NovelToon NovelToon
Kontrak Naga

Kontrak Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.

Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.

Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.

Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 Langkah Ke Badai

Eliya dan Kael berdiri mematung di perbatasan. Bumi dataran badai kini di hadapan mereka. Kael meneguk saliva, menatap ngeri pada petir yang menyambar tanah itu. Belum lagi bukit tinggi di tengah dataran rendah. Mereka menyebutnya Bukit Meratap.

Kenapa? Entahlah.

"Inikah tempat legenda itu?" Kael berbisik lirih, seluruh tubuhnya berdenyut, elemen angin di dalam dirinya pun ikut bergetar.

"Entahlah. Aku bukan dari dunia ini. Mana aku tahu," sahut Eliya tak acuh.

Ia tak peduli jika identitasnya sebagai jiwa yang berasal dari dunia lain diketahui oleh rekannya itu. Keduanya menatap dalam hening, membayangkan betapa dahsyat sambaran petir di tanah tandus itu.

Matahari tidak pernah terbit di Dataran Badai. Langit di atas kepala mereka terus-menerus memancarkan warna ungu pekat yang mengerikan, layaknya memar raksasa yang menolak untuk sembuh.

Udara di tempat itu pun terasa tebal, dipenuhi aroma ozon yang menyengat saraf dan membuat bulu kuduk berdiri. Setiap sepuluh detik tepat, kilatan petir murni berdiameter sebatang pohon tua akan menyambar bumi, meninggalkan kawah-kawah hangus yang mengepulkan asap hitam.

"Mengerikan!" gumam Kael dengan tubuh bergidik ngeri. Nyalinya sudah hilang entah ke mana hanya dengan melihat saja.

"Aku akan masuk ke sana," ujar Eliya tanpa berkedip menatap petir-petir yang menyambar bumi.

Dataran Badai adalah tempat kelahiran elemen Petir. Dan tanpa keraguan, wilayah paling mematikan di seluruh benua, di dunia Aethervan. Para penguasa elemen sangat jarang mendatangi tempat itu, kecuali mereka yang memiliki dasar sihir petir. Itu pun belum tentu berhasil menaklukan inti petir di puncak bukit meratap.

"Kau yakin?" tanya Kael, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh guntur yang konstan bergulung di kejauhan.

Tangannya mencengkeram gagang pedang dengan erat, matanya menyapu cakrawala dengan waspada. Hatinya tak yakin Eliya yang tidak memiliki bakat sihir akan mampu menahan serangan petir-petir itu.

"Kau tahu, mereka yang memiliki sihir petir murni pun belum tentu bisa menahan serangan petir di dalam sana. Sedangkan kau ... kau terlahir tanpa mana dan tanpa bakat sihir. Aku yakin akan melakukannya?" ujar Kael kembali menatap Eliya dengan cemas.

Eliya tidak langsung menjawab. Ia diam membisu dengan mata terpaku pada langit yang bergejolak. Lalu, turun pada pergelangan tangannya. Tempat mahkota yang kosong, sihir petir.

Tanda Mahkota kuno di pergelangan tangannya itu terasa dingin, tapi intonasi energinya bergetar hebat. Dua tanda yang tertanam di permukaannya menyala redup, permata Biru yang melambangkan elemen Air, dan permata Coklat yang memancarkan keteguhan elemen Tanah. Juga ada satu yang nampak samar dan tersembunyi. Angin.

"Aku tidak punya pilihan lain, ini sudah menjadi jalanku," bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada pemuda di sampingnya.

Kael tertegun, menatap tekad dan ambisi yang kuat di dalam pancaran kedua manik kelam gadis tersebut.

Eliya mengepalkan tangan, merasakan sisa-sisa energi dari dua elemen pertama mengalir di dalam darahnya. Tidak! Sekarang ketiga elemen itu berdenyut.

"Tiga dari tujuh. Aku butuh yang keempat untuk bisa bertahan dalam penerangan nanti," lanjutnya masih menatap pergelangan tangan yang berkilauan dengan indah.

"Lagipula, aku memiliki pembimbing yang hebat. Dia kuat, dia yang akan melindungiku," katanya lagi sembari menatap Zharvion yang berupa naga berukuran kecil.

"Kadal ini?" Kael menunjuk keberadaan Zharvion, di matanya makhluk kuno tak lebih dari seekor kadal yang lemah.

Eliya menghendikan bahu, binatang kuno itupun tak acuh. Zharvion, naga penjaga bintang sihir yang sehari-hari bertubuh kecil itu, merayap naik dan bertengger di pundak Eliya. Kael mendengus.

Cakar kecil itu mencengkeram jubah Eliya sedikit lebih kuat.

"Hati-hati, Eliya," desisnya langsung ke dalam pikiran gadis itu.

"Petir tidak sejinak Air, tidak pula sepasif Tanah. Dia memiliki kehendak sendiri yang liar. Dia memilih tuannya, atau menghancurkan siapa pun yang mencoba mendominasinya."

Suara Zharvion seperti gaung peringatan yang membangkitkan kewaspadaan. Eliya mengerti, mungkin akan lebih menyiksa dari pada elemen pertama dulu. Angin.

Gadis itu menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa membakar, panas dan bergejolak hebat. Lalu, melangkah maju menembus batas perimeter aman. Tanpa ragu, dan tanpa ingin berbalik pergi.

Blarrr!

Baru saja kakinya menginjak tanah tandus dataran itu, sebuah petir raksasa menyambar tepat tiga meter di depannya. Ledakannya melemparkan kerikil dan gelombang kejut yang membuat jubahnya berkibar kasar.

Eliya terpaku, menatap retakan tanah di depan kakinya yang kini membara merah, memuntahkan percikan listrik statis yang menari-nari di udara. Oh, mengerikan!

"Eliya? Kau yakin?" Kael, bertanya sekali lagi. Meyakinkan Eliya setelah melihat sambaran tadi.

Eliya tidak menjawab, ia menelan saliva dengan gerakan lambat seolah-olah ada bola berduri yang menusuk tenggorokan, tapi kakinya menolak untuk mundur.

"...." Kael diam seribu bahasa. Berharap Eliya dapat melewati ujian petir.

Di tengah kepulan asap dari kawah yang baru terbentuk, pandangannya menangkap sesuatu yang ganjil. Melalui fatamorgana panas dan distorsi listrik di kejauhan, sesosok bayangan manusia tampak bergerak. Seseorang sedang berjalan, menantang badai yang sama dengan dirinya.

Eliya menyipitkan mata, berusaha menembus tirai kabut ungu yang menghalangi pandangan.

Dia adalah seorang pemuda berambut hitam legam yang dipotong pendek. Jubah abu-abunya yang compang-camping di bagian ujung melambai ditiup angin kencang. Dia berjalan dengan ritme yang teratur dan tenang, seolah-olah petir yang menyambar di sekelilingnya hanyalah rintik hujan musim semi yang sepele.

Setiap kali petir mendekatinya, percikan arus itu seolah meliuk menjauh, seakan menaruh hormat pada keberadaannya.

"Siapa dia?" Eliya bergumam.

"Apakah dia sosok yang dikabarkan baru-baru ini?" Pemuda itu pun berguman saat melihat siluet sosok di dalam kabut.

Langkah kaki mereka berdua membawa ke satu titik temu di tengah dataran rata ini. Jarak di antara mereka terkikis hingga menyisakan sekitar dua puluh langkah.

'Dia berhenti berjalan?' Eliya membatin seraya turut menghentikan langkahnya.

Sosok tersebut terlihat lebih jelas. Mata pemuda itu sebiru kilatan petir terdahsyat, tajam dan mengintimidasi. Tidak ada ketakutan di wajahnya, hanya ada rasa ingin tahu yang dingin saat tatapannya turun dan terpaku pada mahkota elemen di pergelangan tangan Eliya.

'Aurelia? Dia benar-benar Aurelia?' Antara percaya dan tidak, tapi gadis di hadapannya mirip dengan putri yang dibuang keluarganya sendiri.

Gadis itu bisa merasakan fluktuasi energi murni yang amat besar memancar dari dalam tubuhnya, sebuah daya tarik alami yang hanya dimiliki oleh mereka yang diberkati oleh langit.

Rayn Ardent.

Nama itu bergaung di kepala Eliya, dibawa oleh bisikan angin badai. Sang jenius yang diramalkan akan mengguncang tatanan dunia, pemilik bakat murni lebih dari satu elemen yang belum pernah ada tandingannya dalam satu abad terakhir.

'Dia putra jenius dari Ignis. Tunangan Seraphina. Dulu, pemilik asli hanya mengenalnya dari jauh saja, tidak berani mendekat. Sekarang berhadapan, aku harus apa?'

Darah Eliya berdesir, bukan miliknya, tapi perasaan pemilik asli tubuh yang ia tempati.

Udara di antara mereka mendadak terasa membeku, terjebak di antara gemuruh guntur yang memekakkan telinga. Dua kekuatan, dua takdir yang berbeda, kini berdiri berhadapan di tempat di mana kematian mengintai di setiap detiknya.

Ini adalah pertemuan pertama mereka. Dan Eliya tahu, setelah hari itu, sejarah benua tidak akan pernah sama lagi.

1
beybi T.Halim
kok yaa kasihan,kan ada 4 kerajaan apakah tak ikut bertempur?? atau malah sdh mati semua🙈
Aisy Hilyah: nah itu, udah ngilang semua itu
total 1 replies
beybi T.Halim
ceritanya sungguh bagus,sepanjang episode nahan nafas terus,karakter eliya sang badai benar2 tangguh,kuat dan tentunya ada sisi melow nya ,dikelilingi pangeran tampan dari 4 kerajaan, tak sabar untuk episode berikutnya👍👍👍👍👍semangat
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 😍😍
total 1 replies
beybi T.Halim
keren👍
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Pena Quality
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!