NovelToon NovelToon
SETELAH KITA MEMILIH

SETELAH KITA MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:714
Nilai: 5
Nama Author: yavarnie

Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.

Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang membuat penasaran

“Ini kali ya, yang Ardan maksud tuh?” tanya Kale begitu mobil yang dikendarainya melewati sebuah bangunan dengan papan bertuliskan DIJUAL yang terpajang di depannya. Bangunan itu berdiri di antara lahan kosong dan taman yang dipenuhi pepohonan rindang, membuat suasana di sekitarnya terasa sejuk.

“Gak tahu.”

“Kok nggak tahu, sih?” Kale menoleh ke arah Naresa.

“Ya emang nggak tahu. Mata aku nggak jelalatan.”

Kakak iparnya ini benar-benar! Bangunan itu pasti selalu dilewati Naresa. Bagaimana mungkin perempuan itu tidak pernah pernah melihatnya?

“Rumah aku yang depan,” kata Naresa setelah melewati lahan kosong, dan 3 rumah.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumah yang ditunjuk Naresa. Perempuan itu langsung melepas seatbelt-nya. “Makasih.”

Begitu pintu mobil terbuka, Naresa menatap Kale yang ternyata juga tengah melepas seatbelt dan bersiap untuk keluar. “Mau ke mana?”

“Ya ke rumah lo, lah.” Kale sudah membuka pintu dan hendak keluar, tetapi Naresa mencengkal lengannya.

“Ngapain?”

“Kenapa sih? Nggak boleh?” Kale memasang wajah heran. “Minimal ngasih minum dulu, kek. Haus nih gue.”

Naresa hanya menghela napas sebelum ikut keluar dari mobil. “Di rumah aku nggak ada siapa-siapa, Kal.”

Namun, Kale sama sekali tidak menanggapinya. Lelaki itu sudah berjalan lebih dulu menuju rumah, membuat Naresa mempercepat langkah untuk menyusulnya sambil memandang punggung tegap adik tirinya itu dengan kesal.

Begitu sampai di teras, Kale langsung menjatuhkan dirinya ke kursi kayu di depan rumah Naresa dan menyandarkan punggung dengan santai. “Yaudah lah, gue di sini aja. Mau minum yang dingin-dingin, jus jeruk, kayaknya seger tuh, atau kopi.”

Naresa memandangnya dengan tajam, sementara Kale balas menatapnya dengan ekspresi tengil seolah sama sekali tidak merasa bersalah karena tiba-tiba ikut turun dan memaksa mampir ke rumah orang.

“Btw, ini bukan cafe”

Naresa mendelikkan matanya sebelum mengeluarkan kunci rumah dari dalam tas. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk meninggalkan Kale.

“Gue jadi penasaran,” kata Kale begitu Naresa kembali keluar dengan membawa segelas jus jeruk yang dimintanya.

Naresa kemudian duduk di kursi sebelahnya. “Penasaran apa?” tanyanya lalu meminum segelas air putih yang dibawanya.

Melihat Naresa hanya minum air putih, Kale mengernyitkan dahi. “Kenapa lo cuma minum air putih?”

“Kurang suka minuman manis.”

“Kalau nggak suka kenapa jus jeruk ini ada?” Kale semakin heran.

“Banyak tanya!” Semprot Naresa. “Penasaran apa? Cepet, aku ada kerjaan.” Matanya melirik arloji di pergelangan tangan.

“Galak bener, dah.” Kale memperhatikan ekspresi wajah kakak iparnya itu yang, entah kenapa, terasa lebih ekspresif dibandingkan ketika di rumah ibunya. “Perasaan kalau di rumah Mommy, lo keliatan kalem,” pertanyaan itu keluar begitu saja. Sungguh, ia hanya penasaran.

Naresa lagi-lagi menarik napas panjang begitu mendengar pertanyaan Kale yang sepertinya tidak ada habisnya. “Maaf nih, Kal. Bukannya gimana-gimana, ya, tapi sekarang aku ada kerjaan.”

Kale menatap Naresa cukup lama. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya sebelum akhirnya ia berdiri. “Ok. Sorry ngerepotin.” Ia kemudian berjalan begitu saja menuju mobilnya.

Melihat kepergian adik iparnya yang begitu mendadak membuat Naresa bingung. Bagaimana tidak? Kale bahkan belum sempat meminum jus jeruk yang ia buatkan. Namun, apalah buat. Saat ini Naresa memang memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan.

Naresa tak mencegah kepergian Kale. Ia hanya memandangi laki-laki itu memasuki mobilnya, sebelum kendaraan tersebut menghilang dari pandangannya.

Setelah meninggalkan rumah Naresa, Kale langsung menuju bangunan yang tadi ia lihat. Pemilik bangunan itu ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk datang setelah dihubungi. Mereka pun segera membicarakan harga dan berbagai hal yang perlu disepakati sebelum transaksi dilakukan.

Kale bahkan harus menghabiskan waktu cukup lama untuk bernegosiasi. Setelah beberapa kali terjadi tawar-menawar, akhirnya kedua belah pihak mencapai kesepakatan.

“Oke, berarti untuk sementara kita sepakat di harga ini,” kata Kale sebelah mengakhiri percakapannya dengan pemilik bangunan tersebut.

Pemilik bangunan itu mengangguk sebelum keduanya berjabat tangan.

Kale kembali ke dalam mobilnya. Ia sempat melihat jam di dashboard sebelum melajukan kendaraan meninggalkan bangunan itu. Namun, bukan nya langsung pulang, ia justru melajukan mobilnya ke arah rumah Naresa.

Entah kenapa, bayangan jus jeruk yang belum sempat ia minum kembali terlintas di kepalanya.

“Mubazir, kan kalau di buang?” gumam Kale pada dirinya sendiri. “Mending diminum aja itu jus.”

Beberapa saat kemudian, Kale kembali tiba di rumah Naresa. Namun, setelah beberapa kali menekan bel dan mengetuk pintu, perempuan itu tak juga keluar.

“Bisa-bisanya nggak dibuka,” gerutunya.

Suara kunci yang diputar dari dalam membuat Kale menghentikan ketukannya. Ia mundur selangkah dan menatap bingung seorang laki-laki yang berdiri di hadapannya.

“Ada keperluan apa?” tanya laki-laki itu.

“Gue Kale,” jawabnya sambil tersenyum lebar. “Adiknya Ardan, suaminya Resa— eh!”

Sungguh, Kale sendiri bingung dengan apa yang baru saja diucapakamnya. “Ya, adiknya Ardan, suaminya Resa?” Kale mengulang kalimatnya sendiri, seolah sedang berusaha memahami apa sebenarnya yang ingin ia katakan.

“Adik iparnya Resa,” kata laki-laki itu sambil tersenyum simpul melihat Kale yang tampak kebingungan. Tatapan tajamnya yang tadi sempat membuat Kale merasa canggung kini seketika berubah lebih ramah.

“Nah, maksud gue gitu.” Kale menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Yaudah, masuk aja, bang,” laki-laki itu mundur ke samping dan menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar Kale masuk. “Tapi kalau sekarang Resa-nya lagi kerja, dan dia tuh orangnya nggak suka diganggu.”

Begitu mendengar itu, Kale yang semula hendak masuk menoleh ke arah laki-laki tersebut. “Gue cuma mau minta jus jeruk yang tadi Resa buat. Di luar, sumpah, panas banget.”

“Oh, oke.” laki-laki itu mengangguk.

“Boleh masuk?” Tanya Kale.

“Ya, boleh.”

“Btw, lo siapanya Resa?” Kale menatap laki-laki itu dengan penasaran. “Soalnya gue baru lihat lo.”

“Adiknya.”

1
tak tahu
kale bawelnya minta ampun
tak tahu
modus?
tak tahu
aku pun begitu tau, kek GK enggeh sama lingkungan sekitar
tak tahu
kale jailnya minta ampun
tak tahu
gila sih, si Ardan kuat bener nahannya 🤣
Yavarnie: Ardan kan laki-laki Sholeh 🤭
total 1 replies
tak tahu
giliran sama orang gaenakan, sama istri seenaknya🙄
Yavarnie: kebanyakan gitu, tapi Ardan enggak kok😍
total 1 replies
tak tahu
hati seorang istri itu luas bgt
Yavarnie: seluas samudera
total 1 replies
tak tahu
nah iya aku pun penasaran, why?
tak tahu
hah? serius?
tak tahu
bener
Yavarnie
apakah Ardan ingin mempunyai istri 2👀
tak tahu
ini mah kesukaan nya si ardan🤭
tak tahu
si Ardan tuh manja bgt ya sis
tak tahu
pewaris pun ada enak gak enaknya ya
tak tahu
ya jangan dibiarin atuh
tak tahu
mantan atlet gak tuh? wkwk🤣🤣
tak tahu
nah bener tuh, bisa sendiri kerjain sendiri
tak tahu
suami kalo di minta tolong emang suka dinanti nantikan
tak tahu
strong women njh ceritanya
tak tahu
ayok kak semangat terus💪 lanjutin ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!