedang mencoba handphone baru yang sudah dibeli. Zain memindahkan SIM card dari handphone lama Tiyas ke handphone yang baru. Zain juga memberitahu Tiyas cara pakainya karena Tiyas masih bingung.
"Sama saja sebenarnya, sayang.Ini begini... "
"Iya, mas."
Lalu mereka mencoba kamera depan dan berselfie berdua. Saat asyik berselfie tiba-tiba Zain mengecup pipi istrinya. Sontak Tiyas terkejut.
"Mas... "
"Apa sayang, kurang?"
"Ih, nggak gitu."
"Gini?"
Zain merangkul istrinya. Lalu mereka tertawa bersama saat melihat hasil fotonya di galery.
"MasyaAllah... manis sekali, kan?"
"Ih nggak, jelek wajahku."
"Kata, siapa? Cantik kok."
Tak henti-hentinya Zain memuji istrinya. Namun ujung-ujungnya ia menagih jatah untuk malam ini. Tiyas tahu hal tersebut pasti akan terjadi. Jadi ia sudah mempersiapkan diri. Zain senang karena lambat laun istrinya mulai agresif.
Di kamar Zean.
Zean berbaring di atas tempat tidurnya sambil melihat ke langit-langit kamarnya. Kedua tangannya dibuat bantalan kepalanya. Ia mengingat-ingat kejadian yang dialaminya hari ini, mulai pagi sampai malam hari.
"Perasaan dari pagi dibikin baper sama pasangan sui istri yang tidak tahu diri. Ah... malas banget aku sama abang. Bisa-bisanya dia bermesraan di luar kamarnya. Lupa apa kalau adiknya ini belum menikah. " Gerutunya.
Zean kembali mengingat anak kecil dan perempuan tadi yang ditemuinya saat berangkat bekerja.
"Oh tidak-tidak. Kenapa harus istri orang? Ck... bisa-bisanya aku memikirkannya. "
Zean akhirnya memutuskan untuk tidur saja. Meski awalnya sangat sulit, namun akhirnya ia dapat terlelap juga.
Dua hari kemudian.
Zean berangkat ke kantor. Ia lewat di jalan alternatif lagi. Kebetulan kemarin ia lewat luar karena ada perlu lain. Ia sudah melupakan kejadian dua hari yang lalu. Namun takdir malah mempertemukannya kembali dengan anak kecil itu. Saat Zean melintas di jalan yang hampir sampai di rumahnya, anak kecil itu sedang bermain di dalam halaman. Namun ada dua orang yang memakai motor sedang berusaha memanggilnya. Zean merasa ada yang aneh. Ia pun memutuskan untuk menghentikan mobilnya. Zean masih memantaunya dari kejauhan. Yang Zain lihat beberapa saat kemudian, gerbang tersebut berhasil dibuka, dan kedua orang itu mengajak anak kecil itu ngobrol. Namun tidak lama kemudian, satu diantara orang itu naik ke atas motor. dan yang satu lagi berusaha menggendong anak kecil itu. Sontak Zean langsung tancap gas mendekati mereka.
"Nggak mau... tolong!"
Tin tin tin tin
Zean membuktikan klaksonnya berkali-kali untuk menggagalkan aksi dua orang tersebut. Orang tersebut berhasil membawa, anak itu ke atas motor. Tidak lama kemudian ibunya keluar dan berteriak. Zean pun segera mengejar motor mereka Dengan kecepatan tinggi, mobil Zean bisa mengejar dan menghadang mereka sehingga mereka ngerem mendadak. Saat mereka hendak putar arah, justru Zean keburu turun dan menghajar orang yang menyetir motor. Anak kecil itu memukul-mukul orang yang menggendongnya. Sehingga akhirnya kedua orang tersebut dapat dilumpuhkan oleh Zean. Keamanan dan beberapa warga pun akhirnya datang bersama ibu anak itu. Zean meminta agar mereka dibawa ke kantor polisi.
"Ampun pak, kami khilaf. Tolong jangan bawa kami ke kantor polisi "
"Apa khilaf? Enak saja ngomongnya! Kalau saja tadi aksi kalian tidak diketahui, kalian pasti sudah menjual anak anak ini. Sudah pak, bawa saja."
"Baik, pak. Terima kasih karena sudah menolong nak Rafli."
"Iya sama-sama. "
Akhirnya kedua orang tersebut tangannya diborgol dan dibawa ke kantor polisi oleh pihak keamanan komplek.
Perempuan itu memeluk anaknya.
" Ya Allah, Rafli. Sudah bunda bilang jangan buka gerbang! Untung saja kamu selamat."
"Maafkan Rafli, bunda." Ujar anak itu dengan rasa bersalah."
"Nggak pa-pa, asal kamu selamat. Kalau tidak, bagaimana bunda mau bilang sama abimu."
Zean hanya memperhatikan mereka. Ia belum beranjak dari tempatnya berdiri sampai anak kecil tersebut menoleh kepadanya.
"Om super hero....Om kan yang waktu itu hampir nabrak Rafli." Anak itu mendekat dan memeluk kaki Zean.
Zean mengusap kepala nak itu.
"Om, Terima kasih sudah nolongin Rafli. Om hebat."
Zean berjongkok mensejajarkan diri dengannya.
"Boy, kamu harus dengerin kata bundamu ya. Nggak boleh bukain gerbang untuk orang baru dikenal."
"Iya om. Habisnya tadi om dua itu mau ngasih aku coklat. "
"Astaghfirullah... ada-ada, saja modusnya."
Perempuan itu masih memperhatikan keduanya sebelum akhirnya mengucapkan terima kasih kepada Zean.
"Lain kali tolong lebih dijaga anaknya. Sekarang marak penculikan." Pesan Zean.
"Iya, mas. Sekali lagi maaf sudah mengganggu perjalanan nya."
Tiba-tiba datang dua orang paruh baya yang merupakan pasangan suami istri. Ternyata mereka berdua adalah kakek dan nenek dari Rafli. Keduanya juga mengucapkan Terima kasih kepada Zean. Bahkan keduanya menawarkan Zean untuk mampir sekedar minum kopi di rumahnya. Dengan halus Zean menolak karena masih harus pergi ke kantor.
"Mungkin lain kali, nak. Rumah kami terbuka lebar untuk mu."
"MasyaAllah, Terima kasih, om, tante. InsyaAllah lain waktu. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Zean pun kembali ke mobilnya dan melanjutkan perjalanan.
"Ya Allah, aku berdo'a agar tidak bertemu dengannya. Tapi kenapa Engkau pertemukan kembali? Mana orang tuanya pake nyuruh mampir segala lagi. Eh tadi itu orang tua apa mertuanya?" Lirihnya.
Tidak lama kemudian, Zean sampai. Ternyata sudah ada beberapa calon jama'ah yang menunggunya. Zean pun langsung menemui mereka.
Siang harinya
Zean baru saja selesai makan siang. Ia pun kembali ke kantor.
"Om om... "
"Seperti suara Rafli... "
Zean pun menoleh. Dan benar saja yang memanggilnya adalah Rafli.
"Boy, kamu di sini?"
Zean heran karena Rafli berasa di kantornya.
"Rafli, kamu kenal dengan omnya?"
"Iya, abi. Om ini yang tadi nolong Rafli. "
Rafli sangat senang karena bisa bertemu dengan Zean kembali.
"Oh ini suaminya? Kenapa dunia ini seperti daun kelor?" Batin Zean.
Tanpa basa-basi abinya Rafli mengucapkan terimakasih kasih kepada Zean karena sudah menyelamatkan putranya.
Bukan hal yang kebetulan Abinya Rafli datang ke kantor Zean. Tapi ia ingin daftar umroh untuk tiga orang. Rafli, abi dan umminya.
"Insyaaallah saya ambil yang 16 hari plus Turki ini, pak. Tapi saya tanya istri saya lagi saja nanti. Brosurnya saya bawa dulu."
"Oh iya, baik pak. Kami tunggu kabar selanjutnya."
"Iya, pak."
Rafli dan abinya pun pamit.
"Ya, Allah kuatkan iman hamba. Baru saja tadi aku berdo'a lagi agar tidak bertemu dengannya lagi. Tapi ini kenapa do'aku sepertinya tidak terkabul." Batin Zean.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Trauma apa ya hilda? Apa Kdrt?