WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!
Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.
Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.
"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas
"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boneka Untukku!
Kelopak mata Cecilia mengerjap perlahan, terasa begitu berat seolah direkatkan oleh lem. Hal pertama yang ia rasakan saat kesadarannya perlahan kembali adalah rasa kering yang membakar di kerongkongannya, seolah ia baru saja menelan serbuk pasir panas.
Sakit...
Bukan hanya tenggorokannya, sekujur tubuhnya terasa remuk redam. Persendiannya ngilu di setiap sudut, otot-ototnya kaku, dan ketika ia mencoba untuk sekadar menggerakkan jari kelingkingnya, tubuhnya terasa bagaikan agar-agar lemas total tanpa daya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Cecilia memaksakan bola matanya berputar meneliti ke segala arah. Kamar sempit dan sederhana di kosannya sudah tidak terlihat lagi. Sebagai gantinya, ia kini berada di dalam sebuah kamar tidur super mewah berukuran raksasa yang didominasi oleh nuansa warna abu-abu gelap dan perak yang elegan.
Cecilia sangat ingin bangkit duduk, mengambil segelas air untuk membasahi tenggorokannya yang menyiksa, namun tubuhnya benar-benar menolak untuk kompromi. Ia hanya bisa berkedip-kedip lemah, menatap hampa ke langit-langit kamar yang tinggi. Suaranya tertahan di dalam dada, bahkan untuk sekadar mendesah pun ia tidak sanggup, membuatnya terlihat begitu menyedihkan dan tak berdaya.
Ceklek.
Tiba-tiba, suara pintu kamar yang dibuka dari luar mengusik kesunyian. Cecilia menggeser bola matanya dengan susah payah ke arah pintu.
Sosok pria berpostur tinggi tegap melangkah masuk ke dalam ruangan. Jantung Cecilia langsung mencelos ngeri. Sosok pria itu... orang yang paling ia takuti di dunia ini.
Douglas!
Pria bermata biru itu berjalan mendekat dengan langkah tegap. Begitu melihat Cecilia sudah sadar dan membuka matanya, ada sedikit kejapan kaget yang terlintas di wajah tampan itu. Namun, dalam sedetik, ekspresi terkejut tersebut langsung lenyap, tergantikan oleh topeng dingin dan tanpa ekspresi yang selalu ia kenakan.
Douglas berdiri di samping ranjang, menatap wanita di atas ranjangnya dengan senyuman sinis yang tersungging di sudut bibirnya.
"Sudah bangun, hm?" ucap Douglas dengan suara baritonnya yang berat dan dingin.
"Kira-kira aku harus memuji ketahanan tubuhmu, atau menertawakan kebodohanmu yang mencoba lari dariku?"
Cecilia menatap tajam ke arah Douglas. Di dalam tatapannya yang lemah, terpancar kilatan amarah dan kebencian yang mendalam, seolah ia sedang menatap sosok penjahat paling keji di muka bumi.
Melihat tatapan itu, Douglas justru terkekeh pelan. "Kenapa menatapku seperti itu? Seolah-olah aku adalah penjahatnya saja. Padahal, yang berbuat salah dan mencoba kabur dari tanggung jawab itu adalah kamu, Cecilia."
Tanpa mempedulikan protes dalam diam yang terpancar dari mata Cecilia, Douglas meraih segelas air hangat di nakas. Pria itu menyangga punggung Cecilia dengan kasar namun pasti, membantu wanita itu duduk bersandar pada kepala ranjang.
Douglas mendekatkan gelas kaca itu ke bibir Cecilia yang masih pecah dan terluka.
"Minumlah. Aku tidak mau mainanku mati kelaparan atau dehidrasi sebelum hukumannya selesai."
Cecilia sebenarnya ingin menepis gelas itu. Ia merasa jijik dan benci setengah mati. Namun, rasa haus yang membakar tenggorokannya jauh lebih mendominasi. Dengan terpaksa dan air mata yang meleleh perlahan di sudut matanya, Cecilia meneguk air pemberian Douglas sedikit demi sedikit.
Begitu cairan sejuk itu membasahi kerongkongannya, rasanya bagaikan surga meskipun setiap gerakan menelan terasa menyiksa akibat robekan di bibirnya.
Setelah beberapa teguk, Douglas menarik gelas itu menjauh. Ia kembali membaringkan tubuh lemas Cecilia secara sembarangan ke atas kasur empuk, lalu menatap wanita itu dari ketinggian.
"Dengar baik-baik, Cecilia," ucap Douglas dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Mulai hari ini, dan seterusnya, kamu akan tinggal secara permanen di mansion ini."
Mata Cecilia membelalak ngeri.
"Mulai sekarang, fungsi utamamu adalah menjadi pemuas nafsuku kapan pun aku membutuhkanmu," lanjut Douglas tanpa belas kasihan, suaranya terdengar sangat keji.
"Kamu akan menjadi boneka seks pribadiku. Tidak ada lagi toko bunga, tidak ada lagi kebebasan murahan itu, dan tidak ada lagi pria-pria asing."
Mendengar kalimat keji tersebut, Cecilia menggelengkan kepalanya sekuat tenaga di atas bantal. Air matanya semakin deras mengalir.
"Tidak! Aku tidak mau!" jerit batin Cecilia histeris.
"Aku bukan Cecilia yang dulu! Aku adalah orang lain yang terjebak di tubuh ini! Dan sampai kapanpun, aku bukanlah wanita simpanan ataupun jalang rendahan yang bisa kalian perlakukan sesuka hati!"
Namun, sekuat apa pun ia berteriak di dalam hatinya, pita suaranya tetap kelu. Tidak ada satu pun suara yang keluar dari bibirnya selain desahan napas yang patah-patah.
Melihat kepala Cecilia yang terus menggeleng lemah, Douglas kembali tertawa kecil, sebuah tawa tanpa kehangatan yang mencerminkan kekejaman mutlak. Pria itu menunduk, mengulurkan jarinya untuk mengusap pelan bibir Cecilia yang masih berdarah dan terluka akibat perbuatannya semalam.
"Jangan mencoba untuk membantah atau menggelengkan kepala, Cecilia," bisik Douglas tepat di telinga wanita itu dengan suara rendah yang mengerikan.
"Semua penderitaan dan siksaan ini adalah akibat dari perbuatanmu sendiri. Ini adalah harga yang harus kamu bayar karena berani memilih memutuskan sepihak hubungan kita."
Cecilia hanya bisa menggigit bibir bawahnya yang terluka, menahan isak tangis yang tertahan di dalam dada. Tubuhnya sakit luar biasa hingga ke sumsum tulang, membuatnya tidak bisa bergerak barang sesentimeter pun untuk melawan.
Douglas menegakkan tubuhnya kembali, merapikan jasnya sekilas, lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan kamar tersebut tanpa menoleh lagi. Pintu kamar mewah itu tertutup rapat dengan bunyi klik pelan, mengunci Cecilia seorang diri di dalam sangkar emas yang berubah menjadi neraka.
Di dalam kesunyian kamar bernuansa abu-abu itu, Cecilia memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menjerit, meronta, dan memohon dalam hati, menyadari bahwa hidupnya kini benar-benar telah jatuh ke dalam cengkeraman sang iblis berdarah dingin.
Bersambung...
Dibayar berapapun ogah sih jadi simpanan Douglas.😒 Males banget pengen author suntik mati!.
ati2 cecil🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
mungkin methong kedua kali cil baru bebas