NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Suami Cadangan

Terpikat Pesona Suami Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Mobil mewah David memasuki gerbang utama kediamannya dan berhenti dengan mulus di pelataran depan.

Pria itu langsung turun dengan langkah cepat, tidak sabar ingin segera menemui sang istri.

Begitu ia melangkah masuk ke ruang tamu utama, tatapan matanya langsung menangkap kejanggalan.

David mengerutkan kening. Vas porselen antik kesayangannya yang biasa bertengger di atas meja konsol lenyap—hanya menyisakan beberapa serpihan kecil pecahan keramik di lantai marmer.

Napas David mulai memburu, rahangnya mengeras karena amarah yang bersiap meledak.

Namun, tepat sebelum ia meluapkan emosinya dan memanggil para pelayan, matanya tak sengaja menangkap sosok Mili yang meringkuk pulas di atas sofa ruang keluarga.

Televisi di hadapannya masih menyala dengan suara kecil.

Karena posisi tidurnya yang meringkuk lelah usai belajar seharian, ujung gaun tidur Mili sedikit tersingkap, memperlihatkan betisnya yang mulus.

Melihat para pengawal dan Jonas yang mengekor di belakangnya nyaris ikut masuk, David dengan cepat mengangkat tangannya dan berbalik badan.

"Tutup mata kalian..." bisik David tajam namun penuh penekanan kepada para pengawalnya.

Tanpa membuang waktu, David segera melepas jas hitamnya dan membentangkannya untuk menutupi kaki Mili yang tersingkap.

Setelah itu, dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh kelembutan, pria bertubuh tegap itu membopong tubuh istrinya yang tertidur pulas dalam gendongannya.

Mili bahkan tidak bergeming, terlalu lelah setelah melewati hari yang panjang dan penuh pelajaran.

David membawa Mili menaiki tangga menuju kamar utama, lalu membaringkan tubuh istrinya secara perlahan di atas tempat tidur yang empuk.

Namun, saat David hendak menarik kembali tangannya dan beranjak menyelimuti Mili, jemari mungil Mili mendadak bergerak.

Secara refleks, tangan itu mencengkeram erat lengan jas David, menariknya mendekat, dan memeluknya erat-erat dalam tidurnya seolah tidak ingin ditinggal pergi.

David terpaku di tepi ranjang. Ia menatap wajah damai Mili yang tertidur pulas di dadanya, sementara debaran halus menghantam relung hatinya yang paling dalam.

"Mili, jangan seperti ini..." gumam David pelan dengan suara serak, sebelah tangannya mengusap lembut rambut istrinya untuk melepaskan pelukan itu dengan hati-hati.

"Monsterku... bisa bangun nanti kalau kamu terus menempel seperti ini."

David berhasil melepaskan cengkeraman tangan Mili dengan sangat perlahan tanpa membangunkan istrinya.

Bukannya kembali ke ruang kerja atau membersihkan diri, pria itu justru memilih duduk di tepi ranjang, menopang dagunya sambil mengamati raut wajah Mili yang lelap.

Dalam tidurnya yang damai, wajah wanita itu terlihat begitu polos—jauh dari kesan rapuh yang selama ini menghantuinya.

Langit di luar jendela perlahan berganti jingga keunguan menandakan malam mulai menjelang.

Bulu mata Mili bergerak pelan sebelum akhirnya matanya terbuka sempurna.

Mili mengucek matanya yang masih lengket, lalu tersentak kaget hingga duduk tegak saat mendapati sosok David sudah duduk di sampingnya, menatapnya dengan lekat.

"David? Kamu... kamu sudah pulang? Ini masih sore, kan?" tanya Mili gagap, suaranya agak serak khas orang baru bangun tidur.

"Aku merindukanmu, jadi aku pulang lebih awal," jawab David tenang tanpa beban.

Mili merona merah, namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah cemas saat ingatan tentang kejadian tadi siang berputar kembali di kepalanya.

Ia menelan salivanya, memegang jemari suaminya dengan tatapan bersalah.

"David... aku harus cerita. Tadi siang Gea datang ke sini," aku Mili jujur.

"Dia... dia mengejekku, mengira aku jadi pelayan karena melihat para guru privat menyambutku. Tapi aku ingat pesanmu, jadi aku tidak diam saja."

David menaikkan satu alisnya, tertarik. "Lalu? Apa yang kamu katakan padanya?"

"Aku... aku membalas sindirannya. Aku bilang, 'Apa malam pertamamu tidak bahagia, Gea, sampai kamu melarikan diri ke rumah kakakmu?'" bisik Mili pelan, pipinya makin memerah membayangkan keberaniannya sendiri.

"Dia marah sekali, David. Dan waktu aku minta dia pergi, dia sengaja menyenggol dan memecahkan vas porselen hitam milikmu di ruang tamu..."

Mili menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung gaunnya.

"Maafkan aku, David... vas kesayanganmu pecah karena kedatangannya."

Bukannya murka atau menunjukkan kilatan amarah seperti yang ditakutkan Mili, sudut bibir David justru terangkat lebar.

Sebuah senyuman puas yang teramat langka terukir di wajah tampannya.

"Malam pertama?" ulang David, terkekeh pelan dengan suara berat yang menawan.

Pria itu merengkuh dagu Mili, mengangkat wajah istrinya agar menatap langsung ke dalam matanya yang hangat.

"Dengarkan aku, Mili. Benda mati seperti vas porselen itu sama sekali tidak ada harganya dibandingkan dengan keberanian yang baru saja kamu tunjukkan," tegas David penuh rasa bangga.

"Aku tidak peduli walau dia memecahkan sepuluh vas lagi, asal kamu tidak membiarkan dirimu diinjak-injak olehnya."

David memajukan wajahnya, mengusap lembut pipi Mili dengan ibu jarinya.

"Istriku harus hebat dan berani. Dan hari ini, kamu membuktikan kalau kamu layak berdiri di sisiku."

David menatap mata Mili lekat-lekat, lalu dengan perlahan suara beratnya kembali terdengar di heningnya kamar tidur mereka.

"Lalu... apakah kamu sempat pergi ke kamar itu?" tanya David dengan nada penuh selidik yang tertahan.

"Kamar rahasia yang aku katakan ada hantunya?"

David menganggukkan kepalanya pelan, seolah menuntut kejujuran dari bibir mungil istrinya.

Mili dengan cepat menggelengkan kepalanya keras-keras.

Matanya membelalak polos, memancarkan rasa takut yang teramat jujur.

"Tidak, David! Aku sama sekali tidak berani mendekatinya!" sahut Mili cepat, jemari tangannya meremas kuat lengan kemeja David.

"Aku mendengarkan pesanmu tadi pagi. Lagipula... jangankan ke kamar hantu itu, tadi siang aku sudah cukup sibuk dan lelah belajar bersama para guru."

Mendengar jawaban jujur dan kepolosan Mili yang begitu patuh pada peringatannya, ketegangan di wajah David mengendur.

Tatapan matanya yang semula tajam berubah menjadi makin hangat, terselip rasa puas yang mendalam.

"Bagus," bisik David seraya mengusap lembut rambut Mili yang terurai.

"Anak pintar. Tetaplah seperti ini, Mili... cukup patuhi kataku, dan tidak akan ada hal buruk yang bisa menyentuhmu di rumah ini."

David beranjak dari tepi tempat tidur, memberikan ruang bagi istrinya untuk bergerak.

"Sekarang, segeralah mandi dan bersiaplah," perintahnya dengan nada yang lembut namun tegas.

*Aku akan mengajakmu ke mal untuk membeli segala keperluan yang kamu butuhkan di rumah ini. Apa pun yang kamu inginkan, ambil saja."

Mili terdiam sejenak, lalu teringat sesuatu.

Ia merogoh saku gaun tidurnya dan mengeluarkan black card yang tadi pagi diberikan oleh Andrew.

Ia menunjukkannya kepada David dengan tatapan polos.

"Lalu, bagaimana dengan kartu ini?"

David melirik kartu hitam yang berkilauan di tangan Mili dengan tatapan sinis yang sekilas melintas.

"Itu? Simpan saja kalau kamu butuh uang jajan atau ingin membeli sesuatu yang tidak mau kamu laporkan padaku," ucap David dengan nada santai, seolah kartu dengan limit tak terbatas itu hanyalah uang receh di matanya.

"Tapi untuk hari ini, biarkan aku yang memanjakanmu."

Mili menganggukkan kepalanya dengan antusias. Binar kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya, seolah beban berat yang selama ini menekan pundaknya perlahan terangkat.

Ia segera bangkit dari tempat tidur dengan gerakan yang jauh lebih gesit dari biasanya.

"Terima kasih, David! Aku akan siap dalam lima belas menit!" seru Mili girang sebelum bergegas masuk ke kamar mandi, meninggalkan David yang tersenyum tipis melihat semangat baru istrinya.

1
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
Yensi Juniarti
ayo mili tunjukan ke gea kalau km lebih dari segala galanya .... 🥰🥰🥰
Yensi Juniarti
bahagia menyertai mu Mili...🥰🥰
Yensi Juniarti
🥰🥰🥰🥰 semuanya milik Mili
Yensi Juniarti
lanjutkan 🙏🙏
Rian Moontero
lanjooott👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!