Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Ternyata Istrinya Ko Nathan
Karina memutus sambungan dengan alasan jaringan buruk.
Nathan tertawa. "Besok dia datang."
"Karena kamu sengaja lewat di belakang kamera."
"Aku bosan bersembunyi."
Keesokan sore, Nathan menjemput Kevin dan tiga teman sekamar di gerbang Universitas Nusantara. Mereka mengira dia mengajak merayakan rumah baru seorang perempuan kaya yang membiayainya.
"Pakai kemeja rapi," bisik Rio kepada Kevin. "Kita mau ketemu sugar mommy Ko Nathan."
Nathan mendengar, tetapi hanya tersenyum. "Istriku kalian kenal."
Di lift pribadi Sky Palace, para pemuda semakin diam. Mereka tahu alamat itu termasuk hunian termahal di SCBD. Kevin memandangi Nathan dengan curiga sejak panggilan semalam.
Pintu terbuka. Karina tertidur di sofa dengan buku di pangkuan. Nathan langsung memberi isyarat agar semua orang pelan, mengambil selimut, dan menutup kaki Karina.
Kevin membeku. "Cici?"
Karina terbangun. Wajah adiknya membuat semua penjelasan yang sudah disiapkan hilang.
Nathan berdiri di sampingnya. "Kenalkan, pacarku."
"Pacar?" Kevin menatap cincin mereka.
Teman-teman lain saling pandang. Rio yang kemarin bergurau soal perempuan kaya menundukkan kepala karena malu.
"Kami kenal di luar kampus," kata Karina. "Bukan lewat kamu."
"Sejak kapan? Andri bagaimana?"
"Cici sudah resmi cerai."
Kevin duduk pelan. "Kenapa nggak bilang?"
"Cici ingin menjelaskan langsung."
Nathan membawa teman-teman ke ruang hiburan agar kakak-adik bisa bicara. Dia tidak mencoba membela diri dari luar.
Kevin menatap perut Karina yang disamarkan gaun longgar. "Andri bilang Cici dekat sama anak yang lebih muda. Dia bilang orang itu cuma mau uang."
"Kamu bertemu Andri?"
"Sekali. Dia mengajak makan dan bilang khawatir."
"Dia berselingkuh dan membuat perempuan lain hamil. Kekhawatirannya datang setelah putusan."
Kevin mengusap wajah. "Tapi kenapa Ko Nathan? Dia seumuranku. Cici butuh orang stabil."
"Karena Cici suka dia. Karena saat Cici sakit, dia yang menggendong turun enam lantai. Karena dia tidak pergi ketika hidup menjadi rumit."
"Suka saja cukup?"
"Tidak. Makanya kami belajar bertanggung jawab."
Karina mengeluarkan foto registrasi Singapura. Kevin membaca nama Aries Mah, tanggal, dan status mereka.
"Kalian sudah menikah?"
"Daftar resmi di Singapura. Nanti dicatat di sini dan ada pemberkatan setelah waktunya aman."
Kevin berdiri, berjalan dua langkah, lalu kembali duduk. "Ko Nathan itu teman sekamarku."
"Sekarang juga suami Cici."
"Berarti dia kakak iparku? Padahal kami seumur."
Karina menahan senyum. "Kamu boleh tetap panggil Ko Nathan."
Nathan masuk membawa air. Dia meletakkan gelas di depan Kevin lalu duduk berhadapan.
"Kalau kamu marah, marah padaku," katanya. "Jangan membuat Cici-mu stres."
"Kenapa menikah diam-diam?"
"Karena ada keadaan yang harus kami lindungi."
Kevin teringat buku kehamilan yang pernah dibeli Nathan. Tatapannya turun lagi ke perut Karina.
"Cici hamil?"
Karina menggenggam tangan Nathan. "Iya."
"Anaknya Ko Nathan?"
Nathan mendengus. "Tentu anakku."
Karina belum mengatakan jumlahnya. Kevin sudah tampak cukup terguncang.
Saat makan malam, teman-teman Nathan mulai mencair. Mereka meminta maaf atas gosip perempuan kaya. Nathan sengaja menyuapi Karina buah dan mencatat waktu obat di depan Kevin. Setiap tindakan menjawab tuduhan Andri tanpa perlu pidato.
Kevin akhirnya membantu membawa piring ke dapur. "Kalau Ko menyakiti Cici, aku nggak peduli kita teman."
Nathan mengangguk. "Kalau aku menyakitinya, kamu boleh pukul."
"Aku serius."
"Aku juga."
Kevin belum benar-benar puas. Ia menarik Nathan ke balkon sementara Rio dan dua teman lain mencoba meja biliar di lantai atas. Dari balik kaca, Karina dapat melihat keduanya berdiri kaku, sama-sama menyimpan banyak kalimat yang sulit dikeluarkan.
"Andri bilang Ko tinggal di apartemen lama Cici tanpa bayar apa-apa," kata Kevin. "Sekarang rumah ini juga atas nama Cici. Aku harus berpikir apa?"
Nathan tidak tersinggung. Ia membuka folder properti di meja konsol dan menyerahkannya. "Baca bagian pemiliknya."
Nama Karina memang tercetak di sana. Kevin mengerutkan dahi. "Itu justru yang kubilang."
"Uang pembeliannya dari keluargaku. Aku minta balik nama atas nama Cici supaya dia dan anak-anak selalu punya rumah, apa pun yang terjadi padaku." Nathan menatap lurus. "Pendapatanku dari iklan juga dia yang pegang. Kalau aku mengejar uangnya, caraku sangat bodoh."
Kevin membalik beberapa halaman, lalu menutup folder itu dengan pipi memerah. "Aku bukan mau menghina Ko."
"Kamu sedang melindungi kakakmu. Aku mengerti. Tapi lain kali, tanyakan aku sebelum percaya pada orang yang sudah menyakitinya."
"Ko tahu Andri menemuiku?"
"Aku menduga dia akan mencoba lewat keluarga." Nathan menahan rahangnya. "Aku tidak akan melarangmu bertemu siapa pun. Aku cuma berharap kamu menilai dari apa yang kamu lihat sendiri."
Kevin melirik ke ruang makan. Karina sedang tersenyum mendengar cerita Rio, tetapi satu tangannya mengusap perut tanpa sadar. Wajahnya lebih kurus daripada beberapa bulan lalu, namun sorot matanya tidak lagi kosong seperti ketika pulang dari rumah sakit bersama Andri.
"Cici kelihatan bahagia," gumam Kevin.
"Aku berusaha menjaganya begitu."
"Ko masih balapan?"
"Tidak sampai anak-anak lahir."
Jawaban itu membuat Kevin akhirnya menurunkan bahu. Ia menyodorkan tangan. Nathan menyambutnya, tetapi Kevin sengaja menarik lebih keras hingga tubuh mereka hampir beradu.
"Ini bukan restu penuh," katanya.
"Aku tidak meminta yang instan."
Ketika mereka kembali, Rio bersiul. "Sudah selesai rapat keluarga? Sekarang kami harus memanggil Nathan apa? Ko? Kakak ipar Kevin?"
"Panggil saja namaku sebelum aku menaikkan uang patungan kamar," jawab Nathan.
"Kamu bahkan sudah pindah!"
Tawa pecah. Ketegangan yang sejak tadi menggantung akhirnya retak. Karina menatap Nathan dengan rasa lega yang hangat. Dia tidak memenangkan Kevin dengan hadiah atau ancaman, melainkan dengan membiarkan adiknya menguji setiap jawaban.
Di ruang hiburan, para pemuda mencoba konsol gim dan karaoke. Nathan tetap duduk di sisi Karina, sesekali menurunkan volume ketika musik terlalu keras. Kevin memperhatikan cara temannya mengambil bantal tambahan tanpa diminta dan memeriksa suhu air minum sebelum memberikannya kepada Karina.
Andri pernah mengatakan Nathan pasti akan bosan setelah mendapatkan apa yang diinginkan. Namun kebosanan tidak tampak di wajah pemuda itu. Yang ada justru kewaspadaan seseorang yang merasa satu batuk kecil pun dapat menjadi bencana.
"Cici," bisik Kevin ketika Nathan sedang mengantar teman-temannya melihat balkon. "Cici yakin bukan karena terpaksa?"
Karina menggenggam tangan adiknya. "Cici takut, tapi bukan pada Nathan. Cici takut semuanya terlalu baik dan suatu hari hilang."
"Kalau begitu jangan biarkan dia merasa sudah menang. Suruh dia terus membuktikan diri."
Karina tertawa kecil. "Itu memang rencananya."
Sebelum pulang, Kevin memeluk Karina. "Aku masih butuh waktu. Tapi Cici nggak usah sembunyi dariku lagi."
Karina mengangguk dengan mata panas.
Di pintu, Kevin berhenti dan memandang tiga buku kehamilan yang berjajar di rak.
"Tunggu," katanya. "Kenapa bukunya ada tiga?"
Karina dan Nathan saling pandang.
Kevin menelan ludah. "Jadi kalian menikah karena Cici hamil? Dan... bayinya tiga?"