Zainna Keisha Nugraha, seorang Mahasiswi kampus ternama di Jakarta harus menerima pernikahannya dengan seorang Profesor yang merupakan salah satu dosennya yang berstatus sebagai duda beranak satu. Inna menerima pernikahan ini karena sudah terlanjur sayang pada Putri kecil yang sangat manis dengan nasib yang sama dengannya yaitu ditinggalkan oleh ibu kandungnya. Namun Inna juga harus menelan pahit bahwa suaminya masih sangat mencintai istri pertamanya dan sangat sulit untuk Inna dapat menggantikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desih nurani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Satu
Hari ini adalah hari di mana Samuel akan berangkat keluar kota. Inna terlihat sibuk mengecek barang-barang penting yang akan Samuel bawa. Ia tidak mau ada yang tertinggal dan mempersulit suaminya. Setelah di rasa aman, Inna bergegas menyiapkan pakain suaminya, selagi menunggu Samuel selesai mandi.
Selang beberapa saat, Samuel keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Inna yang melihat itu terkesiap, suaminya terlihat sangat tampan hanya dengan sehelai handuk yang melingkar di pinggangnya. Memperlihatkan perutnya yang sixpack. Inna menelan air ludahnya yang terasa kelu. Sampai tak menyadari jika suaminya itu sudah di depan mata.
"Ada apa? Apa aku terlihat menggoda?" Tanya Samuel mengecup bibir istrinya gemas. Inna terhenyak karena ulah Samuel. Samuel semakin gemas melihat wajah istrinya yang lucu. Lalu ia pun menarik pinggang Inna, menghapus jarak di antara mereka. Inna kaget dan langsung menyentuh dada bidang suaminya.
"Ma... mas. Baju Inna basah, sana pake baju." Inna terlihat gugup. Karena ini pertama kalinya mereka terlihat sangat intim. Samuel tersenyum saat melihat rona merah di wajah istrinya. Dan lagi-lagi matanya menangkap bibir seksi istrinya yang selalu memabukkan. Samuel mendekatkan wajahnya dan hendak menciumnya. Namun, jemari Inna yang lebih dulu menyentuh bibirnya.
"Kamu hampir terlambat Mas," ucap Inna seraya menarik diri dari dekapan Samuel. Ia masih sangat malu terlalu intim dengan suaminya.
Samuel mengehela napas berat dan segera mengenakan pakaianya.
"Mas, apa masih ada barang yang tertinggal?" tanya Inna sambil memperhatikan Samuel yang tengah mengenakan kemejanya. Inna menghampiri Samuel, lalu membantu memasangkan kancing baju suaminya. Samuel terus memperhatikan jari lentik itu memasukan satu per satu kancing kemeja miliknya. Lalu tatapannya berpindah pada bibir itu lagi. Ingin sekali rasanya Samuel menerkam istrinya. Hanya saja ia masih menghargai istrinya. Ia tahu Inna belum sepenuhnya siap.
"Sepertinya tidak ada, Sayang." Jawab Samuel meletakan tanganya di pinggang sang istri. Inna meraih dasi di atas ranjang, lalu memasangkannya di leher Samuel. Dan itu tak lepas dari pengawasan Samuel.
"Sudah." Kata Inna setelah memasangkan dasi Samuel. Namun, ia tak langsung beranjak dari sana. Inna mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Samuel. Lalu keduanya saling mengunci pandangan.
"Kapan kamu selesai haid?" Tanya Samuel yang berhasil membuat Inna terkejut.
"Hah?" Inna bingung harus mejawab apa. Pertanyaan Samuel terlalu memalukan untuknya.
"Mas tanya, kapan kamu selesai haid, Sayang?" Ulang Samuel mempertegas pertanyaannya.
"Em... tiga hari lagi." Jawab Inna dengan cepat. Inna bukan orang bodoh yang tak mengerti arti dari pertanyaan suaminya. Inna menggigit bibirnya. Menunggu Samuel bicara.
"Hm."
Hanya itu? Inna tidak habis pikir dengan suaminya. Setelah pertanyaan memalukan itu dan hanya jawaban singkat yang ia lontarkan. Huh, membuat Inna kagum.
"Mas...." Inna mendorong dada bidang suaminya sehingga menciptakan jarak di antara mereka. Namun, lagi-lagi Samuel menarik pinggangnya dan menghapus jarak mereka. Inna mengangkat wajanya.
"Mas akan merindukanmu, Sayang." Inna bisa melihat tatapan kelam di mata suaminya. Inna mengalungkan kedua tangannya di leher Samuel. Dan memberanikan diri untuk mencium bibir sensual milik suaminya. Tentu saja Samuel menyambutnya dengan sepenuh hati. Itu yang ia nantikan sejak tadi. Jemari Samuel menyelusup di antara rambut istrinya. Memperdalam kecapan mereka. Samuel tak membiarkan Inna terlepas kali ini. Cukup lama mereka bergumul dalam kemesraan.
Perlahan Samuel menjauhkan wajahnya, menatap mata sayu istrinya. Keduanya kini tengah di rasuki gairah yang membara. "Cepat kembali."
"Akan Mas usahakan." Balas Samuel yang berhasil membuat Inna bingung.
"Memang Mas ada rencana lama di sana?" tanya Inna penasaran dan sedikit kecewa.
"Entahlah." Jawab Samuel asal. Inna merengut karena tidak suka dengan jawaban suaminya. Samuel yang melihat itu terkekeh geli.
"Mas bercanda Sayang, secepatnya Mas akan pulang. Bersabarlah," timpal Samuel yang berhasil mendapat cubitan dari Inna. Samuel pun semakin terkekeh. Mengerjai istrinya sangatalah menyenangkan. Inna mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Kamu sangat cantik saat merajuk." Puji Samuel yang kembali membuat Inna merona.
"Mas... sudah ah, nanti kamu terlambat." Rengek Inna yang merasa malu.
"Sebentar lagi Sayang, Mas masih rindu." Samuel kembali menyecap bibir istrinya dan kali ini lebih menuntut. Inna mencengkram rambut Samuel dengan kuat. Keduanya kembali terhanyut dalam gairah. Hingga tak menyadari jika pintu kamar mereka terbuka.
"Mama sama Papa sedang apa?" tanya Elya yang berhasil mengejutkan keduanya.
Inna langsung mendorong Samuel agar menjauhkan. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. Mereka juga seperti orang bodoh yang kepergok maling. Inna mencoba tersenyum dan menghampiri Elya.
"Emm... Mama sama Papa sedang bicara Sayang." Bohong Inna yang bingung harus menjawab apa.
"Owh... Mama, Elya dari tadi nunggu Mama sama Papa dibawah. Tapi Mama sama Papa lama banget." Ujar Elya dengan wajah polosnya. Ah, Inna bernapas lega karena Elya tidak banyak bertanya seperti biasanya. Samuel terkekeh geli saat melihat tingkah lucu istrinya.
"Uh... kasian banget sih anak Mama udah nunggu lama ya? Mama sama Papa minta maaf ya? Sekarang Papa sudah selesai dan kita berangkat." Inna mencubit pipi Elya gemas. Elya pun mengangguk antusias. Karena sejak awal mereka sudah berjanji untuk mengantar Samuel ke bandara.
Mereka pun bergegas menuju bandara, berhubung Samuel cuma memiliki sedikit waktu.
"Jaga diri baik-baik, Sayang. Jangan bandel dan keluyuran." Samuel mencium kening Inna begitu mesra.
"Mas juga baik-baik di sana, jangan lupa makan." Balasnya tersenyum begitu manis.
"Papa Elya boleh ikut ya?" rengek Elya yang langsung memeluk kaki Samuel. Inna yang melihat itu tertawa renyah.
Samuel menyejajarkan dirinya dengan Elya, mengecup kedua pipi gembul itu dengan gemas. "Papa kerja, Sayang. Lain kali kita liburan ya, Papa janji."
"Beneran Pa?" Mata Elya terlihat berbinar.
"Iya, Sayang. Untuk sekarang Papa harus kerja. Elya jangan bandel dan nyusahin Mama ya? Janji sama Papa."
"Yeee... Elya janji gak akan bandel, Pa. Makasih Papa, Elya sayang Papa." Elya bersorak lalu mencium pipi Samuel. Inna tersenyum bahagia melihat kemesraan mereka.
"Ya sudah, Papa berangkat dulu ya?Assalamualaikum." Ucap Samuel mencium kening Elya, lalu beralih menatap Inna yang sedang tersenyum padanya.
"Wa'alaikumusalam." Balas Inna. Elya mendekati Inna dan memeluk kakinya. Menatap punggung Samuel yang menghilang dibalik tembok.
Inna juga akan merindukanmu, Mas. Cepat pulang dan jangan buat Inna kecewa.
***
Inna duduk termenung di kelasnya yang kosong, karena jam pelajaran baru akan dimulai satu jam lagi. Inna merasa gelisah, karena sudah dua hari Samuel sama sekali tidak memberinya kabar. Entah kesibukan apa yang sedang Samuel lakukan, sehingga lupa memberi kabar pada istrinya.
"Woi... Ngelamun aja Lo." Teriak Dita yang berhasil membuat Inna terperanjat kaget.
"Ck, kebiasaan deh Lo. Selalu aja buat gw jantungan." Kesal Inna menatap Dita tajam.
"Abis Lo sih, dari kemaren gw perhatiin ngelamun terus." Balas Dita duduk di sebelanya. Inna mendengus kesal.
"Belum ada kabar dari suami Lo huh?" tanya Dita.
Inna menghela napas gusar, lalu menggelengkan kepalanya.
"Mungkin dia sibuk kali, makanya gak sempat kasih kabar." Ujar Dita mencoba meyakinkan sahabatnya.
"Gw tau dia sibuk, tapi setidaknya dia hubungin gw lah. Gak makan waktu satu jam buat ngetik pesan. Dia gak ngerti kalau gw khawatir di sini. Bahkan dia gak ngabarin gw kalau dia udah sampe disana atau belum. Gw gak bisa tidur tahu gak sih?" Omel Inna panjang lebar. Tak terasa air matanya menetes. Dita yang melihat itu ikutan sedih.
"Sabar dong Na, Lo positif thingking aja. Mungkin suami Lo beneran sibuk dan gak bisa diganggu. Lagian lusa suami Lo kan udah balik." Kata Dita mencoba menenangkan Inna. Ia tahu sahabatnya itu tengah gelisah.
"Ya, elo bener. Gw harus sabar sampe suami gw pulang." Inna bersandar di pundak Dita. Namun tangisannya tak kunjung berhenti.
"Inna lo kenapa nangis?" tanya Juju yang baru aja masuk kelas. Karena panik, Juju langsung duduk di sebelah Inna.
"Abis potong bawang tadi dia, makanya nangis." Jawab Dita ngasal.
"Emang Inna mau masak apa di kampus?" tanya Juju yang berhasil membuat Dita melotot. Pasalnya Dita cuma bercanda dan sahabatnya itu malah menanggapi dengan serius. Ah, Dita lupa kalau sahabatnya itu memang lola.
"Masak hati." Ketus Dita yang mulai kesal dengan sahabatnya yang satu itu.
"Ih... jangan masak hati, gak enak pahit." Celetuk Juju yang notabennya tak suka dengan hati.
"Ju, mending diam aja deh. Ganggu suasana hati orang aja deh. Panas nih hati gw gara-gara lo." Geram Dita yang jenuh dengan sifat lola Juju. Sedangkan Inna, masih terdiam dalam lamunannya.
"Kan udah dibilang jangan masak hati, ya panas lah hatinya." Sahut Juju yang berhasil membuat Dita benar-benar emosi.
"Diam ju, diam ya... Diam." Dita menutup mulut Juju karena geram. Membuat si empu melotot.
"Iya deh gw diam, Ta." Juju mengerucutkan bibirnya kesal dengan ulah Dita. Lalu pandangannya kembali tertuju pada Inna.
"Inna Lo...." belum selesai Juju bicara, Dita kembali memelototi Juju dan berhasil membuat Juju bungkam.
***
Empat hari sudah sejak kepergian Samuel. Dan Inna belum juga mendapat kabar apa pun dari Samuel. Inna semakin resah, ia juga sudah mencoba menghubungi suaminya. Tetapi tak ada jawaban. Inna semakin panik, karena seharusnya hari ini Samuel pulang.
Hari mulai menjelang sore, tetapi lelaki itu belum kelihatan batang hidungnya. Jujur, Inna sangat merindukan juga mengkhawatirkannya.
"Kamu kemana sih Mas? Jangan buat istrimu cemas." Inna terus menatap ponselnya dengan penuh harapan. Air matanya kembali menetes. Ia amat sangat merindukan suaminya.
Hari ini Inna sengaja bolos dari kampus, karena berpikir Samuel akan pulang pagi ini. Bahkan Inna menitipkan Elya pada Diana, agar mereka bisa menghabiskan waktu berdua. Namun, harapannya harus sirna. Karena sepertinya Samuel tak akan pulang. Inna sangat sedih, Samuel membuatnya kecewa.
Sejak pagi Inna duduk di depan rumah, sampai saat ini ia masih di sana. Tatapannya terus tertuju pada pintu gerbang, berharap pintu itu terbuka dan menampakkan seseorang yang amat ia rindukan.
Inna mulai bosan dan bangkit dari duduknya. Perlahan berjalan menuju gerbang. Lalu membukanya, melihat keadaan jalan yang sangat sepi. Sama seperti hatinya sedang sepi. Inna melangkahkan kakinya tanpa arah. Dengan kedua tangan yang menyilang didada, merasakan udara sejuk yang mulai menyentuh kulitnya.
Karena terhanyut dalam lamunan, Inna tak menyadari jika sebuah mobil hitam berhenti tepat di sampingnya. Lalu keluar seorang pria bertubuh besar dan langsung membekap Inna dari belakang. Inna terus meronta sebelum kesadaranya perlahan menghilang. Kemudian orang itu melihat keadaan sakitar, setelah di rasa aman. Ia membopong tubuh Inna dan membawanya masuk ke dalam mobil. Mobil hitam itu melaju kencang meninggalkan komplek.
ceritanya keren,bagus
dan mantap
sukses
semangat
mksh
Ini kata Jidan pada Samuel
"Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"
Tau tidak Jidan itu kekasihnya didi dan di episode 28 dia melamar didi. Ini keistimewaan pebinor di novel2 egois, apapun kelakuannya selalu dibenarkan,
Kenapa novel harus egois dan tidak adil, pelakor dilakanat dibuat hina dan dihancurkan sedangkan pebinor begitu dipuja2, diistimewakan, dispesialkan, apapun salahnya selalu dibenarkan
Simple pertanyaan untuk author
Jika suami atau kekasihmu sangat perhatian dan membela mati matian istri orang lain, dan suami mengatakan seperti Jidan katakan pada samuel, (ini kata Jidan pada samuel "Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"). Apa kau akan bilang suamiku hebat karena perhatian dan mau merebut istri orang dan mencintai istri orang ituu