Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Anton membelalakkan matanya tidak percaya mendengar keputusan yang diambil dalam waktu kurang dari lima menit itu.
Dion yang awalnya terkejut kini justru tertawa meledak hingga memegangi perutnya.
"Hahaha! Membeli lima puluh miliar secara tunai?! Kamu pasti sudah gila ya!"
Dion menunjuk wajah Rizal dengan jari telunjuknya yang bergetar karena terlalu banyak tertawa.
"Jangankan lima puluh miliar, saldo di rekeningmu pasti tidak sampai seratus juta!"
"Kamu hanya ingin pamer di depanku kan? Supaya kamu terlihat lebih hebat dariku?"
Rizal membiarkan Dion terus mengoceh mengeluarkan semua omong kosong dari mulut busuknya.
Semakin banyak Dion berbohong dan meremehkannya, semakin besar keuntungan yang akan Rizal dapatkan.
"Dengar ya orang miskin yang suka berkhayal!"
Dion menepuk dadanya sendiri dengan sangat sombong dan penuh kebanggaan.
"Kalau gembel sepertimu ini benar-benar bisa membeli Villa Garuda itu sekarang juga..."
"Maka aku, Dion Sanjaya, yang akan membayar lunas rumah itu untukmu pakai uang sakuku sendiri!"
Ting!
[Mendeteksi adanya omong kosong dan janji kebohongan yang diikrarkan dengan sangat percaya diri.]
[Kebohongan: Dion Sanjaya akan membayar lunas Villa Garuda menggunakan uang sakunya jika Anda bisa membelinya.]
Suara mekanis sistem berdenging nyaring di kepala Rizal seperti melodi kemenangan yang paling indah.
Sistem memang selalu tahu cara terbaik untuk menghukum orang-orang yang terlalu banyak bicara.
[Memproses manipulasi realitas...]
[Manipulasi berhasil. Dana perwalian rahasia milik Dion Sanjaya sebesar lima puluh miliar rupiah telah diretas dan dipindahkan secara paksa.]
[Sistem sedang memproses pembayaran Villa Garuda atas nama Anda menggunakan dana tersebut.]
Rizal tersenyum sangat lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Kamu dengar sendiri kan janjinya tadi, Anton?"
Rizal bertanya pada sang agen properti yang masih berdiri kebingungan.
"I-iya Tuan, saya mendengarnya dengan sangat jelas."
"Bagus, karena dia bersikeras ingin membelikan rumah itu untukku, maka proses saja pembayarannya sekarang."
Dion mendengus kasar merasa sangat yakin bahwa Rizal hanya sedang menggertak sambal.
"Silakan saja proses! Aku ingin lihat bagaimana wajah orang miskin ini saat kartunya ditolak oleh mesin!"
Namun, sebelum Anton sempat melangkah menuju meja kasir, mesin tablet di tangannya tiba-tiba berbunyi.
Pip.
Sebuah notifikasi masuk ke dalam sistem penjualan internal pengembang Bukit Permata Indah.
Anton membuka notifikasi itu dan matanya seolah ingin melompat keluar dari rongganya.
"I-ini... ini tidak mungkin..."
Anton bergumam dengan suara bergetar dan lutut yang tiba-tiba terasa lemas.
"Ada apa Anton? Mesinnya menolak pembayaran gembel ini kan? Hahaha!"
Dion terus tertawa puas merasa kemenangannya sudah di depan mata.
Anton mengangkat kepalanya secara perlahan dan menatap Dion dengan pandangan yang sangat aneh.
"T-tuan Muda Dion... s-sistem kami baru saja menerima transfer masuk sebesar lima puluh miliar rupiah secara tunai."
Suara tawa Dion seketika terhenti seolah ada yang mencekik lehernya.
"Transfer masuk? Berarti gembel ini benar-benar punya uang lima puluh miliar?!"
Dion menatap Rizal dengan mata membelalak lebar penuh ketidakpercayaan.
"B-bukan begitu, Tuan Muda Dion."
Anton menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Transfer lima puluh miliar itu... masuk dari rekening dana perwalian atas nama Anda, Dion Sanjaya."
Duarr.
Pernyataan Anton bagaikan sambaran petir di siang bolong yang menghancurkan seluruh kewarasan Dion.
"A-apa yang kamu bilang?! Uang dari rekeningku?!"
Dion langsung merogoh saku celananya dengan panik dan mengeluarkan ponsel mahalnya.
Tangan pemuda itu bergetar hebat saat membuka aplikasi perbankan khusus dari bank Swiss miliknya.
Layar ponsel itu menampilkan saldo dana perwalian rahasianya yang selama ini dia sembunyikan dari ayahnya.
Saldo yang awalnya berisi lima puluh miliar lebih kini berubah menjadi hanya tersisa beberapa ratus ribu rupiah.
Bruk.
Ponsel mahal itu terjatuh ke atas lantai marmer hingga layarnya retak.
Kedua lutut Dion kehilangan seluruh tenaganya dan dia jatuh tersungkur di depan kaki Rizal.
"U-uangku... tabungan rahasiaku... lenyap semuanya..."
Dion bergumam kosong dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Keterangan transfernya dengan sangat jelas menuliskan 'Pembayaran Villa Garuda untuk Tuan Rizal, sesuai janji Tuan Muda Dion'."
Anton membacakan keterangan mutasi tersebut dari layar tabletnya dengan suara lantang.
Semua staf pemasaran dan beberapa pengunjung lain yang ada di lobi itu langsung berbisik-bisik.
Mereka memandang Dion dengan tatapan kasihan sekaligus takjub dengan kemurahan hatinya yang bodoh itu.
Rizal menundukkan pandangannya dan menatap Dion yang masih bersimpuh di lantai dengan senyum mengejek.
"Terima kasih banyak atas hadiah rumahnya yang luar biasa ini, Tuan Muda Dion."
Rizal mengucapkan kalimat itu dengan nada yang sangat tulus namun terasa sangat menyakitkan bagi Dion.
"K-kamu... apa yang kamu lakukan pada rekeningku?! Ini pencurian! Aku akan melaporkanmu ke polisi!"
Dion tiba-tiba tersadar dari syoknya dan menunjuk Rizal dengan penuh amarah.
"Pencurian? Anton adalah saksinya bahwa kamu sendiri yang berjanji akan membayarnya untukku."
Rizal membalas dengan santai tanpa rasa takut sedikit pun.
"Dan bank Swiss milikmu pasti memiliki sistem keamanan yang mustahil diretas oleh orang biasa sepertiku."
"Transfer itu terjadi secara sah karena keinginanmu sendiri yang terlalu besar untuk menjadi donaturku."
Dion tidak bisa membantah sepatah kata pun karena apa yang dikatakan Rizal adalah fakta logis di mata hukum.
Tidak ada yang bisa membuktikan campur tangan sistem ajaib milik Rizal.
Satu-satunya yang salah di sini adalah mulut besar Dion sendiri yang menjanjikan hal konyol.
"Anton, tolong segera siapkan sertifikat dan kunci Villa Garuda."
Rizal mengabaikan Dion yang sedang menangis meraung-raung meratapi kebodohannya di lantai.
"B-baik Tuan Rizal! Segera saya siapkan semuanya!"
Anton berlari menuju ruang dokumen dengan langkah yang sangat ringan dan bahagia.
Menjual unit termahal berarti dia akan mendapatkan komisi yang sangat besar hari ini.
Sementara itu, dua orang pengawal pribadi Dion berlari masuk dari luar lobi karena mendengar majikan mereka menangis.
"Tuan Muda! Ada apa ini?!"
"Bawa aku pulang... ayahku pasti akan membunuhku kalau tahu uang perwaliannya habis..."
Dion merengek seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainannya.
Para pengawal itu langsung memapah tubuh Dion yang lemas dan membawanya keluar dari galeri pemasaran.
Dion sempat menoleh ke belakang dan menatap Rizal dengan tatapan penuh dendam kesumat.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Rizal! Keluarga Sanjaya akan membuat perhitungan denganmu!"
Rizal hanya melambaikan tangannya dengan santai melepas kepergian pecundang tersebut.
Ancaman dari Keluarga Sanjaya sama sekali tidak membuatnya gentar.
Dengan kekuatan sistem dan aliansinya bersama Clara Wijaya, Rizal siap menghancurkan siapa pun yang berani menghalangi jalannya.
Sepuluh menit kemudian, Anton kembali dengan membawa sebuah koper kecil berisi dokumen legal dan sebuah kunci berlogo Garuda emas.
"Selamat, Tuan Rizal. Mulai detik ini, Villa Garuda resmi menjadi milik Anda seutuhnya."
Anton menyerahkan koper dan kunci itu dengan sikap yang sangat hormat.
"Kerja bagus Anton. Terima kasih."
Rizal menerima koper itu dan melangkah keluar dari galeri pemasaran dengan dada membusung.
Hari ini, dia mendapatkan aset senilai lima puluh miliar secara gratis tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
Rumah barunya sudah menanti, dan besok lusa, panggung besar di rapat pemegang saham Wijaya Group akan menjadi ajang pembuktian selanjutnya.