NovelToon NovelToon
Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.

Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.

"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."

"Saya siap."

"Aku ingin kau menghamili istriku."

“….”

Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.

Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Hamil

Tatapan Jenara beralih ke meja. “Sejak malam itu, kau tetap berada di sisiku seolah tidak terjadi apa-apa. Kau bicara seperti biasa. Makan seperti biasa. Bahkan masih bisa tersenyum.”

Dhana mengepalkan tangan di bawah meja. Ia tahu malam yang dimaksud Jenara. Malam panas mereka yang terjadi bukan karena keinginan Jenara ataupun dirinya. Malam yang dipaksakan oleh keadaan dan oleh Reval.

“Aku tidak ingin membuatmu semakin tidak nyaman,” ujar Dhana pelan.

“Jadi kau memilih berpura-pura tidak terjadi apa-apa?”

“Bukan begitu.”

“Lalu apa?”

Dhana terdiam beberapa saat. Kemudian ia berkata, “Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana di hadapanmu.”

Jenara menatapnya. Kejujuran sederhana itu tampaknya jauh lebih mengejutkan daripada pembelaan apa pun. Seakan Jenara bisa melihat kebohongan maupun kejujuran dari tatapan mata yang Dhana tunjukan padanya.

Dhana menghela napas. “Aku mencoba memberimu ruang. Kukira itu yang kau inginkan. Dan selama tiga hari itu…”

“Kau mencari informasi tentang Reval di Mansion ini, bukan?” Perkataan Jenara sontak membuat Dhana seketika membeku.

Jenara mengamatinya dalam diam selama tiga hari ini. Ia tidak benar-benar mengabaikan keberadaan Dhana sepenuhnya. “Aku melihatmu memeriksa ruang kerjanya. Ruang bawah tanah. Beberapa ruangan yang jarang digunakan. Kau sedang mencoba mencari tahu tentang klannya.”

“Untuk apa?” tanyanya kemudian.

“Karena ada sesuatu yang terasa tidak beres dengan pria itu.”

Jenara menatapnya lama, seakan sedang menyelidiki Dhana secara tidak langsung. Meski sebenarnya ia tidak peduli dengan tujuan Dhana melakukan semua itu. Namun, ia tetap penasaran dan mencoba bertanya untuk sekadar ingin tahu saja. Bukan untuk melaporkan kepada Reval tentang apa yang Dhana lakukan.

Dhana melanjutkan, “Tapi jujur aku tidak menemukan apa-apa.”

“Tidak ada?”

“Tidak ada.”

Senyum tipis muncul di bibir Jenara. “Karena kau tidak akan pernah menemukannya di Mansion ini.”

“Kenapa?” Dhana bertanya akan alasannya.

“Karena aku tidak pernah ada sedikitpun di hatinya,” jawab Jenara. “Jika aku ada dihatinya mana mungkin ia akan memaksaku mengandung benih pria lain.”

Keheningan kembali turun di antara mereka. Tapi kali ini berbeda… tidak lagi terasa seperti dinding. Lebih seperti sesuatu yang perlahan mulai retak. Jenara perlahan mulai membuka dan mengungkap perasaan lukanya.

“A-aku tidak bermaksud untuk—”

“Aku tahu!” potong Jenara agar Dhan tidak membahasnya lebih lanjut.

Dhana menatap Jenara dengan serius. “Jadi, kalau kau mau mengabaikan ku karena marah, aku bisa menerimanya.” Ia berhenti sesaat. “Tapi jangan pernah mengira bahwa aku tidak peduli padamu.”

Mata Jenara perlahan terangkat ketika mendengar kata-kata itu. Ia sungguh tidak menyangka bahwa Dhana sedang berusaha menepati janjinya. Namun, disisi lain Jenara masih meragukan janji tersebut.

Dhana menahannya dengan tatapan yang tenang. “Aku peduli.”

Dua kata itu jatuh begitu saja. Namun bagi Jenara, entah mengapa, terasa jauh lebih berat daripada seharusnya. Karena selama tiga hari terakhir, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Dhana sama seperti pria-pria lain. Bahwa setelah apa yang terjadi, pria itu pasti akan menganggapnya sekadar tugas dari Reval.

Namun sekarang Dhana duduk di hadapannya, menatapnya seolah jawaban atas sikap diamnya benar-benar penting. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Jenara tidak tahu lagi bagaimana caranya mengabaikan pria itu. Namun, jika bisa jujur ia selalu merasa nyaman dan aman berada disisi pria itu. Namun, rupanya pembicaraan itu tidak terlalu berpengaruh untuk hubungan keduanya.

Minggu demi minggu berlalu. Dan seperti yang telah diperintahkan Reval, setiap minggu Dhana dan Jenara kembali ditempatkan dalam situasi yang sama di bawah pengawasan langsungnya. Dhana selalu datang dengan perasaan bersalah yang semakin berat. Jenara selalu menyambutnya dengan wajah yang semakin dingin.

Tidak ada kemesraan, tidak ada kehangatan. Hanya kewajiban yang harus dilewati agar Reval mendapatkan apa yang ia inginkan. Dhana bahkan semakin jarang berbicara kepada Jenara setelahnya. Ia takut satu kalimat yang salah justru akan menambah luka perempuan itu. Sementara Reval hanya memperhatikan semuanya dari kejauhan, memastikan rencananya berjalan sebagaimana mestinya.

...****************...

Hingga minggu kelima. Sesuatu yang tidak terduga terjadi, dimana Jenara tiba-tiba jatuh pingsan. Tubuhnya ambruk di lorong mansion sebelum sempat mencapai kamarnya. Dan kejadian itu dilihat langsung oleh Dhana yang selalu memperhatikan setiap pergerakan wanita itu, meski keduanya masih berada dalam perang dingin.

"Nyonya Jenara!"

Dhana menjadi orang pertama dan satu-satunya yang berlari menghampirinya. Namun, tidak disangka Reval ternyata juga kebetulan berada tidak jauh dari sana dan segera menyuruh salah satu pelayan memanggil dokter keluarga.

“Cepat panggilkan dokter sekarang!” perintah Reval pada pelayan. “Dhana, angkat dia ke kamarnya,” lanjutnya yang kini ditujukan kepada Dhana.

Beberapa menit kemudian, Jenara dibawa ke kamar. Dhana berdiri di luar pintu dengan wajah tegang. Ia bahkan tidak menyadari bahwa tangannya mengepal begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

Selama ini Jenara memang memilih mendiamkan dan mengabaikan keberadaannya. Akan tetapi, Dhana tahu kalau wanita itu selalu terlihat kuat dan baik-baik saja. Namun, ia tidak menyangka bahwa selama ini wanita itu hanya menyembunyikan kerapuhan dan lukanya dibalik sikap dinginnya.

"Apa yang terjadi?" Suara Reval terdengar dingin.

Dokter yang baru saja selesai memeriksa Jenara keluar dari kamar. "Selamat, Tuan."

Reval mengerutkan kening. "Maksudnya dia…?"

Dokter tersenyum. "Benar, Tuan! Nyonya Jenara sedang mengandung."

Kamar itu mendadak sunyi. Dhana membeku ditempat, sementara Reval tidak mengatakan apa-apa. Untuk beberapa detik, bahkan ekspresi wajahnya sulit dibaca. Antara puas dan tidak terima, dua ekspresi itu yang dapat Dhana simpulkan saat memperhatikan wajah Reval.

"Berapa usia kandungannya?"

"Kurang lebih empat minggu."

Empat minggu… kalimat itu seperti menggema di kepala Dhana. Dokter melanjutkan penjelasannya mengenai kondisi Jenara, tetapi Dhana nyaris tidak mendengarkan. Ia hanya menatap Jenara yang masih terbaring memejamkan matanya. Jenara mengandung yang artinya rencana Reval telah berhasil. Dan sejak saat itu, semuanya berubah.

“Dhana, ikut aku ke ruanganku sekarang!” perintah Reval.

“Baik, Tuan!” Dhana hanya menurut, tetapi dalam hati dan pikirannya mulai menebak-nebak apa yang akan pria itu bicarakan dengannya.

Reval berjalan pergi lebih didulu, sedangkan Dhana senantiasa mengikutinya. Hingga tibalah mereka di ruang kerja yang tidak pernah Reval gunakan. Seperti yang Jenara pernah katakan bahwa Reval jarang sekali mengunjungi Mansion tersebut. Reval hanya datang saat waktunya Dhana dan Jenara tidur bersama, selain itu Reval sama sekali tidak datang untuk berkunjung. Itulah yang Dhana ketahui sejak bertugas berada disisi Jenara selama satu bulan ini.

“Tugasmu sudah selesai. Mulai besok kau akan berada disisiku,” ujar Reval begitu saja. “Aku akan menyuruh Dirga untuk mengirimkan jadwalku padamu.”

“Aku berhasil mendapatkan kepercayaannya? Lalu kenapa aku merasa tidak senang, justru sebaliknya,” batin Dhana.

Bersambung….

1
InaraAp 09
Lanjut Thor semakin seru ceritanya
InaraAp 09
bagus dhana
InaraAp 09
hati2 dhana, jangan sampai kebongkat
InaraAp 09
lanjut thor
InaraAp 09
jujur pengin nampol Elena dan anaknya
InaraAp 09
gak bisa bayangkan di posisi jenara
InaraAp 09
benar dhana harus tepati janjimu
InaraAp 09
Jadi dhana pasti serba bingung🤔
Sri Yatun
apa sudah tau ke 4 orang itu tentang penyamaran dhana
Fahmi Ardiansyah
iya mungkin jenara gak ada yang bisa di katakan LG.krn dhanagak mau bekerja sama dgn dirinya.
Fahmi Ardiansyah
semoga Reval gak berbuat curang sama dhana.
Fahmi Ardiansyah
setelah tau markasnya kmu harus menyusun rencana sebaik mungkin dhana.biar Reval hancur sampai akarnya.
InaraAp 09
besok up yang banyak kak
InaraAp 09
pantas saja
InaraAp 09
semakin penasaran
InaraAp 09
semakin seru....
InaraAp 09
🤔
InaraAp 09
berharap beneran padahal
InaraAp 09
semangat lanjut up... seruuu
InaraAp 09
up lagi dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!