Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Wajah Sarah dan Rian seketika berubah pucat pasasi.
Ketegangan langsung membeku di udara saat Nadya melangkah makin dekat, menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan dominasi.
"Nadya?!" desis Rian, hampir menumpahkan gelas anggur merah di genggamannya.
"Kalian kira permainan kotor kalian tidak tercium?" ujar Nadya dingin.
Ia menarik sebuah kursi kosong di meja tersebut dan duduk dengan keanggunan seorang pemimpin tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kalian berdua benar-benar menyedihkan. Rian, kamu masih belum bisa menerima kenyataan bahwa aku menolakmu bertahun-tahun lalu. Dan kamu, Sarah, kamu cuma benalu serakah yang tidak tahu malu."
Mata Sarah membelalak merah menahan amarah yang membakar dadanya.
Dipermalukan oleh Armand tadi siang dan kini dipojokkan oleh Nadya di depan Rian membuat kewarasannya makin tergerus.
Namun, di balik kepanikan itu, otak licik Sarah berputar cepat.
Ia melirik sebuah botol kecil berisi cairan bening yang sudah ia sembunyikan di dalam lipatan jasnya sejak awal—rencana cadangan yang semula disiapkannya untuk situasi tak terduga.
Sarah menarik napas panjang, mendadak mengendurkan ketegangannya dan menyunggingkan senyuman palsu yang terlihat sangat menyerah.
"Hebat, Nadya. Kamu memang selalu satu langkah di depan," puji Sarah dengan nada suara yang dibuat-buat lemah lesu.
Ia meraih teko kaca berisi air mineral di tengah meja.
"Karena kamu sudah tahu semuanya, untuk apa kami bersikap musuhan? Biarkan kami menyerah secara terhormat. Minumlah sedikit, setidaknya hargai niat baik kami untuk tidak melanjutkan perang ini."
Dengan gerakan yang sangat halus dan terlatih, Sarah menuangkan air mineral ke dalam gelas kosong di hadapan Nadya.
Saat perhatian Nadya teralih sejenak pada Rian yang berpura-pura mengusap wajahnya karena panik, jemari Sarah dengan cepat menjatuhkan beberapa tetes cairan bening dari botol kecil itu ke dalam gelas Nadya melalui sela tangannya.
Cairan tanpa rasa dan aroma itu menyatu sempurna dengan air mineral.
"Mari kita selesaikan ini seperti orang dewasa," ujar Sarah penuh kepura-puraan seraya menggeser gelas itu tepat ke depan Nadya.
Nadya menatap gelas itu dengan tatapan menilai. Meski ia sangat waspada, tensi emosi dan rasa percaya diri yang tinggi bahwa ia memegang kendali penuh atas situasi membuat kewaspadaannya sedikit goyah.
Untuk menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak gentar dan memegang kendali atas gertakan mereka, Nadya meraih gelas tersebut dan menyesapnya beberapa teguk.
"Aku datang ke sini bukan untuk bernegosiasi, Sarah," tegas Nadya seraya meletakkan kembali gelasnya ke atas meja.
"Aku datang untuk memberi tahu kalian bahwa tim hukumku sudah mengantongi seluruh bukti konspirasi kalian."
Melihat air di dalam gelas itu sudah berkurang, senyum licik yang sangat tipis kembali terukir di sudut bibir Sarah.
Efek obat tidur dosis tinggi itu tidak akan memakan waktu lama untuk merobohkan kesadaran Nadya.
"Begitu ya?" bisik Sarah penuh nada ejekan yang mendadak berubah dingin.
"Tapi sepertinya, malam ini kamu tidak akan bisa pulang untuk menemui suamimu tercinta, Nadya."
Hanya dalam hitungan detik, pandangan Nadya mendadak kabur.
Kepalanya yang pusing luar biasa hebat menyengat kepalanya, membuat tubuhnya mendadak lemas dan kehilangan keseimbangan di atas kursi.
Rian tersenyum puas melihat tubuh Nadya yang terkulai tak berdaya.
Tanpa membuang waktu, ia segera bangkit dan membopong tubuh Nadya yang makin lemah, berniat membawanya keluar menuju kamar hotel yang sudah disiapkan untuk menjebak dan merusak reputasinya.
Sarah tertawa pelan di belakangnya, merasa rencananya berjalan begitu mulus.
Namun, baru beberapa langkah Rian bergerak menuju pintu keluar area VIP restoran, sebuah cengkeraman berurat yang sangat kuat mendadak mencengkeram bahunya dengan kasar.
Satu tarikan bertenaga membuat tubuh Rian terhuyung ke belakang.
"Letakkan istriku, atau aku akan menghabiskanmu sekarang juga!" ucap Armand dengan suara rendah yang sangat dingin, sarat akan amarah yang siap meledak.
Rian dan Sarah membelalak kaget. Armand
berdiri tegap di hadapan mereka dengan jaket kulit hitamnya.
Sorot matanya begitu tajam menancap pada Rian, memancarkan aura intimidasi yang membuat bulu kuduk Rian berdiri.
Dengan cekatan dan penuh kehati-hatian, Armand merebut tubuh Nadya dari dekapan Rian.
Ia merengkuh sang istri rapat-rapat ke dadanya, menopang tubuh Nadya yang sudah sepenuhnya kehilangan kesadaran namun masih sempat bernapas terengah-engah.
"Armand?! Bagaimana bisa kamu?" gagap Sarah dengan wajah pucat pasi, tak menyangka pria yang dulu ia anggap lemah itu bisa membuntut mereka tanpa terdeteksi.
"Diam kamu, Sarah!" bentak Armand tajam, membuat mantan istrinya itu bungkam seketika dalam ketakutan.
Rian, yang merasa harga dirinya terinjak-injak, berusaha membusungkan dada meski tubuhnya gemetar.
"Hah, suami tak berguna! Kamu mau apa? Wanita ini sudah masuk dalam perangkap kami—"
Brak!
Tanpa memberi kesempatan Rian menyelesaikan kalimatnya, sebelah tangan Armand yang bebas melayang cepat, mendaratkan satu pukulan mentah yang sangat keras tepat di rahang Rian.
Pria itu tersungkur ke lantai restoran, meringis kesakitan seraya memegangi pipinya yang memar.
"Jangan pernah sentuh istriku dengan tangan kotormu!" desis Armand, menatap Rian yang tergeletak di lantai bagaikan sampah.
Armand lalu mengalihkan pandangannya pada Sarah yang berdiri membeku.
"Dan kamu, Sarah, kalian berdua sudah selesai. Tim kepolisian dan pengacara Nadya sudah menunggu di bawah."
Tanpa membuang waktu lagi, Armand mendekap erat tubuh Nadya yang terkulai lemas di pelukannya.
Ia membopong istrinya dengan sigap, berbalik melangkah cepat meninggalkan restoran menuju mobilnya untuk segera membawa Nadya mendapatkan pertolongan medis.
Armand berjalan tergesa membelah koridor restoran, mendekap tubuh Nadya dengan sangat erat di dadanya.
Dadanya bergemuruh hebat, beradu antara amarah yang membakar dada pada Sarah dan Rian, serta rasa cemas yang teramat sangat melihat kondisi istrinya yang terkulai lemas tak berdaya.
"Kenapa kamu keras kepala tidak memberitahukan aku yang sebenarnya?" bisik Armand lirih dengan suara bergetar, menatap wajah pucat Nadya yang memejamkan mata di dalam dekapannya saat mereka melangkah meninggalkan rumah makan tersebut.
Air mata kecemasan nyaris menetes di pipi Armand.
Pria itu terus melangkah cepat menuju lift khusus, menyesali keputusan istrinya yang selalu ingin menanggung bahaya sendirian demi melindunginya.
"Kamu selalu ingin melindungi Mas, Dek. Tapi, kamu malah membahayakan dirimu sendiri," gumam Armand lagi, mempererat dekapannya, menyalurkan seluruh kehangatan tubuhnya pada Nadya yang sama sekali tak bergeming.
Begitu pintu lift terbuka di area parkir basement, Armand langsung menuju mobilnya.
Dengan sangat hati-hati, ia merebahkan tubuh Nadya di kursi penumpang depan, membetulkan posisinya agar nyaman, dan memasangkan sabuk pengaman dengan jemari yang sedikit gemetar.
Sebelum menutup pintu, Armand mengusap lembut pipi dingin istrinya.
"Tahan sebentar ya, Sayang. Mas bawa kamu ke rumah sakit,"
Ia berlari memutari mobil, melompat ke kursi kemudi, dan menyalakan mesin.
Mobil mewah itu langsung melaju kencang membelah kegelapan malam, menembus arus jalanan kota menuju rumah sakit terdekat.
Di sepanjang jalan, sebelah tangan Armand tak pernah melepaskan genggaman jemari Nadya, sementara matanya sesekali melirik cemas ke arah sang istri, berdoa dalam hati agar wanita yang paling dicintainya itu tidak mengalami hal buruk.
Sesampainya di rumah sakit, Armand langsung berteriak memanggil bantuan.
Beberapa perawat dan dokter jaga dengan sigap berlari membawa brangkar ke dekat mobil.
Dengan kehati-hatian yang luar biasa, Armand menaruh tubuh istrinya di atas brangkar, memastikan kepala Nadya tersangga dengan aman.
"Cepat, Dok! Istri saya tidak sadarkan diri setelah diberi minuman mencurigakan!" seru Armand dengan suara panik yang menahan amarah dan kecemasan.
"Baik, Pak! Mari ikut kami ke ruang UGD!" panggil dokter seraya mendorong brangkar itu dengan cepat membelah koridor rumah sakit yang dingin.
Genggaman tangan Armand pada jemari Nadya terlepas saat pintu ruang UGD ditutup rapat, meninggalkan dirinya yang mematung di luar ruangan.
Pria itu menyandarkan punggungnya di dinding lorong, memejamkan mata erat-erat, dan menghembuskan napas berat yang bergetar.
Tak berselang lama, derap langkah kaki tergesa terdengar mendekat.
Siska berlari menyusuri koridor UGD bersama dua orang pria berjas rapi—tim hukum perusahaan Nadya—serta dua petugas kepolisian berpakaian dinas.
"Pak Armand! Bagaimana keadaan Nyonya Nadya?" tanya Siska dengan wajah pucat dan penuh rasa bersalah.
Armand mengusap wajahnya kasar lalu menatap Siska.
"Dokter masih memeriksanya di dalam. Tapi obat itu reaksinya sangat cepat."
Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada dua petugas polisi dan tim hukum di samping Siska.
Sorot matanya yang tadi penuh kesedihan seketika berubah menjadi sangat dingin dan tajam.
"Kalian sudah mengamankan bukti-buktinya?" tanya Armand dengan nada rendah yang sarat ancaman.
"Sudah, Pak Armand," jawab salah satu pengacara dengan mantap.
"Tim detektif berhasil merekam seluruh kejadian di restoran, termasuk momen saat Sarah mencampurkan obat ke minuman Nyonya Nadya. Saat ini pihak kepolisian sudah meluncur ke lokasi untuk menangkap Sarah dan Rian atas tuduhan percobaan penganiayaan, percobaan pemerkosaan, dan konspirasi kejahatan."
Armand mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Pastikan mereka berdua meringkuk di dalam penjara tanpa ada celah untuk bebas dengan jaminan apa pun. Gunakan seluruh kekuatan hukum yang kita punya."
"Tentu, Pak. Kami pastikan hal itu," tegas sang pengacara.
Tepat saat itu, pintu UGD terbuka. Dokter keluar sambil melepas stetoskop yang melingkar di lehernya. Armand langsung melangkah cepat mendekati sang dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?"
Dokter tersenyum menenangkan.
"Beruntung Bapak membawa beliau sangat cepat. Cairan yang diminumnya adalah zat penenang dosis tinggi yang berisiko jika dibiarkan terlalu lama. Kami sudah melakukan tindakan penanganan dan pembilasan lambung. Kondisi Nyonya Nadya saat ini sudah stabil, tinggal menunggu efek obatnya hilang sepenuhnya. Beliau akan segera dipindahkan ke ruang perawatan."
Mendengar penuturan dokter, sekujur tubuh Armand mendadak lemas oleh rasa lega yang luar biasa.
"Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Dok. Terima kasih banyak."
Armand mengusap dadanya seraya menguncupkan doa syukur.
Kini, badai itu perlahan mulai berlalu. Penjahat yang mengusik hidup mereka sudah berada di ujung kehancuran, dan wanita yang amat dicintainya telah selamat di dalam dekapannya.
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,