Kehidupan Kinta seorang single parent yang memiliki dua orang anak. Setelah sekian lama ditinggal oleh suaminya dan menghidupi anak-anaknya seorang diri. Bertemu dengan Atta laki-laki petualang yang dicintainya dengan tulus namun ternyata dirinya hanya dipermainkan.
Bahkan tanpa berdosa lelaki itu mendekati sahabat dekat Kinta sendiri. Namun sakit hati terbalaskan karena ternyata Rani sudah memiliki seorang kekasih.
Dan Kinta pun dipertemukan dengan kawan lamanya yang menjodohkannya dengan Kakak laki-lakinya. Yang mencintainya dengan tulus.
Namun apalah daya Kinta begitu lama masih belum dapat melupakan Atta sepenuhnya.
Bahkan meskipun Kinta sudah menikah dengan Yusdi pun. Masih ada sisa-sisa perasaannya terhadap laki-laki petualang itu.
Dan akhirnya Atta muncul kembali di kehidupan Kinta dan ingin mendapatkan cintanya lagi.Bagaimana Kinta mempertahankan rumah tangganya bersama laki-laki yang selama ini telah mengobati lukanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delisa Sitari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 15 : Karma Atau Kebetulan
Sementara itu di tempat tadi Atta berada. Ia sudah masuk ke dalam mobilnya. Namun tetap tidak beranjak. Di hati dan pikirannya masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Tak pernah ia mengalami hal seperti ini soal wanita. Ia selalu mendapatkan wanita yang diinginkannya tanpa masalah yang ribet seperti ini.
Rupanya ia salah sasaran. Sebenarnya dia masih penasaran akan Rani. Tapi malas rasanya kalau kejadian tadi terulang lagi. Bukannya dia takut dengan lelaki itu. Namun menurutnya terlalu berharga dirinya untuk memperebutkan seorang wanita.
Kalau dia mau dia bisa mendapatkan wanita yang lebih segala-galanya dari Rani.
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah club untuk melampiaskan kekesalannya. Ya... Dengan sedikit minuman beralkohol mungkin bisa cukup melupakan sejenak masalahnya.
Di dalam club Atta meneguk beberapa gelas minuman. Di setengah kesadarannya tiba-tiba ia teringat Kinta. Menurutnya hanya Kinta yang paling mengerti dirinya. Wanita itu selalu baik, sangat baik bahkan padanya. Dia sendiri tak pernah berpikir kenapa seperti itu. Padahal dia memperlakukannya semaunya saja.
Apa mungkin Kinta juga seorang player seperti dia .... Tapi jika dilihat dari sikap dan kesehariaannya dia tidak seperti itu. " Apa sebenarnya dia tulus mencintaiku ?" batin Atta. " Kalau dia benar-benar mencintaiku... Kenapa dia tak tampak cemburu waktu aku mendekati Rani ? Sepandai itukah dia menyembunyikan perasaannya ? "
Membayangkan itu Atta bergegas menghubungi Kinta. " Malam Kin.... Sudah tidurkah ? " ketiknya di pesan whatsapp.
15 menit tak mendapat jawaban Atta pun menelepon Kinta. 3 kali menelpon baru panggilan itu diangkat.
" Hallo...." sahut Kinta dari seberang dengan suara paraunya yang terbangun karena suara ponselnya yang terus berdering.
" Hallo Kin... Sudah tidur ya ? " tanya Atta dengan suara lambat karena pengaruh minuman beralkohol.
" Emmm... Sudah... Ada apa ? Kenapa suara kamu seperti itu ? " Tanya Kinta merasa janggal dengan suara Atta.
" Tidak apa-apa Kin .... Kin... Aku butuh kamu. Kamu bisa ke sini ? " pinta Atta tanpa memperdulikan Kinta yang entah merasa terganggu atau tidak istirahatnya.
Sebenarnya Kinta merasa agak malas karena Atta selalu menginginkan kehadirannya di saat ada butuhnya saja. Tapi masih tetap seperti yang terdahulu... dia tidak bisa menolak lelaki itu. Dan ia ingin tahu ada apa dengannya.
" Emmm... Kamu di mana sekarang ?" Tanya Kinta.
" Di club XX. Kamu tahu tempatnya kan ? "
Kinta sangat terkejut. Ia pun tahu kalau Atta ternyata sedang mabuk dengan suaranya yang seperti itu. " Haduhhhh.... Aku tidak pernah ke tempat seperti itu Bang. Aku takut...." ujarnya.
" Tidak apa-apa. Kan ada aku. Kamu naik taxi online saja ya... Nanti aku ganti ongkosnya." ujar Atta meminta. " Plisss.... Kamu ke sini ya...."
" Hmmm.... Ya sudah... Kamu tunggu ya...." jawab Kinta terpaksa. Ia segera memesan taxi online. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tak apalah pikirnya pulang agak malam, besok jatahnya libur kerja. Dilihatnya Ibu dan anak-anaknya sudah tidur. Kesempatan untuk Kinta agar tak perlu minta ijin pada mereka keluar malam-malam. Dia pun berganti pakaian dan perlahan membuka serta menutup pintu agar tidak ada yang mendengarnya.
Tidak terlalu lama Kinta menunggu taxi online yang dia pesan datang. Dalam perjalanan pikirannya penuh tanda tanya ada apa sebenarnya dengan Atta. Di dalam hatinya pasti seperti sebelum-sebelumnya. Atta sedang menginginkannya, sedang berhasrat..... Tapi kalau hanya itu kenapa tidak memintanya datang ke kost....Tapi Kinta sudah tak mau melakukannya lagi. Dia merasa menjadi wanita yang tak punya harga diri... Merasa paling berdosa.Dan sekarang kenapa ia diminta untuk datang ke club itu ? Apa dia terlalu mabuk hingga tak sanggup pulang sendirian. Kalau seperti itu bagaimana ia akan mengantarnya pulang. Kinta tidak bisa menyetir mobil.
Sekitar 20 menit Kinta sampai di tempat itu. Setelah membayar ongkos, dengan ragu ia keluar dan berjalan perlahan ke depan pintu club. Menurut Kinta ini adalah tempat yang menakutkan. Tapi dia sudah kepalang basah ingin membantu pria yang masih dicintainya itu.
" Hai manis..... ayo masuk.... Apa perlu aku temani ? Sendirian saja .... " Sapa seorang pria muda yang berjalan akan masuk bersama teman-teman prianya yang lain.
Kinta begitu kaget dan takut dibuatnya. " Oh... Tidak... Maaf..." jawabnya gugup dan langsung berlari kecil masuk ke dalam meninggalkan gerombolan pria itu. Security yang berjaga di depan hanya tersenyum kecil melihat tingkahnya.
Di dalam club itu Kinta berusaha mencari-cari keberadaan Atta. Suasana yang gelap diterangi lampu-lampu yang berkedip-kedip membuatnya pusing.Apalagi suara musik yang sangat kencang membuat jantungnya berdetak tak sewajarnya. Banyak orang-orang menari mengikuti alunan musik dan tak sedikit dalam keadaan mabuk.
Di saat Kinta akan mengambil ponsel di dalam tasnya ingin menelepon Atta untuk bertanya keberadaannya, seseorang menyenggol tubuhnya
" Aduhhh...." Keluh Kinta sedikit terkejut. Untung ponselnya tidak terjatuh.
" Oh.... Maaf... Eh... Mbak yang tadi ya.... Masih sendirian ? " Ternyata yang menyenggolnya adalah pria yang menggodanya tadi. Kinta semakin takut karena pria itu menatapnya semakin tajam.
" Oh tidak apa-apa. " jawab Kinta singkat dan segera berlalu berusaha menjauhinya.
" Eh... Tunggu... Mau ke mana..." Pria itu menahan tangan Kinta agar tidak meninggalkannya.
Kinta menarik tangannya dari pria itu. Dia semakin takut. Apa yang dilakukan laki-laki ini... Pikirnya. " Lepaskan ! " Teriaknya.
Di saat pria itu hendak menahannya lagi, Kinta merasakan ada seseorang yang melingkarkan tangannya di pinggangnya. Seketika dia menoleh. " Atta ? " ucapnya melihat siapa orang yang berani melakukan itu.
" Maaf Mas.... Ini pacar saya..." ujar Atta tegas dan menatap pria itu dengan wajah sedikit sayu. Mungkin pengaruh minumannya.
" Oh ... Iya... Maaf Mas... Saya tidak tahu. Karena saya lihat dia dari tadi sendirian. " Jawab pria itu dengan mengatupkan kedua tangannya.
Atta mengacungkan jempolnya dan mengajak Kinta pergi dari tempat itu menuju ke meja yang sedari tadi ditempatinya. Kinta hanya menurut dan duduk bersebelahan dengan Atta. Dia juga tidak merasa bangga ataupun senang dengan ucapan Atta tadi yang mengatakan ia adalah pacarnya. Karena dia tahu Atta melakukannya untuk menjauhkannya dari pria tadi.
Atta memutar kursinya menghadap ke arah Kinta. Kebetulan mereka duduk tepat di depan meja bar. Ia menatap wanita itu dengan seksama. Perasaannya larut.... Wanita ini adalah wanita yang paling baik terhadapnya setelah Ibu dan Neneknya. Bagaimanapun perlakuannya .... dia tak pernah marah, protes, ataupun mencaci makinya. Tidak terlalu cantik, tapi wajahnya begitu manis, lembut, dan tidak membosankan jika dipandang berlama-lama.
" Kin...." panggil Atta dengan suara lembut. Ia mengambil tangan Kinta dan menggenggamnya. Sementara Kinta masih terdiam menunggu apa yang akan dikatakan Atta. " Kin .... Tolong kamu jujur sama aku. Apa selama ini aku menyakitimu ? Membuatmu jadi wanita yang tak dihargai ? " Tanyanya memelas.
Kinta merasa terkejut dan heran mendengar pertanyaan Atta. Kenapa baru sekarang dia menanyakannya. Tidak berpikirkah dia dari dulu jika perbuatannya memang sangat menyakitinya. Tapi Kinta berusaha meyakinkan apa Atta menanyakan tentang hal yang selama ini dipikirkannya.
" Tentang apa itu Bang ? Menyakiti apa ?" Kinta berpura-pura tidak tahu.
" Masa kamu tidak tahu yang aku bicarakan ..... Ya tentang hubungan kita Kin .... Apa kamu merasa tersakiti dengan keputusanku waktu itu ? Tolong Kin.... Bilang sama aku... Jujur sama aku...." pinta Atta.
Melihat wajah Atta yang memelas dan memohon, Kinta merasa kasihan. Tapi ia tetap tidak akan menunjukkan kalau dia lemah.... Menurutnya Atta tidak perlu tau tentang perasaanya,
" Hmmm.... Kenapa Abang baru bertanya sekarang ? Apa masih perlu jawaban tentang itu ? " Tanya Kinta sok tidak mau tahu.
" Aku merasa bersalah Kin.... Aku tahu perbuatanku tidak mengenakkan. Tapi waktu itu kamu menerimanya. Kamu tidak keberatan tentang hubungan kita. Tapi Kin... Apa di dalam lubuk hatimu yang paling dalam tidak ada sedikitpun rasa cinta terhadapku ?" Tanya Atta panjang lebar.
DEGG
Jantung Kinta berdetak kencang.... Ia ingin mengatakan bahwa dia memang mencintainya. Tanpa pamrih, tanpa alasan, dan tanpa syarat. Tapi perbuatan pria di hadapannya ini sungguh menyakitkan. Dan dinilainya pria ini adalah pria petualang, yang tak pantas mendapatkan cintanya yang begitu tulus. Jadi biarlah hubungan mereka tetap seperti ini.
" Jujur Bang .... Aku kesal dengan perlakuanmu. Kita sudah pernah melakukan hubungan terlarang itu. Bahkan kamu sudah menyatakan cinta. Tapi... Sudahlah.... Kamu lebih memilih yang lebih dari aku. Dan aku sadar diri akan kekuranganku. Aku tidak bisa berbuat banyak. Biar saja seperti ini. " Jawab Kinta masih menutupi perasaannya.
Atta melepaskan genggaman tangannya. Dia menunduk lesu. Dan dia berkata.... " Apa kamu tahu sebenarnya Rani sudah punya pacar ? "
Kinta lebih terkejut mendengar pertanyaan Atta. Dari mana dia tahu. Kapan dia mengetahuinya. Karena yang dia ingat bukankah tadi dia mengantarkan Rani pulang. Apa Rani sudah mengatakannya pada Atta....
Kinta tak tahu harus bagaimana. Ah sebaiknya pura-pura tidak tahu. " Aku tidak tahu Bang. Dia tidak pernah cerita soal itu. " jawabnya berdalih.
" Kamu jangan bohong Kin. Kamu sahabatnya. Tidak mungkin kamu tidak tahu." Bantah Atta. Karena masuk akal apa yang dikatakannya. Tidak mungkin seorang sahabat tidak mengetahui soal sahabatnya dalam masalah percintaan. Bukankah mereka seharusnya saling bercerita. Sedangkan Kinta memang baru-baru ini mengetahuinya. Tanpa tahu apa maksud sahabatnya itu menyembunyikan hal itu selama ini darinya.
" Benar Bang ... Aku tidak tahu. Abang sendiri tahu dari mana ? Kenapa bertanya seperti itu ? " Tanya Kinta penasaran.
Atta nampak menghela nafas panjang. " Eh kamu mau minum apa ? Maaf lupa aku. " Tanya Atta baru menyadari kalau Kinta tidak meneguk setetes pun minuman. Bukankah dia akan haus menemaninya ngobrol semalaman.
" Ah tidak Bang. Aku tidak suka minum itu. " Jawab Kinta dengan lugunya sambil menunjuk gelas berisi minuman beralkohol yang ada di hadapan Atta.
" Tidak usah minum ini Kin. Di sini juga tersedia softdrink. " Jawab Atta sedikit tersenyum.
" Apa ada air mineral ? " Tanya Kinta polos.
" Oh ... Ada... Ada... " Jawab Atta. " Mas ... Air mineral satu ya ..." ujarnya pada seorang waiter yang berjaga di dekat meja bar. Waiter itu pun mengangguk mengiyakan. Berlalu sebentar dan dengan cepat kembali membawa sebotol air mineral kemudian menyerahkannya pada Kinta.
" Terima kasih ... " ucap Kinta pada waiter tersebut yang menjawab ucapan Kinta dengan senyum dan anggukan serta sedikit membungkukkan badannya.
Sepanjang malam Kinta dan Atta saling mengobrol dan Atta selalu menanyakan status Rani. Meskipun Atta sudah mengetahuinya tapi tetap saja Kinta tak mau mengakuinya bahwa dia juga sudah tahu. Sementara Atta juga tidak menceritakan apa yang baru saja terjadi padanya dan Rani.
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Kinta mengajak Atta untuk pulang. Dia takut Ibu dan anak-anaknya terbangun dan tidak mendapati dia di kamarnya. Untung saja Atta tidak terlalu mabuk. Ia masih bisa menyetir dan mengantarkan Kinta pulang.
mampir juga ya ke CSku
Like ku udah melayang tuh
Ditunggu feedback nya ya 😁
salam "ANGKASA: Salam penghuni bumi"
baca juga cerita ku Choice Of Love ❤
sebenarnya sy berharap kinta menemukan jodoh lain selain yusdi yg menurutku tdk tegas dan sering salah langkah..tp bukan berarti kembali dg atta
-AKU BUKAN LESBIAN.