NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Kakak Ipar Kenal Kamu?

"Sampai ketemu, Kak," kata Nathan dengan senyum tipis.

Kevin menoleh dari Nathan ke Karina. "Kalian sudah kenal?"

"Nggak," jawab Karina terlalu cepat.

Nathan menarik kursi di sebelahnya. "Pernah ketemu."

"Di mana?" Kevin semakin penasaran.

Karina duduk agar lututnya tidak terlihat gemetar. "Di sebuah acara. Cuma lewat."

"Di hotel," tambah Nathan.

Karina menginjak sepatunya di bawah meja.

Nathan tidak berkedip. Dia malah menuangkan air ke gelas Karina. "Hotel Astoria."

"Acara kantorku memang di sana," kata Karina cepat.

Kevin menerima penjelasan itu. "Jakarta kecil banget. Nathan baru balik dari Singapura malam itu."

"Benar," sahut Nathan. "Aku langsung dapat sambutan hangat."

Karina tersedak air.

Jason menepuk punggung Kevin sambil tertawa. "Temanmu ini kalau bicara selalu bikin orang salah paham."

"Memangnya sambutan apa?" tanya Kevin.

"Pelukan," jawab Nathan.

Karina menendang kakinya lagi. Kali ini Nathan menangkap ujung sepatunya di antara kedua kaki, menahan agar dia tidak bisa menariknya. Wajahnya tetap tenang di atas meja.

"Dari siapa?" Kevin belum berhenti.

"Orang yang sedang panik di lobi."

"Kasihan."

"Iya. Kasihan sekali sampai aku masih memikirkannya."

Karina menarik kaki sekuat tenaga. Nathan akhirnya melepaskan, lalu menatap gelas seolah tidak baru saja menyiksanya di bawah meja.

"Kalian pesan apa?" Karina buru-buru mengalihkan pembicaraan.

Kevin menunjukkan menu paket keluarga. Karina membantu memilih hidangan, bertanya tentang nilai kuliah, dan menegur adiknya karena terlalu sering melewatkan sarapan. Nathan mendengarkan semuanya dengan perhatian yang membuatnya tidak nyaman.

"Cici masih mengirim uang terlalu banyak," keluh Kevin. "Aku sudah bilang uang kos dibayar Papa."

"Simpan untuk kebutuhan kamera."

"Tapi Cici juga punya cicilan."

"Aku bisa mengatur."

Nathan menyandarkan siku di kursi. "Dia memang suka mengurus semuanya sendiri."

Karina menatapnya. "Kamu tahu dari mana?"

"Kelihatan."

Rio bertanya apakah Karina benar bekerja di agensi yang menangani merek kosmetik terkenal. Pembicaraan berpindah ke kampanye iklan. Karina menjelaskan tanpa sadar menjadi lebih hidup. Nathan tidak menyela lagi. Dia hanya memandang Karina seperti sedang mencatat setiap perubahan ekspresi.

Ketika Karina pergi ke toilet, Nathan berdiri hendak mengikuti. Kevin menarik lengannya.

"Ko, jangan goda Cici terus. Dia sudah menikah."

Nathan kembali duduk. "Bahagia?"

"Apa?"

"Pernikahannya bahagia?"

Kevin mengangkat bahu. "Kurasa. Cici jarang cerita. Dia selalu bilang baik-baik saja."

"Kamu nggak pernah lihat suaminya menyakiti dia?"

"Andri? Nggak. Kenapa tanya begitu?"

"Nggak apa-apa."

Nathan menatap pintu toilet. Informasi bahwa Karina menyembunyikan perceraian dari adiknya membuat kekesalannya sedikit mereda. Dia tetap tidak suka disebut orang asing, tetapi sekarang dia tahu ketakutan Karina bukan hanya tentang usia atau rasa malu. Satu kalimat darinya bisa meledakkan seluruh keluarga perempuan itu.

Saat Karina kembali, Nathan tidak lagi mengucapkan sindiran. Perubahan itu justru membuatnya curiga.

Rio dan Jason memperkenalkan diri. Pembicaraan bergerak ke proyek foto Kevin, tugas kampus, dan restoran yang ingin mereka coba. Karina berusaha ikut tersenyum, tetapi setiap kali dia mengangkat wajah, tatapan Nathan sudah menunggu.

"Cici, Nathan yang pinjami kamera waktu punyaku rusak," kata Kevin. "Dia juga bantu edit sampai pagi."

"Baik sekali," jawab Karina datar.

"Aku memang baik," kata Nathan.

"Kadang," sela Rio. "Kalau lagi nggak menyebalkan."

Nathan menggeser piring sambal ke arah Karina. "Kakaknya Kevin ternyata galak, ya?"

"Cici memang galak," jawab Kevin polos. "Tapi sebenarnya perhatian."

"Aku tahu."

Karina kembali menginjak kakinya, kali ini lebih keras. Nathan menahan senyum sambil mengambil makanan.

Pelayan datang membawa hidangan. Nathan meletakkan sayuran di piring Karina tanpa bertanya dan menyingkirkan udang setelah melihat Karina tidak menyentuhnya.

"Kok kamu tahu Cici alergi udang?" tanya Kevin.

Tangan Karina berhenti.

Nathan menjawab tenang, "Tadi dia bilang ke pelayan."

Padahal Karina tidak pernah mengatakannya malam ini. Dia pernah menyebutnya sambil lalu di kamar hotel ketika Nathan hendak memesan makanan.

"Pendengaranmu bagus," kata Karina.

"Kalau soal Kak, ingatanku juga bagus."

Kevin tertawa karena mengira itu godaan biasa. "Cocok nih. Cici lagi butuh teman supaya nggak kerja terus."

"Kevin," tegur Karina.

"Apa? Andri juga jarang menemani Cici."

Nama itu mengubah ekspresi Nathan. "Andri siapa?"

"Kakak iparku."

Nathan memutar gelas perlahan. "Kakak ipar kenal aku?"

Karina menatapnya tajam. "Tidak perlu."

"Sayang sekali."

Di bawah meja, ponsel Karina bergetar. Pesan dari nomor yang belum sempat diblokir.

Jadi aku ini cuma "pernah lewat"?

Karina membalas tanpa melihat Nathan.

Diam atau aku pulang.

Jawaban datang segera.

Kalau pulang, aku antar.

Karina mengunci layar.

Setelah makan, Kevin pergi ke kasir. Nathan menyusul dan lebih dulu menempelkan kartu hitam ke mesin pembayaran. Kevin memprotes karena acara itu seharusnya traktirannya.

Karina memperhatikan kartu hitam tersebut. Tidak ada logo bank lokal yang dia kenal, hanya lambang kecil berwarna perak. Nathan memasukkannya kembali sebelum dia bisa melihat lebih jelas.

"Aku ganti setengahnya," kata Karina.

"Nggak usah."

"Aku datang sebagai kakak Kevin. Seharusnya aku ikut membayar."

"Kalau begitu traktir aku lain kali."

"Tidak ada lain kali."

"Kamu selalu bilang begitu sebelum kita bertemu lagi."

Rio dan Jason tertawa mendengar pertengkaran mereka. Kevin malah tampak senang.

"Cici cocok ngobrol sama Ko Nathan. Biasanya Ko Nathan malas meladeni orang."

"Aku juga malas," kata Karina.

Nathan membungkuk sedikit agar hanya dia yang mendengar. "Tapi kamu meladeniku terus."

Karina memelototinya, lalu mengambil tas. Di pintu restoran, tali tasnya tersangkut di sandaran kursi. Nathan membebaskannya dengan satu gerakan dan jarinya sempat menyentuh pinggang Karina. Sentuhan kecil itu membuat punggungnya menegang.

"Santai," bisik Nathan. "Aku nggak akan mencium kamu di depan adikmu."

"Aku bisa menamparmu."

"Itu juga terlalu mesra untuk orang asing."

"Anggap hadiah karena proyekmu selesai," kata Nathan.

"Tapi mahal, Ko Nathan."

Panggilan Kevin membuat Karina semakin sesak. Pemuda yang dipanggil Ko Nathan oleh adiknya adalah lelaki yang beberapa malam lalu tidur satu ranjang dengannya.

Di depan teman-temannya, Nathan tampak seperti mahasiswa kaya yang murah hati. Hanya Karina yang tahu bagaimana suaranya saat berbisik dekat telinga.

"Cici kenapa pucat?" Kevin menyentuh lengannya.

"Capek. Aku pulang dulu."

"Aku antar," kata Kevin.

"Nggak perlu. Kamu sama teman-teman saja."

Karina berpamitan dan berjalan cepat menuju lorong restoran. Dia baru mengambil ponsel untuk memesan kendaraan ketika langkah Nathan terdengar di belakang.

"Kamu benar-benar mau kabur lagi."

Karina berbalik. "Apa maumu?"

"Jangan pura-pura nggak kenal."

"Di depan Kevin, kita memang nggak saling kenal."

"Aku teman sekamarnya. Kamu kakaknya. Mulai sekarang kita akan sering bertemu."

"Itu alasan lebih kuat untuk menjaga jarak."

Nathan mendekat. "Karena malu tidur dengan teman adikmu?"

Karina menariknya ke lorong samping sebelum ada orang mendengar. "Pelankan suaramu."

"Takut Kevin tahu?"

"Dia akan salah paham."

"Bagian mana yang salah? Kamu datang ke kamarku atas kemauan sendiri. Aku tanya berkali-kali."

"Aku tahu." Karina menekan pelipis. "Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya ingin semuanya selesai."

"Aku nggak mau selesai."

Jawaban itu jatuh tegas, tanpa senyum.

Untuk sesaat, suara restoran lenyap. Karina bisa melihat garis rahang Nathan menegang. Ini bukan lagi permainan mengejar perempuan yang membuatnya penasaran. Setidaknya, Nathan ingin dia percaya begitu.

"Kamu akan bosan," kata Karina. "Kamu baru dua puluh. Bulan depan mungkin ada perempuan seumuranmu yang lebih lucu, lebih bebas, dan tidak punya urusan pengadilan."

"Kamu memutuskan perasaanku tanpa bertanya?"

"Aku memakai akal sehat."

"Akal sehatmu memilih masuk ke kamarku malam itu."

Karina tersentak. "Jangan pakai itu untuk merendahkanku."

"Aku nggak merendahkanmu." Nathan menarik napas dan menurunkan suara. "Aku mengingatkan bahwa sekali saja kamu pernah memilih berdasarkan apa yang kamu inginkan, bukan apa yang terlihat pantas."

Karina tidak bisa membantah. Sepanjang hidup, dia menjadi anak yang bisa diandalkan, istri yang sabar, pegawai yang tidak membuat masalah. Satu-satunya malam ketika dia memilih keinginan sendiri sekarang berdiri di depannya dalam bentuk pemuda berambut abu-abu.

"Itu sebabnya aku harus berhenti," bisiknya.

"Dan itu sebabnya aku nggak akan membiarkan kamu bohong."

Karina menatapnya. "Kita bahkan nggak saling kenal."

"Kalau begitu beri aku kesempatan mengenalmu."

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena aku tiga puluh tahun, masih terikat proses cerai, dan kamu dua puluh tahun. Kamu teman adikku. Satu saja sudah cukup jadi alasan."

"Bagiku bukan."

"Bagiku iya."

Nathan mengeluarkan ponsel. Foto malam itu memenuhi layar. Wajah Karina tidur damai di bahunya, tampak jauh lebih intim daripada ingatannya.

"Hapus sekarang."

"Aku nggak akan menyebarkannya."

"Aku tidak peduli. Hapus."

Nathan mengunci layar. "Kalau aku hapus, kamu akan memblokir semua nomor dan menghilang lagi."

"Jadi kamu mengancamku?"

"Aku memastikan kamu berhenti berpura-pura."

"Itu tetap ancaman."

Kemarahan di mata Karina membuat Nathan diam. Setelah beberapa detik, dia menurunkan ponsel.

"Baik. Aku nggak akan pakai foto ini untuk menyakitimu atau memberi tahu Kevin. Tapi kamu berhenti bilang kita orang asing."

"Kita memang orang asing."

"Orang asing nggak tahu kamu alergi udang. Orang asing nggak tahu kamu menggigit bibir kalau mau menangis."

Napas Karina tersendat.

Suara Kevin terdengar memanggil dari ruang makan. Nathan melangkah lebih dekat, melindungi tubuh Karina dari pandangan pintu.

"Mau kabur ke mana lagi, Kak?"

Dia memiringkan ponsel. Di sudut layar, foto itu kembali menyala.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!