Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prasangka yang Singgah
Pintu kamar Jungkook tertutup rapat, menyisakan Mira sendirian di tengah ruangan yang tercium harum aroma khas kayu dan sitrus, aroma yang sama persis dengan yang menguar dari syal Jungkook di lehernya.
Mira merebahkan kopernya di atas karpet tebal, lalu berjalan menuju kamar mandi dalam setelah meletakkan barang-barangnya. Kehangatan guyuran air panas seketika meluruhkan sisa-sisa rasa dingin yang menempel di kulitnya sejak dari bandara.
Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk bersih yang tadi disiapkan Jungkook, Mira melangkah kembali ke area kamar tidur. Matanya mulai mengabsen setiap sudut ruangan. Kamar itu tertata sangat rapi dan maskulin, dominan dengan warna abu-abu gelap dan kayu hangat. Ada jajaran jam tangan, rak buku yang tersusun rapi, serta meja kerja dengan laptop yang tertutup.
Namun, saat hendak meletakkan botol perawatan kulitnya di atas meja rias kecil dekat lemari, langkah Mira terhenti seketika.
Pandangannya terkunci pada sebuah sudut meja.
Di sana, tergeletak sebuah jepit rambut mutiara yang elegan dan botol parfum feminin berdesain mewah dengan label desainer ternama Paris. Cairan di dalamnya masih tersisa separuh, seolah barang itu memang sering digunakan di sana.
DEG.
Senyum tipis yang sempat menghiasi bibir Mira perlahan memudar. Jemarinya yang memegang handuk mendadak mencengkeram lebih erat.
“Barang milik... perempuan?” bisik batinnya pelan.
Dada Mira mendadak terasa sedikit sesak, sebuah sensasi yang aneh dan tak menyenangkan tiba-tiba menyusup tanpa permisi. Ia menatap jepit rambut mutiara itu lekat-lekat.
Seketika, logikanya mulai mengambil alih dan memutar balikkan bayangan manis yang baru saja tercipta selama perjalanan dari bandara. Mira menghela napas panjang, tersenyum sumbang pada dirinya sendiri seraya menunduk.
“Tentu saja... apa yang kau harapkan, Kim Mira?” pikirnya dengan konflik batin yang mulai bergejolak.
Jungkook Oppa bukan lagi remaja laki-laki yang dulu sering bermain di rumahnya. Pria itu kini adalah pendiri studio game ternama di Paris, seorang pria dewasa yang sukses, mapan, berkharisma, dan memiliki paras yang teramat tampan. Dengan semua pesona itu, sangat mustahil jika pria seperti Jungkook tidak memiliki kekasih atau seseorang yang spesial di Paris.
Rasa malu mendadak menyergap Mira. Ia merasa konyol karena sempat membiarkan jantungnya berdegup tak karuan hanya karena perhatian-perhatian kecil Jungkook di mobil dan bandara tadi. Bagi pria semapan dan semanis Jungkook, perhatian seperti itu mungkin sudah menjadi hal yang biasa ia lakukan pada siapa saja atau mungkin reflex dari rasa tanggung jawabnya sebagai sahabat kakaknya.
Mira menarik napas dalam-dalam, menepuk pelan kedua pipinya untuk menyadarkan diri.
“Jangan percaya diri, Mira-ya. Dia hanya menganggapmu adik teman dekatnya. Jangan sampai kau bertindak canggung atau membuat perasaannya tidak nyaman,” tegasnya pada diri sendiri, mencoba membuang jauh-jauh rasa kecewa yang menyelusup di hatinya.
Ia buru-buru membelakangi meja tersebut, merapikan bajunya, dan memutar knop pintu kamar untuk kembali ke ruang tengah, membawa benteng pertahanan baru yang tanpa sadar mulai ia bangun di antara dirinya dan Jungkook.
Aroma gurih kaldu hangat menyambut Mira begitu ia melangkah keluar dari kamar tidur. Di area dapur bersih, Jungkook terlihat sudah melepas mantel tebalnya, hanya mengenakan kaus polos hitam berserat halus yang mencetak jelas bahu tegap dan lengan atletisnya. Pria itu sibuk memindahkan sup hangat ke dalam dua mangkuk keramik.
"Ah, kau sudah selesai mandi?" Jungkook mendongak, menyunggingkan senyum hangat yang jujur. "Pas sekali. Kau pasti lapar setelah penerbangan jauh dan kedinginan di luar tadi. Ayo makan dulu."
Mira menahan napas sejenak. Bayangan jepit rambut mutiara dan botol parfum di kamar tadi kembali terngiang, membuat benteng pertahanan di dadanya seketika menegak tinggi.
"Terima kasih banyak, Oppa," ujar Mira dengan nada suara yang sangat halus, namun terdengar begitu formal dan berjarak. Ia berjalan mendekat ke meja makan, tetapi mengambil posisi duduk yang paling jauh dari tempat Jungkook berada.
Jungkook sempat menghentikan gerakannya sejenak. Alisnya terangkat tipis menyadari perubahan nada bicara adik sahabatnya itu. Kenapa gadis ini mendadak jadi sangat formal dan canggung? Padahal di mobil tadi rasanya sudah cukup dekat, pikir Jungkook bingung.
Jungkook meletakkan semangkuk sup hangat di hadapan Mira. Saat jemari Jungkook tak sengaja hampir menyentuh jemari Mira ketika menggeser mangkuk, Mira refleks menarik tangannya sedikit ke belakang.
Reaksi kecil itu tidak luput dari pengamatan Jungkook.
"Mira-ya... ada yang salah?" tanya Jungkook pelan seraya mendudukkan diri di hadapan Mira. Matanya menatap lekat-lekat, mencoba membaca raut wajah gadis di depannya. "Wajahmu kelihatan bingung. Apa kamarnya tidak nyaman?"
"A-aniya, kamarnya sangat bersih dan nyaman, Oppa," jawab Mira cepat seraya menundukkan pandangannya ke dalam mangkuk sup, menghindari tatapan mata Jungkook yang begitu intens. "Aku hanya... merasa tidak enak hati sudah merepotkan dan mengganggu ruang pribadimu."
"Kau sama sekali tidak mengganggu," balas Jungkook lembut, walau kerutan bingung di dahinya belum juga surut.
Mira hanya menyunggingkan senyum tipis yang serba salah. Di dalam hatinya, prasangka itu makin mengakar kuat. Setiap perhatian manis, senyuman hangat, hingga kebaikan Jungkook sejak di bandara tadi kini disaring oleh Mira sebagai batas kebaikan seorang pria mapan yang menghargai adik sahabatnya, bukan sesuatu yang spesial. Ia bertekad untuk menjaga jarak agar tidak mempermalukan dirinya sendiri di kemudian hari.
Jungkook yang tidak tahu-menahu soal jepit rambut di kamarnya hanya bisa menatap Mira dengan rasa penasaran yang tertahan. Suasana di antara mereka berubah menjadi hening yang sarat akan ketegangan halus, kehangatan di dalam kabin mobil tadi seolah perlahan tertutup kabut tipis kecanggungan.
Suasana di meja makan terasa begitu lengang. Hanya terdengar dentingan sendok keramik yang beradu pelan dengan mangkuk. Mira menghabiskan supnya dengan menunduk, sebisa mungkin menghindari kontak mata langsung. Di seberangnya, Jungkook terus memperhatikan perubahan sikap Mira dengan kening berkerut halus, merasa heran dengan dinding tak kasat mata yang mendadak berdiri tegal di antara mereka.
"Terima kasih untuk supnya, Oppa. Enak sekali," ujar Mira pelan seraya berdiri dan membawa mangkuk kosongnya ke bak cuci piring.
"Biar aku saja yang cuci, Mira-ya," cegah Jungkook seraya ikut berdiri.
"Tidak usah, Oppa. Biar aku saja," pangkas Mira cepat dengan nada yang terlampau sopan, langsung memutar keran air.
Saat Mira membungkuk di depan bak cuci piring, gerakan tangannya mendadak terhenti ketika sebuah handuk kecil mendarat lembut di puncak kepalanya. Mira tersentak pelan dan menoleh.
Jungkook sudah berdiri sangat dekat di sampingnya. Pria itu menatap rambut hitam Mira yang ternyata masih agak basah dan meneteskan sisa air di bagian ujungnya, menempel di kain kaus bagian belakang yang ia kenakan.
Jungkook sudah berdiri sangat dekat di sampingnya. Pria itu menatap rambut hitam Mira yang ternyata masih agak basah dan meneteskan sisa air di bagian ujungnya, menempel di kain kaus bagian belakang yang ia kenakan.
"Rambutmu masih setengah basah, Mira-ya," tegur Jungkook dengan suara berat yang terikat perhatian tulus. Tanpa menunggu izin, jemari tegap Jungkook meraih ujung handuk itu, lalu mengusap dan mengeringkan helai-helai rambut Mira dengan gerakan yang teramat pelan dan telaten.
DEG.
Jarak mereka ter pangkas habis. Aroma maskulin khas kayu dan sitrus dari tubuh Jungkook seketika menyeruak, mengurung indra penciuman Mira. Dari jarak sedekat ini, Mira bisa merasakan embusan napas hangat Jungkook yang menerpa pelipisnya.
Mira membeku. Jemarinya yang memegang mangkuk mencengkeram pinggiran stainles dapur dengan sangat erat. Jantungnya kembali bertalu hebat, meruntuhkan sebagian benteng pertahanan yang susah payah ia bangun sejak melihat barang wanita di kamar tadi.
“Kenapa... kenapa dia harus se-perhatian ini jika sudah punya kekasih?” jerit batin Mira menahan sesak yang bercampur debaran halus.
Jungkook yang fokus mengeringkan rambut Mira tak sengaja menurunkan pandangannya. Matanya mengunci tepat pada manik mata Mira yang berbinar pasrah. Selama beberapa detik, gerakan tangan Jungkook terhenti di udara. Ketegangan romantis yang begitu pekat dan pekat mendadak melingkupi mereka berdua di sudut dapur yang remang.
Jungkook berdeham pelan, berusaha menguasai diri dan melepaskan pegangannya pada handuk.
"Salju di luar sangat dingin. Kalau tidur dengan rambut basah, kau bisa kena flu besok pagi," kata Jungkook seraya mengalihkan pandangannya, mencoba menyembunyikan getaran di dadanya sendiri.
Ia kemudian berjalan menuju kompor, menyalakan api kecil dan mengambil panci kecil untuk memasak sesuatu.
"Duduklah di sofa. Aku sedang membuatkan hot chocolate dengan sedikit kayu manis," panggil Jungkook tanpa menoleh. "Ini resep rahasia yang biasa aku buat kalau Taehyung sedang stres atau kedinginan usai lembur. Ini akan membuat tubuhmu hangat dan tidurmu lebih nyenyak."
Mira memperhatikan punggung tegap Jungkook yang sibuk mengaduk cokelat di atas kompor. Rasa hangat dari cangkir yang sedang disiapkan pria itu seolah merambat perlahan ke hatinya, membuat prasangka dan kekecewaan di dadanya bertarung hebat dengan perasaan kagum yang kian sulit ia sangkal.
Jungkook melangkah mendekati area sofa seraya membawa sebuah cangkir keramik yang membubung uap manis. Aroma cokelat pekat berpadu kayu manis seketika menguar, mengisi udara di ruang tengah yang remang.
Ia mengulurkan cangkir tersebut pada Mira, menyunggingkan senyum tipis yang hangat.
"Minumlah pelan-pelan karena ini masih sangat panas," ujar Jungkook lembut saat jemari Mira menyambut cangkir itu. "Aku akan mengerjakan beberapa pekerjaan studio sebentar di meja makan."
"Ne... gomawo, Oppa," bisik Mira pelan, mengeratkan genggamannya pada cangkir keramik yang menghantarkan rasa hangat ke jemarinya yang masih dingin.
Jungkook berbalik, melangkah menuju meja makan kayu yang tak jauh dari sana. Pria itu menarik kursi, duduk membelakangi dapur lalu membuka layar laptopnya. Detik berikutnya, suasana ruang tengah berangsur hening, hanya dihiasi denting jemari Jungkook yang menari di atas papan ketik dan suara tiupan halus dari bibir Mira yang menikmati seruputan demi seruputan cokelat hangatnya.
Mira duduk menyandar pada sofa kulit yang empuk. Kehangatan minuman itu perlahan merambat turun ke dadanya, meluruhkan rasa lelah akibat penerbangan panjang dan gejolak emosi salah paham yang sempat menguras tenaganya.
Matanya sesekali melirik ke arah meja makan. Dari sudut posisinya, terlihat rahang tegas dan profil samping wajah Jungkook yang begitu fokus menatap layar monitor. Pria itu terlihat sangat karismatik saat bekerja. Namun, seiring berjalannya waktu, kelopak mata Mira terasa kian berat. Hembusan pendingin udara dan suara ketukan papan ketik yang teratur seolah berubah menjadi lagu pengantar tidur.
Genggaman jemari Mira pada cangkir cokelatnya yang tersisa separuh perlahan mengendur. Kepalanya miring, menyandar pada lengan sofa, hingga akhirnya napas gadis itu berhembus teratur,.tertidur lelap dalam buaian rasa hangat.
Klek.
Suara jemari Jungkook terhenti di atas papan ketik. Suasana yang mendadak terlampau hening membuat pria itu refleks memutar kepalanya ke arah sofa.
Jungkook tersenyum tipis begitu mendapati Mira sudah terpelempar ke alam mimpi. Namun, matanya seketika membelalak pelan saat melihat posisi cangkir cokelat di tangan Mira yang mulai miring dan terancam tumpah ke atas sofa.
Dengan langkah cepat namun tanpa suara, Jungkook berdiri dan memangkas jarak menuju sofa.
Ia berlutut di samping tempat Mira berbaring. Jemari tegapnya bergerak amat hati-hati merogoh dan mengambil alih cangkir keramik dari genggaman jemari Mira yang terkulai lemah. Begitu cangkir berhasil diselamatkan dan diletakkan aman di atas meja kaca, Jungkook menghela napas lega.
Jungkook lalu memindahkan posisi tidur Mira agar lebih nyaman. Dengan sangat perlahan dan penuh kelembutan, ia mengangkat bagian atas tubuh Mira, menata kembali bantal sofa di bawah kepalanya, lalu meluruskan posisi kaki gadis itu agar terlentang dengan sempurna.
Ia menarik mantel tebal miliknya yang tadi sempat terlepas, membeberkannya kembali sebagai selimut hingga menutupi dada Mira.
Sebelum berdiri, Jungkook sempat terpaku beberapa saat dalam posisinya yang berlutut di dekat sofa. Wajah Mira terlihat begitu polos dan damai saat tidur. Dengan gerakan yang teramat pelan agar tak mengusik tidurnya, jemari Jungkook terulur merapikan sehelai rambut halus yang menutupi dahi Mira, menyisipkannya ke belakang telinga.
Jungkook menatap wajah adik sahabatnya itu dengan pandangan yang dalam dan getaran dada yang kian sulit ia sembunyikan, membiarkan malam di Paris berlalu dalam keheningan yang manis.