**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.
Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.
Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.
Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**
Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*
Dan itu baru permukaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: PKKMB dan Ospek
Seminggu kemudian, unit 8A benar-benar kosong.
Reynard dan Vincent pindah ke asrama BINUS menjelang rangkaian PKKMB dan ospek. Keira membantu mereka sejak pagi, membawa dua kantong perlengkapan yang ia siapkan sendiri.
Perjalanan dari apartemen tidak lama, tetapi Keira merasa seperti mengantar mereka ke kota lain. Di asrama, lorong penuh koper, orang tua, dan mahasiswa baru yang saling mencari kamar. Vincent langsung akrab dengan dua penghuni di sebelah, sedangkan Reynard berkali-kali kembali ke pintu hanya untuk menanyakan hal yang sama.
"Kamu pulang sendiri?"
"Aku bisa memesan mobil."
"Kabari setelah sampai."
"Iya."
"Jangan lupa makan malam."
"Itu kalimatku kepadamu."
Vincent menyembulkan kepala dari kamar. "Ko Rey, Cici cuma pulang ke apartemen, bukan berlayar ke luar negeri."
Keira dan Reynard serentak memelototinya. Vincent tertawa dan kembali masuk, sama sekali tidak menyadari alasan mereka sama-sama sulit berpisah.
Sebelum pergi, Keira merapikan kerah Reynard. Sentuhan singkat itu tertutup oleh pintu lemari dari pandangan orang lain. "Akhir pekan," bisiknya.
"Aku hitung jamnya."
"Ini punyamu," katanya kepada Vincent. "Tabir surya, obat demam, plester, botol minum."
"Punya Ko Rey lebih berat," protes Vincent.
"Karena dia punya obat maag."
Vincent mengaduk isi kantong Reynard dan menemukan selembar kertas terlipat.
Semangat. Jangan lupa makan. Malam kita video.
Keira merebutnya sebelum Vincent selesai membaca keras-keras.
"Kenapa punya Ko Rey ada surat cinta?"
"Bukan surat cinta. Aku menulis pengingat."
"Punyaku mana?"
"Kamu sudah kuingatkan sejak lahir."
Reynard yang berdiri di belakang Vincent menahan senyum. Ketika adik Keira sibuk memasukkan barang ke lemari, ia menyentuh punggung tangan Keira secara diam-diam.
"Aku simpan suratnya," bisiknya.
"Buang saja."
"Nggak mungkin. Bukti pacarku perhatian."
"Pelan-pelan."
Vincent menoleh. Mereka langsung berpura-pura mengatur botol minum.
Hari pertama PKKMB berlangsung di bawah matahari menyengat. Peserta baru dibagi menjadi kelompok untuk permainan kerja sama, pengenalan organisasi, dan tur kampus. Reynard mengenakan topi, tetapi lehernya tetap memerah.
Hari kedua lebih sibuk. Kelompok Reynard harus menyusun presentasi tentang etika kampus dalam waktu satu jam. Vincent kebagian mencari bahan, sementara Reynard mengatur pembagian tugas sampai mentor mereka memujinya karena bisa membuat kelompok yang kacau bekerja terarah.
Di sela kegiatan, ia mengirim foto botol minum yang sudah kosong kepada Keira sebagai bukti.
Reynard: Aku minum dua liter. Hadiahnya apa?
Keira: Nggak pingsan.
Reynard: Hadiah yang romantis.
Hari ketiga, Keira hanya melihatnya dari kejauhan saat membawa berkas ke sekretariat. Mereka berpapasan di tangga bersama banyak orang. Reynard memberi salam sopan seperti adik kenalan, tetapi jari kelingkingnya sempat menyentuh tangan Keira selama setengah detik.
Sentuhan kecil itu cukup membuat Keira tersenyum sepanjang perjalanan ke kelas.
Keira yang kebetulan membantu meja informasi bersama Nana dan Fely melihatnya dari jauh. Sesuai aturan, ia tidak menghampiri. Ia hanya mengirim pesan.
Keira: Pakai tabir surya lagi.
Reynard mengangkat ponsel, membaca, lalu menoleh tepat ke arahnya.
Reynard: Tolong oleskan.
Keira: Minta Vincent.
Reynard: Aku memilih terbakar.
Keira menyembunyikan senyum di balik map. Nana mengikuti arah pandangannya, tetapi sebelum bertanya, seorang peserta datang mencari jadwal.
Pada sore hari, Reynard dipanggil seorang mentor perempuan di samping lapangan. Keira tidak melihat percakapan itu, tetapi Nana kebetulan berdiri dekat mereka.
"Kamu anak Computer Science, kan?" tanya mentor itu. "Boleh tukar kontak? Siapa tahu ada info kegiatan."
"Info resmi bisa lewat grup," jawab Reynard sopan.
"Maksudku kontak pribadi."
Reynard tersenyum tipis. "Maaf, Kak. Aku sudah punya orang yang kusukai."
Ia kembali ke kelompok tanpa memberi ruang untuk bujukan. Nana berdiri dengan mulut sedikit terbuka.
Malamnya, Keira pulang sendirian ke Meranti Park. Tidak ada aroma masakan dari 8A. Tidak ada sepatu besar di koridor atau suara Reynard mengetuk hanya untuk meminjam gula yang sebenarnya ia miliki.
Keira menyalakan televisi agar ruang tamu tidak terlalu sunyi. Ia memasak mi instan, lalu baru sadar tidak ada orang yang akan merebut mangkuknya dan mengganti dengan makanan lebih sehat.
Pukul sembilan, panggilan video masuk.
Wajah Reynard memenuhi layar. Kulit hidung dan lehernya merah karena matahari, rambutnya lepek, dan di belakang terdengar Vincent berdebat dengan teman sekamar tentang posisi kipas.
"Kamu gosong," kata Keira.
"Aku merindukanmu juga."
"Sudah pakai pelembap?"
"Belum."
"Di kantong ada gel lidah buaya."
Reynard mengambilnya sambil mengeluh. "Kamu menyiapkan seluruh apotek."
"Dan tetap lupa memakai tabir surya."
"Nggak ada yang mengoleskan."
"Tanganmu dua."
Reynard mengoleskan gel ke leher di depan kamera. "Apartemen sepi?"
Keira memandang sofa kosong. "Tiba-tiba terasa jauh lebih besar."
Ekspresi Reynard melembut. "Akhir pekan aku pulang."
"Kamu baru pindah hari ini."
"Jadi boleh pulang besok?"
"Jangan manja. Ikuti kegiatanmu."
"Aku akan video setiap malam."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berbicara hampir satu jam sampai Vincent menyela dari belakang, meminta Reynard mematikan lampu. Keira mengucapkan selamat malam, menunggu Reynard mengirim ciuman ke kamera, lalu menutup panggilan.
Televisi masih menyala. Mi di meja sudah dingin. Keira duduk di tengah ruang yang terlalu tenang dan baru menyadari betapa dalam kebiasaan Reynard telah mengisi hidupnya.
Ia berjalan ke pintu 8A dan hampir memasukkan kode sebelum ingat tidak ada siapa-siapa di dalam. Rak sepatu kosong. Keset yang biasanya miring sudah rapi. Keira berdiri di koridor dengan perasaan bodoh, lalu kembali ke unitnya.
Di sofa masih ada bantal yang pernah dipeluk Reynard. Keira menariknya ke dada dan mencium samar aroma deterjen yang sama dengan pakaian laki-laki itu.
"Baru satu hari," gumamnya kepada diri sendiri.
Namun satu hari sudah cukup untuk membuktikan bahwa rindu tidak peduli pada jarak yang sebenarnya dekat.
Ponselnya berdering lagi, kali ini dari Nana.
"Tadi aku mendengar sesuatu," kata sahabatnya tanpa pembuka.
"Apa?"
"Ada mentor yang minta nomor Reynard. Dia menolak dan bilang sudah punya orang yang disukai."
Keira menggigit bibir untuk menahan senyum. "Baguslah."
"Bagus? Kamu nggak penasaran siapa orangnya?"
"Mungkin seseorang dari sekolahnya dulu."
"Atau seseorang yang menyiapkan satu tas obat dan mengirim pesan soal tabir surya setiap jam."
Keira hampir menjatuhkan ponsel. "Aku melakukan itu juga untuk Vincent."
"Tapi surat malam kita video cuma ada di tas Reynard."
Keheningan Keira berlangsung terlalu lama.
Nana tertawa pelan. "Jadi, menurutmu orang yang Reynard bilang dia sukai itu siapa?"
"Aku mengantuk. Besok ada kelas."
Keira buru-buru menutup telepon, sementara rasa bersalah dan kebahagiaan bercampur di wajahnya. Rahasia mereka belum terbuka, tetapi Nana jelas sudah berdiri tepat di depan pintunya dan siap mengetuk kapan saja.