NovelToon NovelToon
JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.

Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.

Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.

Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: CIUMAN YANG PERNAH TERJADI

Kata-kata tegas Shen Rui di pelataran kuil tua tadi sore masih menggantung di udara seperti racun yang dingin. Sepanjang perjalanan menembus Hutan Pinus Hitam menuju perbatasan selatan, tak ada satu pun patah kata yang terucap di antara mereka. Shen Rui berjalan beberapa langkah di depan, menjaga jarak yang begitu kaku seolah-olah ia sedang memandu seorang tahanan, bukan seseorang yang jiwanya terikat padanya.

Malam kembali mengambil alih bumi. Angin utara yang berhembus kencang mendadak membawa gumpalan awan hitam pekat, menyerap seluruh pendar rembulan hingga hutan rimba itu tenggelam dalam kegelapan mutlak.

Tak lama kemudian, gemuruh petir membelah langit, disusul oleh curahan hujan deras yang menusuk dingin. Tetesan air hujan yang berjatuhan deras membuat jalur berlumpur kian licin dan membekukan hawa udara di sekeliling mereka.

"Di depan ada ceruk gua kecil," kata Shen Rui pendek tanpa menoleh.

Mereka berdua menerobos lebatnya hujan dan berlindung di bawah naungan ceruk batu cadas yang sempit. Tebalnya tirai hujan yang jatuh dari bibir gua menciptakan dinding air yang mengisolasi mereka dari dunia luar. Suhu dingin merayap cepat, membuat gaun sutra putih Lian Yue yang basah kuyup menempel ketat di kulitnya. Tubuh Lian Yue menggigil hebat, bibirnya yang pucat bergetar menahan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Shen Rui melepaskan jubah abu-abunya yang relatif kering di bagian dalam. Pria itu melangkah mendekat, hendak menyelimutkan jubah tersebut ke bahu Lian Yue.

"Tidak usah," bisik Lian Yue pelan seraya membuang muka dan mengambil satu langkah mundur, mengingat peringatan Shen Rui untuk menjaga jarak. "Aku bisa menahannya."

Shen Rui menghentikan tangannya di udara. Melihat tubuh Lian Yue yang gemetar dan mata peraknya yang dipenuhi luka batin, rasa bersalah yang amat besar merobek dada sang pemburu. Keteguhan dan kebohongan dingin yang dibangunnya tadi sore seketika runtuh.

Tanpa mempedulikan penolakan Lian Yue, Shen Rui melangkah maju dan menarik lembut pergelangan tangan kiri Lian Yue, menyelimutkan jubahnya ke bahu sang perempuan.

Namun saat jemari Shen Rui bersentuhan dengan kulit pergelangan tangan Lian Yue, ibu jarinya tak sengaja menyenggol sebuah liontin giok berbentuk ular melingkar yang tergantung di leher Lian Yue.

Zzzzz-bbraakkk!

Sentuhan bersamaan antara kulit mereka, liontin giok kuno, dan gemuruh petir di luar gua mendadak memicu ledakan gelombang spiritual perak yang luar biasa dahsyat. Udara di dalam gua terdistorsi hebat. Penglihatan mereka berdua kabur, dan realitas di sekitar mereka seperti terkelupas, melempar jiwa mereka masuk ke dalam sebuah proyeksi ingatan masa lalu yang teramat nyata.

Hujan deras yang persis sama sedang mengguyur sebuah pelataran Kuil Seribu Bayang seribu tahun yang lalu.

Lian Yue dan Shen Rui berdiri di sana—bukan sebagai pemburu dan buruannya, melainkan dalam balutan jubah pualam kuno yang indah. Wajah Shen Rui di masa lalu itu dipenuhi oleh linangan air mata dan kepedihan yang teramat mendalam. Di sekeliling mereka, ratusan pedang pembasmi iblis milik sekte-sekte agung mengurung pelataran dari segala penjuru.

"Jika langit tidak mengizinkan kita bersama," bisik Shen Rui di masa lalu seraya merengkuh pinggang Lian Yue rapat-rapat, membiarkan tubuh mereka berdua basah kuyup disiram hujan deras, "maka aku akan menentang hukum langit itu sendiri."

"Shen Rui..." bisik Lian Yue di masa lalu dengan tangisan yang memilu, menyentuh kedua pipi pria itu. "Jika aku harus mati malam ini, biarkan ingatan terakhirku adalah kehangatanmu."

Shen Rui menundukkan kepalanya. Di bawah curahan hujan seribu tahun lalu yang membasahi wajah mereka, pria itu memagut bibir Lian Yue dengan kecupan yang teramat dalam, sarat akan kerinduan, keputusasaan, dan ikrar abadi yang tak sanggup dihancurkan oleh waktu. Ciuman di tengah hujan itu begitu pekat, mengikat jiwa mereka dalam manis dan pahitnya takdir.

Wusss!

Prospek ingatan itu memudar dalam seketika.

Lian Yue dan Shen Rui kembali terhenyak di dalam ceruk gua yang sempit. Deru hujan deras di luar gua masih membahana, namun hawa dingin di antara mereka telah lenyap sepenuhnya, berganti dengan gelombang panas dan napas yang memburu dari kedua dada mereka.

Lian Yue menatap Shen Rui dengan mata terbelalak, napasnya tersedak oleh ingatan ciuman seribu tahun lalu yang kini membakar seluruh jiwanya. Perasaan manis, kehangatan bibir pria itu, serta rasa sakit di bawah hujan masa lalu terasa begitu segar, seolah-olah baru saja terjadi satu detik yang lalu.

Shen Rui terpana. Jemari tangannya masih merengkuh bahu Lian Yue, sementara matanya terkunci rapat pada bibir kemerahan Lian Yue yang bergetar di hadapannya.

"Kau... kau juga melihatnya, bukan?" bisik Lian Yue seraya menatap lurus ke dalam netra Shen Rui, air mata bening menetes membasahi pipinya yang hangat. "Ciuman itu... kita pernah saling mencintai hingga rasanya ingin mati di bawah hujan."

Shen Rui tidak mampu lagi berbohong. Pria yang biasanya bertangan dingin itu menatap Lian Yue dengan seluruh kepedihan dari jiwa masa lalunya yang kembali bangkit. Tangannya yang gemetar naik ke atas, mengelus lembut pipi pucat Lian Yue, menghapus tetesan air mata sang perempuan dengan ibu jarinya.

"Ya..." suara Shen Rui pecah, rendah dan dalam. "Aku melihatnya. Dan aku mengingat rasa sakitnya."

Di balik benteng pertahanan yang hancur, Shen Rui perlahan menundukkan wajahnya, mengikis jarak di antara mereka di bawah gemuruh hujan malam, membiarkan ingatan ciuman seribu tahun lalu menemukan takdirnya kembali di dalam kegelapan gua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!