Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Estetika Baru yang Mendobrak Pasar
"Nona, dengan segala hormat, gambar desain ini terlihat seperti sarang burung yang kusut."
Suara serak Tuan Bernard, kepala serikat perajin perak terbaik di distrik selatan Lumière, menggema di dalam ruangan sewaan yang kini menjadi bengkel kerja Le C'eow. Pria paruh baya itu memicingkan matanya yang mulai rabun. Tangannya yang kasar menunjuk selembar perkamen cetak biru di atas meja kayu. Keningnya berkerut sangat dalam, menunjukkan ketidaksetujuan yang nyata.
Geneviève duduk di seberang meja dengan postur tegak yang sangat elegan. Ia menatap pria tua itu tanpa berkedip.
"Sarang burung yang kusut?" ulang Geneviève dengan nada datar dan dingin. "Coba Anda perhatikan lebih teliti, Tuan Bernard. Itu adalah ukiran sulur ranting dan kuncup bunga yang saling mengunci. Rangkaian itu dirancang untuk menopang batu permata dari berbagai sudut agar cahaya bisa memantul sempurna."
Tuan Bernard menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia mendorong perkamen itu kembali ke arah Geneviève.
"Ini tidak masuk akal, Nona Montmirail," keluh sang perajin keras kepala. "Pasar ibu kota menyukai perhiasan yang bersih, sederhana, namun terlihat mahal. Bongkahan emas kuning murni yang besar. Zamrud hijau sebesar telur puyuh. Rubi merah yang warnanya menyala terang dari jarak sepuluh meter. Desain Anda ini bertentangan dengan semua aturan dasar itu."
Rasa frustrasi merayap perlahan di dada Geneviève. Berurusan dengan orang-orang yang terjebak dalam tradisi usang adalah bagian paling melelahkan dari membangun sebuah kerajaan bisnis. Para"Ini lelucon yang sangat buruk, Nona Geneviève. Anda membuang waktu saya."
Monsieur Fabron melempar gulungan kertas perkamen ke atas meja kayu ek yang kusam. Pria paruh baya itu bersedekap, menatap Geneviève dengan sebelah alis terangkat dan ekspresi merendahkan yang tidak berusaha ia tutupi. Di belakangnya, tiga orang perajin magang menghentikan pekerjaan mereka memoles emas hanya untuk mencuri dengar.
"Saya membayar waktu Anda, Monsieur Fabron. Jadi secara teknis, saya tidak membuangnya. Saya membelinya." Geneviève menjawab dengan nada tenang yang mematikan. Ia tidak beranjak dari kursi kayunya, punggungnya tegak sempurna.
"Uang Anda tidak bisa membeli selera yang baik," cibir Fabron sambil mengetukkan jarinya yang tebal ke atas cetak biru yang baru saja ia lempar. "Lihat ini. Apa ini? Desain ini terlalu ramai. Terlalu banyak lekukan. Terlalu banyak detail yang tidak perlu. Dan perak? Anda ingin kami menggunakan perak murni untuk perhiasan bangsawan? Perak adalah logam kelas dua."
"Perak adalah logam yang memantulkan cahaya bulan," sela Geneviève. Matanya menatap tajam ke arah perajin utama itu. "Emas kuning sudah terlalu membosankan."
"Emas kuning adalah standar kemewahan Istana Soleil, Nona. Standar yang ditetapkan oleh Yang Mulia Putri Mahkota Camille. Desain minimalis, garis yang bersih, satu batu permata utama. Itu yang disebut elegan. Bukan... benda ini." Fabron menunjuk desain Geneviève seolah itu adalah penyakit menular. "Gaya maksimalis Anda ini berteriak seperti orang miskin yang baru pertama kali melihat permata. Terlalu meriah. Tidak ada satu pun bangsawan waras yang akan memakai barang seramai ini di pesta teh mereka."
Odette yang berdiri di belakang kursi Geneviève berdehem pelan. Tangan pelayan itu sudah menyusup ke balik celemeknya, tempat ia biasa menyimpan kunci inggris. Geneviève mengangkat satu jari, memberi isyarat agar Odette menahan diri.
Geneviève menghela napas panjang. Rasa frustrasi mulai merayap di dadanya, bukan karena kritik pria itu, melainkan karena betapa dalamnya cuci otak yang dilakukan keluarga kerajaan terhadap seluruh negeri. Bahkan seorang perajin independen di sudut ibu kota pun memuja estetika hambar Camille seolah itu adalah hukum alam. Mereka dibutakan. Mereka diajari untuk menyukai apa yang istana suruh mereka sukai.
Tetapi Geneviève tahu kebenarannya sekarang. Ia mengingat bros di balik kerah kemeja Lucien. Desain maksimalis, sulur perak yang rumit, paduan batu safir biru dan kecubung ungu yang menyatu dalam keharmonisan yang liar dan magis. Itu adalah estetika aslinya. Estetika yang diam-diam Lucien simpan di dekat jantungnya, terlepas dari manipulasi ingatan yang mengikat pria itu.
"Monsieur Fabron," ucap Geneviève akhirnya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke mata pria itu. "Berapa banyak perajin di jalan ini yang membuat perhiasan minimalis emas kuning persis seperti milik istana?"
Fabron membusungkan dadanya. "Semuanya. Karena itulah yang laku terjual."
"Tepat sekali. Dan berapa banyak dari kalian yang benar-benar mendapatkan keuntungan besar dari sana? Kalian saling banting harga, bukan? Bersaing ketat memperebutkan remah-remah pelanggan yang tidak mampu membeli perhiasan asli dari butik langganan istana."
Wajah Fabron sedikit memerah. Mulutnya terbuka untuk membantah, tetapi tidak ada suara yang keluar.
"Kalian membuat produk tiruan yang homogen," lanjut Geneviève tanpa ampun. Suaranya dingin dan analitis. "Pasar kalian jenuh. Semua orang memakai barang yang tampak sama. Tidak ada eksklusivitas. Saya menawarkan kalian jalan keluar dari kebosanan itu. Sebuah estetika baru. Saya menyebutnya kemewahan dongeng, atau fairy tale premium. Sesuatu yang berani, rumit, dan tidak bisa ditiru oleh perajin amatir karena membutuhkan tingkat keahlian yang sangat tinggi."
Geneviève menarik kembali cetak biru itu dan membentangkannya agar terlihat lebih jelas. Gambar itu menunjukkan sebuah kalung dengan desain sulur akar yang melilit batu safir biru tua, dihiasi tetesan kecil berlian dan serpihan kecubung ungu. Desain itu organik, liar, sekaligus sangat elegan.
"Sulur-sulur ini harus dipahat dengan presisi," Geneviève menjelaskan sambil menelusuri garis desainnya dengan ujung jari berbalut sarung tangan sutra. "Logam perak akan dipoles sampai mengilap sempurna, menciptakan kontras yang tajam dengan warna biru dan ungu. Ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah karya seni yang bercerita."
"Tetap saja, ukirannya terlalu banyak. Kami akan menghabiskan waktu seminggu hanya untuk membuat satu cetakan," keluh Fabron, meskipun matanya kini menatap cetak biru itu dengan sedikit keraguan. Insting senimannya mulai terpancing.
"Itu karena Anda malas, Monsieur."
"Apa Anda bilang?" Fabron menggebrak meja.
"Anda dengar ucapan Nona saya," potong Odette cepat. Suara pelayan itu terdengar sangat tenang namun membawa ancaman yang tidak bisa diabaikan. "Beliau bilang Anda malas. Dan jika Anda tidak bisa mengerjakan desain ini, kami akan mencari perajin lain yang tangannya tidak sekaku kayu bakar."
"Odette," tegur Geneviève pelan, meski sudut bibirnya sedikit berkedut menahan senyum. Ia kembali menatap Fabron. "Saya butuh perajin yang mengerti detail. Jika Anda hanya ingin membuat cincin emas polos yang bisa dibuat oleh anak magang dalam tidurnya, maka Anda benar. Saya membuang waktu saya."
Geneviève berdiri, merapikan gaun day dress berwarna hijau zamrudnya. Ia meraih cetak biru di atas meja dan mulai menggulungnya perlahan.
"Tunggu." Suara Fabron terdengar tertahan. Pria itu menelan ludah, matanya melirik ke arah kantong beludru tebal yang tergeletak di samping sarung tangan Geneviève. "Berapa banyak yang akan Anda bayar untuk pesanan pertama ini?"
Geneviève menghentikan gerakannya. Ia membuka kantong beludru itu dan menuangkan isinya ke atas meja. Suara gemerincing koin emas murni terdengar nyaring, memantul di dinding bengkel yang sempit. Mata para perajin magang di belakang Fabron membelalak lebar.
"Ini adalah uang muka," kata Geneviève santai. "Tiga kali lipat dari harga pasar untuk pekerjaan perak. Dan Anda akan mendapatkan jumlah yang sama setelah dua belas potong perhiasan pertama selesai. Tentu saja, dengan syarat."
Fabron menatap koin-koin itu dengan lapar. Sikap angkuhnya menguap seketika. "Syarat apa, Nona?"
"Tingkat kerahasiaan mutlak sebelum peluncuran, dan tidak ada satu pun detail yang boleh diubah. Jika saya menggambar lima daun pada sulur ini, saya ingin melihat lima daun. Bukan empat, bukan enam. Jika Anda menggunakan perak kualitas rendah yang menghitam dalam sebulan, saya akan memastikan bengkel ini ditutup sebelum musim dingin."
Fabron mengusap rahangnya yang kasar. Ia menatap cetak biru itu sekali lagi, lalu menatap tumpukan emas di atas mejanya. Ego senimannya bertarung dengan keserakahannya, dan seperti yang Geneviève perkirakan, keserakahan menang telak.
"Baiklah," gerutu Fabron akhirnya. Ia meraup koin-koin itu dan menyimpannya ke dalam laci. "Kami akan mengerjakannya. Tapi saya peringatkan Anda, Nona Geneviève. Jika barang-barang aneh ini tidak laku, jangan salahkan bengkel saya. Kami hanya mengikuti pesanan orang gila."
"Saya jamin, Monsieur, orang-orang akan mengemis untuk membelinya." Geneviève membalas dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. Ia menyerahkan kembali cetak biru tersebut. "Saya beri waktu dua minggu. Odette akan datang memeriksa perkembangannya setiap tiga hari."
"Dua minggu? Itu waktu yang sangat sempit untuk ukiran sedetail ini!" protes Fabron.
"Maka saya sarankan Anda dan anak-anak magang Anda mulai bekerja sekarang, bukannya berdiri melongo di sana." Geneviève menatap tajam ke arah tiga pemuda di sudut ruangan. Mereka buru-buru menunduk dan kembali memoles perhiasan emas di tangan mereka.
Tanpa mengucapkan selamat tinggal, Geneviève berbalik dan berjalan keluar dari bengkel yang pengap itu. Odette mengikutinya dari belakang, membuka pintu kayu yang berderit nyaring.
Udara sore di luar bengkel terasa lebih segar. Jalanan distrik perajin cukup ramai oleh lalu lalang kereta kuda pembawa pasokan batu bara dan logam. Geneviève masuk ke dalam keretanya, bersandar pada bantal beludru dengan napas lelah.
"Mereka sangat menyebalkan, Nona," gerutu Odette saat kereta mulai bergerak. "Saya hampir saja melemparkan kunci inggris saya ke hidung babi pria tua itu."
"Itu tidak akan elegan, Odette. Dan kita butuh keahliannya. Fabron mungkin sombong, tapi reputasi pahatannya adalah yang terbaik di distrik ini."
"Tapi apakah Nona yakin mereka tidak akan mengacaukan desain Nona? Mereka tampak sangat memuja gaya Putri Mahkota."
Mendengar nama Camille, rahang Geneviève mengeras. Ia menatap ke luar jendela kereta, melihat deretan toko yang memajang perhiasan seragam. Emas kuning polos. Berlian potongan tunggal. Desain yang kaku dan tidak bernyawa.
Semuanya adalah cerminan dari Camille. Membosankan, manipulatif, dan memaksakan dominasi melalui penyeragaman paksa. Camille telah mencuri segalanya dari Geneviève. Reputasinya, posisinya di pergaulan sosial, dan yang paling parah, ia mencuri ingatan Lucien. Ia menanamkan kebohongan ke dalam pikiran Lucien, membuat pria itu percaya bahwa ia membenci Geneviève.
Namun bros itu membuktikan segalanya. Lucien mungkin tidak ingat, tetapi alam bawah sadarnya masih menyimpan cinta mereka dalam bentuk estetika perhiasan yang ia sembunyikan dari dunia.
Geneviève akan menggunakan itu. Ia tidak akan bermain pedang atau meracuni teh Camille. Ia akan menghancurkan sang Putri Mahkota di medan pertempuran yang paling dihormati oleh kaum bangsawan. Pengaruh sosial dan tren pasar. Ia akan membuat estetika Camille terlihat kuno dan murahan. Ia akan membuat seluruh ibukota memakai desain yang mengingatkan Lucien pada cinta sejati mereka. Ia akan memancing ingatan pria itu kembali, satu potong perhiasan pada satu waktu.
"Mereka tidak akan berani mengacaukannya, Odette," jawab Geneviève dengan suara pelan namun penuh tekad. "Mereka terlalu menyukai uangku. Begitu koleksi pertama ini diluncurkan, kita akan mengadakan pameran pribadi. Kita akan mengundang semua wanita bangsawan yang merasa dianaktirikan oleh faksi Putri Camille."
Odette tersenyum miring. "Balas dendam melalui mode. Saya menyukainya, Nona."
"Ini bukan sekadar mode. Ini adalah pernyataan perang."
Kereta kuda mereka melaju menjauhi distrik perajin, meninggalkan bengkel Fabron yang kini disibukkan oleh pesanan baru.
Di dalam bengkel, Fabron sedang mengomel sambil mempersiapkan alat-alat pemotong perak. Ia menyuruh anak-anak magangnya untuk membersihkan meja dan menyiapkan tungku peleburan.
"Cepat bergerak! Kita punya pekerjaan berat!" teriak Fabron. Pria itu meletakkan gulungan cetak biru Geneviève di atas meja kerjanya, lalu pergi ke ruang belakang untuk mengambil balok-balok perak murni.
Di sudut ruangan, seorang anak magang bernama Theo berhenti bekerja. Pemuda kurus dengan rambut cokelat kusam itu memastikan dua rekannya sedang sibuk memindahkan batu bara, sebelum ia melangkah diam-diam mendekati meja kerja Fabron.
Matanya yang kecil dan tajam menatap desain sulur daun dan paduan batu kecubung ungu di atas kertas biru itu. Itu memang desain yang sangat tidak biasa. Sesuatu yang akan langsung menarik perhatian siapa pun yang melihatnya.
Theo menoleh ke belakang, memastikan Fabron masih berada di ruang penyimpanan. Dengan gerakan cepat dan terlatih, pemuda itu merogoh saku celemeknya, mengeluarkan selembar kertas kalkir tipis dan sepotong arang arsitek. Ia meletakkan kertas kalkir di atas cetak biru Geneviève dan mulai menjiplak garis-garis utama desain tersebut.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit baginya untuk menyalin bentuk kalung rumit itu. Tangannya bergerak tanpa ragu, merekam letak safir dan ukuran detail sulur peraknya.
Begitu selesai, Theo melipat kertas kalkirnya menjadi kotak kecil dan menyembunyikannya di balik lapisan dalam sepatunya. Ia merapikan kembali posisi cetak biru asli di atas meja persis seperti semula, lalu bergegas kembali ke sudutnya, mengambil kain lap seolah ia sedang membersihkan sisa serbuk emas.
Fabron keluar dari ruang belakang membawa kotak berisi perak mentah. "Theo! Jangan bermalas-malasan! Siapkan cetakan lilinnya sekarang!"
"Baik, Tuan!" sahut Theo dengan nada patuh.
Pemuda itu menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum licik yang terbentuk di bibirnya. Ia tahu persis berapa harga salinan desain ini. Seorang ksatria dari faksi kerajaan telah mendatanginya bulan lalu, menawarinya kepingan emas secara rutin hanya untuk melaporkan setiap pergerakan tidak biasa atau pesanan mencurigakan di distrik perajin.
Pesanan Nona Geneviève yang dibenci oleh istana pasti akan menjadi informasi yang sangat berharga. Malam ini, setelah bengkel ditutup, Theo akan menyerahkan gambar jiplakan ini kepada kontak rahasianya.
Putri Mahkota Camille pasti akan sangat senang melihat karya ini. Dan mungkin, istana akan merilis desain yang sama persis dalam versi emas kuning yang lebih murah, beberapa hari sebelum Geneviève sempat meluncurkan perhiasannya ke pasar.