NovelToon NovelToon
TIRAKAT 6

TIRAKAT 6

Status: tamat
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.

(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.

Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?

SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 WARISAN DI KAKI BUKIT

Jalan setapak berbatu yang membelah area persawahan itu perlahan mulai menanjak, menandakan bahwa Zaki telah meninggalkan wilayah pemukiman desa dan mulai memasuki area kaki bukit.

Sinar matahari pagi yang tadinya terasa hangat kini mulai menyengat lembut kulit lengannya, namun terhalang oleh bayangan rimbun dari pepohonan bambu dan jati yang berjajar di sisi kiri dan kanan jalan.

Sepatu boot karet hitam yang dikenakan Zaki bergesekan dengan kerikil dan tanah kering, menciptakan bunyi gemeretak berirama yang menemani setiap ayunan langkahnya.

Napas Zaki sedikit memburu. Tetesan keringat halus mulai bermunculan di pelipis dan lehernya.

Bertahun-tahun hidup di Jakarta dengan mobilitas yang selalu dimanjakan oleh kendaraan bermotor dan eskalator stasiun, membuat fisiknya sedikit terkejut menghadapi medan menanjak seperti ini.

Namun, tak ada keluhan di hatinya. Rasa lelah di otot kakinya justru terasa seperti sebuah pijatan terapi yang menyadarkannya bahwa ia benar-benar kembali hidup seutuhnya.

Zaki mengangkat tangan kanannya, membenarkan letak topi caping bambu peninggalan almarhum Bapaknya agar lebih teduh menutupi wajahnya.

Kurang dari lima belas menit berjalan mendaki, pepohonan jati yang menjulang tinggi mulai merenggang, membuka sebuah pemandangan hamparan hijau pekat yang sangat ia kenal.

Zaki menghentikan langkahnya tepat di sebuah gapura alami yang terbentuk dari dua pohon asam jawa berukuran raksasa. Di depannya, membentang kebun kopi seluas kurang lebih hampir setengah hektar, menempati kontur tanah berundak di kaki bukit.

Inilah dia... Kebun kopi...

Tanah warisan, saksi bisu tetesan keringat mendiang Bapaknya.

Zaki melangkah masuk ke area perkebunan. Seketika, suhu udara terasa turun beberapa derajat, dilindungi oleh tajuk-tajuk pohon penaung yang sengaja ditanam untuk melindungi tanaman kopi dari terik matahari langsung.

Begitu ujung sepatu boot-nya menginjak tanah gembur kebun tersebut, indera penciumannya langsung disergap oleh sebuah aroma magis. Bukan aroma gaib yang menyesakkan dada, melainkan aroma kehidupan.

Wangi aroma tanah basah sisa embun pagi yang menguap terkena sinar matahari, berpadu sempurna dengan aroma khas getah dedaunan kopi yang bergesekan ditiup angin pegunungan. Hidungnya juga samar-samar menangkap aroma manis dan sedikit asam dari biji-biji kopi ceri yang mulai memerah di beberapa dahan.

Kombinasi aroma itu bagaikan kunci yang membuka peti memori di kepala Zaki.

Matanya menerawang, menyusuri barisan pohon kopi jenis robusta yang tumbuh subur dan terawat rapi. Dalam pandangannya, seolah berkelebat siluet dirinya di masa kecil.

Dahulu, Zaki hanyalah seorang bocah laki-laki kurus yang berlarian riang di sela-sela rimbunnya pohon kopi, bermain petak umpet dengan teman-teman sebayanya.

Di sudut sana, ia seakan melihat siluet sang Bapak yang bertelanjang dada, otot punggungnya berkilat oleh keringat saat sedang mengayunkan cangkul, menggemburkan tanah di sekitar akar pohon.

Dan di bawah pohon nangka di ujung kebun itu, terbayang senyum teduh sang Ibu yang datang membawakan bekal rantang berisi nasi jagung, ikan goreng, dan sebotol teh manis dingin.

Zaki memejamkan mata, membiarkan nostalgia manis itu memeluk batinnya dengan erat.

Rasa rindu yang teramat sangat menyelinap, namun tak lagi membawa pedih, melainkan rasa syukur yang tak terhingga karena ia masih bisa menginjakkan kaki di tanah warisan mendiang Bapaknya ini.

"Alhamdulillah..." bisik Zaki lirih, meresapi kedamaian yang mengalir murni di setiap helaan napasnya.

Pemuda itu kembali mengayunkan langkah, berjalan semakin dalam membelah barisan pepohonan kopi. Ia menyusuri jalan setapak kecil yang memisahkan blok-blok tanaman.

Tiba-tiba, telinganya menangkap suara ritmis dari arah depan. Suara logam cangkul yang beradu dengan tanah dan memotong akar-akar gulma.

Srekkk... Crattt... Srekkk...

Zaki memutar arah langkahnya menuju sumber suara. Di balik rimbunnya deretan pohon kopi yang daunnya hijau mengkilap, tampak punggung seorang pria paruh baya yang tengah membungkuk.

Pria itu mengenakan kaus lengan panjang berwarna abu-abu yang warnanya sudah memudar dan celana panjang komprang. Sebuah topi caping anyaman menutupi kepalanya. Gerakan tangannya mengayunkan cangkul atau sabit kecil itu tampak begitu luwes, bertenaga, dan penuh perhitungan, membuktikan jam terbang puluhan tahun sebagai seorang petani tulen.

Itu adalah Pak Doyo.

Zaki tersenyum lebar. Ia tak langsung menyapa, membiarkan dirinya mengagumi dedikasi tetangganya itu sejenak.

Pak Doyo adalah sahabat karib mendiang Bapaknya. Setelah kepergian kedua orang tuanya, dan setelah Zaki merantau jauh ke Jakarta untuk mencari penghidupan bersama Pakde Mardi, Pak Doyo-lah yang dengan sukarela mengambil alih perawatan kebun ini.

Tanpa dedikasi pria paruh baya itu, kebun ini mungkin sudah lama mati atau berubah menjadi belukar liar.

Zaki berdeham pelan, lalu membuka suara.

"Assalamu'alaikum... Sregep temen nggih, Pak Doyo, esuk-esuk empun macul." (Rajin sekali ya, Pak Doyo, pagi-pagi sudah nyangkul). Suara berat Zaki yang tak terduga seketika menghentikan ayunan cangkul Pak Doyo.

Pria paruh baya itu membeku sejenak, lalu perlahan menegakkan punggungnya yang sudah mulai membungkuk. Ia memutar tubuhnya, mengangkat sedikit ujung caping agar matanya bisa melihat jelas siapa gerangan yang menyapanya di tengah kebun pagi-pagi begini.

Kedua mata Pak Doyo yang dihiasi kerutan dalam itu menyipit, berusaha memfokuskan pandangan pada sosok pemuda tinggi tegap yang berdiri berjarak beberapa meter di hadapannya.

Melihat caping usang yang dikenakan pemuda itu, disusul dengan guratan wajah yang sangat familiar, mata Pak Doyo perlahan melebar.

Cangkul di tangannya terlepas begitu saja, jatuh menimpa tanah gembur.

"Ya Allah, Gusti..." gumam Pak Doyo, suaranya bergetar hebat.

Pria itu buru-buru mengusapkan kedua tangannya yang kotor oleh tanah ke celana komprangnya, lalu melangkah setengah berlari mendekati Zaki.

"Lho, lho, lho... Iki tenanan Le Zaki? Mas Zaki?" (Lho, lho, lho... Ini beneran Nak Zaki? Mas Zaki?) tanya Pak Doyo dengan nada tak percaya, matanya berkaca-kaca menatap Zaki dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.

Zaki tertawa renyah, melepaskan caping dari kepalanya lalu meraih tangan kasar dan kapalan milik Pak Doyo, mencium punggung tangan pria yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri itu dengan takzim.

"Inggih, Pak Doyo. Niki kulo, Zaki..." (Iya, Pak Doyo. Ini saya, Zaki...) jawab Zaki lembut.

Pak Doyo langsung menarik Zaki ke dalam pelukannya.

Pria paruh baya itu menepuk-nepuk punggung tegap Zaki dengan penuh keharuan. Aroma keringat, tembakau linting, dan getah kopi dari tubuh Pak Doyo terasa begitu maskulin dan menenangkan bagi Zaki.

"Masya Allah, Le... Kapan mulihe kowe kiii? Kok ora ngabari bapakne dhisik? Ya Allah, wis gedhe, dhuwur, gagah saiki kowe, Le..." (Masya Allah, Nak... Kapan pulangnya kamu ini? Kok tidak ngabari bapak dulu? Ya Allah, sudah besar, tinggi, gagah sekarang kamu, Nak...) cerocos Pak Doyo dengan mata yang basah oleh air mata kebahagiaan.

"Kemarin sore baru sampai rumah, Pak. Sengaja nggak ngabari, biar jadi kejutan, hehehe," jawab Zaki seraya mengurai pelukan mereka.

Pak Doyo mengusap sudut matanya yang berair, lalu menatap Zaki dengan senyum bangga yang luar biasa lebar.

"Alhamdulillah... Seneng banget atiku kowe bali, Le. Terus, piye kabarmu nang Jakarta? Sehat kabeh toh? Pakdemu Mardi piye kabare?" (Alhamdulillah... Senang sekali hatiku kamu pulang, Nak. Terus, gimana kabarmu di Jakarta? Sehat semua kan? Pakdemu Mardi gimana kabarnya?)

"Alhamdulillah, sehat kabeh, Pak. Pakde Mardi juga sehat, titip salam buat Pak Doyo katanya," jawab Zaki.

Pak Doyo mengangguk-angguk manggut. Matanya kemudian turun menatap pakaian yang dikenakan Zaki. Kaus berlapis kemeja flanel, celana jeans, dan sepatu boot karet. Bukan pakaian orang kota yang sedang berlibur, melainkan setelan khas orang yang siap bekerja kasar.

"Lha iki, kok dandanane koyo wong arep mlebu alas? Kowe njupuk cuti pirang dino soko kantor, Le? Arep ndelok-ndelok kebun toh? Kebunmu aman, subur kabeh, Le... Hasil panene yo alhamdulillah lumayan taun iki," (Lha ini, kok dandanannya seperti orang mau masuk hutan? Kamu ambil cuti berapa hari dari kantor, Nak? Mau lihat-lihat kebun ya? Kebunmu aman, subur semua, Nak. Hasil panennya ya alhamdulillah lumayan tahun ini,) lapor Pak Doyo dengan bangga, menunjuk ke arah rimbunnya pohon kopi di sekeliling mereka.

Zaki terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam bola mata Pak Doyo yang tulus.

"Pak Doyo..." panggil Zaki dengan nada yang berubah serius namun tenang.

"Dalem, Le? Ono opo?" (Iya, Nak? Ada apa?)

"Zaki ke sini bukan lagi cuti, Pak... Zaki udah resign. Berhenti kerja dari kantor di Jakarta," ungkap Zaki lugas.

Mata Pak Doyo membelalak. Keterkejutan kembali tergambar jelas di wajah keriputnya.

"Lho? Berhenti piye toh, Le? Gek terus, kowe arep piye? Arep adol kebun iki po piye?" (Lho? Berhenti gimana sih, Nak? Terus, kamu mau gimana? Apa mau jual kebun ini?) Suara Pak Doyo mendadak menyiratkan kekhawatiran. Takut jika warisan yang susah payah ia rawat ini akan berakhir dijual oleh sang pewaris.

Zaki buru-buru menggeleng sambil tersenyum hangat, menepis kekhawatiran itu.

"Mboten, Pak... (Tidak, Pak...) Zaki pulang untuk menetap. Zaki nggak akan jual rumah, dan nggak akan jual kebun ini sepetak pun."

Zaki melangkah mendekati sebatang pohon kopi, mengusap daunnya yang tebal dan berwarna hijau gelap.

"Zaki capek hidup di kota, Pak. Hati Zaki rasanya kosong. Makanya Zaki pulang. Zaki mau nerusin perjuangan almarhum Bapak. Zaki mau belajar bertani, mau ikut ngurus kebun ini langsung sama Pak Doyo. Pak Doyo mau, kan, ngajarin Zaki dari awal? Ngajarin cara mupuk, mangkas dahan, sampai panen kopi?"

Mendengar penuturan itu, pertahanan Pak Doyo runtuh.

Tangis keharuan pria tua itu pecah. Ia kembali merengkuh Zaki, kali ini dengan pelukan yang jauh lebih erat.

Beban moral yang selama ini ia pikul untuk menjaga warisan sahabatnya, kini menemukan ujung yang paling indah. Sang ahli waris tak membuang tanahnya, melainkan kembali untuk merawatnya.

"Alhamdulillah, Ya Allah... Alhamdulillah, Leee! Seneng, seneng banget atiku... Bapakmu nang alam kono mesti bangga banget ndelok kowe saiki, Le..." (Alhamdulillah, Ya Allah... Alhamdulillah, Naaak! Senang, senang sekali hatiku... Bapakmu di alam sana pasti bangga sekali melihatmu sekarang, Nak...) isak Pak Doyo sambil menepuk-nepuk keras bahu Zaki.

Zaki ikut tersenyum haru, matanya sedikit memanas. Di tengah rimbunnya kebun kopi, di bawah naungan pohon asam jawa, dan diiringi kicauan burung pagi, Zaki merasakan batinnya membumi dengan sangat kuat.

"Jadi, hari ini Zaki harus mulai kerja dari mana, Pak? Zaki udah bawa caping andalan almarhum Bapak, nih," canda Zaki setelah pelukan mereka terurai, menunjuk ke arah topi anyaman di tangannya.

Pak Doyo tertawa lebar sembari mengusap air matanya.

"Yo wis! Nek kowe wis mantep, ayo bismillah! Dino iki kowe tak ajari carane mbabati gulma sing bener, ben nutrisi lemahe ora kepangan suket liar! Ayo, jupuk arit nang gubuk kono!" (Ya sudah! Kalau kamu sudah mantap, ayo bismillah! Hari ini kamu bapak ajari caranya membabat gulma yang benar, biar nutrisi tanahnya tidak termakan rumput liar! Ayo, ambil sabit di gubuk sana!)

Zaki mengangguk semangat.

Ia meletakkan kembali caping di kepalanya, lalu melangkah mantap mengikuti arahan Pak Doyo menuju gubuk kayu di sudut kebun.

Pagi itu, tangan Zaki yang biasanya hanya menyentuh keyboard komputer, kini akan mulai berlumuran tanah dan getah.

Dan entah mengapa...

Ia belum pernah merasa sebahagia ini!

☺️☺️☺️

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semangat kak, otewe Tirakat selanjutnya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Alhamdulillah bisa baca on gong sampe tamat Tirakat 6 ini...

Salut sama Nisa pertama... luar biasa amanah nya patut diacungi jempol mendidik 2 anak gadis dengan kekurangan dan kelebihan masing masing sampe sesukses itu.

Salut juga sama Zaky
Kudu bertaruh nyawa dulu bwt mendapatkan kebahagiaan sejati nya.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Kek nya anak laki-laki itu next Tirakat wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Yuli juga bersyukur masih diberikan kesempatan hidup, jadi bisa penebusan dosa juga. klo misal matii nggak ada kesempatan tobat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semangat zaky semoga setelah menuhi janji ke yuli, pengakuan dosa di makam wiwi dan ortunya, trauma masa lalu kmu bisa hilang ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Cemburu ke masa lalu apalagi orang nya udah nggak ada itu percuma ya niss, buang waktu, pasti kalah yg hidup ...
jadi ya gimana lagi? legowo saja zaky dulu punya almarhumah dek wiwi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Akhirnya... yuli memaafkan juga kepengecutan zaky. mudah ya padahal tapi kudu sesatt dulu
falea sezi
🤣🤣 masih aja belomm move on sama wiwi gadis sok poloss🤣🤣🤣 makanya jangan ngeyel pake nikahin wiwi gadis. lemah
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya ya, Kak...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga... lagi lagi nanggung....

Zaky lgi dipermainkan mental nya sama yuli, diingat ingat dosa masa lalu nya. yuli udah mati kok msh nyebelin ya wkwkwk nggak kasian lgi dehh
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 😭😭😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
kebiasaan nanggung.

tapi patut diacungi jempol ki sukmo berjuang mempertahankan eksistensi nya sebagai dukunsaktii pesisir utara sampe titik darah penghabisan wkwkwk .

tapi tetep kasian sama yuli, dia yg sangat paling merugi.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ : wkwkwk udah berasa nkri harga matii
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Kasian sama yuli
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Taha 69
falea sezi
berasa liat film horor🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe... Maaf ya Kak Falea, kalau adegannya agak kurang detail atau malah agak lebay... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
lahh nanggung ya...

mantap zaki Tirakat nya nggak sia sia, puasa apa ya ngableng? nggak pake ajian atw rapal mantap bwt ngelawan ki sukmo hanya dengan nur tauhid+kalamullah.

next
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
biar emosi juga tetep ya manggil Yuli Mbak, ini brarti msh ada rasa hormat ke kaka ipar. biasanya klo orang emosi ya manggil orang nama saja.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nggak berasa tetiba habis. next kak

next babb keknya klo mereka ketemu ki sukmo trs yuli trs zaky bnyk kosakata umpatan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ishhhh vulgarrrr lahh
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astagfirullah 50 psk? seusia ibuku? ada sih, dandanan nya menor gitu nutupi kerutan tapi yg aku tau katanya yg udah sepuh gitu cuma bwt nemenin minum wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ya namanya juga dunia gelap... 😰😰😰
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Wahh iya Tirakat zaky nggak sia sia, dari darah dendam, bisa melacak keberadaan yuli dan dukun nya.

tapi awas zaky jngn terburu buru, yuli juga dukun nya nggak kaleng kaleng
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nahh gitu itu namanya kmu punya persiapan Zakk... klo tetiba cuma pke apa itu nggak ketemu, untung ada feeling hubungi pakde mardi klo nggak bisa hbs waktu kmu keliling cirebon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!