NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:132
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terjebak di Teritori Bayangkara

Suara angin berbisik aneh menerobos dari balik semak-semak lebat, menghentikan langkah kaki Galih yang sedang memegang segenggam daun sambiloto liar hasil petikan terakhirnya. Bisikan itu bukan sekadar desau biasa, lebih mirip embusan bernada rendah yang seolah membawa pesan tak terucap.

"Kau dengar itu?" tanya Galih, mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Sekar yang sedang berjongkok memeriksa rumpun tanaman obat di dekatnya mendongak sejenak. "Angin biasa. Sudah, cepat kumpulkan, keranjangmu masih setengah kosong."

Mereka sudah cukup lama berbincang santai sambil mengumpulkan daun sambiloto, obrolan ringan yang membuat waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Sekar bercerita tentang masa kecilnya berlatih dengan Ki Wira, Galih menimpali dengan cerita konyol tentang sekolahnya dulu, tanpa sadar langkah mereka semakin jauh menyusup ke dalam hutan, jauh melebihi batas aman yang biasa dilalui pemburu pemula. Pepohonan di sekeliling mereka juga perlahan berubah, batangnya semakin besar dan rapat, cahaya matahari yang tadi leluasa menembus dedaunan kini hanya tersisa berkas-berkas tipis yang berpendar remang di antara ranting.

Galih kembali membungkuk, memetik beberapa daun terakhir untuk melengkapi keranjangnya, ketika suasana yang awalnya tenang mendadak berubah mencekam. Kabut putih tebal turun dengan cepat, menyapu jalur kepulangan yang tadi mereka lalui, menyelimuti pepohonan dan menyembunyikan arah yang seharusnya jelas terlihat.

"Sekar," panggil Galih, suaranya mulai bergetar, "kabutnya... kenapa tiba-tiba begini?"

Sekar berdiri cepat, matanya menyipit menembus kabut yang semakin pekat. Wajahnya yang tadi santai berubah waspada dalam sekejap, tangannya bergerak otomatis meraih gagang parang di pinggangnya.

"Ini bukan kabut biasa," katanya tegas, "berdiri di belakangku."

Belum sempat Galih bergerak menuruti perintah itu, puluhan pasang mata bercahaya kuning tajam muncul serentak dari kegelapan di antara pepohonan, mengelilingi mereka berdua dalam lingkaran yang sempurna, terlalu rapi untuk sekadar kebetulan. Galih merasakan bulu kuduknya berdiri, dingin merambat cepat dari tengkuk hingga ke ujung jari kakinya.

"Bayangkara," desis Sekar, rahangnya mengeras.

Sosok-sosok berwujud bayangan hitam pekat perlahan merangkak keluar dari balik kegelapan, tubuh mereka nyaris menyatu dengan gelapnya kabut, hanya taring tajam dan mata kuning menyala yang membuat keberadaan mereka terlihat jelas. Jumlahnya jauh lebih banyak dari yang pernah Sekar hadapi sendirian, terlalu banyak untuk sekadar kawanan monster level menengah yang biasa berkeliaran di teritori ini. Suara geraman rendah bersahutan dari segala arah, seolah setiap bayangan yang tersembunyi di balik pepohonan ikut bergabung dalam paduan suara mengerikan itu.

Galih mundur beberapa langkah, punggungnya membentur batu besar berlumut di belakangnya. Kakinya gemetar, matanya membelalak menyaksikan lingkaran mata kuning yang perlahan mempersempit jarak.

"Kenapa mereka bisa sebanyak ini," gumam Sekar, lebih kepada dirinya sendiri, sebelum salah satu Bayangkara melompat menerjang tanpa peringatan.

Sekar bereaksi cepat, mengayunkan parangnya menebas monster pertama yang menyerang, membelahnya menjadi dua sebelum sempat menyentuh tanah. Namun belum sempat ia menstabilkan posisi, tiga Bayangkara lain sudah menerjang dari arah berbeda, memaksanya bergerak lincah menghindar sambil melancarkan tebasan balik yang cepat dan mematikan. Suara desing parangnya bersahutan dengan raungan monster yang tumbang satu demi satu, namun barisan di belakang mereka tak kunjung menipis.

"Galih, jangan bergerak dari situ!" teriak Sekar, suaranya tenggelam di antara raungan monster yang terus berdatangan.

Galih menekan tubuhnya rapat ke batu besar, tangannya gemetar hebat, matanya tidak bisa lepas dari pemandangan mengerikan di depannya. Sekar bergerak seperti kilat, menebas kiri dan kanan, namun setiap Bayangkara yang tumbang selalu digantikan oleh yang baru muncul dari kegelapan kabut, seolah jumlah mereka tidak ada habisnya.

Menit demi menit berlalu, dan Galih mulai menyadari sesuatu yang mengerikan. Napas Sekar yang tadinya teratur kini mulai memburu, gerakannya yang tadi begitu lincah perlahan melambat, keringat membasahi dahinya meski udara di sekitar mereka terasa dingin menusuk. Setiap tebasan yang dulu terasa ringan kini membutuhkan tenaga lebih besar, dan jeda di antara serangan yang ia lancarkan mulai memanjang, memberi celah bagi lebih banyak Bayangkara untuk mendekat.

Sebuah cakar tajam berhasil menggores lengan kiri Sekar, membuat gadis itu meringis menahan sakit sambil tetap mempertahankan kuda-kudanya. Darah segar mulai mengalir tipis dari luka itu, menetes ke tanah lembap yang sudah dipenuhi jejak pertarungan. Ia menggigit bibirnya sendiri, menahan rintihan agar tidak semakin mengundang perhatian lebih banyak monster di sekelilingnya.

"Sekar!" Galih berteriak panik, melihat luka itu bertambah dengan setiap serangan yang lolos dari pertahanannya.

Perburuan yang seharusnya sederhana, sekadar mencari daun obat di pinggir hutan, kini berubah menjadi pertaruhan nyawa yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Stamina Sekar yang terkuras drastis mulai terlihat jelas dari cara ia bergerak, langkahnya yang tadi ringan kini terasa berat, napasnya tersengal di sela setiap ayunan parang.

Galih ingin bergerak, ingin membantu, namun kakinya seolah membeku di tempat, terlalu takut untuk melangkah menghadapi lautan mata kuning menyala yang mengelilingi mereka. Ia hanya bisa menyaksikan dari sudut batu besar, tubuhnya gemetar hebat, tangannya mencengkeram tepi batu hingga buku jarinya memutih, sementara satu per satu luka gores baru bermunculan di lengan dan bahu Sekar. Rasa bersalah dan tidak berdaya bercampur menjadi satu di dadanya, memaksanya menyaksikan tanpa mampu berbuat apa-apa selain berharap keajaiban datang secepatnya.

"Kumohon, cepat habiskan mereka," bisik Galih pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar oleh telinganya sendiri, tenggelam dalam raungan monster dan desing parang yang terus beradu. Ia mencoba mencari sesuatu di sekitarnya, ranting, batu, apa saja yang bisa dijadikan senjata, namun tangannya terlalu gemetar untuk benar-benar bergerak mengambilnya.

Sekar menebas lagi, dan lagi, namun gerakannya semakin lambat merespons setiap serangan baru. Kabut di sekelilingnya seolah semakin pekat, menyembunyikan jumlah pasti musuh yang masih tersisa, membuat setiap arah terasa sama mengancamnya.

Tepat ketika Sekar berusaha menebas Bayangkara yang menerjang dari sisi kanan, kakinya yang sudah lemas oleh kelelahan tergelincir di atas tanah basah yang licin oleh darah dan lumpur. Tubuhnya limbung, keseimbangannya hilang total, dan ia jatuh terjerembab ke tanah dengan parang terlepas dari genggamannya, meluncur beberapa meter jauh dari jangkauan tangannya.

Galih membelalakkan matanya, jantungnya seolah berhenti berdetak melihat pemandangan itu. Waktu terasa melambat, setiap detik meregang panjang tak terkira di depan matanya sendiri.

Seekor Bayangkara yang berdiri paling dekat langsung memanfaatkan kesempatan itu, melesat cepat dengan cakar tajam terentang lebar, meluncur lurus mengincar leher Sekar yang masih berusaha bangkit dari tanah, tanpa ada apa pun yang bisa menghentikannya tepat waktu. Suara raungan kemenangan monster itu menggema di antara kabut, seolah sudah mencicipi kemenangan sebelum cakarnya benar-benar menyentuh sasaran.

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!