Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Kuda-Kudaan di Atas Awan dan Ancaman Ranjang Tunggal
"Nggak mau! Maunya panggil Om! Om Kaku! Om Robot!" ejek Sella sambil menjulurkan lidahnya tanpa rasa takut.
"Lo bener-bener mancing macan tidur ya..." desis Adit dengan mata menyipit tajam.
"Apa?! Mau apa?! Mau gantung aku di Menara Eiffel kayak ancaman Papa?!"
Sella justru makin berani menantang. Dengan gerakan nekat akibat sisa gejolak kekesalannya, ia melompat dari kursinya dan mendarat tepat di pangkuan Adit di dalam area suite mereka yang sempit namun privat.
Hap!
Tangan mungil Sella langsung menyambar rambut klimis Adit yang sudah ditata rapi dengan pomade mahal. Ia menjambaknya ke kiri dan ke kanan seolah sedang memacu kuda pacuan di arena balap liar.
"Aduh! Sshhh... Sakit, Sel! Turun nggak lo! Rambut gue bukan akar pohon!" pekik Adit, mencoba melepaskan cengkeraman kuat tangan Sella di kepalanya.
"Nggak mau! Rasain! Ini pembalasan karena lo udah bikin gue gagal kuliah desain di Paris secara normal!" Sella makin beringas. "Gue aduin ke Papa biar lo disiksa karena KDRT psikis!"
"KDRT apanya?! Gue yang lagi disiksa secara fisik di sini!"
Adit akhirnya kehilangan kesabaran. Dengan satu gerakan sentakan yang cepat dan taktis, ia mencekal kedua pergelangan tangan Sella dan menguncinya di atas kepala gadis itu, menekan tubuh Sella agar diam tak berkutik di pangkuannya.
Suasana mendadak hening seketika. Hanya terdengar deru mesin pesawat yang sayup-sayup dari luar kabin suite mereka. Posisi mereka mendadak menjadi sangat intim. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja, hingga deru napas mereka saling berkejaran. Mata Adit yang tadinya penuh amarah, mendadak berubah menjadi gelap, dalam, dan tajam menatap langsung ke manik mata Sella.
"Dengerin gue baik-baik, Sella," bisik Adit, suaranya rendah dan serak tepat di depan bibir Sella. "Jangan pernah mancing emosi gue kalau lo nggak siap sama konsekuensinya. Gue bisa aja lepas kendali sekarang, dan gue pastiin besok pagi lo nggak bakal bisa jalan buat turun dari pesawat ini. Ngerti?!"
Sella tertegun. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang yang bertalu-talu. Aura pria kaku sekaku robot itu lenyap, digantikan oleh sosok pria dewasa yang sangat berbahaya bagi pertahanan mentalnya.
"O-om... galak banget..." cicit Sella mendadak ciut. Ia buru-buru melompat turun dari pangkuan Adit secepat kilat begitu kuncian tangannya dilepas.
Ia kembali ke kursinya sendiri, meringkuk, dan pura-pura sibuk membetulkan selimut wolnya untuk menutupi wajahnya yang memerah padam.
Adit membuang muka ke arah jendela kaca tebal, mencoba mengatur kembali detak jantungnya yang mendadak kacau. Harum parfum vanila dan stroberi manis milik mahasiswi berusia 19 tahun itu kini menempel lekat di bajunya, merusak konsentrasi dan wibawa korporatnya dalam sekejap.
"Pramugari!" panggil Adit melalui tombol layanan darurat di dinding.
"Bawakan segelas air es. Yang banyak esnya!"
Sella melirik sinis dari balik gulungan selimut. "Haus, Om? Apa lagi panas dalam?"
Adit hanya memejamkan mata rapat-rapat. "Sella... kalau lo ngomong satu kata lagi sebelum kita mendarat, gue beneran bakal minta pilot buat emergency landing di padang pasir biar lo gue tinggal di sana bareng unta."
Sella langsung membungkam mulutnya rapat-rapat, namun dalam hati ia tersenyum puas. Setidaknya, ia tahu satu hal: sang CEO hebat yang kaku ini ternyata punya titik lemah yang mudah kepanasan jika didekati secara fisik.
****
Udara dingin Kota Paris menyambut kedatangan mereka di Bandara Paris-Charles de Gaulle tepat pukul lima pagi waktu setempat. Sella, yang selama di dalam pesawat galaknya minta ampun, kini berjalan mengekor pasrah di belakang langkah tegap Adit seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
Adit melangkah lebar dengan setelan jas yang sudah rapi kembali—seolah drama jambak-jambakan di atas awan tadi tidak pernah terjadi sama sekali. Sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik sudah menunggu di lobi penjemputan luar. Sopirnya, seorang pria Prancis paruh baya bernama Jean, membungkuk memberikan hormat.
"Selamat datang kembali, Monsieur Abraham. Dan... ini Nyonya?" tanya Jean dalam bahasa Inggris dengan aksen Prancis yang kental.
Adit berdehem pelan, sedikit merasa canggung secara mental. "Ya, Jean. Istri saya. Langsung ke apartemen, saya butuh mandi air panas sebelum berangkat ke kantor cabang."
Sella hanya bisa melongo mendengar kalimat itu. Istri saya? Kata-kata itu terdengar sangat aneh dan tidak lazim keluar dari mulut pria kaku ini. Ia masuk ke dalam kabin mobil yang hangat dan menempelkan wajah bantalnya ke kaca, menatap jalanan sunyi Paris yang masih remang ditelan fajar.
****
Apartemen Adit terletak di kawasan elit Avenue Montaigne, dengan pemandangan langsung ke arah kemegahan Menara Eiffel. Begitu pintu penthouse mewah itu terbuka secara otomatis, Sella langsung berseru takjub melihat interior minimalis yang sangat berkelas. Lantai marmer yang mengkilap, jendela kaca raksasa, dan furnitur bermerek kelas dunia peninggalan para desainer papan atas.
"Wah... Om, ini rumah apa istana? Mewah banget! Gue boleh lompat-lompat di sofa itu nggak?" Sella sudah bersiap melepaskan ransel beratnya di atas lantai.
"Jangan panggil gue Om, dan dilarang lompat di sofa seharga satu mobil mewah itu," potong Adit datar. "Sana masuk, bawa koper lo. Kamarnya ada di sebelah sana."
Sella berlari kecil menuju pintu kayu besar di ujung lorong mewah. Namun, begitu ia membukanya, jantungnya seolah berhenti berdetak di tempat. Ia berdiri mematung di ambang pintu. Kamarnya sangat luas dengan balkon pribadi yang romantis. Namun, masalah besarnya hanya satu: di tengah ruangan itu hanya ada satu ranjang king size yang dilapisi seprai sutra abu-abu gelap.
"Om... eh, Mas Adit!" teriak Sella panik dari ambang pintu.
Adit muncul di belakang tubuh Sella, melonggarkan dasi sutranya dengan gaya santai tanpa beban. "Apa lagi? Jangan bilang lo mau minta seblak lagi sekarang di Paris."
"Ini... ini maksudnya apa?!" Sella menunjuk ranjang raksasa itu dengan jari yang gemetar hebat. "Kamar lo cuma satu? Terus gue tidur di mana? Di balkon?!"
Adit menyandarkan bahu tegapnya di kusen pintu, menatap Sella dengan tatapan mata yang malas. "Ya tidur di kasur itu lah. Masa lo mau tidur di mesin cuci? Apartemen ini emang didesain buat satu orang lari dari keramaian, Sella. Gue nggak pernah punya rencana membawa rombongan sirkus ke sini."
"Nggak mau! Gue nggak mau tidur seranjang sama lo!"
Sella bersedekap dada, wajah cantiknya memerah padam. "Gimana kalau pas tidur lo tiba-tiba berubah jadi serigala terus menerkam gue? Gue ini mahasiswi yang masih mau kuliah kuliah desain, Om! Belum mau punya buntut anak kecil!"
Adit melangkah masuk dengan santai, melewati posisi berdiri Sella dan melempar jasnya ke atas kursi. Ia mendadak berbalik, melangkah mendekati Sella hingga gadis itu mundur perlahan sampai punggung mulusnya membentur dinding kamar. Adit meletakkan satu tangan kekarnya di tembok, mengurung pergerakan Sella sepenuhnya.
"Dengar ya, Nyonya Manja bin berisik," bisik Adit dengan nada suara rendah dan serak yang sukses membuat bulu kuduk Sella berdiri seketika.
"Gue ini capek. Gue punya rapat direksi tiga jam lagi di kantor. Gue nggak punya sisa energi buat menerkam mahasiswi manja kayak lo. Kalau lo takut, lo bisa tidur di lantai. Tapi kalau mau kasur empuk, batasnya adalah guling di tengah. Paham?!"
Sella menelan ludahnya dengan susah payah, sepasang mata bulatnya menatap Adit dengan rasa ngeri sekaligus berdebar aneh. Jarak mereka yang terlampau dekat membuatnya bisa mencium aroma aftershave Adit yang sangat maskulin.
"Gulingnya harus dua! Terus lo nggak boleh lewat garis khatulistiwa guling itu! Kalau lo lewat, gue tendang aset lo sampai pingsan jilid dua!" ancam Sella ketus demi menutupi rasa gugupnya.
Adit mendengus pelan, lalu menjauhkan wajah tampannya. "Terserah. Sana mandi duluan. Bau matahari lo udah sampai ke Menara Eiffel."
"Ihhh! Dasar drakula nggak punya perasaan!"
Sella menyambar tas bajunya dan lari masuk ke dalam kamar mandi mewah, membanting pintunya dengan sangat keras.
JEGLEG!
Di dalam kamar mandi yang serba marmer, Sella memegangi dadanya yang berdegup kencang, menatap pantulan dirinya di cermin besar.
"Tenang Sella, tenang... dia cuma drakula kaku. Dia nggak bakal macam-macam. Tapi kok... tadi pas dia dekat gitu, gantengnya makin nggak sopan sih?" gumamnya kesal pada diri sendiri.
Sementara itu di luar, Adit mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menatap ranjangnya, lalu beralih menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
"Kenapa gue jadi deg-degan begini? Ingat Adit, dia itu adiknya sekretaris lo. Dia itu mahasiswi semester awal!"
Adit merebahkan dirinya di sofa ruang tengah sebentar, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang. Namun, bayangan Sella yang hanya memakai tanktop tipis di hotel kemarin mendadak melintas tanpa izin di dalam kepalanya, mengacaukan logika bisnisnya.
"Sial... kayaknya gue emang butuh mandi air es seember," rutuk Adit frustrasi.
****
Sementara itu, di sebuah mansion bergaya Gothic yang angker namun sangat mewah di sudut lain jantung Kota Paris, atmosfer di dalam ruang kerja pribadi terasa lebih dingin daripada cuaca di luar sana.
Same Smith Abraham, pria blasteran Indo-Prancis-Amerika berusia 30 tahun dengan garis wajah setajam silet, berdiri mematung di depan dinding kaca raksasa. Rahangnya mengeras rapat, urat-urat di lehernya menonjol tegang menahan amarah yang membakar jiwa. Di pantulan kaca besar, sepasang matanya yang berwarna abu-abu gelap berkilat haus darah.
BRAKK!
Sebuah tablet mahal melayang dari tangannya dan menghantam meja jati dengan dentuman keras, nyaris mengenai jemari pria berusia 40-an yang saat itu sedang berdiri gemetar ketakutan di sana.
"Kamu sama saja dengan yang lain. Sama-sama tidak becus, Gerald!" suara Same terdengar sangat rendah, namun mengandung daya ledak intimidasi yang mengerikan.
Gerald, sang tangan kanan kepercayaan, tersentak mundur satu langkah dengan wajah pucat. Ia berusaha sekuat tenaga mengatur napasnya yang memburu.
"Apa maksud Anda, Tuan? Saya sudah berhasil menyusup ke dalam sistem keamanan hotel Paris. Saya sudah mengambil bukti rekaman kamera tersembunyi itu dan terbukti... rencana kita berhasil menjebak Raditama."
Same berbalik badan secara perlahan, sebuah seringai meremehkan yang sangat kejam tersungging di bibirnya yang tipis. Ia melangkah mendekati Gerald, memberikan tekanan intimidasi yang luar biasa besar hingga membuat atmosfer ruangan terasa mencekik saraf.
"Apa kamu pikir aku ini bodoh? Atau memang otakmu sudah karatan karena usia, Gerald? Apa kamu tidak mengecek isi dari rekaman itu sampai tuntas sebelum membanggakannya dengan sombong di depanku?"
Same berdecih sinis dengan mata menyipit. "Target utama kita adalah skandal asusila berat yang sanggup menghancurkan reputasi bisnis Abraham Company di lantai bursa saham internasional malam ini juga! Tapi apa yang kudapatkan dari laporanmu? Mereka hanya bermain kuda-kudaan! Tidak lebih!"
Gerald mengernyit kebingungan, seluruh wajahnya menegang kaku menahan takut. "Kuda-kudaan? Justru bagus, kan, Tuan? Bukankah itu bukti perbuatan ranjang yang kita inginkan untuk menghancurkan nama baiknya di depan publik?"
"BODOH KAU, GERALD!"