Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.
Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.
Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Guncangan dahsyat akibat runtuhnya dinding es terowongan mengguncang tanah tempat mereka berpijak, menciptakan gema bergemuruh yang memekakkan telinga. Di tengah badai salju buatan dan debu kristal yang beterbangan liar, situasi berada di ambang batas kehancuran mutlak. The Ice-Web Queen—sang monster kolosal penguasa gua—mengamuk hebat, merentangkan kaki-kakinya yang diselimuti cangkang es tebal, bersiap melancarkan serangan pemungkas untuk meremukkan tubuh Ren yang masih terjerat jaring beracun.
Namun, di detik-detik paling kritis di mana garis tipis antara hidup dan mati nyaris putus, koordinat presisi berkedip terang di retina visual Ren.
Itu adalah bantuan dari arah yang tidak disangka-sangka. Soju, gadis berambut kuning cerah yang baru saja bergabung di tengah kekacauan, dengan sigap melemparkan sebuah perangkat proyektor kecil ke udara. Perangkat itu memancarkan sinar holografik biru terang yang langsung mengunci titik buta di balik cangkang leher sang Ratu—sebuah celah biologis tersembunyi yang hanya bisa terbaca oleh navigasi topografi bawah tanah yang akurat.
"Di titik itu, Kapten!" suara Soju melengking tajam memotong deru angin badai, menembus kekacauan medan perang. "Hantam inti saraf pusatnya sekarang!"
Mendengar instruksi tersebut, Ren tidak membuang waktu sedetik pun. Jantung mekanis di dalam dadanya berdenyut menggila, memompa gelombang panas murni yang membakar habis sisa-sisa racun asam di sekujur tubuhnya. Suhu tubuhnya melonjak drastis, mencairkan jaring termal-kristal yang mengikatnya dalam kepulan uap putih yang pekat.
Ren bangkit dari tanah dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya. Ia mencengkeram Rust-Bite Blade menggunakan kedua tangannya. Bilah pedang yang tadinya membeku dan berkarat itu mendadak berpendar dengan cahaya oranye kemerahan yang menyilaukan mata—sebuah manifestasi paksa dari batas maksimal sistem HP miliknya yang kini berada di ambang angka nol.
[Peringatan Kritis: HP Mencapai 2 / 105! Risiko Kegagalan Organ Biologis Mencapai 98%.]
[Peringatan Sistem: Mengaktifkan Eksekusi Terakhir Berbasis Kehendak Mutlak.]
"Haaaaah!"
Ren melompat menerjang maju, mengabaikan rasa sakit luar biasa yang merobek-robek setiap serat otot di tubuhnya. Ia melesat menembus badai es, mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh tepat ke arah titik lemah yang dipetakan oleh Soju.
Slat!
Sebuah kilatan cahaya oranye terang membelah kegelapan terowongan. Rust-Bite Blade menembus cangkang es pelindung sang Ratu tanpa perlawanan, menghunjam langsung ke dalam inti saraf pusat makhluk kolosal tersebut.
Rooaargh...!
The Ice-Web Queen mengeluarkan pekikan kematian terakhir yang mengguncang seluruh lorong bawah tanah. Tubuh raksasa itu menegang kaku, lalu retakan-retakan kristal es menyebar dengan cepat dari bagian leher hingga ke seluruh tubuhnya. Dalam hitungan detik, monster itu meledak berkeping-keping menjadi ribuan serpihan es yang berhamburan ke udara, meninggalkan genangan cairan berpijar dan keheningan yang mendadak mencekam.
Ren mendarat dengan satu lutut menumpu di atas tanah yang bergetar. Napasnya terengah-engah, tubuhnya bersimbah darah dan keringat dingin, sementara pandangannya mulai kabur menggelap. Ia nyaris tewas untuk kedua kalinya dalam pertempuran ini. Sebelum kesadarannya benar-benar terenggut oleh kegelapan, proyeksi sistem di dalam kepalanya menyala terang, memunculkan deretan teks penghargaan besar yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
[Target Berhasil Dieliminasi: The Ice-Web Queen (Boss Sub-Tier)] [Mendapatkan Reward Utama:]
• Blueprint Senjata Baru: Cryo-Sonic Rifle (Tingkat Lanjut)
• Material Inti: Cryo-Core Fragment x1
• Peningkatan Atribut Dasar: Kekuatan & Kelincahan Meningkat Signifikan.
• Membuka Data Koordinat Rahasia: Stasiun Nol (Origin of Core Engine).
Beberapa jam kemudian, di dalam suasana hangat kabin gerbong Vanguard yang telah diparkir aman di persimpangan terowongan yang tenang, aroma uap mesin berpadu dengan bau khas besi panas.
Ren berbaring di ranjang daruratnya, dadanya kembali dibalut perban—kali ini dengan ikatan yang sedikit lebih rapi berkat bantuan Gavin. Di atas meja kerja di sudut ruangan, layar monitor menampilkan cetak biru senjata baru hasil jarahan sistem, sementara inti Cryo-Core Fragment memancarkan pendaran biru lembut yang menstabilkan suhu di dalam gerbong.
Di sisi ruangan, Leo sedang sibuk membuat ulang kabel sirkuit pertahanan luar, sesekali melirik ke arah sudut kabin di mana seorang gadis berambut kuning cerah sedang duduk santai sambil membersihkan busur balistiknya. Gavin duduk di depan konsol komputernya, mengetik barisan data koordinat Stasiun Nol yang baru saja terbuka secara otomatis.
Gadis berambut kuning cerah itu—Soju—mendongak, menatap ketiga pemuda di hadapannya dengan senyuman santai yang menghiasi bibirnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memulai percakapan untuk mencairkan ketegangan.
"Kurasa sudah sepantasnya kita berkenalan secara resmi," kata Soju sambil mengibaskan helaian rambut kuningnya yang sedikit berantakan. "Namaku Soju. Aku seorang navigator yang sudah lama tersesat di labirin terowongan bawah tanah ini. Dan jujur saja... melihat kalian merobek-robek The Ice-Web Queen tadi adalah hal paling gila sekaligus paling keren yang pernah kutemukan selama hidup di dunia es."
Leo mendengus kecil, meletakkan obor lasnya di atas meja, lalu menunjuk dadanya sendiri dengan bangga. "Aku Leo, mekanik jenius yang merakit kereta sultan ini dari tumpukan rongsokan."
Gavin mengangkat tangan kanannya sekilas tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor. "Gavin. Spesialis data dan peretas. Kalau boleh saran, tolong jangan buat keributan lagi hari ini, kepalaku masih pusing."
Terakhir, perhatian Soju beralih ke arah tempat tidur darurat di mana Ren perlahan-lahan membuka matanya, mencoba menegakkan tubuhnya meskipun sekujur tulangnya masih terasa remuk.
"Dan kau..." ucap Soju, menatap tajam ke arah Ren dengan binar ketertarikan yang tak disembunyikan. "Pemimpin bermata dingin yang hampir mati di bawah cakar laba-laba. Siapa namamu?"
"Ren," jawab pemuda itu singkat, suaranya parau namun tegas.
Soju menyeringai lebar, menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Baiklah, Ren. Ngomong-ngomong, tadi sistem navigasiku sempat mendeteksi koordinat Stasiun Nol yang meresap masuk secara misterius melalui jam tangan panduku saat kita jatuh tadi. Dan kebetulan sekali, aku tahu rute rahasia untuk menuju ke sana melewati labirin es terdalam yang tidak akan bisa dibaca oleh peta korporasi mana pun."
Soju berdiri dari kursinya, melangkah mendekati tengah kabin, lalu membentangkan kedua tangannya dengan gaya seorang navigator profesional. "Jadi, kurasa aku akan bergabung dengan kru kereta kalian. Anggap saja aku memegang kemudi navigasinya."
Mendengar hal itu, Leo spontan menghentikan pekerjaannya. Ia menepuk jidatnya dengan keras, lalu menatap Ren dengan ekspresi tak percaya. "Tunggu dulu! Kapten, apa-apaan ini?! Kau baru saja merekrut seorang gadis asing lagi?!"
Gavin ikut menghela napas panjang, merosotkan tubuhnya di kursi dengan lelah. "Kita bahkan belum keluar dari Sektor 7, dan sekarang kru kita bertambah menjadi empat orang. Kapten kita ini benar-benar punya hobi mengumpulkan orang-orang aneh di sepanjang jalan."
Ren tidak menghiraukan keluhan kedua rekan setimnya. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan denyut stabil dari The Core Engine di dadanya, lalu merogoh saku mantelnya. Dari dalam bungkus plastik vakum, ia mengeluarkan sepotong kue sus beku terakhirnya, memakannya dengan tenang tanpa beban.
"Terserah," jawab Ren datar di sela kunyahannya, menatap Soju sekilas. "Selamat datang di kru. Jaga navigasinya dengan benar."
Soju tertawa kecil, merasa terhibur dengan kepribadian sang kapten yang begitu dingin namun santai. "Serahkan padaku, Kapten."
Namun, di saat suasana di dalam kabin mulai mencair dan rencana perjalanan menuju Stasiun Nol mulai dirumuskan oleh Gavin dan Soju, layar radar utama di sudut ruangan mendadak berkedip merah terang secara agresif.
Suara derit alarm darurat yang jauh lebih nyaring dari biasanya menggema ke seluruh penjuru gerbong. Bukan lagi peringatan mutan bawah tanah, melainkan sinyal frekuensi militer bersandi tinggi.
Di atas layar monitor utama, sebuah titik koordinat pelacak besar muncul dengan cepat, mendekati posisi mereka dari arah permukaan es atas, disertai sebuah pesan teks terenkripsi yang langsung terpampang di layar terminal Gavin tanpa bisa dicegah:
[Pesan Pusat Komando Korporasi Aether - Sektor Alpha:]
[Target Terdeteksi: Buronan Utama 'Ren' & Modul Inti Ilegal Stasiun Nol.]
[Perintah Eksekusi: Kirim Unit Kereta Lapis Baja Kelas Berat 'The Juggernaut' untuk Membumihanguskan Seluruh Area Sektor Ini.]