Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.
Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Sujud Syukur
"Tolong... izinkan pria tua ini menemui cucu-cucu satu-satunya."
Melihat ketulusan air mata, kerapuhan fisik yang dipertaruhkan, serta komitmen penyerahan saham demi kebaikan masa depan Arunika, benteng pertahanan Mahendra akhirnya perlahan mencair seutuhnya. Kedewasaan batinnya membaca bahwa kedatangan Kakek Agung adalah anugerah rekonsiliasi yang akan mengunci kemenangan bagi wanita yang ia cintai dalam diam.
Mahendra perlahan berdiri, memandangkan rasa hormat yang mendalam kepada sahabat karib mendiang kakeknya itu. Dia memberikan satu anggukan khidmat. "Tuan Besar Agung Daniswara, saya menghormati niat baik Anda. Silakan Anda beristirahat sejenak di sini sebelum melanjutkan perjalanan."
Mahendra segera membalikkan tubuhnya, melangkah ke sudut ruangan dekat meja kerja untuk memanggil kepala pengawalnya melalui sambungan interkom internal.
"Dika, bersihkan jalur rute menuju Sleman sekarang juga," perintah Mahendra dengan nada suara yang teramat dingin, tegas, dan penuh instruksi rahasia.
"Baik, Tuan Mahendra. Segera kami laksanakan," jawab kepala pengawal di seberang sana sebelum sambungan diputus.
Sebelum Kakek Agung melangkah keluar dari ruang kerja pribadinya menuju mobil, pria sepuh itu menghentikan langkah kakinya di depan pintu. Dia menoleh ke arah Mahendra, lalu kembali menyunggingkan senyuman hangat yang sarat akan makna mendalam.
"Aku merestuinya, Mahendra," bisik Kakek Agung pelan, memberikan restu bagi cinta terpendam pria muda itu sebelum bergerak pergi.
Mahendra tertegun sesaat, detak jantungnya berirama tidak beraturan. Namun, pria yang irit bicara itu tidak membalas dengan kalimat panjang. Dia hanya membalas ucapan Kakek Agung dengan sebuah senyuman tipis yang sangat tulus dan meneduhkan di balik kacamatanya, sebuah senyuman yang menyiratkan janji suci bahwa dia akan menjaga Arunika seumur hidupnya.
Sinar matahari sore menjelang malam di kawasan Sleman hari itu memancarkan warna keemasan yang meneduhkan, perlahan melarutkan sisa-sisa ketegangan yang sempat menyelimuti rumah bergaya Jawa klasik milik Ibu Sandra. Di dalam ruang tengah yang sejuk, Arunika duduk berkumpul bersama Ibu Sandra, Anggita, Mas Anggoro, dan Dinda yang sengaja memperpanjang masa tinggalnya di Jogja demi menemani sahabat terbaiknya.
Di atas meja kayu jati, surat kuasa pembagian otoritas CEO sementara atas nama Mas Anggoro baru saja selesai dirampungkan dan ditandatangani dengan rapi berdasarkan petunjuk yuridis yang Pak Kevin tinggalkan semalam. Mereka sedang mematangkan rencana pergerakan sebelum Mas Anggoro dan Dinda berangkat memberikan kejutan di kantor pusat Daniswara Group dalam waktu dekat.
Namun, ketenangan sore itu mendadak terusik ketika suara deru mobil MPV mewah terdengar berbelok dan berhenti tepat di depan pagar rumah. Detik berikutnya, suara ketukan pintu yang teratur dan sarat akan wibawa berat memecah keheningan ruangan. Mas Anggoro berdiri dari kursinya dengan sikap waspada, melangkah lebar membuka pintu utama, dan seketika tertegun membisu melihat siapa sosok pria sepuh yang berdiri di ambang pintu.
Kakek Agung Daniswara melangkah masuk melintasi batas pintu dengan tubuh yang bertumpu kuat pada tongkat miliknya, didampingi oleh Darma yang membawa sebuah kotak beludru hitam di tangannya.
Melihat kedatangan Kakek Agung secara tiba-tiba di rumah Sleman, Arunika seketika tersentak di kursinya. Rasa terkejut dan gelombang kewaspadaan mendadak menyergap batinnya. Di dalam benaknya yang didera trauma masa lalu, Arunika merasa takut jika Saka ikut datang bersama Kakek Agung, mengingat selama dua puluh delapan tahun ini Saka adalah cucu yang paling disayangi dan dibanggakan oleh pria tua itu.
Pasokan oksigen di sekitarnya seolah menipis saat Arunika menahan napas, memicingkan matanya menatap tajam ke arah pintu masuk. Setelah sepasang matanya memastikan dari balik pintu bahwa Saka tidak ikut serta dan Kakek Agung hanya datang berdua Darma, Arunika perlahan mampu menguasai kembali ketenangannya.
Didorong oleh akhlak baik yang selalu menjaga sopan santun kepada orang tua, Arunika perlahan bangkit dari duduknya. Dia melangkah maju dengan gerak-gerik santun yang memancar tulus demi menghampiri Kakek Agung.
Tepat saat Arunika berjalan mendekat melintasi berkas cahaya senja di ruang tengah, sepasang mata sepuh Kakek Agung mendadak terkunci kaku. Perubahan fisik Arunika terlihat begitu nyata. Tiga bulan telah berlalu sejak malam kepergian senyap Arunika dari Jakarta. Dalam rentang tiga bulan di bawah perawatan penuh kasih Ibu Sandra, tubuh Arunika kini tampak jauh lebih berisi, sehat, dan memancarkan pesona yang anggun. Dan yang paling merubuhkan pertahanan batin Kakek Agung, di balik blus batik longgar yang meliuk saat Arunika melangkah, tampak sebuah tonjolan yang melengkung nyata, sebuah siluet perut buncit yang menonjol khas seorang wanita yang sedang hamil.
Kakek Agung mendadak menghentikan gerakannya. Langkah kaki pria tua itu perlahan mendekat, dadanya naik-turun menahan sesak penyesalan yang selama puluhan tahun mengecap ulu hatinya. Dia menatap Arunika dengan sorot mata yang memancarkan permohonan ampun dan penyesalan yang teramat dalam.
"Arunika... maafkan Kakek, Nak," ucap Kakek Agung, suara baritonnya yang biasa lantang kini terdengar begitu serak dan bergetar hebat. "Maafkan kebodohan Kakek yang selama puluhan tahun menelantarkan ayahmu, dan membiarkanmu hidup dalam kesunyian setelah ayahmu tiada."
Arunika memandangi pria tua di hadapannya dengan tatapan mata yang teduh tanpa ada setitik pun dendam yang bersarang di hatinya. Arunika mengingat dengan sangat jelas bahwa sejak ia masih kecil, tumbuh di lingkungan Daniswara, hingga hari pernikahannya bersama Saka digelar, Kakek Agung selalu bersikap sangat baik, adil, dan menyayanginya dengan tulus. Kebutaan Kakek Agung selama ini murni karena pria tua itu ditipu oleh sandiwara kelicikan Lina dan kebohongan Saka yang mengatakan Arunika mandul.
Detik itu juga, seluruh dinding pertahanan harga diri senior Daniswara itu runtuh tak berbekas saat pandangannya kembali terpaku pada perut buncit Arunika. Gelombang rasa haru dan spiritualitas yang luar biasa dahsyat mengguncang batinnya. Suara tangis pria tua itu kian pecah. Tanpa memedulikan lagi tongkat dan harga dirinya sebagai penguasa tertinggi Daniswara, Kakek Agung langsung menjatuhkan tubuh tuanya berlutut di atas lantai ubin rumah Sleman, menatap rahim Arunika dengan gemetar laksana melihat sebuah mukjizat suci yang turun dari langit.
"Arunika... kamu... kamu sedang mengandung penerus Daniswara?" rintih Kakek Agung dengan suara tercekat di tenggorokan, sujud syukurnya meledak di atas lantai setelah Arunika menjawab dengan anggukan.
Hantaman realitas visual itu seketika menepis habis seluruh kebohongan menjijikkan yang dulu Saka sampaikan. Kakek Agung teringat kembali bagaimana dulu Saka berlutut di hadapannya demi meminta izin berpoligami dengan Valerie, sembari membawa fitnah palsu bahwa Arunika adalah wanita mandul yang tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti mereka. Dan sore ini, menyaksikan perut buncit Arunika yang tumbuh sehat dari efek tiga bulan pelariannya, Kakek Agung menangis tergugu menyadari bahwa di dalam rahim Arunika tumbuh pewaris yang sesungguhnya, hidup dengan aman di Yogyakarta, mematahkan seluruh racun kebohongan masa lalu.
Arunika dengan cepat berjongkok, menuntut tangan kakeknya dengan kelembutan yang menyembuhkan luka batin pria tua itu. Setelah Kakek Agung berhasil ditegakkan kembali dibantu Darma untuk duduk di sofa kayu, pria tua itu menarik napas dalam, memandang seisi ruangan tempat Ibu Sandra, Anggita, dan Mas Anggoro berdiri mematung akibat syok bersama.
Kakek Agung memilih membuka seluruh kartu rahasia secara blak-blakan tanpa ada satu jengkal pun yang ia tutupi lagi di depan keluarga pelindung cucunya itu. Namun sebelum bicara, Kakek Agung menyerahkan kotak beludru yang baru diserahkan Darma pada Arunika.
"Wasiat Raditya telah membuka seluruh kebusukan masa lalu," ujar Kakek Agung dengan nada parau. "Bagus Wiranata... almarhum ayahnya Arunika yang selama ini kalian kenal bersahaja sebagai asisten Raditya, sebenarnya adalah putra kandung pertamaku yang sah dari pernikahan masa mudaku yang dulu aku coret demi ambisi bisnis. Dan Saka... dia sama sekali tidak memiliki setetes pun darah Daniswara! Dokumen medis membuktikan Raditya mandul, dan Saka hanyalah anak hasil hubungan gelap perselingkuhan Lina bersama pria lain semenjak masa remaja mereka!"
DUARR!
Mendengar pembongkaran rahasia kotor itu secara blak-blakan dari mulut sang pimpinan tertinggi Daniswara, Dinda yang duduk di sudut sofa seketika melotot kaget setengah mati. Mulut sahabat terbaik Arunika itu terbuka lebar dengan napas tercekat, jiwanya terguncang hebat mendengar kebejatan aib rahasia perselingkuhan Lina. Dinda tidak pernah menyangka bahwa mantan suami Arunika, Saka Daniswara, ternyata hanyalah anak hasil perselingkuhan. Ibu Sandra, Anggita, dan Mas Anggoro ikut membeku laksana batu, didera rasa syok menyadari pewaris yang sebenarnya adalah Arunika.
Arunika tetap tenang. Surat Raditya sudah menjelaskan semuanya, Haya saja hingga detik ini dia belum sempat membagikan isi surat dari adik ayahnya itu pada Dinda dan keluarga Sleman. Dengan gerak-gerik santun namun memancarkan ketegasan seorang pimpinan, dia menerima kotak beludru hitam berisi kalung pusaka peninggalan nenek kandungnya dari tangan Kakek Agung.
"Terima kasih, Kakek," ucap Arunika, suaranya terdengar sangat dingin, tenang, namun memancarkan wibawa pimpinan yang sesungguhnya. "Saya menerima permintaan maaf Kakek, dan saya menerima kalung ini karena milik Nenek kandung saya. Namun untuk Daniswara Group di Jakarta, saya sudah membuat keputusan. Mas Anggoro yang saya tunjuk menjadi CEO sementara, didampingi oleh Dinda sebagai asisten pribadi utamanya untuk mengendalikan kantor pusat Daniswara Group selama masa studi dan persalinan saya di Yogyakarta."
Kakek Agung tersentak kecil, namun sedetik kemudian wajah sepuhnya dipenuhi oleh rasa bangga yang luar biasa mendalam melihat kecerdasan cucu kandungnya. "Keputusanmu sangat luar biasa matang, Arunika... Kakek merestuinya. Besok pagi, seluruh tujuh persen saham pribadi Kakek akan resmi dialihkan untuk memperkuat posisi Mas Anggoro di Jakarta, mengunci sembilan puluh dua persen kekuatan suara kita di Daniswara Group."
gtu jg yg arunika rsakan dlu...jd trima nsib aja,hkum krma udh dtang.......
udh msuk rak kk,tp aku glau bcanya....sedih.....😭😭😭
skrng pawangnya bnyak,pd galak pula...sklinya ngusik,abis d bntai....😁😁😁
sorryyyy yeee.....😛😛😛
apakh kluarga bsar mahen dn kevin bkln mrestui????
emng sih skrng blm rsmi,tp kl suatu saat nnti mreka srius....bsakh mnerima arunika dgn statusnya????🤔🤔🤔