NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Diam-diam

Dua minggu pertama sebagai pasangan mengubah lorong antara unit 8A dan 8B menjadi batas dua dunia.

Di kampus, Reynard masih memanggil, "Ci Kei," dari jarak sopan. Ia tidak menggandeng tangan Keira, tidak duduk terlalu dekat, dan tidak pernah mengantarnya sampai depan kelas.

Begitu pintu apartemen tertutup, laki-laki itu akan menarik Keira ke dalam pelukan seolah mereka sudah berpisah berbulan-bulan.

"Kita baru bertemu di kantin satu jam lalu," protes Keira suatu sore.

"Di kantin aku nggak boleh menyentuhmu. Itu dihitung nggak bertemu."

"Logikamu rusak."

"Tapi kamu nggak melepaskan pelukanku."

Keira segera mendorongnya, terlambat untuk menyelamatkan harga diri.

Mereka menciptakan sandi lewat WA. Kalimat makan malam apa berarti aku merindukanmu. Pesan ada tugas berarti temui aku di tangga belakang kampus. Sementara beli telur berarti benar-benar membeli telur, setelah Reynard pernah salah paham dan datang ke kampus dengan senyum lebar padahal kulkas memang kosong.

Reynard: Makan malam apa?

Keira: Baru dua jam nggak bertemu.

Reynard: Jadi jawabannya?

Keira: Soto. Dan iya, aku juga.

Reynard mengirim tujuh stiker hati. Keira membalas satu stiker kesal, kemudian tersenyum pada layar sampai Nana menyenggol lengannya.

"Pacar rahasiamu?"

"Promo makanan."

"Promonya membuatmu tersenyum seperti itu? Beri aku nama aplikasinya."

Keira mengunci layar dan pura-pura membaca catatan.

Sepuluh menit kemudian, Reynard lewat di depan meja mereka bersama teman-teman Computer Science. Ia hanya mengangguk sopan kepada Keira, lalu terus berjalan. Sikap itu sesuai aturan, tetapi Keira tetap merasa jengkel tanpa alasan.

"Kenapa sekarang cemberut?" tanya Nana.

"Nggak cemberut."

"Tadi senyum karena ponsel, sekarang cemberut karena anak ganteng lewat tanpa menyapa. Polanya jelas."

Keira menendang kaki kursi Nana. Pada saat yang sama, ponselnya bergetar di bawah meja.

Reynard: Aku ingin berhenti dan menciummu. Aturanmu kejam.

Keira menahan senyum dan mengetik tanpa melihat layar.

Keira: Jangan drama. Kita bertemu di rumah.

Reynard: Makan malam apa?

Keira: Rendang. Bukan sandi. Kamu nggak kuat pedas.

Reynard: Kalau kamu yang menyuapi, aku kuat.

Keira mematikan ponsel sebelum wajahnya semakin merah. Nana memandangnya dengan ekspresi orang yang baru menyelesaikan teka-teki, tetapi untungnya dosen masuk dan menyelamatkan Keira dari interogasi.

Di apartemen, kehati-hatian mereka tidak selalu berhasil. Sore itu Keira duduk di sofa 8A membaca draf terjemahan, sementara Reynard berbaring dengan kepala di pangkuannya. Satu lengannya melingkar santai di pinggang Keira.

"Kamu berat," keluh Keira.

"Tapi tanganmu mengusap rambutku."

"Refleks."

"Aku suka refleksmu."

Ketukan keras di pintu membuat mereka melompat.

"Ko Rey! Buka!"

Suara Vincent membuat darah Keira turun ke kaki. Ia mendorong kepala Reynard sampai laki-laki itu hampir jatuh dari sofa.

"Vincent," bisiknya panik.

"Aku tahu suara adikmu."

"Kenapa dia ke sini?"

"Mau mengambil pelindung lutut. Aku lupa bilang."

Ketukan terdengar lagi. Reynard bangkit, tetapi Keira langsung menarik kerahnya.

"Ada bekas lipstik."

Reynard mengusap pipi yang salah. "Di mana?"

"Diam!"

Keira membersihkan sudut bibirnya dengan tisu. Reynard merapikan rambut, sementara ia sendiri membetulkan kancing blus dan menyembunyikan bantal yang tadi jatuh.

"Kenapa bantalnya disembunyikan?" tanya Reynard.

"Aku nggak tahu. Buka pintunya!"

Vincent masuk sambil membawa tas basket. Ia memandang keduanya yang berdiri terlalu tegak di tengah ruang tamu.

"Kalian sedang apa?"

"Belajar," jawab Keira.

"Membersihkan," jawab Reynard bersamaan.

Vincent menatap meja yang penuh kertas, lalu tisu di tangan kakaknya. "Belajar sambil membersihkan?"

"Cici menumpahkan minuman," kata Reynard cepat.

"Mana minumannya?"

Keira menunjuk cangkir kosong. Vincent mengangkat bahu, rupanya kehilangan minat.

"Pelindung lututku di mana, Ko? Pelatih memajukan latihan."

Reynard mengambilnya dari lemari. Selama ia mencari, Vincent menjatuhkan diri ke sofa, tepat di atas ponsel Keira yang masih menampilkan percakapan WA mereka.

Keira cepat meraih ponsel itu dari bawah pahanya.

"Sakit, Ci!"

"Ponselku bisa rusak."

"Aneh banget."

Vincent pergi lima menit kemudian tanpa mencurigai apa pun. Begitu pintu tertutup, Keira dan Reynard saling menatap, mengembuskan napas bersamaan, lalu tertawa sampai harus berpegangan pada meja.

"Lain kali kunci pintu," kata Reynard.

"Semua gara-gara kamu. Siapa suruh tidur di pangkuanku di ruang tamu?"

"Katanya di rumah boleh."

"Boleh bukan berarti harus terang-terangan."

"Di depan siapa? Kita cuma berdua."

"Sebelum adikku masuk tanpa peringatan."

Reynard mendekat dan melingkarkan lengan lagi. "Sekarang dia sudah pergi."

"Kunci dulu pintunya."

Malam itu, setelah NATIYA Coffee tutup, mereka berjalan di gang kecil belakang kedai. Jalanan sepi dan lampu toko sudah padam. Di tempat tanpa teman kampus atau keluarga, Reynard meraih tangan Keira secara terbuka.

Mereka sengaja menunggu sampai pegawai terakhir mengunci pintu depan. Sebelumnya, keduanya duduk di sudut berbeda seperti pelanggan biasa. Reynard mengerjakan kode di laptop, Keira memeriksa terjemahan, dan mereka hanya berkomunikasi lewat pesan meski jaraknya tidak sampai lima meter.

Keira: Jangan lihat aku terus.

Reynard: Aku sedang melihat papan menu.

Keira: Papan menunya di belakangmu.

Reynard membalik kepala, pura-pura baru sadar. Pegawai kasir yang melihatnya tertawa. Keira menunduk ke laptop, menggigit bibir agar tidak ikut tertawa.

Begitu lampu depan padam, Reynard langsung mengemas barang dan mendatanginya.

"Susah sekali punya pacar yang duduk dekat tapi nggak boleh disapa," keluhnya.

"Kita tadi bicara lewat WA."

"Itu bukan bicara. Itu penyiksaan digital."

Keira mengulurkan tangan lebih dulu. "Kalau begitu, kita jalan sekarang."

Keluhan Reynard lenyap seketika.

Keira tidak menolak. Ia malah merapat dan mengaitkan lengan pada siku Reynard.

"Berani sekali," goda laki-laki itu.

"Nggak ada yang kenal kita di sini."

"Tetap saja. Biasanya aku yang mulai."

Keira menyandarkan kepala sesaat ke bahunya. "Anggap saja latihan."

"Latihan apa?"

"Latihan untuk nanti. Ketika kita nggak perlu bersembunyi."

Langkah Reynard berhenti. Ia menatap Keira dengan kebahagiaan yang begitu terbuka sampai perempuan itu buru-buru menariknya berjalan lagi.

"Jangan menatap seperti itu."

"Aku sedang menyimpan momen."

"Lebay."

Sebuah mobil hitam keluar dari ujung gang. Sorot lampunya menyapu tubuh mereka yang masih bergandengan. Keira menyipitkan mata ketika kendaraan itu melambat sebentar.

Wajah pengemudinya tampak familier, seperti salah satu rekan kantor Vanessa yang pernah ia lihat dalam panggilan video.

"Kenapa?" tanya Reynard.

"Nggak tahu." Keira menoleh mengikuti mobil yang kemudian berbelok dan hilang. "Sepertinya aku pernah melihat orang itu."

Reynard menggenggam tangannya lebih erat, sementara rasa cemas kecil mulai tumbuh di dada Keira.

"Kalau benar orang kantor Vanessa?" bisiknya.

"Dia belum tentu mengenalmu."

"Kalau mengenal?"

Reynard menatap jalan kosong, lalu tersenyum menenangkan. "Kalau suatu hari ketahuan, aku nggak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian."

Keira mengangguk, tetapi matanya tetap tertuju pada tikungan tempat mobil itu menghilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!