Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Gibran berjalan santai keluar dari gedung pusat pelelangan dengan senyum yang belum pudar dari wajahnya.
Udara sore ibu kota terasa sangat menyegarkan bagi pria yang baru saja meraup keuntungan miliaran rupiah ini.
Tring tring tring.
Ponsel retak di saku jas Gibran tiba-tiba berdering keras memecah lamunannya.
Ia melihat deretan nomor asing yang sangat cantik dan mudah diingat di layar ponselnya.
"Halo, dengan siapa di sini?" sapa Gibran tenang saat mengangkat telepon tersebut.
"Kudengar seorang pemuda tampan berjas biru navy baru saja membuat pewaris Keluarga Mahendra muntah darah di lantai VIP."
Suara wanita yang sangat elegan dan sedingin es terdengar mengalun merdu dari seberang telepon.
Gibran terkekeh pelan karena ia langsung mengenali suara tajam milik putri konglomerat tersebut.
"Berita menyebar sangat cepat di wilayah kekuasaanmu, Nona Aurel Larasati."
"Di pasar ini, tidak ada satu pun debu yang jatuh tanpa sepengetahuanku, Gibran," balas Aurel dengan nada berwibawa.
"Giok Darah Merah adalah barang langka yang bahkan lebih sulit dicari daripada Hijau Kaisar."
"Temui aku di Restoran Bintang Langit malam ini jam tujuh, kita punya banyak hal penting untuk dibicarakan," perintah Aurel secara sepihak.
Tut.
Sambungan telepon diputus sebelum Gibran sempat memberikan jawaban iya atau tidak.
"Wanita yang sangat mendominasi, tapi aku menyukainya," gumam Gibran sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
Tepat pukul tujuh malam, Gibran melangkah masuk ke lobi Restoran Bintang Langit yang berada di lantai puncak gedung tertinggi di kota.
Seorang pelayan wanita berpenampilan rapi langsung membungkuk hormat menyambutnya.
"Selamat malam Tuan, Nona Aurel sudah menunggu Anda di ruangan VVIP ujung lorong," ucap pelayan itu sopan.
Gibran mengangguk dan berjalan menyusuri lorong berkarpet merah tebal yang sangat empuk diinjak.
Cklek.
Pintu kayu mahoni berukir itu terbuka, memperlihatkan Aurel yang sedang duduk anggun menatap pemandangan lampu kota dari dinding kaca.
Malam ini wanita itu mengenakan gaun malam berwarna hitam legam yang menonjolkan lekuk tubuh sempurnanya.
"Kau tepat waktu, silakan duduk," ucap Aurel sambil menunjuk kursi kosong di seberangnya.
Gibran menarik kursi dan duduk dengan postur santai namun tetap waspada.
"Jadi, Nona Aurel mengundangku makan malam mewah hanya untuk melihat batu merah kecil ini?" sindir Gibran langsung ke inti pembicaraan.
Gibran mengeluarkan Giok Darah Merah dari sakunya dan meletakkannya di atas meja makan berlapis taplak putih bersih.
Mata tajam Aurel langsung terkunci pada kilauan merah pekat yang memancar dari batu tersebut.
"Sempurna, warna merahnya sangat padat dan tidak ada setitik pun kotoran hitam di dalamnya," puji Aurel sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.
Aurel menatap langsung ke dalam mata Gibran dengan sorot penuh ambisi.
"Keluarga Larasati akan mengambil batu ini seharga dua setengah miliar rupiah malam ini juga."
"Tentu saja aku setuju, uang sebanyak itu sangat berguna untuk modal berjudi ke depannya," jawab Gibran sambil tersenyum lebar.
Aurel menjentikkan jarinya ke arah asisten pribadinya yang berdiri di sudut ruangan.
Tik.
Hanya dalam hitungan detik, ponsel Gibran kembali bergetar menerima notifikasi transfer dana sebesar dua setengah miliar rupiah.
"Batu itu milikmu sekarang, silakan ambil," ucap Gibran santai sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
Namun Aurel tidak langsung mengambil batu tersebut, ia justru menyilangkan tangannya di atas meja.
"Uang dua setengah miliar itu bukan hanya untuk membeli giokmu, Gibran."
"Itu juga sebagai uang tanda jadi agar kau mau menjadi perwakilan Keluarga Larasati di pelelangan akbar akhir bulan ini," ucap Aurel dengan nada serius.
Gibran menaikkan sebelah alisnya merasa sedikit terkejut dengan tawaran tiba-tiba tersebut.
"Pelelangan akbar? Mengapa raksasa seperti Keluarga Larasati butuh bantuan dari orang baru sepertiku?" tanya Gibran penasaran.
Aurel menghela napas pelan, raut wajahnya berubah menjadi sedikit lebih tegang.
"Keluarga Mahendra diam-diam telah menyewa Master Giok peringkat tiga nasional untuk menghancurkan monopoli pasar keluargaku."
"Jika mereka berhasil memenangkan lelang batu Raja Hijau di acara nanti, pamor Keluarga Larasati akan hancur lebur," jelas Aurel menahan amarah.
Gibran mengetukkan jarinya ke atas meja secara berirama sambil memikirkan informasi berharga tersebut.
Tuk tuk tuk.
"Lalu Nona mengira aku bisa mengalahkan master giok tingkat nasional itu hanya karena aku sedang beruntung dua kali hari ini?" pancing Gibran tenang.
Aurel menatap Gibran dengan senyum miring yang penuh arti.
"Aku tahu kau tidak sekadar mengandalkan keberuntungan, Gibran."
"Kau menjebak Rio secara sengaja dengan memanipulasi emosi dan kesombongannya sampai dia membuang dua miliar untuk batu semen."
"Aku butuh mata tajammu, dan aku butuh kelicikanmu untuk menghancurkan Rio dan ayahnya secara permanen," tegas Aurel tanpa ragu sedikit pun.
Mendengar nama Rio dan ayahnya disebut, aura membunuh perlahan menguar dari tubuh Gibran.
Suhu di dalam ruangan VVIP itu seolah turun beberapa derajat membuat asisten Aurel merinding ketakutan.
"Aku akan menghancurkan Keluarga Mahendra, tapi bukan sebagai bawahanmu," ucap Gibran dengan suara rendah yang mengintimidasi.
"Aku akan bergerak sebagai sekutu sejajarmu, dan saat Keluarga Mahendra bangkrut nanti, aku minta setengah dari seluruh aset perusahaan mereka."
Aurel terdiam cukup lama mendengar permintaan yang sangat gila dan serakah dari pemuda di depannya ini.
Setengah aset Keluarga Mahendra bernilai puluhan triliun rupiah.
Namun melihat rasa percaya diri mutlak di mata Gibran, Aurel akhirnya tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.
"Kau benar-benar pria gila yang sangat serakah, Gibran."
"Sepakat, hancurkan mereka, dan setengah kerajaan Mahendra akan menjadi milikmu," ucap Aurel meresmikan aliansi tersebut.
Gibran menyambut uluran tangan wanita itu dengan cengkeraman yang hangat namun tegas.
"Senang berbisnis denganmu, Nona Aurel."
Brak.
Suara tamparan keras menggema di dalam sebuah ruang perawatan VIP Rumah Sakit Medika.
Rio terpelanting dari tepi ranjang dan jatuh ke lantai dengan sudut bibir yang sobek dan berdarah.
"Anak tidak berguna! Kau membuang uang dua miliar milik keluarga hanya untuk membeli adukan semen palsu?!" bentak seorang pria paruh baya dengan jas rapi.
Pria itu adalah Bratasena Mahendra, ayah Rio sekaligus kepala Keluarga Mahendra yang terkenal kejam.
Rio merangkak memegangi kaki ayahnya dengan wajah bersimbah air mata ketakutan.
"M-maafkan aku Ayah! Ini semua salah pemuda gembel bernama Gibran itu!"
"Dia menjebakku dan membuatku kehilangan muka di depan semua master giok!" isak Rio dengan suara menyedihkan.
Siska yang berdiri gemetar di sudut ruangan rumah sakit bahkan tidak berani bernapas mendengar kemarahan Bratasena.
Bratasena menendang dada Rio hingga pria arogan itu kembali tersungkur ke lantai rumah sakit.
Bugh.
"Kau ditipu oleh seorang gembel dari desa dan kau masih berani menangis di depanku?"
"Siapa pemuda bernama Gibran ini sampai dia berani menginjak-injak harga diri Keluarga Mahendra di pasarku?" desis Bratasena dengan mata menyala marah.
Rio terbatuk-batuk menahan sakit di dadanya sambil berusaha duduk kembali.
"Dia... Dia dulu hanya mantan pacar miskin dari wanita ini, Ayah," tunjuk Rio ke arah Siska yang langsung pucat pasi.
"Tapi tiba-tiba dia berubah menjadi ahli giok dan mendapat dukungan dari Nona Aurel Larasati hari ini."
Bratasena menyipitkan matanya mendengar keterlibatan putri konglomerat saingannya tersebut.
"Aurel ikut campur dalam masalah ini? Sepertinya gadis kecil itu sedang mencoba memelihara anjing penjaga baru."
Bratasena merapikan jasnya lalu menatap asisten pribadinya yang berdiri di ambang pintu.
"Kirim sepuluh algojo bayaran tingkat tinggi dari dunia bawah malam ini juga."
"Cari pemuda bernama Gibran itu, patahkan kedua kaki dan tangannya, lalu bawa dia ke hadapanku hidup-hidup," perintah Bratasena tanpa belas kasihan.
"Baik, Tuan Besar Mahendra," jawab asisten itu sambil menunduk hormat lalu menghilang di balik pintu.
Bratasena kembali menatap putranya yang masih menangis memalukan di lantai.
"Bersihkan lukamu, anak bodoh. Kita punya pelelangan akbar akhir bulan ini dan Master Giok dari ibu kota provinsi akan tiba besok pagi."
"Kita akan menggunakan acara lelang itu untuk menelan seluruh bisnis Keluarga Larasati sekaligus," tawa Bratasena menggema mengerikan di dalam kamar rawat tersebut.
Di kamar hotel bintang lima miliknya, Gibran baru saja selesai mandi air hangat dan merebahkan tubuhnya di kasur king size.
Ia mengecek aplikasi m-banking di ponsel barunya yang dibelinya sore tadi.
Terdapat saldo nyaris menyentuh enam miliar rupiah terpampang jelas di layar ponselnya.
"Ini baru permulaan, Keluarga Mahendra akan membayar jauh lebih mahal dari sekadar ini," batin Gibran dengan seringai mematikan.
Tiba-tiba, suara mekanis yang dingin kembali berdengung menembus gendang telinganya.
[Peringatan. Deteksi ancaman fisik tingkat tinggi sedang bergerak menuju lokasi Master.]
[Estimasi waktu kontak: Tiga puluh menit. Jumlah musuh: Sepuluh orang bersenjata tajam.]
Gibran langsung bangkit duduk dari kasurnya dengan tatapan mata yang berubah menjadi sangat tajam.
[Syarat akumulasi kekayaan tahap satu terpenuhi.]
[Memulai pembaruan sistem. Membuka kemampuan baru: Penguatan Refleks Fisik Level 1.]
Rasa panas yang luar biasa tiba-tiba menjalar dari bagian belakang mata Gibran menyebar ke seluruh saraf otot di sekujur tubuhnya.
Otot-otot di lengan, dada, dan kaki Gibran terasa ditarik dan dipadatkan secara paksa menembus batas biologis manusia normal.
Krak krak.
Suara tulang yang merapat terdengar jelas saat tubuh Gibran menyesuaikan diri dengan kekuatan barunya.
Napas Gibran terengah-engah, namun senyum buas perlahan mengembang di wajahnya yang berkeringat.
"Sepuluh algojo bersenjata tajam? Mari kita lihat apakah mereka cukup pantas untuk menguji kekuatan baruku ini."