NovelToon NovelToon
Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius
Popularitas:33.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?

Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Mentari pagi bersinar terang, di rumah sakit sudah ramai bahkan sebelum matahari benar-benar terasa terik. Mobil-mobil mulai memenuhi area parkir. Beberapa pasien berjalan menuju ruang pendaftaran, sementara petugas sibuk mengarahkan mereka ke bagian masing-masing.

Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tidak jauh dari pintu utama. Dika turun bersama asistennya.

"Pak, ruang pemeriksaan sudah dijadwalkan pukul sembilan."

Dika melihat jam tangannya. "Masih ada waktu."

"Dokter yang menangani juga sudah diberitahu."

Dika mengangguk singkat.

"Baik."

Ia berjalan memasuki gedung tanpa banyak bicara. Hari itu sebenarnya tidak berbeda dari hari-hari lainnya. Hanya saja, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Dika datang ke rumah sakit bukan sebagai orang yang mengurus urusan perusahaan.

Melainkan sebagai seseorang yang sedang membutuhkan pemeriksaan. Dan ia tidak menyukai perasaan itu.

☘️☘️☘️☘️

Di lantai lain, Azmira baru saja menyelesaikan satu pemeriksaan ketika seorang perawat menghampirinya, perempuan itu terlihat begitu lelah. Namun ia berusaha untuk tetap semangat demi mengobati pasienya satu persatu.

"Dokter, pasien berikutnya sudah menunggu."

Azmira menerima berkas yang disodorkan. "Baik."

Ia membuka halaman pertama sambil berjalan kembali menuju ruang pemeriksaan. Matanya membaca beberapa informasi penting.

Nama pasien.

Usia.

Keluhan.

Azmira berhenti sebentar ketika melihat nama belakang pasien tersebut. Wiratama, bukannya itu pemilik perusahaan yang sedang bekerja sama dengan rumah sakit tempatnya bekerja. Tapi entah kenapa setiap nama itu ia sebut seperti ada rasa yang tidak asing di dasar hatinya.

"Nama ini sebenarnya tidak aneh, lalu kenapa setiap mendengar nama itu ada yang tersentuh di dalam sana," gumamnya dengan bingung.

Azmira segera menutup menutup berkas, karena memang pasien sudah ada di depan ruang pemeriksaanya.

"Silakan masuk."

Pintu terbuka. Seorang pria paruh baya masuk bersama asistennya, wajahnya begitu berwibawa meskipun usianya sudah termakan waktu.

Azmira mengangkat wajah. "Selamat pagi, Pak."

Dika mengangguk. "Pagi."

"Silakan duduk."

Dika mengambil kursi di hadapan meja pemeriksaan. Azmira kembali melihat berkas.

"Nama Bapak Mahardika Wiratama?"

Dika mengangguk. "Iya."

Azmira menuliskan sesuatu. "Usia?"

"Lima puluh tiga tahun.

"Keluhan yang dirasakan?"

Dika menarik napas. "Beberapa hari terakhir mudah lelah. Kadang pusing. Tadi pagi juga sempat terasa tidak nyaman di bagian dada."

Azmira langsung menatapnya. "Nyeri?"

"Tidak terlalu."

"Berapa lama?"

"Hanya beberapa menit saja Dok."

Azmira mengangguk. Tangannya kembali mencatat. "Apakah sebelumnya pernah mengalami hal yang sama?"

"Sesekali."

Azmira berhenti menulis. "Sesekali sejak kapan?"

Dika terdiam sebentar. "Mungkin beberapa bulan."

Azmira mengangkat wajah. "Kenapa baru diperiksa sekarang?"

Dika tersenyum tipis. "Karena saya terlalu sibuk."

Azmira menatapnya beberapa detik. Kemudian berkata tenang, "Kesibukan tidak membuat tubuh berhenti bekerja, Pak."

Dika sedikit terdiam. Entah kenapa kalimat sederhana itu membuatnya memperhatikan dokter muda di hadapannya. Azmira tidak berbicara dengan nada menggurui. Ia hanya menyampaikan sesuatu yang menurutnya memang perlu dikatakan.

Dika mengangguk. "Baik."

Azmira kemudian melanjutkan pemeriksaan. "Tarik napas dalam."

Dika mengikuti instruksinya. Azmira memeriksa beberapa bagian, kemudian mencatat hasilnya. Tidak ada percakapan lain selama beberapa saat. Namun sesekali Dika memperhatikan wajah dokter muda itu.

Ada sesuatu yang sulit ia jelaskan. Bukan karena ia mengenalnya. Justru sebaliknya.

Wajah itu terasa asing. Tetapi entah mengapa ada sesuatu dari sorot mata perempuan tersebut yang membuat pikirannya berhenti sejenak.

Dika segera mengalihkan pandangan. "Dokter."

Azmira menatapnya. "Iya, Pak?"

"Anda sudah lama bekerja di sini?"

"Belum lama Pak."

"Dokter spesialis?"

Azmira tersenyum kecil. "Saya masih dokter umum, Pak."

Dika mengangguk. "Masih muda."

Azmira terkekeh. "Kelihatannya saja, Pak."

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan itu, Dika tersenyum, wajah gadis muda itu seolah menenangkan hatinya. Tapi ia masih belum berani menamai rasa itu.

"Oh begitu?"

Azmira mengangguk. "Iya Pak karena aku sudah 25 tahun."

Percakapan itu hanya berlangsung singkat. Namun ada sesuatu yang terasa berbeda.

Bukan bagi Azmira akan tetapi bagi Dika sendiri. Ia tidak tahu mengapa berbicara dengan dokter muda itu terasa begitu mudah.

Padahal biasanya ia tidak suka berbasa-basi dengan orang yang baru ditemuinya. Azmira kemudian menyerahkan beberapa lembar pemeriksaan.

"Saya ingin Bapak melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan."

Dika melihat lembar tersebut. "Perlu?"

"Saya menyarankan begitu."

"Apakah serius?"

Azmira tidak langsung menjawab. "Kita belum bisa menyimpulkan sebelum hasil lengkapnya keluar."

Dika hanya mendengarkan saja tanpa menyela ucapan dari gadis itu.

"Tapi saya tidak menyarankan Bapak mengabaikan keluhan yang tadi."

Nada suara Azmira tetap tenang. "Lebih baik kita memastikan semuanya sejak awal."

Dika mengangguk. "Baik."

Azmira tersenyum. "Kalau begitu, nanti hasilnya bisa dibawa kembali ke saya."

Dika berdiri. "Baik, Dokter."

Ia hendak keluar ketika tiba-tiba berhenti. Menoleh kepada Azmira.

"Siapa nama Dokter?"

Azmira sedikit heran, biasanya pasien tidak pernah tanya seperti itu. Karena namanya sudah tergantung di bagian kiri dadanya.

"Azmira."

"Azmira..."

"Iya."

Dika mengangguk, lalu ia mencoba mengulang nama itu di dalam hatinya.

"Terima kasih, Dokter Azmira."

"Sama-sama, Pak."

Pita itu berbalik badan. Rasanya begitu berat meninggalkan rumah itu. Namun ia tidak punya alasan untuk berlama-lama di ruangan pemeriksaan.

Pintu kemudian tertutup. Azmira kembali menatap berkas pasien berikutnya. Tidak ada yang istimewa. Setidaknya menurutnya begitu. Namun beberapa meter dari ruangan itu, Dika berjalan lebih lambat dari sebelumnya. Nama itu masih terngiang di kepalanya.

Azmira. Entah kenapa nama sederhana itu terasa begitu sulit dilepaskan dari pikirannya.

☘️☘️☘️☘️

Di ruang tunggu, asisten Dika sudah menunggu. "Bagaimana, Pak?"

Dika tidak langsung menjawab. Ia justru bertanya, "Dokter tadi namanya siapa?"

Asistennya sedikit bingung. "Azmira, Pak."

Dika mengangguk pelan. "Azmira..."

"Kenapa, Pak?"

"Tidak apa-apa."

Dika kemudian berjalan menuju pintu keluar. Ia tidak tahu kenapa sejak keluar dari ruangan tadi, ada sesuatu yang terasa mengganggu pikirannya.

Sementara di dalam ruangan, Azmira sama sekali sudah melupakan pasien tersebut. Ia kembali memanggil pasien berikutnya.

Hari terus berjalan. Namun bagi Dika, pagi itu meninggalkan sesuatu yang tidak biasa.

Sebuah nama dan wajah. Hingga perasaan aneh yang belum bisa ia mengerti. Ia tidak tahu bahwa mulai hari itu, nama Azmira Shafitri perlahan akan semakin sering hadir di dalam kehidupannya. Bukan karena ia mencarinya. Melainkan karena keadaan yang akan mempertemukan mereka berkali-kali.

Bersambung . .

Selamat Malam harap sabar ya Kak Karma untuk Dika pasti ada kok tenang saja🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰🥰

1
Yeni Astriani
kapan update lagi Author, penasaran nihhhh kelanjutan ceritanya
ceuceu
Dika tetep harta hak shiren ga di ganggu gugat,pdhl bukan anak kandung,azmira dari kecil ga merasakan kasih sayang ga ada harta dari dika tapi dika ga mikirin hak azmira,puck lah dika
falea sezi
jangan mau menerima maafin boleh menerima ogah bgt🤣 di jadiin serep saat si seren bukan anak nya enak bgt si bangsat🤣
Yeni Astriani
memaafkan boleh tapi bukan berarti harus menerima apalagi Azmira sudah terbiasa hidup mandiri tanpa bantuan dari Pak Dika ☺☺☺
Nar Sih
makasih udh up lgi kak🙏
Ilham
berarti sirhen bukan anak kandung Dika yang dia rawat 25 tahun
Sari Nilam
gimana rasanya dika....sakittttt kan
tp tidak lebih sakit apa yang pernah azmira lalui tanpa tahu ayahnya dendiri tdak mengakuinya
Sari Nilam
masih belum sebanding de gan luja yang azmira dan ibunya rasakan
azmira yang malang tapi tangguh
azmira yang cerdas tapu tak pernah diakui
🤣🤣penyesalanmu terlambat kaunmerawat anak yang bukan darah dagingmu. dan darah dagingmu kau abaikan
Ilham
aku mau bertanya,,katanya si Dika pengin anak laki2 buat penerusnya...tapi knapa sama anak selingkuhan nya perempuan juga si Dika mau saja menerimanya...sedangkan anak kadung nya sendiri perempuan juga tapi dia ngk mau menerimanya kan aneh
Ilham
aku ketawa sendiri membawa kata jawaban Mira...aku berharap ceritanya Mira di bantu sama orang kaya
Ilham
buat lah cerita Mira ini sebenarnya enak mungkin...aku suka cerita anak kecil tapi ada juga penolong Mira
Rohmi Yatun
gak ada gunanya kehadiran Dika disaat Azmira sudah sukses.. kalo q jadi Azmira Big No untuk Dika.. gak akan ada istilah anak durhaka untuk seorang ayah seperti Dika.. 👎
Nar Sih
dulu rina yg sdh setiya dan sabar dgn tangisan azmira ,kini saat nya kmu terima kemarahan putri mu dika🤣
ceuceu
Kesalahanmu terlalu fatal dika
Tengku Nafisa
maafmu tdk berlaku dika. sibuk membesarkan anak org. anak sendiri kau telantarkan.
Rohmi Yatun
jujur kalo q jd Azmira.. tidak bisa menerima kehadiran Ayahnya.. untuk apa hadir skrg.. mau tanggung jawab katanya, tanggung jawab dlm hal apa?.. 👎👎👎👎 tidak masuk akal.. kedatangan mu sudah sgt terlambat..
ceuceu
itu hukuman buatmu dika,yg menelantarkan anak dgn sengaja demi anak lain yg ternyata bukan anakmu
Nar Sih
ahir nya kebnran terungkap dan azmira 😭😭sabar mira
Yeni Astriani
Pak Dika kesalahanmu terlalu besar untuk dimaafkan, selama 25th kamu hidup membesarkan anak orang lain dengan penuh cinta, kasih sayang dan perlindungan keluarga bahkan memberikan nama belakang keluargamu untuk anak orang lain.
sedangkan anak kandungmu sendiri kamu telantarkan hingga 25th hingga Azmira dan ibunya berjuang untuk hidup hingga Azmira berhasil menjadi seorang Dokter.
dan sekarang Pak Dika datang sebagai sosok Ayah setelah Azmira dan ibunya berhasil melewati masa terpuruk dalam hidupnya hahhh
jika aku jadi Azmira atau jadi Rina aku akan meminta pak Dika untuk tetap berpura2 tidak pernah tahu Azmira anaknya itu lebih baik🥺🥺
Rohmi Yatun
kalo Q diposisi rina , tidak ada pintu maaf.. 👎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!