azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua belas
"sarah bukan pacarku, za"
Azalea mengedikkan bahunya," whatever" jawabnya dengan raut tak perduli.
"mau pacar mas kian atau cuman hts-an itu mah nggak urusan aku, tapi jujur aku nggak suka lihat perempuan itu tadi"
Suara azalea bergetar, walau halus namun kiano masih bisa merasakan getaran itu. Apa mungkin azalea menunjukkan ketidaksukaannya itu karena dia adiknya naima, atau azalea cemburu.
Seketika kepala kiano menggeleng cepat, nggak mungkin sih rasanya, karena azalea terlalu cuek padanya selama ini, gadis itu tak pernah menunjukkan kalau memiliki perasaan padanya, tapi tadi malam, mengapa azalea diam saja menerima ciuman itu.
Lagi-lagi kiano menggeleng, mikirin apa sih dia. Mungkin saja azalea terbawa suasana kan ? yah, angguk kiano lagi, "pasti karena itu!" gumamnya tanpa sadar.
"kenapa mas?" tanya azalea menyipitkan matanya penasaran. Gumaman kiano tidak terdengar jelas, pria itu kaget menoleh, sorot matanya sangat terperanjat.
"nggak kenapa-kenapa" geleng kiano cepat, sekilas wajah pria itu merona merah.
'ada apa sih denganku?'
"mas sebelum pulang, singgah sebentar di ind*mar*t yah, aku mau beli sesuatu"
Suara azalea menyadarkan kiano dari berisiknya isi kepala, ia menoleh dan mengangguk cepat. Gadis itu sedang menatapnya lekat, kiano kembali menyerapahi dirinya.
'ini pasti efek kemarin malam nih, ayoo kiano sadar'
Kiano memarkirkan mobilnya, azalea sebelum turun mengamati rania yang masih tidur, gadis itu memalingkan wajahnya menatap kiano yang baru mematikan mesin mobil, keningnya berkerut heran.
Kiano sepertinya hendak ikut keluar, apa mungkin pria ini ingin menemaninya.
'ahh, jangan geer deh za'
"mas mau cari sesuatu juga?"
Kiano yang sudah membuka safety beltnya menoleh dan menggeleng.
"aku mau nemanin kamu"
Azalea menelan salivanya, ada rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya. Jujur azalea nggak kuat, ia takut semakin jatuh ke dalam pesona kiano.
"mas jagain rara aja deh, aku bentaran doang kok" suara azalea sedikit parau, ia sampai berdehem karenanya.
"oh..oke-oke"
Azalea tak lagi menatap pria itu, ia takut kiano akan menyadari kegugupannya. Kan nggak lucu kalau sampai pria itu memperingatinya untuk sadar diri.
Kiano mengamati azalea, "apa gadis itu juga berpura-pura tidak terjadi apapun tadi malam?"
Sorot matanya berubah sayu,"maaf naima aku tidak bisa menjaga adikmu, malah aku yang hampir merusaknya" gumam kiano sendu.
Kiano menoleh, saat suara rania menyadarkannya,"ehhh anak ayah sudah bangun"
Tangannya meraih rania yang menjulurkan tangan minta diangkat, "kenapa sayang? Lapar yah?"
Ocehan bayi itu sesaat melupakan kiano dari berisiknya isi kepalanya tadi. Terdengar suara rania yang mulai mengoceh, kiano ikut tertawa, dan tawa itu terdengar renyah dan lembut.
Azalea yang membuka pintu mobil, sesaat terpana mendengar suara kiano yang menimpali ocehan rania.
Segaris senyum terbit di wajahnya, hatinya menghangat seketika. Betapa tampannya pria itu dan sangat memesona walau hanya terlihat dari samping.
Kiano menoleh,"eh mama dah selesai belanja"
Azalea kembali terkesima, jantungnya berdebar kencang. Ucapan kiano barusan membuat hatinya membunga indah, azalea sampai harus membuang pandangannya ke arah lain, ia ingin menutupi pipinya yang azalea yakini pasti merona merah.
"udahan?cepat banget?" tanya kiano sembari menyerahkan rania yang menggelinjang dan meronta ingin ikut azalea.
"iya mas, aku cuman cari pembalut" jawab azalea singkat, namun efeknya bagi kiano sangat besar.
Mendengar jawaban azalea yang santai tanpa beban itu, membuat kiano salah tingkah. Beginilah azalea sebenarnya, gadis itu tak pernah malu mengatakan hal yang bagi wanita lain mungkin saja tabu.
Sangat berbeda dengan naima yang pemalu, 2 tahun pernikahannya dengan naima, 8 tahun kebersamaan mereka, kiano belum pernah melihat naima se-blakblakan ini padanya.
"jadwal bulananku sepertinya maju"
Kiano hanya mengangguk, rasa hangat mulai menjalari wajahnya kembali. Demi apapun saat ini kiano benar-benar jengah, ia menyalakan mesin mobilnya, salah satu cara yang bisa ia lakukan untuk mengurangi kejengahan yang masih menguasai hatinya.
"kita makan siang di luar saja gimana?" tanya kiano dengan suara tercekat, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"nggak usah mas" geleng azalea tak setuju," rara pasti sudah lapar, aku nggak bawain susu tadi, kita pulang saja. Lagian aku sudah masak kok tadi, ntar tinggal dipanasin aja"
Kiano akhirnya mengangguk setuju, perlahan mobilnya meninggalkan parkiran.
*********
"mas kian, aku perlu bicara"
Kiano yang hendak beranjak dari duduknya menatap azalea lama, gadis itu terlihat gugup.
Apakah azalea akan membicarakan ciuman mereka tadi malam, kiano menelan salivanya gugup.
Mereka baru saja selesai makan malam, azalea juga baru mengantarkan rara ke kamarnya, bayi itu sedikit rewel karena imunisasi siang tadi.
"ada apa za?"
azalea yang terlihat gugup, duduk di depan kiano.
"kita ke ruang keluarga saja yuk"
Azalea mengangguk,"mas kian duluan deh, aku buatin kopi dulu"
Kiano meninggalkan azalea, benaknya berpikir keras, bagaimana jika gadis itu memang akan membahas kejadian malam tadi. Apakah dirinya harus tetap berpura-pura tidak ingat, atau meminta maaf saja.
Kiano menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya cukup keras. Bagaimana pun masalah ini memang harus dibicarakan, kiano harus bersikap dewasa.
"ini mas, kopinya"
Azalea meletakkan kopi yang masih mengepulkan asap, ia duduk di sofa sedikit jauh dari kiano yang mengangguk.
"terima kasih"
Azalea meremas jemarinya yang saling terkait, kepalanya menunduk cukup dalam.
"zaaa" panggil kiano hati-hati, azalea mengangkat kepalanya.
"mas kian, aku.."
Kening kiano berkerut heran, adalah hal yang sangat langka melihat azalea gugup. Biasanya gadis ini terlihat tangguh dan percaya diri.
"kenapa za?"
"hhhhhhh" azalea menghela nafasnya sedikit keras.
"mas kian"
Alis kiano menyatu, keheranannya semakin bertambah, azalea kembali bengong setelah memanggil namanya.
"zaaa"
Azalea masih saja diam tak menjawab, sepertinya pikiran gadis itu sedang tidak ada di tempat.
"azalea" tangan kiano mengguncang lengan azalea, gadis itu tersentak kaget. Tiba-tiba dia berdiri dan menggeleng.
"nggak jadi deh mas"
"hah?" kiano menatap heran, kepalanya mendongak karena azalea berdiri.
"nggak jadi deh, kapan-kapan aja"
Azalea menyambar nampan dari atas meja, gadis itu hendak berlalu. Namun kiano yang kebingungan mencekal pergelangan tangannya.
"kamu mau ngomong apa?"
Azalea kembali menggeleng, matanya menatap pergelangan tangannya yang dicekal kiano. Perlahan azalea menarik tangannya.
"aku lupa mas, mau ngomong apa"
Azalea telah berbalik, ia hendak melangkahkan kakinya.
"apa kamu ingin membicarakan kejadian tadi malam?"
Azalea berdiri mematung, perlahan ia membalikkan tubuhnya. Kiano menatapnya lekat, pria itu berdiri tanpa melepaskan pandangannya dari azalea.
"kamu ingin bertanya tentang ciuman itu?"
Azalea menelan salivanya yang mendadak menyumbat di tenggorokannya. Pipi gadis itu perlahan memerah.
"aa..aku..aku"
"maafkan aku za!"
Azalea menautkan alisnya, heran menatap kiano yang mendadak gugup.
"aku khilaf, aku tahu aku salah"
'salah?khilaf? apa maksud pria ini?'
"maafkan aku za, aku janji hal seperti itu tidak akan terjadi lagi"
Azalea meraba dadanya yang mendadak sakit, pria ini, kiano dengan santainya mengatakan bahwa semua yang pria itu lakukan malam tadi adalah kekhilafan.
Hatinya sakit, namun azalea berusaha menahan sesuatu yang hendak keluar dari bola matanya, azalea ingin menangis tapi ia malu.
"zaa, jawab kumohon jangan diam saja"
Azalea mengangkat kepalanya, menatap lekat mata kiano, perlahan kepalanya menggeleng.
"aku malah nggak ingat mas"
Azalea beranjak pergi setelah mengucapkannya, tanpa melihat reaksi kiano. Azalea ingin segera ke kamar, menangisi betapa malang hatinya.
Bersambung...
.