NovelToon NovelToon
Its You

Its You

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: tatitu

Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
​Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan yang Disembunyikan dan Janji Seorang Kakak

Malam kian larut ketika langkah kaki Taehyung bergaung di koridor studio HexaVerse. Rapat maraton bersama para investor dari London baru saja usai setelah menelan waktu berjam-jam yang menguras pikiran.

Taehyung mendorong pintu kaca ruang kerja Jungkook. Di dalam, pria itu terlihat sedang berdiri menatap pemandangan malam kota Paris dari balik jendela kaca besar, memegang cangkir kopi yang sudah mulai dingin.

"Jungkook aa" panggil Taehyung seraya melangkah masuk dan menghempaskan tubuh lelahnya ke sofa kulit di sudut ruangan.

Jungkook membalikkan badan, menyandarkan pinggulnya pada tepi meja kerja. "Bagaimana? Kau sudah memikirkan cara membicarakannya pada Mira?"

Taehyung menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang tampak lesu, lalu mendongak menatap sahabatnya.

"Aku sudah menemukan solusinya," ujar Taehyung. Binar matanya memperlihatkan keteguhan yang kuat. "Aku tidak akan memberitahunya bahwa aku pindah untuk membuka cabang permanen di Seoul."

Jungkook mengerutkan keningnya, menaikkan sebelah alisnya heran. "Maksudmu... kau akan membohonginya?"

"Bukan membohongi, hanya memangkas kenyataannya," potong Taehyung cepat seraya menegakkan posisi duduknya. "Aku akan katakan padanya bahwa aku hanya melakukan kunjungan kerja berkala ke Seoul untuk mengawasi proyek baru selama beberapa minggu. Dengan begitu, Mira tidak akan merasa bersalah atau merasa ditinggalkan."

Jungkook membisu sejenak, mencerna jalan pikiran sahabatnya. "Tae, memimpin pembukaan cabang baru itu memakan waktu berbulan-bulan, bahkan setahun lebih. Kau tidak bisa terus-terusan bilang itu cuma 'kunjungan kerja'."

"Makanya aku siap bolak-balik Seoul–Paris," pangkas Taehyung mantap tanpa ragu. "Tiga atau empat minggu di Seoul, lalu aku terbang kembali ke Paris untuk tinggal beberapa minggu bersamanya. Begitu seterusnya. Aku rela menempuh penerbangan belasan jam itu berulang kali demi memastikan Mira tidak merasa sendirian dan studinya di Sorbonne berjalan lancar."

Jungkook menatap Taehyung lekat-lekat, menyadari betapa besarnya kasih sayang dan rasa tanggung jawab pria itu sebagai seorang kakak. Namun, logika praktis Jungkook tetap tak bisa mengabaikan risikonya.

"Fisikmu bisa hancur kalau terus melakukan perjalanan lintas benua seperti itu, Tae," tegur Jungkook pelan, suaranya sarat akan kekhawatiran seorang sahabat.

"Aku tidak peduli," bisik Taehyung mantap. "Dia sudah berusaha sangat keras untuk bisa menyusulku ke Paris, Kook. Aku tidak mungkin mematahkan hatinya di hari-hari pertamanya di sini."

Taehyung berdiri, melangkah mendekati Jungkook dan menepuk bahu tegap pria itu dengan erat.

"Tapi selama aku berada di penerbangan atau sedang tertahan di Seoul... aku menitipkan Mira padamu, Jungkook-ah," lanjut Taehyung dengan nada bicara yang teramat dalam dan penuh kepercayaan. "Jaga dia untukku."

Jungkook terpaku. Kata-kata Taehyung bergema hangat sekaligus berat di dadanya. Pria itu mengangguk pelan, memberikan janjinya.

"Kau tidak perlu khawatir," balas Jungkook tegas. "Aku akan memastikannya aman di sini."

Taehyung membenarkan letak tas dokumennya di bahu, lalu melirik jam dinding di ruang kerja yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat.

​"Kau tidak pulang bersamaku, Kook?" tanya Taehyung seraya menunjuk ke arah pintu luar. "Ayo kita pulang. Kita bisa beli beberapa kaleng bir di jalan."

​Jungkook menggelengkan kepala pelan, menyunggingkan senyum tipis. Ia berjalan kembali ke balik meja kerjanya dan menarik kursi.

​"kau duluan saja, Tae," tolak Jungkook lembut seraya membuka kembali laptopnya. "Draf revisi untuk tim kreatif yang kujanjikan pada nuna tadi harus selesai malam ini. Aku akan menyusul pulang begitu ini selesai."

​Taehyung menepuk bahu sahabatnya itu sekali lagi. "Jangan memaksakan diri. Kalau begitu aku pulang duluan."

​Langkah kaki Taehyung terasa begitu berat saat melangkah masuk ke dalam apartemen yang tenang. Suasana ruang tengah yang remang hanya dihiasi pendar kuning dari lampu sudut ruangan.

​Begitu matanya menatap ke arah sofa, dada Taehyung seketika berdesir halus.

​Mira kembali tertidur lelap di sana. Tubuh mungilnya meringkuk tipis, dengan mantel yang agak melorot ke lantai. Di atas meja kaca, buku catatan bahasa Prancis milik adiknya masih terbuka setengah halaman bersama sebuah pena yang tergeletak pasrah.

​Taehyung meletakkan tasnya tanpa suara. Ia melangkah perlahan, berlutut di samping sofa, lalu menarik kembali mantel itu perlahan untuk menyelimuti tubuh adiknya hingga batas dada.

​Taehyung terpaku dalam posisinya. Pandangannya mengunci garis wajah polos Mira yang sangat tenang dalam tidurnya.

​Perlahan, rasa bersalah yang amat besar merayap dan memenuhi seluruh relung dada Taehyung.

​Adik kecilnya ini... telah tumbuh sendirian tanpa kehangatan dan cinta dari kedua orang tua mereka yang pergi terlalu cepat. Selama bertahun-tahun, Taehyung terpaksa membiarkan Mira berada di Seoul sendirian, berjuang melewati masa remaja yang sepi, sementara ia sendiri harus bertaruh nasib di negeri orang demi membangun masa depan yang layak bagi mereka berdua.

​Taehyung menyapu lembut helai rambut yang menutupi pipi Mira. Jemarinya yang tegap bergetar tipis.

​Ia tersadar, menjadi seorang kakak bagi Mira bukan sekadar mengirimkan uang bulanan atau menyediakan tempat tinggal yang layak. Ia adalah sosok ayah, ibu, sekaligus pelindung tunggal untuk gadis ini. Menyeimbangkan peran itu di tengah himpitan impian besar HexaVerse dan kenyataan bahwa ia harus kembali membagi jarak ke Seoul... terasa begitu menyayat hatinya.

​"Maafkan Oppa ya, Mira-ya..." bisik Taehyung teramat pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh embusan angin dingin di luar jendela. "Oppa janji tidak akan pernah membuatmu merasa sendirian lagi."

Mira perlahan membuka matanya, mengerjapkan pelupuk matanya yang terasa berat di tengah remangnya cahaya ruang tengah. Begitu pandangannya memfokus, sosok Taehyung yang duduk berlutut di samping sofa seketika menyambutnya.

"Oppa, kau sudah pulang?" gumam Mira dengan suara parau khas bangun tidur.

Taehyung tersenyum lembut, mengusap puncak kepala adiknya dengan penuh kasih sayang.

"Nee... tidurlah di dalam kamar."

Mira mengangguk pelan, berusaha mengumpulkan kesadarannya seraya mendudukkan diri. "Baiklah. Apa Oppa sudah makan malam? Mau aku buatkan makanan?"

"Tak perlu, kau beristirahatlah," balas Taehyung hangat, merapikan mantel yang tadinya menyelimuti tubuh adiknya.

"Baiklah..."

Mira pun beranjak menuju kamar Jungkook, melangkah pelan dengan jejak kantuk yang masih menyisa. Namun, tepat di ambang pintu kamar, langkahnya terhenti. Sebuah pemikiran yang mengganjal pikirannya sejak sore tadi mendadak mencuat.

Gadis itu membalikkan badannya, menatap Taehyung yang baru saja hendak beranjak berdiri.

"Oppa, apartemen yang kau sewakan untukku sepertinya memakan waktu lama proses perbaikannya..." ujar Mira ragu, menyelipkan sedikit rasa tidak enak hati karena harus menumpang lebih lama di kamar pria lain.

"Tak apa, kau tinggallah dulu di sini," sahut Taehyung santai seraya menepuk bahu adiknya. Namun, senyumnya mendadak sedikit tertahan sebelum ia melanjutkan, "Oiya, Mira-ya... lusa Oppa harus pergi ke luar negeri, karena harus menyelesaikan proyek terbaru Oppa."

Langkah Mira membeku seketika. "Ke mana?"

"Seoul." jawab Taehyung.

Dada Mira seolah dihantam gelombang kaget yang tak terduga. Rasa kantuknya menguap tuntas tanpa sisa. Matanya membelalak menatap sang kakak dengan binar tak percaya yang mulai bergetar.

"Apa? Seoul?" cetus Mira, suaranya meninggi menahan rasa kaget dan kecewa yang mendadak meluap. "Oppa akan meninggalkanku di sini? Oppa akan kembali ke Seoul sendiri?"

Pikiran Mira langsung melayang pada perjuangannya mengejar beasiswa ke Sorbonne dan penerbangan belasan jam yang baru saja ia tempuh, semuanya demi bisa berkumpul kembali dengan kakaknya setelah tiga tahun berpisah. Namun baru saja dua hari ia mendarat di Paris, kakaknya justru akan kembali ke tempat yang baru saja ia tinggalkan.

Melihat raut panic dan mata adiknya yang mulai berkaca-kaca, Taehyung dengan cepat memegang kedua bahu Mira untuk menenangkannya.

"Mira-ya, tenanglah," potong Taehyung lembut namun tegas, berusaha menyembunyikan rasa bersalah yang mencubit dadanya. "Oppa hanya kunjungan kerja, dan pasti akan kembali ke sini. Kau tak perlu khawatir, tak usah banyak berpikir... Sekarang istirahat sajalah."

Mira membisu, bibirnya terkatup rapat. Walau Taehyung mencoba menyunggingkan senyum menenangkan, rasa sesak yang menghimpit dada Mira tak serta-merta menguap. Ia menatap kakaknya dalam-dalam sebelum akhirnya berbalik pasrah dan memutar gagang pintu kamar, meninggalkan pertanyaan dan keheningan yang kian pekat di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!