NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mawar yang Terlupa

Di balik senyum tenang yang Bima pamerkan di hadapan semua orang, ada satu hal yang tak pernah berhenti mengganggu pikirannya. Yaitu keberadaan Mawar.

Karena itu, sejak hari pertama Jingga dibawa pergi, Bima diam-diam menyewa orang-orang yang bisa dipercaya. Ia memberi perintah mencari keberadaan Mawar, hidup atau mati.

"Jangan ada yang tahu soal ini. Jika ada kabar, langsung datang kepadaku. Jangan bercerita pada siapa pun." pesan Bima berulang kali.

Minggu berganti bulan. Kabar yang datang hanyalah ketiadaan. Pencarian terasa sia-sia, hingga suatu hari seorang pria yang dipercayai Bima datang dengan napas memburu, wajah berkeringat namun matanya berbinar, bukan bahagia, melainkan terkejut.

"Tuan Bima... kami menemukan nona Mawar."

Jantung Bima berdegup kencang seketika, namun ia berusaha tetap tenang. "Di mana?"

"Jauh ke bawah, mengikuti aliran sungai besar yang membelah hutan. Tersangkut di tepian, lalu dibawa oleh sepasang orang tua yang tinggal sendirian di gubuk kayu, jauh dari pemukiman. Mereka pikir gadis itu korban tersesat yang terbawa arus."

"Hidup?" tanya Bima pelan, meski takut mendengar jawabannya.

"Hidup, Tuan. Tapi..." Pria itu terdiam sejenak, menatap ragu. "Ia sepertinya tidak ingat siapa dirinya. Orang tua itu bilang gadis itu ditemukan dalam keadaan bingung, tak tahu nama, tak tahu asalnya. Hanya diam, menatap kosong, kadang bertanya di mana ia berada."

Satu detik itu, dunia Bima seakan berhenti berputar, lalu berputar kembali lebih cepat dari sebelumnya. "Ia tidak ingat? Mawar lupa?"

Rasa takut yang semula menyergap dadanya perlahan berubah, berganti menjadi sesuatu yang lain, secercah harapan yang tumbuh cepat, menyebar hangat di dada yang selama ini terasa beku.

"Bawa aku ke sana sekarang," perintah Bima, suaranya tak lagi gemetar.

Perjalanan memakan waktu hampir setengah hari, melewati jalan setapak yang licin, menyeberangi jembatan gantung yang bergoyang tertiup angin, hingga akhirnya sampai di sebuah gubuk kayu sederhana di tepi sungai yang airnya jernih namun berarus deras. Di sana, di bawah pohon rindang yang daunnya berdesir lembut, Bima melihatnya.

Mawar sedang duduk di bangku kayu, menatap permukaan air yang berkilauan terkena cahaya sore. Wajahnya masih sama, lembut, namun pucat, matanya yang dulu cerah kini tampak samar, seakan terselubung kabut tebal. Ada luka samar di pelipisnya, rambut panjangnya terurai namun tak lagi rapi seperti dulu.

Saat langkah kaki Bima terdengar mendekat, Mawar menoleh perlahan. Tatapannya bingung, waspada, namun tak ada kilatan pengenalan sedikit pun.

"Siapa Anda?" tanya Mawar pelan, suaranya halus namun asing.

Bima berhenti sejenak, menelan ludah. Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan gadis itu, menatapnya dengan tatapan yang dibuat-buat penuh kerinduan dan kepedihan.

"Mawar..." panggilnya lembut, seakan menahan tangis. "Akhirnya... akhirnya aku bisa menemukanmu."

Alis Mawar berkerut perlahan. "Mawar... Apakah itu namaku?"

"Itu namamu, sayang. Mawar." Bima mengulurkan tangan, menyentuh perlahan pipi gadis itu. "Dan aku... aku Bima. Suamimu."

Mawar menarik wajahnya sedikit, mundur, matanya menyipit. "Suamiku?"

"Ya. Kita sudah menikah." Bima tersenyum tipis, penuh kesedihan yang dipentaskan dengan sempurna. "Kau hilang, Mawar. Semua orang mencarimu. Aku... aku hampir putus asa mencarimu."

Gadis itu terdiam, menatap Bima lekat-lekat, seakan mencoba mencari sesuatu di balik wajah itu, satu kenangan, satu bayangan yang kembali. Namun tak ada apa-apa. Hanya kekosongan, samar dan dingin.

"Aku... tidak ingat," ucap Mawar lirih.

"Kepalaku terasa berat. Seperti ada bagian yang hilang." tangan Mawar menyentuh keningnya yang masih terasa nyeri.

Bima menggenggam kedua tangan Mawar, mengusap punggungnya perlahan. "Tidak apa-apa. Tidak perlu memaksakan diri. Luka di kepalamu membuatmu lupa sementara. Tidak apa-apa, aku di sini sekarang. Aku akan mengurusmu. Kita akan pulang bersama."

Dari pintu gubuk, sepasang lansia pemilik rumah menatap mereka dengan senyum iba. "Sudah kami katakan, sepertinya dia kehilangan ingatan karena benturan saat jatuh," ucap si kakek. "Dia tidak pernah menyebutkan nama atau keluarga. Hanya diam saja."

"Terima kasih sudah merawat istri saya selama ini, kalian tak tahu betapa berartinya ini bagi saya." ucap Bima kepada mereka dengan tulus.

Sore itu juga, Bima membawa Mawar pergi. Sepanjang perjalanan pulang, ia bercerita, tentang rumah mereka, tentang kebahagiaan mereka, tentang betapa ia merindukan Mawar. Semua itu direka, disusun menjadi kisah yang indah namun tak benar sedikit pun. Dan Mawar mendengarkan, menatap Bima perlahan, sedikit demi sedikit mulai menerima keterangan itu sebagai kebenaran.

Sesampainya di rumah, suasana yang dulu terasa mencekam kini berubah. Bima mengurus segala kebutuhan Mawar sendiri, tak membiarkan siapa pun berbicara terlalu banyak dengan gadis itu. Setiap kali ada tetangga yang datang, Bima akan berdiri di samping Mawar, tersenyum lembut, berkata. "Dia belum pulih sepenuhnya. Jangan tanya-tanya hal yang bisa membuatnya bingung."

Mawar sering bertanya hal-hal yang membuat jantung Bima berdegup cepat.

"Mas... siapa Bu Gendis? Dan siapa Jingga? Bu Mira bilang mereka keluargaku. Tapi Kenapa mereka tidak datang?" tanya Mawar setelah selesai berbincang dengan salah satu tetangga yang datang untuk menjenguknya, saat itu mereka duduk di beranda menatap langit yang bertabur bintang.

Bima menghela napas panjang, meletakkan tangannya di atas tangan Mawar. "Ibu sudah pergi, Sayang. Sedangkan Jingga... dia sedang sakit, sakit yang membuatnya harus berada di tempat khusus. Dia butuh istirahat jauh dari sini."

Mawar mengerjapkan matanya, sedih. "Mas, bagaimana hubunganku dengan mereka? Rasanya... ada perasaan berat di dada setiap kali nama mereka disebut."

"Itu hanya perasaan karena ingatanmu belum kembali," jawab Bima tenang, meremas pelan jemari mawar. "Kau orang yang baik, Mawar. Kau tidak pernah menyakiti siapa pun. Percayalah padaku."

Gadis itu menatap Bima, perlahan mengangguk. "Baik. Aku percaya padamu, Mas."

Kata-kata itu terdengar begitu polos, begitu tulus, namun bagi Bima rasanya seperti belati yang menusuk pelan. Namun ia tak membiarkan keraguannya terlihat. Ia tersenyum, menarik Mawar ke dalam pelukannya.

"Aku akan menjagamu. Tidak akan ada yang menyakitimu," ucap Bima pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada gadis itu.

Hari-hari berlalu. Mawar mulai terbiasa dengan kehadiran Bima. Ia mulai tertawa lagi, meski kadang masih terhenti di tengah tawa, menatap kosong seakan ada sesuatu yang ingin kembali namun tak bisa dijangkau. Bima selalu ada di sampingnya, mengalihkan pembicaraan, menenangkan, meyakinkan. Ia menjadi segalanya bagi Mawar, ingatan, penuntun, satu-satunya tempat bergantung.

Namun, suatu pagi, saat Mawar sedang berjalan-jalan di pinggir hutan dekat rumah, ia berhenti tiba-tiba. Angin berhembus membawa aroma yang samar, bau tanah basah, dedaunan, dan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat jantungnya berdegup tak menentu. Gambar-gambar kabur melintas cepat di benaknya.

Mawar memegangi kepalanya, menahan rasa pusing yang tiba-tiba datang.

"Mas..." gumamnya pelan.

Tepat saat itu, Bima muncul dari balik pepohonan, wajahnya cemas. "Kenapa pergi sendirian? Aku mencarimu."

"Aku... tiba-tiba teringat sesuatu," ucap Mawar, matanya menatap tak yakin. "Ada seseorang... seseorang yang berteriak nama seseorang. Dan suara jatuh... suara tubuh menghantam batu."

Wajah Bima mengeras sejenak, namun seketika kembali lembut. Ia mendekat, mengusap kening Mawar.

"Itu hanya mimpi buruk yang tertinggal di kepalamu, Sayang. Tidak ada yang benar-benar terjadi seperti itu. Kau hanya tersesat dan terjatuh, lalu terbawa arus. Itu saja."

"Benarkah?" tanya Mawar, matanya masih ragu.

"Benar. Aku tak akan pernah membohongimu," jawab Bima mantap, menatap lurus ke manik mata gadis itu. "Aku satu-satunya yang kau miliki sekarang. Percayalah hanya padaku."

Mawar mengangguk pelan, perlahan keraguan di matanya mereda. "Baik. Aku percaya padamu, Mas."

Namun di sudut hati yang paling dalam, terselubung dan tak terjamah, ada secercah keraguan yang tak benar-benar hilang. Seperti benih kecil yang tertanam, diam, namun hidup, menunggu waktu untuk tumbuh.

Bima menarik Mawar pulang, berjalan di sampingnya, menahan napas. Ia tahu ia belum benar-benar aman. Selama ingatan itu belum benar-benar hilang, selama bayang-bayang masa lalu itu masih mengintai, ia harus tetap waspada. Namun untuk saat ini, ia telah menang. Mawar ada di sisinya, miliknya, bergantung sepenuhnya pada kata-katanya. Dan Bima akan memastikan dengan segala cara, bahwa hal itu tetap demikian.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!