“Affan, aku ingin nafkah batin.”
“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”
Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memancing Emosi
Tidak ada cedera parah akibat tamparan yang diterima Hulya. Namun, meskipun begitu, rasa perih di pipinya masih terasa hingga sekarang.
Hari ini Hulya Anindita merasa beruntung. Affandy sama sekali tidak pergi ke mana-mana hingga malam hari. Bahkan ketika mereka pergi ke rumah sakit tadi, Affandy hanya fokus kepada dirinya.
Hulya pun tidak tahu seperti apa sebenarnya sikap suaminya sekarang. Affandy membencinya, tetapi beberapa sikap pria itu justru membuat Hulya semakin mencintainya.
Hulya sedang menonton televisi di ruang tamu, sedangkan suaminya berada di dalam kamar dan bekerja menggunakan laptop. Saat sedang asyik menonton televisi, Hulya dikejutkan oleh suara gemuruh yang terdengar cukup keras.
"Mami!"
Teriakan seorang laki-laki membuat Hulya semakin terkejut.
"Affan," lirihnya.
Hulya baru teringat bahwa pria itu sangat takut dengan suara petir. Ia pun bergegas menuju kamar. Begitu pintu terbuka, Hulya melihat Affandy meringkuk di atas ranjang sambil menutup kedua telinganya. Wanita berkerudung itu berlari menghampiri dan langsung memeluk suaminya.
"Jangan takut. Aku di sini, Affan."
Affandy terdiam. Takut terhadap suara petir memang merupakan salah satu kelemahannya. Tangan Affandy terulur untuk mematikan laptop. Ia takut terjadi sesuatu pada benda elektronik tersebut.
Sesaat kemudian, benda pipih itu mati dan hanya menyisakan layar hitam. Namun, lagi-lagi suara gemuruh terdengar sehingga Affandy kembali terkejut.
"Aw!"
Affandy memeluk Hulya begitu kuat hingga wanita itu merasa seperti remuk di bagian pinggangnya.
"Affan, pinggang aku sakit."
"Aku takut, Hulya."
"Jangan keras-keras. Aku di sini, kok."
"Tapi aku takut, Hulya."
"Iya, aku tau. Pinggang aku sakit. Lepasin, dong."
Affandy melonggarkan pelukannya. "Maaf."
Hulya membulatkan matanya. Apa dia tidak salah dengar? Seorang Affandy baru saja meminta maaf kepadanya.
"Lepas dulu. TV-nya masih hidup tau. Nanti meledak."
"Jangan pergi, Hulya. Aku takut!"
"Cuma sebentar, Affan. Lagian petirnya udah nggak ada."
"Aku bilangin Mami, ya."
"Berarti aku juga bisa bilangin Papa kalau kamu selingkuh."
"Aku nggak selingkuh."
"Nggak gimana, Affan? Terus Tiffany?" tanya Hulya.
"Kamu tau aku pacaran sama Tiffany. Berarti aku nggak selingkuh. Kecuali kamu nggak tahu."
Hulya bingung. Konsep dari mana itu? Perkataan suaminya sungguh tidak masuk akal.
"Awas, lepas dulu."
Perlahan, pelukan itu terlepas. Hulya membereskan barang-barang pekerjaan Affandy yang berada di atas kasur. Hulya meletakkan laptop dan buku Affandy di atas nakas. Seketika, suara gemuruh kembali terdengar, disusul hujan deras.
Affandy langsung menarik lengan Hulya dan memeluk tubuh wanita itu. Ia bahkan membawa Hulya masuk ke dalam selimut.
"Affandy!" teriak Hulya.
Hujan terus mengguyur kota itu. Suasana terasa begitu dingin. Televisi yang berada di dalam rumah itu pun menyala sepanjang malam.
[] [] []
Tepat pukul tujuh pagi, Hulya sedang menyiapkan makanan untuk suaminya. Kejadian semalam membuatnya semakin bersemangat memberikan pelayanan terbaik kepada Affandy.
Affandy datang dan langsung duduk di kursi. Untuk kesekian kalinya, ia memakan masakan yang dibuat oleh istrinya. Saat sedang makan, sesekali Affandy melirik ke arah Hulya.
"Kamu nggak usah senyum-senyum sendiri. Gila, baru tau rasa."
Hulya mengabaikan perkataan judes suaminya.
"Kamu nggak perlu ingat kejadian semalam. Itu nggak penting."
"Tapi bagiku itu sangat penting dan istimewa," ucap Hulya.
"Kamu harus ingat. Aku cuma khilaf," ucap Affandy. "Kamu nggak perlu berharap lebih."
"Berharap itu kan nggak salah, Affan."
"Kamu dengarkan, ya. Aku nggak bakal menyentuh kamu. Cukup ciuman tadi malam aja. Dan kamu nggak akan pernah mendapatkan itu lagi."
"Setidaknya kamu sudah mencium aku," ucap Hulya.
Brak!
Affandy memukul meja makan.
"Kamu pikir aku senang melakukan itu? Jangan harap, Hulya. Kamu itu terlalu murahan bagiku."
"Murahan di depan suami nggak apa-apa. Asalkan jangan di depan pria lain."
"Najis. Aku bukan suami kamu."
"Kamu nggak bisa mengelak lagi, Affan. Kamu sendiri yang mengucapkan ijab kabul di depan orang tua kita. Bahkan di depan Sang Pencipta."
"Dari sekian banyak perbuatan yang aku lakukan, cuma mengucapkan kata menjijikkan itu yang membuat aku menyesal."
"Affan. Kamu nggak boleh ngomong begitu. Ijab kabul itu suci. Kamu malah bilang jijik."
"Terserah aku. Urusan kamu apa?" tanya Affandy.
"Karena kamu suamiku. Makanya aku meluruskan sesuatu yang menurutku nggak baik untuk kamu lakukan."
"Aku bukan suamimu. Kamu tuli atau gimana?" tanya Affandy. "Aku udah sering bilang itu, tapi kamu nggak mengerti juga."
"Lho, salahku di mana, Affan? Aku kan memang istri kamu."
"Kamu nggak salah! Aku yang salah karena sudah menikahi kamu."
"Eummm ... Ya udah, mulai sekarang kamu nggak usah merasa bersalah, ya, Sayang. Aku senang kok dinikahi sama kamu."
Affandy beranjak dari tempat duduknya. Niatnya untuk makan sudah tidak ada lagi. Hulya telah membuat suasana hatinya rusak sejak pagi.
Wanita itu tidak henti-hentinya membalas perkataan yang ia lontarkan. Sungguh menyebalkan bagi Affandy harus berhadapan dengan Hulya.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku mau pergi."
"Nggak makan dulu?"
"Nggak selera!"
"Makan dulu, Sayang. Nanti sakit."
"Aku sakit bukan kamu yang sibuk. Tapi Mami-ku."
"Salah dong, Affan. Kalau suamiku sakit, ya aku yang bertanggung jawab. Bukannya Mami."
"Kamu, ya! Kerjaannya cari ribut terus."
"Ya sudah, kamu pergi sana—"
"Berani sekali kamu mengusir aku?"
"Bukan gitu, Sayang. Kamu pergi sana. Nanti makanannya aku antar."
"Jangan main-main kamu, Hulya. Aku nggak mau kamu datang ke kantor!"
"Kalau aku nekat?"
Affandy mendekati Hulya.
"Kalau kamu nekat, kamu akan menyesal telah melanggar peraturanku."
"Ya udah. Berarti kamu nggak mau nasi goreng ini?"
"Nggak!" ketus Affandy.
Hulya memandangi nasi goreng yang telah dibuatnya. "Nasi gorengnya masih banyak."
"Hmmm ... Kasih ke tetangga saja, deh."
"Apa kamu bilang?" tanya Affandy. "Kamu mau kasih nasi goreng ini sama laki-laki itu?"
"Iya, lah. Mubazir juga. Itung-itung dapat pahala, Affan. Karena sudah kasih orang makan."
"Semua yang ada di rumah ini hasil uangku. Jadi kamu jangan seenaknya memberikan sesuatu kepada orang lain."
"Tau, Affan. Suamiku paling baik ... Tapi masalahnya sekarang, kalau nasi gorengnya nggak dimakan, kan bisa diberikan kepada orang."
Affandy kembali duduk di kursi. "Awas kamu, ya!"
Tatapan Affandy mulai tajam, dengan raut wajah cemberut. Pria itu akhirnya memakan nasi goreng tadi. Hulya sedikit terganggu dengan kelakuan suaminya. Karena Affandy kesal, suara piring dan sendok yang bergesekan terdengar begitu jelas.
"Pelan-pelan makannya."
"Terserah aku!"
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk!"
"Tuh, kan. Baru juga dibilang."
"Minum."
"Ambil sendiri, lah."
"Hulya, minum. Tenggorokanku perih."
"Nggak mau," tolak wanita itu.
Affandy beranjak dari tempat duduknya. Ia berlari ke dapur untuk mengambil minuman, lalu kembali menghampiri istrinya.
"Kamu benar-benar kurang ajar, ya. Aku kesusahan, kamu malah diam saja."
"Tadi kamu bilang cuma Mami yang merawat kamu. Aku nggak usah terlalu sibuk ngurusin kamu."
Napas Affandy sudah tidak beraturan. Berkali-kali Hulya menggunakan kembali perkataan yang sebelumnya ia lontarkan kepada wanita itu.
Dadanya naik turun, berusaha menahan emosi. Hulya sebenarnya ingin tertawa, tetapi ia takut jika pria itu semakin marah.
"MAMI!" teriak Affandy.
"Aku bilangin sama Mami, ya. Kamu ngerjain aku."
"Bilangin aja," ucap Hulya.
"Andy mau cerai, Mi."
"Heh. Nggak baik tau, ngomong begitu."
Affandy menoleh ke arah jam tangannya. Kemudian ia kembali memandang istrinya.
"Kamu tunggu pembalasanku, ya," ucapnya kepada Hulya.