NovelToon NovelToon
Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa pedesaan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.

Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.

Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?

“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AVB 15

“Perempuan itu Marni. Dulunya pekerja papamu, sedari dulu dia memang menyimpan hati pada meneer. Pernah dulu beberapa kali kedapatan mengikuti meneer pergi, bahkan saat meneer ke kamar mandi, pernah juga terlihat mengintip dari balik jendela kamar saat papamu baru menikahi ibumu,” sambung Broto. 

Pria telah berusia lanjut, namun masih terlihat gagah itu beberapa hari ini secara khusus menyelidiki gubuk reyot milik Argono, hanya demi mengetahui wajah asli si wanita di balik kerudung panjang. 

Beruntung pada sore hari saat kantuk menyerang, lelah tak terelakkan, mata tajamnya menangkap sosok wanita yang dia kenal bernama Marni hanya berkemban jarik dengan rambut di gerai dan wajah penuh keringat, keluar dari dalam rumah, disusul laki-laki berkumis yang diyakini Dasim adalah Kasman—musuh bebuyutannya. 

Dahi mulus Anne mengernyit samar, gigi rapi menggigit sedikit bibir bawah yang mengering. “Lalu apa hubungan mereka? Kenapa begitu gencar menyerangku, dan apa hubungan Argono dengan keduanya?” 

“Bisa jadi Marni ini salah satu wanita nya Kasman. Dahulu, hampir semua wanita terkena bujuk rayu wedus berok itu, mana yang dia lihat dan dia inginkan pasti berusaha ia dapatkan demi sekedar melampiaskan nafsu semata. Gundik bapakmu pun juga bekasan dia, bahkan milik bersama sebab saat masih bersama bapakmu dia juga melayani pria bejat itu,” jelas Dasim. 

“Apa mungkin Argono anak hasil hubungan haram mereka?” Anne kembali melempar tanya, Broto berdiri di sebelahnya, turut menyimak demi mengurai benang kusut yang beberapa hari mengganggu ndoro kecilnya. 

“Kalau pemuda itu lebih muda darimu, jelas bukan. Kasman sudah kehilangan batang saktinya kurang lebih setahun setelah ibumu meninggalkan rumah Joglo Punjer. Sedang kalau kita menurut cerita pakde Broto, wanita itu masih bekerja di sini saat ibumu masuk ke rumah ini.” Dasim mengira-ngira kenangan yang melintas dalam pikirnya. 

“Bisa jadikan di luaran dia menjalin kasih dengan pak tua itu, kang Dasim bilang si pak tua itu edan selangkangan, tak menutup kemungkinan juga wanita itu tempat pelampiasan nafsunya,” ujar Anne mengambil benang merah dari cerita kedua orang kepercayaannya. 

“Bisa jadi juga pemuda itu anak dari bapak kandungmu,” celetuk Broto seraya mengambil sebatang kretek milik Anne, sudah biasa mereka berbagi tembakau bersama. “Ada baiknya kau menelpon ibumu untuk masalah ini, Nduk, agar kita tak salah sasaran saat bertindak.”

“Pak de Broto benar. Kang Dasim juga pernah mendengar selentingan, dulu sebelum gundik pertamanya gila dan meninggal dunia, Kartijo sempat membawa pulang seorang wanita, sedang hamil, sama persis dengan kejadian yang menimpa ibumu,” timpal Dasim. 

Anne tertawa kecil, pikirannya menerawang pada wajah lembut sang ibu. Di tengah rasa penasaran tentang siapa Argono, rasa rindu terasa lebih besar, menyusup dalam relung hati. Ia kemudian meninggalkan Broto dan Dasim, masuk ke dalam rumah setelah mencuci tangan di pojok halaman. 

Sedikit ragu ia memencet nomor tujuan, menunggu operator panggilan interlokal menyambungkan pada telepon rumah milik keluarganya yang berada nun jauh di Sumatera. Senyum hangat terbit dari wajah gadis ayu itu begitu mendengar suara lembut sang ibu. 

“Nduk, pripun kabare cah ayu … kenapa jarang sekali menelpon ibu, saat ibu telepon pun selalu mbak Wulan yang berbicara, apa kau begitu sibuk, Nak, atau sedang ada masalah yang menimpamu. Anne?” Suara lembut itu langsung mencerca. 

Anne menunduk sekilas, mengulas senyum masam. Ia tahu tak kan pernah bisa menyembunyikan masalah dari sang ibu, memilih jujur, menceritakan apa yang sedang terjadi sebelum bertanya tentang wanita yang bernama Marni. 

“Jadi ibu mengenal wanita itu?” Ia kembali mengulang tanya setelah sang ibu menceritakan sama persis seperti yang dikatakan Broto. 

“Ibu hanya tau dia menjalin kasih dengan bapakmu, Nduk. Kalau perihal anak, mungkin kau bisa bertanya pada wanita tua yang tinggal di panti werdha milik kerabat papa, dia masih tinggal di Joglo Punjer saat kejadian itu berlangsung,” jelas Sulastri, suara terdengar bergetar pertanda tengah menahan kesedihan. 

“Baik, lusa Anne akan pergi ke kota untuk menemui nenek tua dan cucunya,” balas Anne. 

“Bawakan beberapa buku gambar dan alat tulis, Anne. Ibu dengar, anak laki-laki itu sedang gemar menggambar.” Sang ibu kembali memberi titah. 

Anne mengangguk, tentu saja tak terlihat oleh ibunya, mulutnya sedikit ragu saat kembali ingin membuka suara. 

“Ibu … pa-papa ….” 

“Apa kau begitu angkuh sampai tak mau mengadu dengan papamu, Anne!” Suara tegas Petter menyerbu dari balik panggilan telepon interlokal. 

“Bukan begitu Papa, Anne hanya tak mau merepotkan Papa karena masalah kecil ini,” sanggah Anne. 

“Masa Lalu dan tuduhan keji atas ibumu kembali merebak, kau anggap masalah kecil?!” 

Pertanyaan Petter menghantam telak ulu hati Anne. Ia tahu sang papa mungkin akan diam jika hanya menyangkut masalah pertanian, namun ini menyangkut ibunya, wanitanya, harga dirinya. Jelas pria dulunya orang paling berkuasa di desa Lembah Bukit itu tak ‘kan diam begitu saja, mengusut tuntas mereka yang sudah asal bicara. 

“Minggu depan setelah panen tembakau terakhir, papa akan membawa ibu serta adik-adikmu pulang ke tanah Jawa. Papa sendiri yang akan memastikan mulut keji orang-orang itu memohon ampun pada ibumu,” lanjut suara tegas, terselip amarah didalamnya. 

“Tidak, Papa. Anne yang akan menyelesaikan ini semua dan memastikan orang-orang itu menyesal atas ucapan mereka. Mereka ingin menjatuhkanku, jika papa datang sama saja menunjukkan diri ini bocah penakut yang mengadu ketika dinakali temannya. Anne tak mau itu, sebab Anne bukan pengecut!” tolaknya, mantap. 

“Anneke Van Beek.”  

“Sekali ini saja, Papa. Jika Anne gagal, Anne terima tawaran papa untuk kembali bersekolah di Belanda,” pintanya sungguh-sungguh. 

“Kau memang persis seperti ibumu. Keras kepala.”

Panggilan interlokal pun berakhir setelah Anne selesai mendengarkan petuah dari dua orang tersayangnya, gadis itu masih terpaku di bangku samping meja telepon saat suara jahil Hans Williams menyapa dari depan pintu. 

“Anneke Van Beek, kau di tangkap karena beberapa hari sengaja menghindariku! Phyuuu … phyuuu!” 

Pemuda blasteran Eropa itu nyelonong masuk, langsung memukul pucuk kepala Anne dengan gulungan kertas yang tadi dia gunakan untuk pura-pura menembak gadis itu. 

“Kau datang di waktu tak tepat, Hans. Pikiranku sedang penuh saat ini!” hardik Anne, secepat kilat menepis tangan sang sahabat yang kembali ingin memukul pucuk kepalanya. 

“Pikiranmu itu, ‘kan memang selalu penuh, sebab otakmu kecil, sampai aku pun tak cukup berada di dalamnya,” cibir Hans, tanpa menyerah terus berusaha mengetuk kepala sahabat kecilnya. 

“Hans! Berhenti bersikap seperti bocah. Kau tak tau … kepala ku sudah nyaris pecah rasanya!” geram Anne, wajahnya memerah, bibir mengerucut seraya mendudukkan bokong di kursi kayu jati berbusa empuk. 

Hans mengikuti langkah sang sahabat, duduk berseberangan dengan Anne, lalu melemparkan gulungan kertas yang di pegangnya ke pangkuan gadis masih memasang raut masam. 

“Apa ini?” tanya Anne.

“Bukalah,” sahut Hans dengan gaya santai. 

“Aku sedang tak ingin main-main, Hans!” Anne melempar balik gulungan kertas ke arah Hans, air mukanya berubah bengis. 

“Aku sedang tak main-main, Anne. Kau sendiri yang mengatakan, jika ingin berjaya aku harus memanfaatkan ilmuku. Itu aku baru saja melakukannya, sekarang tinggal menunggu upah darimu,” tutur pria baru saja mengambil sebatang cerutu dari kotak tergeletak di atas meja kayu. 

“Hans Williams!” 

“Bukalah dulu, Nona Van Beek. Setelahnya barulah berkomentar,” sahut Hans, tetap santai menyulut batang cerutu, menghisap dalam sambil duduk bertopang kaki. 

Alis tebal Anne mengerut begitu membaca lembar pertama, mata semakin terbelalak kala melihat barisan tulisan tercetak diatas kertas putih di lembar kedua.

“Hasil pemeriksaan ….” 

Bersambung

1
Muhammad Arifin
embo komen OPO
❤️❤️❤️❤️❤️
Anna: Kakak hadir saja author sudah senang, terima kasih, kakak. 🫶
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
sabarr yaa hanss
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
Anna: "Kapan?" tanya Hans.
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Mbak Wulan
ada info apa
Anna: Sotonya sudah mateng.
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
pantesan tak tengok blm ada up
nayla tsaqif
Visualnya gk ada kah,, thorr,,?? 🤭
Anna: Sedang di persiapkan, untuk Anne sama yang ada di cover. 🙏
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
Kuhadiahi secangkir kopi unt pakde broto dkk biar kuat melek mengawasi cecunguk yg mau menebar pesrisida disawah
Anna: Di sampaikan matur nembah nuwun dari Pakde Broto and the gengsssss 🫶
total 1 replies
rama Rasyidin
sehat sehat Ndoro
Anna: Sendiko dawuh, Gusti. 🙏
total 1 replies
Lylia Yuu
udah bangkotan bjirrrr masih aja 😭
Anna: Nafsu bagai kuda 🫢
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
argono anake sopo jane
saudara tiri anne duduu ?
🍒⃞⃟🦅𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully: iyyuuhh , gimna itu sii kecebong meluncurr 🤣🤣🤣
total 2 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
walahhhh , .....
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
Anna: Pucek kalo kata anak sekarang. 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
itu ulahmu sendiri man, manukk di umbar sembarangan..
Anna: Di umbar banget nggak tuh 🤣
total 1 replies
Muhammad Arifin
kok gak kapok Kasman iku 😒😒
Anna: kapok lombok kalo kata orang Jawa 🤣
total 1 replies
Lylia Yuu
anak e amina 😭😭
Aisyah Suyuti
good
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
teman tapi menusuk di belakang
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
Anna: real bangetttt, ntar suatu saat tk masukin ke sebuah judul naskah 😆
total 3 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cangkem mu Maria
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅: 🤭 jiian
total 2 replies
Muhammad Arifin
kangenmu ngapusi 😒😒😒
Anna: hanya di bibir saja 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
hansss ohh hanss
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
Anna: Apapun cara akan ditempuh demi sang jelita ... eyaaaaa 🤣
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
siapa yg dendam ke maria
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria
Anna: Tebak. 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
itu pasti pakdhe broto
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!