Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Balik Menyerang
Pagi-pagi aku sengaja bicara di meja makan, cukup keras agar teman arisan Ratna mendengar.
"Bu Tuti, nanti temani saya pinjam buku piket. Saya mau cocokkan siapa yang naik ke lantai dua saat kamar kosong."
Sendok beradu dengan piring. Perempuan di belakangku segera menyelesaikan makan lalu pergi.
Tuti mengangkat alis. "Kamu yakin bukunya bisa dipinjam?"
"Nggak perlu dibawa. Saya cuma mau lihat jam dan nama."
Sebenarnya aku belum tahu apakah catatan itu akan membuktikan apa pun. Tujuanku sederhana: membuat orang yang bersalah bergerak.
Kurang dari satu jam kemudian, Adi datang ke dapur.
"Mbak, Bu Ratna baru ke logistik minta lihat buku piket. Katanya mau memastikan jadwal pemeriksaan. Pak Hendra heran karena pemeriksaan sudah selesai."
Aku tersenyum. "Berarti umpannya dimakan."
Bu Sari yang sedang membantu mengemas sayur mendengar. "Jangan langsung menuduh. Minta Hendra catat siapa saja yang mengakses buku setelah kejadian."
"Benar. Kalau tidak, ini cuma gosip baru."
Sari mengangguk. Berbeda dari Tuti yang hangat dan ramai, ia bicara tenang seperti orang yang menimbang setiap kata.
Kami pergi ke logistik bersama. Dari ujung lorong, Ratna terlihat berdiri di depan meja Hendra. Tangannya membalik halaman buku piket terlalu cepat.
"Saya cuma memastikan petugas mencatat kunjungan resmi kami," katanya.
Hendra menunjuk formulir. "Rombongan Persit masuk berdasarkan surat pemeriksaan, Bu. Nama personal memang tidak ditulis satu per satu. Ada masalah?"
"Nggak ada. Saya hanya mengecek."
Ia melihatku dan Sari. Tangannya langsung menutup buku.
"Mbak Laras juga mau lihat?"
"Tadinya iya. Tapi sekarang saya lebih tertarik mencatat siapa yang melihat buku setelah saya mengumumkannya."
Wajah Ratna mengeras. "Maksudmu apa?"
"Nggak ada tuduhan, Bu. Saya belajar dari Ibu untuk hanya bertanya."
Sari menyentuh lenganku, isyarat agar berhenti tepat di sana. Hendra mencatat waktu pengembalian buku dan meminta Ratna menandatangani daftar akses arsip.
Di luar kantor, lututku kembali terasa ringan.
"Kamu hampir kelewatan," kata Sari.
"Saya tahu."
"Menang bukan berarti harus membuat lawan mengaku hari ini. Cukup buat dia tahu setiap langkahnya terlihat."
Aku menyimpan nasihat itu. Tuti mengajariku berani bicara. Sari mengajariku kapan harus berhenti.
***
Aku, Bram, menerima laporan Adi sebelum zuhur.
Tembakau di lorong. Pemeriksaan yang berubah menjadi tuduhan. Ratna meminjam buku piket sehari setelah Laras mengumumkan akan memeriksanya.
"Siapa yang piket saat itu?"
"Praka Yudi, Komandan. Dia lihat dua anggota Persit naik, tapi nggak catat nama karena rombongan pemeriksaan memang bebas masuk."
"Kamera lorong?"
"Lantai dua belum terpasang."
Tak cukup untuk menuduh. Cukup untuk memahami pola.
Aku memanggil Hendra dan meminta seluruh pemeriksaan berikutnya memakai daftar hadir, batas area, dan pendamping netral. Bukan untuk melindungi Laras seorang, melainkan agar organisasi tidak dipakai menyelesaikan perselisihan pribadi.
Lalu kubuka arsip lama Ratna. Tidak ada pelanggaran resmi. Hanya tiga catatan mediasi kecil: sengketa arisan, pengucilan anggota baru, dan permintaan pindah blok dari satu keluarga.
Dalam catatan pertama, Ratna menuduh bendahara arisan tidak transparan tanpa bukti, lalu mengambil alih pembukuan. Dalam catatan kedua, seorang istri prajurit baru tak pernah menerima undangan kegiatan karena nomor teleponnya "terlewat". Catatan ketiga paling pendek. Keluarga itu meminta pindah demi ketenangan anak.
Tidak satu pun cukup berat untuk sanksi. Jika dibaca bersama, semuanya menunjukkan cara yang sama: ciptakan ketidaknyamanan, biarkan korban tampak terlalu sensitif, lalu berdiri sebagai orang yang hanya ingin menjaga ketertiban.
Aku meminta Hendra menghubungi pengurus Persit yang lebih senior. Semua pemeriksaan harus memakai minimal dua pendamping yang tidak berada dalam satu lingkaran sosial. Temuan wajib difoto di tempat, penghuni diberi hak menulis tanggapan, dan barang bukti tidak boleh dibuang sebelum berita acara selesai.
"Ini akan terasa berlebihan untuk pemeriksaan kamar," kata Hendra.
"Hari ini tembakau. Besok bisa obat, uang, atau barang terlarang. Prosedur dibuat sebelum perkara besar, bukan sesudah."
Hendra mengangguk. "Siap."
"Dan jangan sebut nama Laras dalam perubahan aturan."
"Supaya dia nggak dianggap mengadu?"
"Supaya aturan berlaku untuk semua."
Aku menutup arsip. Ada bagian dalam diriku yang ingin memanggil Ratna dan menghentikannya dengan perintah langsung. Itu mudah, tetapi hanya akan membuat Laras dianggap hidup di bawah perlindunganku.
Ia membutuhkan ruang untuk berdiri dengan kakinya sendiri. Tugasku memastikan lantainya tidak sengaja dibuat licin.
Kerikil kecil di banyak anak tangga.
Laras mampu menghadapinya, tetapi ia tak seharusnya bertarung tanpa pagar.
***
Malamnya, Bram berdiri di depan kamarku membawa keset serabut baru.
"Taruh ini di depan pintu."
Aku menerima keset itu. "Kenapa?"
"Biar yang kotor nggak masuk."
Aku menatap wajahnya. Ekspresinya tetap datar.
"Bapak sedang bicara soal lumpur atau orang?"
"Terserah kamu menafsirkannya."
Aku nyaris tertawa. "Pak Danyon bisa bercanda ternyata."
"Saya tidak bercanda."
"Justru itu yang lucu."
Sena mengoceh dari ranjang. Bram masuk satu langkah untuk melihatnya, tetapi berhenti di atas keset lama.
"Buku piket nggak memberi bukti langsung," katanya. "Jangan konfrontasi Ratna. Prosedur pemeriksaan sudah diperbaiki."
"Bapak yang urus?"
"Hendra."
Jawaban yang sengaja mengecilkan perannya.
Aku menunjuk keset. "Ini juga Hendra?"
"Saya beli di koperasi."
"Pakai anggaran sistem?"
"Uang saya sendiri."
"Berarti yang ini memang membela saya."
Bram terdiam. Sena tertawa dari ranjang seolah menikmati kemenangan kecilku.
"Kesetnya untuk kebersihan," katanya akhirnya.
"Tentu, Pak. Sangat bersih."
"Terima kasih."
"Saya memperbaiki sistem, bukan membelamu."
"Kalau begitu terima kasih sudah memperbaiki sistem tepat setelah saya diserang."
Tatapan kami bertemu. Ia yang lebih dulu memalingkan muka.
Keesokan harinya Ratna mengembalikan buku piket tanpa menemukan namanya di sana. Namun semua orang sudah tahu ia tergesa meminjamnya. Ia tidak bisa dituduh menaruh tembakau, tetapi keberaniannya untuk menyerang terbuka surut.
Aku memasang keset baru di ambang pintu.
Ketika Bram lewat malam berikutnya, ia menunduk melihatnya.
"Cocok," katanya.
"Lumayan. Yang kotor jadi kelihatan sebelum masuk."
Ia menatapku lama, lalu sudut bibirnya naik sangat tipis.
Aku berdiri terpaku.
Ya Allah, lelaki dingin itu benar-benar sedang bercanda denganku.
Sena menendang-nendang kasur, meminta perhatian. Aku mengangkatnya dan berdiri di balik pintu sambil melihat punggung Bram menjauh.
Selama ini aku mengenal laki-laki dari suara keras, janji besar, atau tangan yang mudah menunjuk. Bram melakukan kebalikannya. Ia memperbaiki aturan, membeli keset, lalu berpura-pura semua itu bukan untukku.
Cara seperti itu lebih berbahaya bagi hati.
Aku menempelkan pipi pada kepala Sena. "Papamu suka bikin orang bingung, ya?"
Sena menjawab dengan gelembung ludah.
Aku tertawa pelan sendirian, tetapi dada ini terasa terlalu penuh dan hangat untuk dianggap sekadar sebuah lelucon kecil.