NovelToon NovelToon
Posesif Bagas

Posesif Bagas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Posesif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Safira Maulidah salsabila

Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.

Tinggal di panti asuhan membuat gadis itu terbiasa menjalani hidup sederhana,Jauh dari kata kemewahan,Namun satu hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum adalah kelinci kesayangannya.

Hingga suatu hari,Kelinci itu tiba-tiba kabur.

Tanpa berpikir panjang,Ayla berlari mengejarnya hingga keluar ke jalan raya,Karena terlalu fokus mengejar,ayla tak menyadari sebuah motor melaju ke arahnya.

Brak!

Dalam hitungan detik,Hidupnya seolah berubah.

Beruntung,Seseorang datang menolongnya sebelum keadaan menjadi lebih buruk,Pertemuan yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan itu ternyata menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar.

Siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya?

Dan apakah setelah pertemuan itu,Takdir seolah terus mempertemukan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira Maulidah salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Pagi itu suasana kelas Ayla terasa sedikit lebih ramai dari biasanya.

Beberapa siswa terlihat berbisik, Penasaran menatap ke arah pintu.

"Kayaknya ada murid baru deh"bisik Salsa.

Rina langsung menoleh cepat.

"Serius?Siapa?."

Tak lama kemudian, Pintu kelas terbuka, Wali kelas yang bernama Desi masuk bersama seorang siswi baru, Penampilannya rapi, Sikapnya tenang tapi aura percaya dirinya langsung terasa.

"Anak-anak, Hari ini kita kedatangan murid baru dikelas ini"ucap Bu Desi.

Gadis tersebut tersenyum tipis.

"Perkenalkan, Namaku Keisha."

Beberapa siswa langsung berbisik kagum, Namun Bu Desi melanjutkan.

"Keisha ini juga merupakan anak dari donatur sekolah kita."

Beberapa siswa mulai berbisik pelan setelah mendengar penjelasan Bu Desi.

Namun Bu Desi segera menambahkan dengan nada tenang.

"Walaupun begitu, di kelas ini semua tetap sama, Jadi saya harap kalian bisa saling membantu sebagai teman, Ya."

Suasana kelas sedikit berubah, Bisikan masih terdengar, Tapi lebih pelan.

"Kirain kenapa."

"Oh, Pantes."

Keisha tetap berdiri di depan kelas dengan sikap tenang, Keisha tidak terlihat sombong justru tersenyum secukupnya.

Bu Desi kembali berbicara.

"Silakan duduk Keisha, Kursi kosong di sebelah sana."

Keisha mengangguk sopan.

"Baik Bu."

Saat berjalan menuju tempat duduknya, Keisha sempat melihat sekeliling kelas, Tatapannya berhenti sebentar ke arah Ayla, Bukan tatapan tajam, Lebih seperti mengamati.

Ayla yang sadar ditatap sedikit mengernyit, Tapi tidak bereaksi.

Keisha kemudian duduk dengan tenang, Membuka tasnya dan mulai menyesuaikan diri seperti siswa lainnya.

Sementara itu, Bisik-bisik perlahan mereda, Namun rasa penasaran di dalam kelas masih terasa.

Tak lama, Pelajaran kembali dimulai, Bu Desi mulai menjelaskan materi seperti biasa, Mencoba mengembalikan fokus kelas, Namun beberapa siswa masih sesekali melirik ke arah Keisha, Sementara itu Keisha terlihat benar-benar memperhatikan pelajaran, Keisha membuka buku, Mencatat dengan rapi dan sesekali mengangguk kecil seolah memahami.

Ayla tanpa sadar ikut melirik.

"Serius banget"gumamnya pelan.

Rina yang duduk di sebelahnya langsung menyenggol.

"Bukan cuma serius, Auranya juga beda"bisiknya.

Salsa ikut menimpali pelan.

"Kayak udah biasa di tempat baru."

Ayla tidak menjawab, Tatapannya masih sempat tertuju ke arah Keisha beberapa detik, Sebelum akhirnya kembali ke bukunya.

...••••••...

Beberapa siswa mulai berdiri, Ada yang keluar kelas, Ada yang langsung mengobrol, Tak butuh waktu lama, Dua tiga siswa mulai mendekati meja Keisha.

"Hai kamu pindahan dari mana?"tanya salah satu siswa.

Keisha tersenyum ramah.

"Dari bandung."

"Oh pantes"sahut yang lain.

"Kamu langsung masuk sini aja?."

"Iya, Kebetulan ikut orang tua juga pindah kerja"jawab Keisha.

Obrolan berlangsung ringan, Keisha terlihat cukup mudah beradaptasi, Tidak kaku, Tapi juga tidak berusaha terlalu menonjol.

Dari kejauhan, Rina memperhatikan sambil berbisik.

"Cepat juga dia nyatu."

Salsa mengangguk.

"Iya dia tipe yang gampang masuk lingkungan."

Ayla hanya diam, Matanya sesekali melirik ke arah Keisha, Ada sesuatu yang masih mengganjal, Tapi Ayla sendiri belum bisa menjelaskan.

Beberapa menit kemudian

Perhatian Ayla kembali tertuju ke Keisha, Bukan karena keramaian, Tapi karena Keisha tiba-tiba berdiri dari kursinya, Keisha melihat ke arah pintu kelas, Lalu kembali melihat sekeliling, Seolah mencari sesuatu dan tanpa diduga, Tatapannya kembali berhenti ke arah Ayla, Kali ini sedikit lebih lama, Ayla yang sadar, Langsung menatap balik.

Hening beberapa detik.

Lalu Keisha tersenyum kecil, Bukan senyum ramah biasa, Lebih seperti senyum yang menyimpan sesuatu.

Ayla mengernyit tipis.

Rina langsung mendekat.

"Lihat nggak?."

Ayla mengangguk pelan.

"Iya."

Salsa ikut mencondongkan badan.

"Dia kayak merhatiin kamu terus deh."

Ayla terdiam sejenak.

"Perasaan kalian aja kali."

namun nada suaranya tidak seyakin itu.

Ayla kembali melihat ke arah pintu kelas, Entah kenapa perasaan Ayla justru semakin tidak tenang.

...••••••...

Suasana kelas mulai ramai, Beberapa siswa keluar, Sebagian masih duduk sambil bercanda.

Ayla sedang merapikan bukunya saat seseorang berhenti di samping mejanya.

"Ayla"ucap Keisha pelan.

Ayla mendongak.

"Iya?."

Keisha melirik ke arah Rina dan Salsa sekilas.

"Kita bisa ngomong sebentar?Berdua."

Rina langsung mengernyit.

Salsa berbisik pelan.

"Hati-hati."

Ayla ragu sebentar, Lalu mengangguk.

"Iya."

Mereka berdua keluar kelas, Berhenti di ujung koridor yang sepi.

Ayla langsung bertanya.

"Ada apa?."

Keisha menatapnya lurus.

"Aku ngomong langsung aja."

Ayla diam.

Keisha menarik napas pelan.

"Putusin Bagas."

Ayla langsung terpaku.

"Apa?."

Keisha tetap tenang.

"Kamu nggak cocok sama dia."

Ayla mencoba bertahan.

"Aku saja, Baru kenal kamu."

Keisha mengangguk santai.

"Aku memang tidak kenal Bagas, Tapi Aku kenal dunianya."

Keisha menatap Ayla lebih dalam.

"Papa Aku dan Papa Bagas itu rekan bisnis."

Ayla mulai terdiam.

Keisha melanjutkan.

"Kami satu lingkungan, Cara pikir, Gaya hidup, Semuanya sama."

"Sedangkan kamu, Kamu cuma anak panti."

Kalimat itu menghantam keras, Ayla terdiam, Rasa percaya dirinya runtuh perlahan.

Keisha menutup dengan tenang.

"Aku cuma realistis, Dia butuh yang selevel."

Ayla tidak menjawab.

Keisha tersenyum tipis sebelum akhirnya berbalik.

"Kalau Aku jadi kamu, Aku nggak akan bertahan di tempat yang jelas-jelas bukan duniaku."

Keisha pergi begitu saja.

...••••••...

Beberapa menit kemudian, Ayla berjalan cepat, Pikirannya kacau, Sampai akhirnya Ayla melihat Bagas di dekat tangga.

Bagas yang sedang memainkan ponselnya langsung menoleh ketika melihat Ayla datang.

"Sayang."

"Bagas."

Bagas menyimpan ponselnya disaku.

"Iya?Kamu kenapa?."

Hening.

Napas Ayla terdengar tidak teratur.

"Aku mau kita putus."

"Apa?."

Ayla menunduk.

"Aku serius."

Ekspresi Bagas berubah.

"Apa maksud kamu?"

"Lebih baik kita selesai."

"Jangan bercanda, Ayla."

"Aku nggak bercanda."

Nada suara Bagas langsung naik.

"Kamu tiba-tiba datang ke aku terus bilang mau putus?."

Ayla mundur sedikit.

"Iya Lebih baik kita selesai"

"JANGAN MUTUSIN AKU SEPIHAK, AYLA!"

Ayla tersentak,pertama kalinya Bagas memanggil namanya biasanya dia memanggil dengan sebutan"sayang".

Semua orang yang lewat mulai melirik.

"Aku nggak cocok buat kamu"

Suara Ayla mulai pecah.

Bagas langsung menggeleng.

"Nggak cocok?."

"Bagas."

"Apa yang nggak cocok?."

Suara Bagas terdengar penuh emosi.

Ayla mencoba menahan air matanya.

"Dunia kita berbeda."

"Terus kenapa?!."

Suara bagas pecah.

"DARI AWAL AKU UDAH TAHU ITU!."

"…"

"Tapi aku tetap pilih kamu!"

Kalimat itu keluar penuh emosi.

Tanpa ditahan Ayla menangis.

"Aku cuma nggak mau kamu nyesel hubungan sama aku."

Bagas terdiam sebentar, Lalu tertawa pelan, Tawa yang pahit.

"Lucu."

Ayla menatap Bagas, Matanya sakit.

"Kamu mutusin aku, Dengan alasan demi Aku?."

Hening.

Ayla tidak menjawab.

"Gila."

Bagas mengusap wajahnya kasar.

"Aku pikir kamu beda."

Kalimat itu lebih pelan, Tapi jauh lebih menyakitkan.

"Aku nggak mau kamu salah pilih"ucap Ayla.

Bagas mengusap wajahnya kasar.

"Yang milih kamu itu aku."

Ayla langsung terdiam.

"Aku yang mutusin buat sama kamu."

Bagas menunjuk dirinya sendiri.

"Bukan kamu yang mutusin buat aku."

Air mata Ayla semakin deras.

"Aku cuma takut."

"Takut apa?."

Ayla menggigit bibirnya.

"Takut suatu hari kamu sadar kalau Aku nggak seharusnya ada di hidup kamu."

Bagas langsung terdiam, Kalimat itu seolah membuat kemarahannya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan, Bagas menatap Ayla cukup lama, Lalu menggeleng pelan.

"Kamu benar-benar mikir Aku bakal kayak gitu?."

Ayla tidak menjawab.

"Kamu benar-benar mikir aku bakal nyesel milih kamu?."

Ayla semakin menunduk.

Bagas menarik napas dalam.

"Aku pikir."

Bagas berhenti, Tatapannya berubah.

"Aku pikir kamu lebih percaya sama hubungan kita."

Kalimat itu membuat dada Ayla terasa semakin sesak.

"Gas."

"Aku nggak pernah minta kamu jadi orang lain."

Suara Bagas kini lebih pelan.

"Tapi kamu sendiri yang malah ngerasa kamu nggak pantas."

Ayla menangis tanpa suara.

Bagas mengangguk kecil, Seolah mulai memahami sesuatu.

"Jadi selama ini."

Bagas tertawa pahit.

"Masalahnya bukan aku."

Ayla langsung menatapnya.

"Bagas, Bukan gitu."

"Terus apa?"

Bagas kembali menatapnya.

"Kamu bilang kita beda dunia, Kamu bilang kamu nggak cocok, Kamu bilang takut aku nyesel."

Suara Bagas perlahan melemah.

"Tapi kamu nggak pernah nanya."

Bagas berhenti sejenak.

"Aku bakal nyesel atau nggak."

Hening panjang.

Ayla tidak mampu menjawab.

Bagas menarik napas dalam, Lalu perlahan mengangguk.

"Ya udah, Kalau kamu memang mau pergi."

Bagas mundur satu langkah.

"Silakan."

Mata Ayla langsung melebar.

"Gas, Tunggu."

"Udah."

Bagas memotong, Pelan, Tapi tegas.

"Aku males maksa orang yang jelas-jelas mau pergi."

Ayla menangis.

"Maaf."

"Jangan minta maaf, Kalau akhirnya kamu tetap milih buat pergi."

"Aku sayang banget sama kamu Ayla."

Air mata Ayla semakin deras.

"Tapi aku nggak bisa terus-terusan buktiin kalau kamu pantas dicintai kalau kamu sendiri nggak percaya."

Kalimat itu membuat Ayla benar-benar terpaku.

Hening.

Bagas mundur satu langkah, Menatap Ayla untuk terakhir kali, Tatapan yang berbeda, Bukan marah lagi, Tapi kecewa, Lalu Bagas berbalik Pergi, Tanpa ragu dan tanpa menoleh lagi.

"Bagas"

Suara Ayla pecah, Namun tidak dihentikan.

Langkah kaki Bagas semakin jauh.

Ayla jatuh terduduk perlahan, Tangannya gemetar, Air matanya tidak berhenti.

"Aku nggak mau kehilangan kamu"

Ucapnya lirih.

Tapi semuanya sudah terlambat.

1
Emely Lumanauw
masih ada lanjutannya
Emely Lumanauw
kapan lanjutannya
Lisa
Bagas bertindak tegas..trio itu udh dikeluarkan dr sekolah 👍👍
Citra bella Suteja
ayla teralalu lemah ngga bisa tegas ngga berani melawan,,,
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!