"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 1
Sorak sorai memenuhi pelataran kampus ketika puluhan topi toga melayang tinggi ke udara.Tawa bahagia bercampur tepuk tangan terdengar di setiap sudut, sementara kilatan kamera para fotografer silih berganti mengabadikan momen yang telah lama dinantikan para wisudawan dan wisudawati.
Langit tampak cerah.Gumpalan awan putih berarak pelan di atas hamparan biru yang luas. Matahari bersinar hangat, seolah turut merayakan keberhasilan mereka yang akhirnya berhasil menuntaskan perjuangan selama bertahun-tahun.
Di antara kerumunan itu, Kaia Asha Hadinata tersenyum lebar. Toga hitam yang dikenakannya berkibar pelan saat ia berlari kecil menuju tempat keluarganya menunggu.
Hari ini... akhirnya tiba juga. Empat tahun perjuangan yang dipenuhi tugas, revisi, begadang, dan air mata, kini terbayar lunas dengan gelar Sarjana Teknik Informatika yang resmi disandangnya.
Dia masih menunggu keluarga nya begitu sampai, Ia langsung memeluk tubuh renta yang telah menunggunya dengan senyum penuh kebanggaan.
"Nenek...." Pelukan itu begitu erat, seolah Kaia ingin membagi seluruh rasa bahagianya kepada perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya. Merawatnya sedari bayi.
"Selamat ya, Sayang." Farida mengecup pipi kanan dan kiri cucunya bergantian. Matanya sudah berkaca-kaca. "Akhirnya cucu Nenek lulus juga."
Kaia tertawa kecil meski matanya mulai memanas. "Iya, Nek." Ia mengangguk pelan. "Makasih ya... sudah nemenin aku begadang tiap malam. Kadang nyiapin kopi, masakin makanan, dan nggak pernah bosan nyemangati aku terus."
Farida menggeleng pelan sambil mengusap pipi Kaia. "Nenek senang melakukan itu semua, Sayang."
"karena Nenek, Kaia jadi semangat lanjut skripsi." Suara Kaia mulai bergetar. "Nggak mungkin aku bisa sampai di sini kalau bukan karena Nenek."
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya lolos dari pelupuk mata Farida.Perempuan tua itu kembali memeluk cucunya erat.Dalam benaknya terlintas kenangan dua puluh tiga tahun silam. Hari ketika ruang ICU dipenuhi tangis.
Hari ketika menantunya mengembuskan napas terakhir, hanya dua jam setelah melahirkan Kaia melalui operasi caesar.
Sejak saat itulah bayi mungil itu tumbuh dalam pelukannya. Kini... Bayi yang dulu hanya sebesar lengannya telah berdiri di hadapannya dengan toga wisuda. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat.
"Kakek juga bangga sama kamu." Suara berat itu membuat Kaia menoleh.
Hardja Hadinata tersenyum hangat sebelum mengusap kepala cucu bungsunya dengan penuh kasih. "Kamu hebat, Kai."
Pria tua itu mengusap sudut matanya yang mulai basah. "Dan..." senyumnya melebar. "Kamu semakin cantik. Persis seperti almarhum ibumu."
Ucapan itu membuat dada Kaia menghangat. Sudah lama tidak ada yang mengatakan bahwa dirinya mirip sang ibu.Mungkin karena penampilannya yang jarang memakai make up penuh. Tidak seperti perempuan lainnya yang rajin dengan make up dan perawatan.
"Mirip dari mana?" Suara datar itu datang seperti pisau yang membelah suasana.
Kaia menoleh perlahan.Fadlan, ayahnya, berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Setelan jas hitam yang dikenakannya tampak rapi tanpa sedikit pun kusut.
Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi. Entah mengapa... Meski sudah berkali-kali dikecewakan, secuil harapan tetap muncul di hati Kaia.
Ia ingin Ayahnya akan mengucapkan selamat. Bukankah hari ini hari kelulusannya? Bukankah sekali saja... seorang ayah boleh merasa bangga kepada putrinya?
"Papa...." Kaia bahkan tanpa sadar merapikan tali toga di pundaknya. Belum sempat senyumnya berkembang lebih lebar.
"Ivanka dulu adalah wanita yang berprestasi." Suara Fadlan memotong harapan itu, nadanya tajam, meremehkan. "Saat menjadi artis pun dia menyabet banyak penghargaan."
Tatapan pria itu dingin dan tajam kepada Kaia.Dingin. Tanpa sedikit pun kebanggaan. "Sedangkan kamu?" bibirnya melengkung tipis. "Kuliah saja molor satu tahun. Seharusnya kamu wisuda tahun lalu, Kaia."
Senyum Kaia perlahan memudar. Dadanya kembali terasa sesak. Ternyata... Ia masih cukup bodoh untuk berharap.
"Fadlan!" Hardja langsung menegur putranya dengan nada keras. "Ini kampus! Jaga bicaramu, Kaia putrimu."
"Ayah terlalu memanjakannya." Fadlan sama sekali tidak tampak bersalah. "Kalau sejak kecil dia dididik lebih keras, mungkin dia tidak akan tumbuh selemah ini."
Setiap kata yang keluar dari mulut pria itu menghantam hati Kaia tanpa ampun. Sudah dua puluh tiga tahun Kaia hidup sebagai putrinya.
Namun tak sekali pun ia pernah mendengar kalimat sederhana seperti... "Ayah bangga padamu."
Yang ada hanyalah kritik, sindiran, kemarahan dan tuduhan. Di mata Fadlan... Kaia bukan hanya anak yang mengecewakan.
Ia juga anak yang dianggap telah merenggut nyawa perempuan yang paling dicintainya. Ivanka Calina, mending istrinya.
Kaia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat yang bergetar hebat. Air matanya ingin tumpah sekarang. Namun ia tahan. Bagi orang lain, Fadlan adalah sosok ayah yang penyayang dan bertanggung jawab.
Di sekelilingnya, para wisudawan masih sibuk tertawa bersama keluarga masing-masing. Kilatan kamera terus menyala. Ucapan selamat terdengar bersahutan.
Hanya dirinya yang berdiri dengan dada terasa sesak. Namun bendungan yang sedari tadi ia tahan akhirnya runtuh.
Air mata mengalir membasahi pipinya. Maskara tipis di sudut matanya mulai luntur. Ia buru-buru menunduk, berharap tak seorang pun menyadari betapa rapuhnya dirinya saat ini.
"Sudah." Fadlan mengembuskan napas pendek. Ia melirik arloji mahal di pergelangan tangannya. "Aku ada rapat satu jam lagi. Percuma berlama-lama di sini. Hanya membuang waktu."
Tanpa mengucapkan selamat dan berpamitan kepada putrinya. Bahkan tanpa menoleh kepada kedua orang tuanya. Ia membalikkan badan, merapikan jasnya, lalu melangkah pergi menuju area parkir.
Kaia hanya mampu menatap punggung itu menjauh. Hingga akhirnya benar-benar menghilang di balik deretan kendaraan.
Hari ini... Bahkan di hari kelulusannya... Ayah tetap memilih pergi tanpa meninggalkan sedikit pun rasa bangga untuknya.
Farida menarik tubuh Kaia ke dalam pelukannya. "Sayang.. .." Suara lembut itu membuat Kaia tak lagi mampu menahan isaknya.Tangis yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah di bahu sang nenek. Farida mengusap punggung cucunya perlahan, seolah ingin menghapus seluruh luka yang tak mampu ia sembuhkan.
"Yang sabar ya, Kai."
Perempuan tua itu mengecup puncak kepala cucunya. "Nenek akan selalu ada untuk kamu."
Kalimat sederhana itu justru membuat tangis Kaia semakin keras. Karena di dunia ini...
Hanya pelukan neneknya yang selalu membuatnya merasa bahwa dirinya benar-benar berharga.
Mobil hitam itu perlahan meninggalkan area parkir kampus. Kaia hanya mampu menatapnya hingga benar-benar menghilang di balik gerbang universitas.
Tidak ada lambaian tangan.Tidak ada ucapan selamat.Bahkan ayahnya tak sekali pun menoleh ke arahnya sebelum pergi. Hari kelulusannya tetap tak mampu mengubah apa pun.
Di mata Fadlan, ia tetap anak yang tidak pernah layak dibanggakan. Kaia mengembuskan napas pelan,berusaha menelan kembali sesak yang memenuhi dadanya.
Baru saja ia hendak membantu neneknya membereskan buket kecil pemberian kampus, tiba-tiba sebuah buket mawar putih berukuran besar muncul tepat di hadapannya.
Buket itu begitu besar hingga menutupi seluruh tubuh orang yang membawanya. Kaia mengerjap bingung. "Eh... ini buat saya?"
Belum sempat ia menerima bunga itu, buket tersebut perlahan diturunkan. "Taraa!"
Wajah cantik dengan senyum yang sangat dikenalnya muncul dari balik rangkaian bunga mawar putih itu.
"Selamat wisuda, adikku sayang!"
Mata Kaia langsung membulat. "Kak Kiara!"
Suara itu hampir berubah menjadi pekikan. Tanpa berpikir panjang, Kaia langsung menerjang tubuh kakaknya hingga buket bunga di tangan Kiara nyaris terjatuh.
"Kai... pelan-pelan!" Kiara terkekeh sambil berusaha menjaga keseimbangan.
Namun Kaia sama sekali tidak peduli. Pelukannya semakin erat. Enam bulan mereka hanya saling menyapa melalui layar ponsel.
Tidak ada pelukan, tidak ada makan malam bersama, tidak ada ocehan kakaknya yang selalu memenuhi rumah. Semua rasa rindu yang dipendam selama itu seolah tumpah dalam satu pelukan.
"Aku kangen...." Suara Kaia terdengar lirih di bahu kakaknya. Sisa-sisa luka akibat ucapan ayahnya tadi seolah mencair sedikit demi sedikit.
Kiara tersenyum haru.Tangannya mengusap lembut rambut belakang adiknya. "Aduh... uhuk!" Ia berpura-pura kesulitan bernapas. "Kamu mau meluk Kakak atau sekalian bikin Kakak masuk rumah sakit?"
Kaia buru-buru melonggarkan pelukannya. Bibirnya langsung mengerucut. "Ih... Kakak jahat!"
Ia memukul pelan lengan Kiara. "Katanya nggak bisa pulang. Katanya banyak urusan.
Katanya masih di Korea. Aku benar-benar percaya, tahu!"
Melihat wajah adiknya yang merajuk, Kiara tak kuasa menahan tawa. Ia mencubit pelan hidung mancung Kaia. "Mana mungkin Kakak melewatkan hari penting adik sendiri."
"Niat banget bohongin aku."
"Namanya juga kejutan, Kai." Kiara masih memasang senyum lebarnya. Ia bahagia karena berhasil membuat kejutan untuk adiknya.
Farida dan Hardja yang sejak tadi memperhatikan keduanya hanya bisa saling bertukar pandang sambil tersenyum.
Melihat kedua cucu perempuan mereka kembali bercanda membuat hati keduanya terasa hangat.Sejak kecil, Kiara memang selalu menjadi tempat pulang bagi Kaia. Di saat ayah mereka memperlakukan keduanya dengan begitu berbeda, Kiara justru tak pernah sekali pun membedakan adiknya.
"Nenek sama Kakek juga baru tahu semalam," ujar Farida sambil tersenyum. "Kiara menelepon dan melarang kami memberi tahu kamu."
Kaia langsung menoleh pada Kiara. "Jadi Kakak sudah pulang dari semalam?"
Kiara mengangguk. "Iya."
"Loh, terus kenapa nggak pulang ke rumah?" Kaia kembali merajuk. "Aku sampai nungguin video call dari Kakak semalaman tauk."
Kiara menutup mulutnya, menahan tawa. Belum sempat ia menjawab, seseorang berjalan mendekat dari arah belakang.
Langkahnya tenang.Wajahnya ada campuran oriental. Posturnya tinggi menjulang dengan bahu tegap. Kemeja putih yang dipadukan celana bahan hitam membuat penampilannya tampak sederhana, tetapi tetap berkelas.
Aroma parfum maskulin yang lembut ikut terbawa bersama embusan angin. Pria itu berhenti tepat di samping Kiara. "Karena Kiara nginap di rumah saya."
Suara berat itu terdengar tenang. Membuat Kaia mendongak. "Loh Kak Elio."
Senyum tipis terukir di wajah pria itu. "Selamat ya atas kelulusannya, Kai."
Ia mengulurkan tangan.Kaia segera menyambutnya dengan sopan. "Terima kasih, Kak."
Elio memang bukan orang yang banyak bicara. Namun setiap ucapan dan sikapnya selalu terasa hangat. Tak heran jika Kiara begitu mencintainya.
Selama berada di Korea Selatan, Kiara bahkan lebih sering tinggal di rumah keluarga Elio di sana.Sebagai selebgram yang dikenal banyak orang dan mempunyai pasangan dokter kulit kecantikan. Keduanya sedang mengembangkan bisnis skincare yang akan segera diluncurkan di Indonesia.
Melihat pasangan itu berdiri berdampingan, Kaia diam-diam tersenyum. Mereka benar-benar serasi.
"Sudah, sekarang waktunya foto!" seru Kiara sambil bertepuk tangan penuh semangat. "Aku sudah sewa fotografer khusus buat hari ini."
Tangan Kiara bergerak merapikan riasan adiknya. Ia tahu melihat mata sembab itu, pasti karena kehadiran sang ayah. "Rapihin dulu make up kamu, Kai."
Kaia hanya diam menurut saat jari-jari lentik kakaknya menyapu dengan tissue bagian riasan mata dan pipinya.
Tak lama kemudian seorang fotografer profesional menghampiri mereka. Berbagai pose pun diambil. Mulai dari foto bersama Kakek dan Nenek. Foto keluarga lengkap.
Hingga foto Kaia sendirian dengan toga dan ijazah di tangan. Setelah beberapa kali berpindah posisi, fotografer kembali mengangkat kameranya.
"Oke, sekarang bertiga ya."
Kaia spontan melangkah mundur. "Loh, Kak." Ia menunjuk Elio sambil tertawa kecil. "Harusnya Kakak yang di sebelah Kak Elio."
Kiara justru mendorong pelan bahu adiknya. "Yang wisuda itu kamu."
"Iya, tapi...."
"Nggak ada tapi-tapian, masak yang wisuda dipinggir, kakak yang di tengah." Kiara tersenyum jahil. "Yang paling cantik hari ini harus di tengah."
Kaia mendesah pasrah.Akhirnya ia berdiri di antara Kiara dan Elio. Dengan tinggi badan sekitar seratus enam puluh sentimeter, Kaia merasa dirinya begitu mungil di samping Elio yang menjulang hampir seratus delapan puluh lima sentimeter.
"Ih... aku kayak minion deh aku." Ucapan itu langsung membuat semua orang tertawa.
"Siap ya!" seru fotografer. "Tiga... Dua... Satu!"
Kilatan kamera menyala berulang kali, mengabadikan momen berharga hari ini. Momen yang akan dikenang sepanjang waktu.
...****************...
...Hallo Teman² ini novel baru aku semoga kalian suka yah, novel nya berbeda dengan novel sebelum nya yang Heppy. Kalau Novel ini mengandung bawang nya, biar kalian membaca nya ada sedih² nya. Selamat membaca maaf kalau masih ada yang kurang di novel ini yah ☺️...
* Bersambung*
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*
*Terimakasih 🙏 *
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*