**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.
Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.
Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.
Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**
Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*
Dan itu baru permukaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Nexera Innovation Challenge
"Kalau kamu terus mondar-mandir, karpetnya bisa tipis."
Keira berhenti di depan ruang final Nexera Innovation Challenge. Kevin Sutedja menurunkan kamera dan menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
"Duduk. Tim mereka baru presentasi dua puluh menit lagi."
"Aku nggak mondar-mandir. Cuma cari sinyal."
Kevin melihat lima batang sinyal di layar ponselnya, tetapi cukup baik untuk tidak membantah.
Sebulan setelah semester dimulai, Reynard berdiri di panggung utama Nexera Tower bersama Eric Chandra, Ko Marcus, dan Alvin Tan. Mereka mewakili tim gabungan mahasiswa dalam final kompetisi inovasi teknologi. Keira datang setelah kelas, masih membawa tas berisi buku terjemahan dan kopi yang sudah dingin.
Di balik kaca ruang tunggu, Reynard sedang memeriksa layar presentasi. Kemeja gelap dan kartu peserta di leher membuatnya terlihat jauh berbeda dari cowok bercelemek kucing yang biasa memaksanya sarapan.
Tenang. Dewasa. Sulit dijangkau.
Reynard menoleh seolah merasakan tatapannya. Begitu melihat Keira, ketegangan di wajahnya mencair. Ia mengangkat tangan kecil-kecil.
Keira membalas sebelum sadar Kevin memotret mereka.
"Hapus."
"Bagus buat dokumentasi."
"Dokumentasi lomba atau bahan memeras?"
"Kenangan penting biasanya baru terasa penting beberapa tahun lagi."
Ko Marcus keluar dari ruang tunggu dan langsung menghampiri Keira. "Kamu Ci Kei, kan? Akhirnya ketemu."
"Kalian sudah tahu aku?"
Eric muncul di belakangnya sambil membawa dua kabel. "Rey menyebut namamu setiap kali mengingatkan kami makan. Katanya kalau tim sakit sebelum final, Ci Kei bakal marah."
"Aku nggak pernah bilang begitu," protes Reynard dari pintu.
"Kamu bilang lebih panjang," sahut Alvin. "Kami ringkas supaya aman."
Keira menahan senyum. Ia membagikan kotak roti yang dibawa dari kampus. Reynard mengambil satu setelah semua anggota tim mendapat bagian, kebiasaan kecil yang tidak luput dari perhatiannya.
"Kamu sudah makan sejak pagi?" tanyanya.
Reynard diam.
"Itu artinya belum," kata Eric.
Keira membuka bungkus roti dan menyerahkannya langsung. "Habiskan sebelum naik panggung."
Reynard menerima tanpa membantah. Ko Marcus dan Alvin saling melirik, lalu serempak menahan tawa. Di hadapan tim yang sulit diatur selama berminggu-minggu, satu kalimat Keira ternyata lebih efektif daripada jadwal kerja.
"Penyemangat rahasia sudah datang," bisik Kevin di belakang kamera.
Keira menoleh, tetapi pria itu sudah berjalan masuk ke aula.
Pintu ruang final dibuka. Penonton masuk, dan Keira mengambil kursi di baris ketiga. Melissa Lim bersama timnya tampil lebih dulu. Presentasinya rapi, produknya matang, dan jawaban terhadap juri nyaris tanpa celah. Tepuk tangan memenuhi aula ketika mereka turun.
Melissa melewati Reynard di sisi panggung. "Semoga bisa mengimbangi."
"Semoga," jawab Reynard tenang.
Giliran tim Reynard tiba. Eric menjelaskan arsitektur sistem, Ko Marcus memaparkan model bisnis, Alvin menunjukkan hasil pengujian. Reynard mengambil bagian terakhir, demonstrasi langsung serta tanya jawab.
Seorang juri menyoroti risiko kebocoran data. Juri lain mempertanyakan biaya implementasi. Pertanyaan ketiga sengaja menjebak: jika skala pengguna naik sepuluh kali lipat, bukankah seluruh solusi mereka menjadi tidak relevan?
Keira tanpa sadar menggenggam ujung tas.
Reynard tidak terburu-buru menjawab. Ia meminta izin membuka skenario cadangan yang tidak masuk slide, lalu mengubah dua parameter pada simulasi. Grafik di layar bergerak. Beban meningkat, tetapi sistem tetap stabil.
"Kami tidak merancang produk yang hanya terlihat bagus saat diuji," katanya. "Kami merancangnya untuk gagal dengan aman, belajar dari kegagalan, lalu tetap bisa dipakai."
Ruangan hening sesaat sebelum tepuk tangan pecah.
Keira merasakan kebanggaan hangat memenuhi dada. Ia tahu Reynard pintar. Ia pernah melihatnya membedah soal kuliah Vincent di atas tisu. Namun melihat seluruh ruangan mengakui kemampuan itu memberikan rasa berbeda, seolah rahasia kecil di unit 8B kini menyala di depan banyak orang.
***
Pengumuman pemenang dilakukan sore hari. Juara ketiga jatuh kepada Tim Lauren. Melissa dan timnya mendapat posisi kedua.
Ketika nama tim Reynard diumumkan sebagai juara pertama, Eric memukul bahunya, Alvin berteriak, dan Ko Marcus memeluk ketiganya sekaligus. Keira berdiri bersama penonton lain, bertepuk tangan sampai telapak tangannya panas.
Reynard menerima trofi, lalu diminta memberi sambutan.
"Terima kasih untuk tim yang tetap bertahan waktu demo kami gagal seminggu lalu," katanya. "Terima kasih juga untuk semua orang yang membantu."
Ia berhenti. Pandangannya menyapu ruangan dan tertahan di baris ketiga.
"Ada satu orang yang jadi alasan aku nggak pernah mau menyerah. Semacam... penyemangat diam-diam."
Mata mereka bertemu.
Keira lupa bertepuk tangan.
Kevin yang berdiri di sisi aula mengarahkan kamera tepat pada momen itu. Kilatan lampu tidak menyadarkan Keira. Ia baru bergerak ketika penonton mulai bersiul, mengira ucapan Reynard ditujukan kepada seseorang di antara mereka.
Setelah acara, Melissa menghampiri tim pemenang. Senyumnya terlihat sempurna, hanya jari yang menggenggam sertifikat terlalu kuat.
"Selamat," katanya kepada Reynard. "Presentasimu bagus."
"Terima kasih. Tim kalian juga kuat."
Melissa melirik Keira yang berdiri membawa botol air. "Kakakmu?"
Reynard menerima botol dari Keira sebelum menjawab. "Orang yang penting."
Keira menoleh cepat. Reynard sudah minum, seolah tidak merasa baru saja membuat udara berubah.
Melissa tersenyum tipis. "Oh. Sampai ketemu di kampus."
Ia pergi bersama timnya. Keira memperhatikan langkahnya, lalu menatap Reynard.
Tim Melissa berhenti tidak jauh dari sana untuk diwawancarai. Meski menjawab dengan profesional, pandangan Melissa beberapa kali kembali pada trofi di tangan Reynard dan posisi Keira di sisinya. Ketika reporter bertanya tentang kekalahan tipis, senyum perempuan itu mengeras.
"Kami akan kembali dengan hasil lebih baik," katanya. "Kadang kemenangan ditentukan bukan hanya kemampuan, tapi juga dukungan yang tepat."
Kalimat itu terdengar netral. Namun cara matanya bergerak ke arah Keira meninggalkan rasa tidak nyaman yang tipis. Keira belum sempat memikirkannya karena Eric sudah menarik semua orang menuju meja kudapan.
"Malam ini harus dirayakan," katanya. "Pizza Hebat?"
"Yang penting nggak pedas," jawab Keira.
Tiga anggota tim menoleh kepada Reynard, kemudian tertawa bersamaan. Reynard hanya menghela napas pasrah, sementara Keira merasa untuk pertama kalinya ia diterima dalam lingkaran orang-orang yang mengenal sisi lain cowok itu.
"Orang penting?"
"Memang penting. Kalau aku sakit, siapa yang melarang makan pedas?"
"Jadi sambutanmu tadi juga buat pengawas makanan?"
Reynard memasukkan tangan ke saku. "Menurut Cici buat siapa?"
Pertanyaan itu kembali dilempar kepadanya, seperti pertanyaan tentang cemburu yang belum pernah terjawab.
Eric memanggil Reynard untuk foto tim. Keira memanfaatkan kesempatan untuk mundur, tetapi Kevin menahannya.
"Kamu ikut."
"Aku bukan anggota tim."
"Penyemangat diam-diam termasuk tim tidak resmi."
Keira hendak menolak. Reynard sudah berdiri di sebelahnya, membawa trofi dengan satu tangan dan menaruh tangan lain ringan di belakang punggungnya, tidak menyentuh tetapi menjaga agar ia tidak keluar dari bingkai.
Kamera berbunyi.
Dalam foto itu, semua orang melihat ke lensa.
Hanya Reynard yang menatap Keira.