NovelToon NovelToon
Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?

Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Mentari pagi bersinar terang, di rumah sakit sudah ramai bahkan sebelum matahari benar-benar terasa terik. Mobil-mobil mulai memenuhi area parkir. Beberapa pasien berjalan menuju ruang pendaftaran, sementara petugas sibuk mengarahkan mereka ke bagian masing-masing.

Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tidak jauh dari pintu utama. Dika turun bersama asistennya.

"Pak, ruang pemeriksaan sudah dijadwalkan pukul sembilan."

Dika melihat jam tangannya. "Masih ada waktu."

"Dokter yang menangani juga sudah diberitahu."

Dika mengangguk singkat.

"Baik."

Ia berjalan memasuki gedung tanpa banyak bicara. Hari itu sebenarnya tidak berbeda dari hari-hari lainnya. Hanya saja, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Dika datang ke rumah sakit bukan sebagai orang yang mengurus urusan perusahaan.

Melainkan sebagai seseorang yang sedang membutuhkan pemeriksaan. Dan ia tidak menyukai perasaan itu.

☘️☘️☘️☘️

Di lantai lain, Azmira baru saja menyelesaikan satu pemeriksaan ketika seorang perawat menghampirinya, perempuan itu terlihat begitu lelah. Namun ia berusaha untuk tetap semangat demi mengobati pasienya satu persatu.

"Dokter, pasien berikutnya sudah menunggu."

Azmira menerima berkas yang disodorkan. "Baik."

Ia membuka halaman pertama sambil berjalan kembali menuju ruang pemeriksaan. Matanya membaca beberapa informasi penting.

Nama pasien.

Usia.

Keluhan.

Azmira berhenti sebentar ketika melihat nama belakang pasien tersebut. Wiratama, bukannya itu pemilik perusahaan yang sedang bekerja sama dengan rumah sakit tempatnya bekerja. Tapi entah kenapa setiap nama itu ia sebut seperti ada rasa yang tidak asing di dasar hatinya.

"Nama ini sebenarnya tidak aneh, lalu kenapa setiap mendengar nama itu ada yang tersentuh di dalam sana," gumamnya dengan bingung.

Azmira segera menutup menutup berkas, karena memang pasien sudah ada di depan ruang pemeriksaanya.

"Silakan masuk."

Pintu terbuka. Seorang pria paruh baya masuk bersama asistennya, wajahnya begitu berwibawa meskipun usianya sudah termakan waktu.

Azmira mengangkat wajah. "Selamat pagi, Pak."

Dika mengangguk. "Pagi."

"Silakan duduk."

Dika mengambil kursi di hadapan meja pemeriksaan. Azmira kembali melihat berkas.

"Nama Bapak Mahardika Wiratama?"

Dika mengangguk. "Iya."

Azmira menuliskan sesuatu. "Usia?"

"Lima puluh tiga tahun.

"Keluhan yang dirasakan?"

Dika menarik napas. "Beberapa hari terakhir mudah lelah. Kadang pusing. Tadi pagi juga sempat terasa tidak nyaman di bagian dada."

Azmira langsung menatapnya. "Nyeri?"

"Tidak terlalu."

"Berapa lama?"

"Hanya beberapa menit saja Dok."

Azmira mengangguk. Tangannya kembali mencatat. "Apakah sebelumnya pernah mengalami hal yang sama?"

"Sesekali."

Azmira berhenti menulis. "Sesekali sejak kapan?"

Dika terdiam sebentar. "Mungkin beberapa bulan."

Azmira mengangkat wajah. "Kenapa baru diperiksa sekarang?"

Dika tersenyum tipis. "Karena saya terlalu sibuk."

Azmira menatapnya beberapa detik. Kemudian berkata tenang, "Kesibukan tidak membuat tubuh berhenti bekerja, Pak."

Dika sedikit terdiam. Entah kenapa kalimat sederhana itu membuatnya memperhatikan dokter muda di hadapannya. Azmira tidak berbicara dengan nada menggurui. Ia hanya menyampaikan sesuatu yang menurutnya memang perlu dikatakan.

Dika mengangguk. "Baik."

Azmira kemudian melanjutkan pemeriksaan. "Tarik napas dalam."

Dika mengikuti instruksinya. Azmira memeriksa beberapa bagian, kemudian mencatat hasilnya. Tidak ada percakapan lain selama beberapa saat. Namun sesekali Dika memperhatikan wajah dokter muda itu.

Ada sesuatu yang sulit ia jelaskan. Bukan karena ia mengenalnya. Justru sebaliknya.

Wajah itu terasa asing. Tetapi entah mengapa ada sesuatu dari sorot mata perempuan tersebut yang membuat pikirannya berhenti sejenak.

Dika segera mengalihkan pandangan. "Dokter."

Azmira menatapnya. "Iya, Pak?"

"Anda sudah lama bekerja di sini?"

"Belum lama Pak."

"Dokter spesialis?"

Azmira tersenyum kecil. "Saya masih dokter umum, Pak."

Dika mengangguk. "Masih muda."

Azmira terkekeh. "Kelihatannya saja, Pak."

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan itu, Dika tersenyum, wajah gadis muda itu seolah menenangkan hatinya. Tapi ia masih belum berani menamai rasa itu.

"Oh begitu?"

Azmira mengangguk. "Iya Pak karena aku sudah 25 tahun."

Percakapan itu hanya berlangsung singkat. Namun ada sesuatu yang terasa berbeda.

Bukan bagi Azmira akan tetapi bagi Dika sendiri. Ia tidak tahu mengapa berbicara dengan dokter muda itu terasa begitu mudah.

Padahal biasanya ia tidak suka berbasa-basi dengan orang yang baru ditemuinya. Azmira kemudian menyerahkan beberapa lembar pemeriksaan.

"Saya ingin Bapak melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan."

Dika melihat lembar tersebut. "Perlu?"

"Saya menyarankan begitu."

"Apakah serius?"

Azmira tidak langsung menjawab. "Kita belum bisa menyimpulkan sebelum hasil lengkapnya keluar."

Dika hanya mendengarkan saja tanpa menyela ucapan dari gadis itu.

"Tapi saya tidak menyarankan Bapak mengabaikan keluhan yang tadi."

Nada suara Azmira tetap tenang. "Lebih baik kita memastikan semuanya sejak awal."

Dika mengangguk. "Baik."

Azmira tersenyum. "Kalau begitu, nanti hasilnya bisa dibawa kembali ke saya."

Dika berdiri. "Baik, Dokter."

Ia hendak keluar ketika tiba-tiba berhenti. Menoleh kepada Azmira.

"Siapa nama Dokter?"

Azmira sedikit heran, biasanya pasien tidak pernah tanya seperti itu. Karena namanya sudah tergantung di bagian kiri dadanya.

"Azmira."

"Azmira..."

"Iya."

Dika mengangguk, lalu ia mencoba mengulang nama itu di dalam hatinya.

"Terima kasih, Dokter Azmira."

"Sama-sama, Pak."

Pita itu berbalik badan. Rasanya begitu berat meninggalkan rumah itu. Namun ia tidak punya alasan untuk berlama-lama di ruangan pemeriksaan.

Pintu kemudian tertutup. Azmira kembali menatap berkas pasien berikutnya. Tidak ada yang istimewa. Setidaknya menurutnya begitu. Namun beberapa meter dari ruangan itu, Dika berjalan lebih lambat dari sebelumnya. Nama itu masih terngiang di kepalanya.

Azmira. Entah kenapa nama sederhana itu terasa begitu sulit dilepaskan dari pikirannya.

☘️☘️☘️☘️

Di ruang tunggu, asisten Dika sudah menunggu. "Bagaimana, Pak?"

Dika tidak langsung menjawab. Ia justru bertanya, "Dokter tadi namanya siapa?"

Asistennya sedikit bingung. "Azmira, Pak."

Dika mengangguk pelan. "Azmira..."

"Kenapa, Pak?"

"Tidak apa-apa."

Dika kemudian berjalan menuju pintu keluar. Ia tidak tahu kenapa sejak keluar dari ruangan tadi, ada sesuatu yang terasa mengganggu pikirannya.

Sementara di dalam ruangan, Azmira sama sekali sudah melupakan pasien tersebut. Ia kembali memanggil pasien berikutnya.

Hari terus berjalan. Namun bagi Dika, pagi itu meninggalkan sesuatu yang tidak biasa.

Sebuah nama dan wajah. Hingga perasaan aneh yang belum bisa ia mengerti. Ia tidak tahu bahwa mulai hari itu, nama Azmira Shafitri perlahan akan semakin sering hadir di dalam kehidupannya. Bukan karena ia mencarinya. Melainkan karena keadaan yang akan mempertemukan mereka berkali-kali.

Bersambung . .

Selamat Malam harap sabar ya Kak Karma untuk Dika pasti ada kok tenang saja🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰🥰

1
Nar Sih
serapat apa pun kmu simpan suatu saat pasti putri mu tau siapa ayah nya bu rina ,daan biar kan sja semua terbongkar mira sdh besar pssti ngerti
Tengku Nafisa
aaaa kenapa gak di teruskan. penasaran nih.
Heni Fitoria
semoga saja anak gundik yg km besarkan itu bukan anakmu, hukum karma untukmu dika
Nar Sih
kak ayuuu boleh satu bab. lgi ngk,penasarannn🙏🥰
Nar Sih
dan...ank yg kmu tinggal kan dan tdk kmu akui sdh berjuang keras bersama ibu nya tanpa mu ayah durjana🤣🤣
Nar Sih
jdi gk sbr nunggu karma ayah yg ngk mengangap putri nya
Ghiffari Zaka
di tunggu up nya ya Thor....AQ ud mulai agak gmn dech Thor,karena mulai sedikit jenuh thur...tp AQ ttp usahakan tunggu author up...mungkin karena kurang greget di kehidupan Dika yg enak2 trs seolah Rina dan Mira tu GK ada maknanya...semudah itu,EK dech Thor AQ tunggu jangan lama2 ya Thor....🙏🙏🙏🙏/Drool//Drool//Drool/
Ghiffari Zaka
AQ no komen dech di bab ini Thor...lanjut aja dech...cmn mau nunggu gmn si Dika tu menderita aja/Frown//Frown/
Ghiffari Zaka
Thor maaf Thor...sebenarnya AQ gondok bngt loh Thor...kok kehidupan si Dika itu bs baik2 aja sih?? knp bd gt padahal dia ud menyakiti dan menyia2kan istri dan ank nya.....kok gak adil gt loh Thor....sangking gedek nya AQ SMP pingin nangis guling2 ini loh thor😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
perasaan seorang ibu itu amat kuat,iya gak n bakal ada hal yg terjadi PD ank nya,tp mereka hrs ttp berjalan di balik masa lalu yg menyakitkan,kalaupun Mira tau Dika BPK nya dan bahkan se x pun dia pemilik perusahaan semoga Mira bs berpikir bahwa itu gak bs dengan mudah menghapus luka dia dan ibunya selama 25 tahun ini,jangan mau dekat dengan BPK mu yg jahat ya Mira????😡😡😡
Ghiffari Zaka
dan jangan LP Thor...karma on berlaku,AQ gak ikhlas loh Thor mereka bahagia sementara ank dan istrinya menderita begitu,di tambah lagi mereka membahagiakan penghianat dan pelakor loh....😡😡😡
Ghiffari Zaka
heeeem....aroma2 Cinto ini🤭🤭🤭
Ghiffari Zaka
heeeemmmm...jodoh otw ni ceritanya,semoga dia pria baik ya Mira,yg bs terima km apa adanya,ud gak usah cari BPK mu yg gak berguna itu,dia itu laki2 yg jahat dan gak berbelas kasih,km bs kok HDP cmn dngn ibumu,buktinya ud 25 THN bs kan???/Drool//Drool//Drool/
Ghiffari Zaka
semoga laki2 itu baik dan bs membuat Mira bahagia nnt nya
Ghiffari Zaka
Alhamdulillah...akhirnya cita2 mu terkabul Mira,AQ ikut bahagia...SMP mewek ni AQ nya😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
selamat MLM jg Thor...sukaaa bngt,cuman campur gemezzz gt Thor......semoga sukses dengan karya2 mu thor/Drool//Drool//Drool/
Ghiffari Zaka
ih dasar bapak GK waras,tega dia perjuangkan selingkuhannya dr pada istri sah dan parahnya lagi tega bngt dia sm ank kandungnya sendiri,CPT Thor
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡
Ghiffari Zaka
nah kan...dadar si Dika ini banyak ya istrinya x,awas AQ doakan km cepat dapat karma,km dah nolak Mira sekarang km punya ank dr istri yg lain jg dan perempuan juga kan,km gak bakalan bs punyak ank laki2,itu kutukan dari q,nah...nah...lok AQ dah emosi jadi Mak nya si Malin Kundang AQ jadinya ,maaf beribu maaf ya Thor🙏🙏🙏😂😂😂😂
Ghiffari Zaka
banyak banget tokohnya Thor jadi bingung,apa semua ank perempuan itu ank nya si Dika BPK yg GK ada akhlaknya itu ya??? ah takut dosa AQ Thor lok nebak2,cuman author yg punya kuasa,lanjut aja lah Thor🤭🤭🤭
Ghiffari Zaka
kalau menurut q majikan ibunya Shasa itu nenek nya Mira dech,atau Shasa jg ank yg GK di inginkan jg ya sm kayak Mira,dan apa mungkin mereka 1 darah??? ah gak mau nebak2 Thor,lanjut aja dech.....🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!