Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Mulai Mencari Tau.
Sera menikmati makan malamnya dengan pelan, sembari sesekali melirik ke arah sang suami yang duduk tepat di hadapannya.
Ia harus mencari tau tentang nota pembayaran di toko bunga yang tertinggal pada saku jas pria itu.
Sam persis dengan nota pembayaran di kantin rumah sakit waktu itu. Sepertinya Ravin tidak menyadari jika ada barang bukti yang tertinggal.
“Kak. Tadi pesawatnya berangkat pukul berapa?” Tanya Sera memulai investigasinya.
“Pukul 3 sore. Bukannya tadi pagi aku sudah mengirim pesan sama kamu?” Ravin berbalik melempar tanya.
Sera menganggukkan kepalanya. Memang sang suami sudah mengirim pesan di pagi hari, namun kemudian pria itu menghilang tanpa kabar hingga sore menjelang. Bahkan nomor ponselnya tidak aktif sampai saat ini.
“Aku kira, jam 3 sore kakak sudah sampai di Jakarta. Karena, aku melihat mobil kakak di jalan waktu mau pulang dari kantor.” Ucap Sera dengan pelan.
Ravin seketika tersedak setelah mendengar ucapan sang istri.
“Kak. Pelan - pelan.” Sera membantu mengambil gelas air putih milik pria itu.
Ravin menerima gelas itu, kemudian meminum isinya hingga setengah.
“Oh. Mobil aku di bawa oleh sopir kantor, Ra. Waktu kamu lihat itu, dia pasti mau jalan ke Airport untuk jemput aku.” Ucap Ravin sembari tersenyum.
Sera menganggukkan kepalanya. Ia pura - pura percaya dengan ucapan pria itu.
Alasan Ravin cukup masuk akal.
“Tapi, aku melihat mobil kakak keluar dari toko bunga, kak.”
Ravin kembali tersedak, dan kali ini lebih keras dari sebelumnya.
“Kakak kenapa bisa tersedak lagi? Makannya pelan - pelan.” Sera mengisi kembali gelas sang suami, kemudian memberikan pada pria itu.
“Makanannya sedikit pedas.” Ucap Ravin setelah ia bisa mengontrol diri.
Sera menaikan sebelah alisnya.
Makanan itu tidak terlalu pedas. Sudah sesuai dengan kesukaan Ravin. Tidak mungkin bisa membuat pria itu sampai tersedak.
‘Kamu berbohong, kak.’ Batin Sera tersenyum miris.
“Sopir kantor membelikan kakak bunga?” Tanya Sera lagi. Ia belum mendapatkan jawaban atas ucapannya tadi.
Gadis itu mengamati perubahan raut wajah Ravin.
‘Alasan apa yang akan kamu katakan kali ini, kak?’
“Bukan, Ra. Aku tidak tau dia membeli bunga untuk siapa? Bukan urusan aku juga.” Jawab Ravin sembari mengedikan bahu.
‘Tapi nota pembayarannya ada di saku jas kamu, kak.’
Sera akan mengumpulkan nota pembayaran yang ia temukan di saku jas sang suami untuk di gunakan sebagai bukti suatu hari nanti.
Setelah selesai makan malam, Sera mengira sang suami akan pergi ke ruang kerja seperti malam - malam sebelumnya.
Namun, Sera salah. Ravin justru mengikutinya masuk ke dalam kamar tidur mereka.
Sontak saja gadis itu mengerutkan keningnya.
“Kakak tidak pergi ke ruang kerja?” Tanya Sera saat Ravin duduk bersandar pada kepala ranjang.
“Aku baru pulang dari luar kota, Sera. Lelah, butuh istirahat. Masa kamu menyuruh aku untuk bekerja lagi?” Pria itu menatap sang istri dengan alis terangkat.
Sera mengedikan bahunya. “Bukannya kakak suka bekerja?”
Ravin menghela nafas pelan.
Tanpa mendengar tanggapan sang suami, gadis itu pergi ke ruang ganti untuk melakukan ritual malam sebelum tidur.
Dua puluh menit kemudian, Sera pun kembali ke dalam kamar.
“Kenapa kakak belum tidur?” Tanya Sera sembari naik di sisi tempat tidur sebelah kiri.
Ravin meletakkan ponselnya di atas nakas. Kemudian perlahan merebahkan dirinya, mengikuti pergerakan sang istri.
“Menunggu kamu kembali.” Ucap Ravin sembari tersenyum.
Sera mengerutkan keningnya. Ia kemudian memutar tubuh untuk membelakangi pria itu.
Namun, sesaat kemudian mata gadis itu seketika membulat sempurna, saat merasakan tubuh Ravin mendekat padanya.
“K—kak mau apa?” Sera mengeratkan selimut di depan tubuhnya.
Jangan sampai Ravin melakukan sesuatu padanya.
“Apa aku tidak boleh tidur sambil memeluk istriku?” Ucap pria itu.
“B—bukan begitu. Aku hanya belum terbiasa.” Ucap Sera.
Jangan sampai Ravin meminta untuk melakukan malam pertama mereka. Sera tidak siap. Setidaknya, sebelum mengetahui rahasia apa yang pria itu sembunyikan.
Ravin terkekeh pelan. Kemudian mengeratkan pelukannya pada pinggang sang istri.
“Tidur, Sera. Besok kita harus pergi ke kantor.” Ucapnya.
Sera menghela nafas kasar. Kemudian memejamkan matanya. Ia membiarkan tangan Ravin tetap berada di atas pinggangnya.
Semoga saja pria itu tidak berulah.
.
.
.
Ravin menunjukkan banyak perubahan setelah pulang dari Bali. Pria itu menjadi lebih perhatian kepada Sera. Dan lebih sering pulang tepat waktu.
Bukannya senang melihat perubahan sang suami, namun Sera justru menjadi semakin curiga. Pasti ada sesuatu yang pria itu sembunyikan.
Hingga akhir pekan tiba, Ravin pun kembali menjadi pria yang sibuk dengan pekerjaannya, dan tak bisa menemani Sera di rumah.
“Aku akan usahakan untuk pulang cepat, Ra.” Ucap Ravin sebelum meninggalkan sang istri yang mengantarnya hingga di garasi mobil.
Sera tersenyum tipis, kemudian menganggukkan kepalanya.
Ravin pun masuk ke dalam mobil. Sera melambaikan tangan, saat kereta besi sang suami perlahan meninggalkan tempat parkirnya.
Gadis itu kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
“Bi, apa mas Wira sudah datang?” Tanya Sera pada bi Sari yang sedang membersihkan ruang tamu.
Wanita paruh baya itu tidak mengambil jatah libur minggu ini dan memilih untuk bekerja.
“Lagi membersihkan kolam renang, non. Ada ranting pohon mangga yang patah, dan jatuh ke dalam kolam.” Ucap bi Sari.
Selain menjadi sopir pribadi Sera, Wira juga terkadang mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. Seperti membantu bi Sari memasak, dan membersihkan halaman rumah mewah itu.
“Non mau pergi keluar?” Tanya bi Sari kemudian.
Sera menganggukkan kepalanya. “Mau shopping, bi. Bosan juga tinggal di rumah.”
“Kalau begitu, biar saya beritahu mas Wira. Non bisa bersiap dulu.” Bi Sari meletakkan sapu bulu ayam di atas meja, kemudian pergi ke halaman belakang untuk mencari Wira.
Sera pun melangkah menuju kamarnya. Gadis itu sudah memutuskan untuk menghabiskan akhir pekannya dengan berbelanja.
Daripada diam di rumah dan memikirkan suami yang belum tentu memikirkan dirinya.
Sementara itu, setelah mendengar pemberitahuan dari bi Sari, Wira bergegas membersihkan diri.
Tak lama kemudian, pria itu pun menyiapkan mobil yang akan di bawa untuk mengantar Sera.
“Mas Wira.”
Wira terpaku sejenak melihat Sera yang berdiri di ambang pintu samping rumah.
Gadis itu terlihat sangat cantik, walau hanya menggunakan gaun kemeja berwarna putih, yang menutupi hingga lututnya.
Rambutnya tergerai, namun masih masih sangat rapi. Dengan riasan wajah yang tidak begitu tebal.
‘Ravin begitu bodoh menyia-nyiakan gadis secantik kamu, Sera.’
“Mas Wira.” Panggil Sera sekali lagi.
“Eh ya, non.” Pria itu menghampiri sang majikan.
“Mau berangkat sekarang?” Tanyanya.
“Menurut mas Wira?” Sera berbalik melempar tanya.
Wira menggaruk keningnya yang tidak gatal. “Mari, non. Mobil sudah siap.”
Sera pun masuk ke dalam mobil dengan menghentakan kakinya sedikit keras.
Wira tersenyum melihat tingkah gadis itu.
“Lucu sekali dia.”
Seharusnya dia pewaris sebenarnya, sungguh menarik