Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Sepuluh Detik buat Kamu Pergi
"Lo tidur sama dia?" suara Yudha turun menjadi desis.
Jari-jarinya mengencang di pergelangan tanganku. Aku mencoba menarik diri, tetapi ia memelintir kedua tanganku ke depan dada.
"Lepaskan gue. Rekaman suara masih menyala dan lorong ini ada CCTV."
"Pantas lo gampang banget mutusin gue." Tatapannya kembali ke bekas kebiruan di tulang selangkaku. "Perempuan murahan. Tiga tahun jual mahal, sekarang kasih badan ke bocah itu dalam satu malam."
Tamparan kata-katanya membuat perutku mual, tetapi rasa takut lebih cepat bekerja. Aku menghentakkan tumit ke sepatunya dan berteriak memanggil petugas keamanan.
Yudha mengumpat. Satu tangannya terangkat.
Pukulan itu tidak pernah mencapai wajahku.
Seseorang menarik bahunya dari belakang. Rangga menghantamkan lutut ke sisi paha Yudha, tepat cukup keras untuk membuat cengkeramannya lepas. Yudha terhuyung. Rangga menangkap tubuhku dengan satu lengan dan menempatkanku di belakang punggungnya.
"Sentuh dia sekali lagi," kata Rangga pelan, "dan rekaman ini langsung kami bawa ke polisi."
Yudha mencoba berdiri tegak sambil memegangi pahanya. "Ini urusan gue sama pacar gue."
"Mantan," potongku. Suaraku bergetar, tetapi kata itu keluar jelas. "Gue sudah putus sama lo."
"Dia menghasut lo!"
Rangga melihat jam di pergelangan tangan. "Lo punya sepuluh detik buat pergi."
"Siapa lo berani mengatur gue?"
"Sembilan. Delapan."
Pintu lift terbuka. Dua petugas keamanan keluar setelah Rangga menghubungi mereka dari lobi. Yudha memandang seragam mereka, kamera di langit-langit, lalu ponselku yang masih merekam.
Rangga berhenti menghitung. "Kalau aib lo nggak mau tersebar, jaga mulut. Terutama soal Novita."
Wajah Yudha mendadak pucat.
"Lo tahu apa?"
"Cukup banyak. Termasuk siapa suaminya dan siapa yang menanam modal di perusahaan lo."
Yudha menutup mulut. Ia mengambil tasnya tanpa menatapku lagi. Petugas keamanan mengantarnya masuk lift dan mencatat namanya untuk dilarang naik tanpa izin penghuni.
Begitu pintu lift tertutup, lututku kehilangan tenaga.
Rangga berbalik dan memegang bahuku. "Kak Wulan, lihat aku. Ada yang sakit?"
"Pergelangan tangan."
"Kenapa kamu ada di sini?" tanyaku di sela napas yang belum teratur.
"Kakak nggak kirim kabar sudah masuk rumah. Aku telepon tiga kali, lalu minta petugas cek lorong. Pas kamera lobi menunjukkan Yudha ikut naik, aku menyusul."
Peringatannya sore tadi bukan bentuk curiga berlebihan. Kalau Rangga tidak memperhatikan pesan yang tak pernah kukirim, aku mungkin sudah menerima telapak tangan Yudha di wajahku.
Ia tidak langsung menyentuh bagian yang memerah. Ia bertanya dulu sebelum memeriksa, lalu meminta salah satu petugas memotret bekas cengkeraman dengan ponselku. Rekaman suara, foto, dan catatan CCTV kusimpan dalam satu folder.
Kepala keamanan datang membawa formulir kejadian. Aku menulis waktu, nama Yudha, serta kronologi singkat tanpa mengurangi bagian yang memalukan. Gedung menyimpan rekaman CCTV selama tiga puluh hari dan bersedia menyerahkannya jika polisi meminta. Aku juga mengirim salinan rekaman suara dan foto kepada Rania supaya bukti tidak hanya tersimpan di ponselku.
Keputusan untuk belum langsung membuat laporan malam itu adalah pilihanku karena Yudha sudah pergi dan aksesnya diblokir. Namun kepala keamanan menjelaskan bahwa aku tetap bisa meminta pendampingan ke kantor polisi terdekat kapan saja. Untuk pertama kalinya, kata "lapor" terdengar seperti perlindungan, bukan ancaman kosong.
"Kalau dia kembali atau mengancam lewat pesan, kita lapor polisi," kata Rangga.
Aku mengangguk. Kali ini aku tidak menyebut Yudha bukan penjahat.
Di dalam rumah, Rangga menelepon Rania. Ia tidak menyembunyikan bagian Yudha hampir memukulku, tetapi tidak menceritakan kejadian malam sebelumnya.
"Gue pulang besok pagi," kata Rania dari pengeras suara. "Wulan, jangan hapus bukti apa pun. Kalau perlu lapor malam ini, gue ikut lewat video call."
"Aku aman. Petugas sudah melarang dia naik."
"Dan Rangga tinggal di sana malam ini."
"Rania..."
"Bukan buat macam-macam. Buat jaga pintu. Kalau adik gue aneh-aneh, telepon gue, nanti gue yang hajar."
Rangga mendengus. "Kak Rania, aku ini penyelamat."
"Penyelamat yang kemarin nggak angkat telepon. Jaga Wulan."
Setelah panggilan berakhir, Rangga memesan param kocok dan makan malam melalui aplikasi. Ia menggulung lengan bajuku ketika pesanannya tiba, lalu mengoleskan cairan hangat ke memar dengan gerakan pelan.
"Novita itu siapa?" tanyaku.
Rahang Rangga menegang. "Perempuan yang Kakak lihat semalam. Teman kuliah Yudha."
"Kamu sudah tahu?"
"Aku cari tahu setelah lihat namanya di pesan Yudha beberapa minggu lalu. Awalnya kupikir urusan kantor. Ternyata suami Novita, Pak Gunawan, menanam modal di perusahaan Yudha sekitar enam bulan lalu. Novita ikut datang waktu peninjauan. Setelah itu mereka sering bertemu tanpa Pak Gunawan."
"Enam bulan?"
"Kemungkinan hubungannya sudah berjalan berbulan-bulan. Aku belum bilang karena belum punya bukti lengkap dan Kakak kelihatan ingin menikah sama dia. Aku takut kalau menuduh tanpa bukti, Kakak justru menjauh."
Jadi pengkhianatan itu bukan satu ciuman impulsif. Selama aku menyusun rencana pernikahan, Yudha mungkin sedang memakai uang suami perempuan lain untuk membangun perusahaan sambil tidur dengan istrinya.
Tanganku mengepal. Rangga menahan jemariku agar kuku tidak melukai telapak.
"Marah boleh," katanya. "Tapi jangan salahkan diri sendiri. Yang bohong dia."
Aku memandang kepala Rangga yang tertunduk saat merawat memarku. Keluarga Nugroho selalu menjadi tempatku pulang ketika rumah keluarga Kusuma terlalu bising. Rania sebaya denganku dan terasa seperti saudara. Rangga lebih muda tiga tahun, tetapi sejak remaja selalu muncul setiap kali aku butuh bantuan.
Itulah yang paling kutakuti.
Jika aku menerima Rangga lalu hubungan kami berakhir buruk, mungkin aku kehilangan bukan hanya dirinya. Aku bisa kehilangan Rania, orang tuanya, meja makan mereka, dan satu-satunya keluarga yang tidak pernah membuatku merasa harus meminta maaf karena hadir.
"Kamu pulang saja," kataku setelah makan. "Keamanan sudah berjaga."
"Aku tidur di sofa."
"Rania menyuruh jaga pintu, bukan pindah rumah."
"Sofa dekat pintu. Cocok."
Malam semakin larut. Setiap suara lift membuat bahuku menegang. Rangga akhirnya berdiri di ambang kamar dan membuka kedua tangan.
"Aku boleh peluk?"
Aku ragu sesaat, lalu mengangguk.
Ia memelukku tanpa menekan memar. Detak jantungnya terdengar stabil di telingaku. Saat tubuhku berhenti gemetar, ia mengecup keningku.
"Aku tinggal sampai Kakak tidur. Kamu nggak setuju, aku nggak bakal ngapa-ngapain."
"Cuma tidur."
"Cuma tidur."
Rangga berbaring di atas selimut, masih berpakaian lengkap. Aku menghadap dadanya. Tangannya berhenti di udara sampai aku sendiri menariknya ke pinggangku.
Diiringi detak jantungnya, mataku perlahan tertutup.
Dalam mimpi, aku kembali menjadi anak kecil yang duduk di lantai sambil menutup telinga. Suara Ayah membentak Ibu menembus dinding.
Lalu sepasang tangan mungil menutup telingaku dari luar.
"Jangan takut, Kak Wulan. Aku yang jagain kamu."