Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Bayang yang Belum Hilang
Malam semakin larut, namun lampu di ruang kerja Argan masih menyala terang. Di luar, angin malam berhembus kencang menggoyangkan pepohonan di halaman, seolah membawa kabar bahwa ketenangan yang baru saja mereka rasakan belumlah sepenuhnya aman dari gangguan. Argan duduk menatap layar komputer yang menampilkan data pergerakan saham perusahaan dalam beberapa hari terakhir. Garis grafik yang naik perlahan kembali melandai tak lama, seolah ada kekuatan yang sengaja menariknya ke bawah.
Aruna masuk membawa segelas susu hangat dan duduk di kursi seberang meja, tak berani menyela kecuali diminta. Namun lama-kelamaan, kerutan di dahi Argan yang makin dalam membuatnya tak bisa berdiam diri.
“Ada yang mengkhawatirkan, Argan?” tanyanya pelan.
Argan mengangguk pelan, tangannya menunjuk satu titik di layar. “Lihat ini. Saham kita turun tiba-tiba di jam-jam terakhir perdagangan. Padahal tak ada berita buruk yang dirilis secara resmi. Ini bukan kebetulan. Mereka masih berusaha meruntuhkan kepercayaan terhadap perusahaan ini—Dimas dan Aisyah belum berhenti.”
Jantung Aruna berdebar kencang. Bayang kakaknya yang dulu begitu dekat kini terasa seperti mimpi buruk yang terus mengejar. “Mereka masih punya akses ke sana?”
“Bukan akses,” Argan menggeleng pelan, suaranya terdengar berat namun tetap tenang. “Mereka menyebarkan berita bohong. Mengatakan bahwa aku tak lagi mampu memimpin, bahwa perusahaan akan bangkrut, dan bahwa pernikahan kita hanyalah kedok untuk menutupi kerugian besar. Jika mereka berhasil menanamkan keraguan di hati para investor, mereka bisa mengambil alih saham kita sedikit demi sedikit tanpa diketahui.”
Aruna menunduk, rasa bersalah kembali menyeruak di dadanya. “Saya... saya turut malu atas perbuatan mereka. Kalau saja saya bisa melakukan sesuatu untuk menghentikannya...”
Argan segera menggerakkan kursi rodanya mendekat, lalu meraih kedua tangan Aruna. “Hei, dengarkan aku. Ini bukan salahmu. Dan jangan pernah berpikir kau terikat pada kesalahan orang lain. Justru karena mereka berusaha menjatuhkan kita, kita harus berdiri lebih tegak dari sebelumnya.”
“Tapi apa yang bisa kita lakukan?” tanya Aruna dengan mata berkaca-kaca. “Mereka menyembunyikan diri di balik berita bohong, sementara kita harus membuktikan bahwa kita kuat.”
“Kita tidak hanya akan membuktikan,” jawab Argan tegas, sorot matanya kembali tajam dan penuh keyakinan. “Kita akan menghadapinya secara terbuka. Aku akan mengundang wartawan, berbicara langsung pada publik, dan memperlihatkan bahwa aku masih berdiri—meski di kursi roda—dan bahwa ada seseorang yang berdiri di sampingku, bukan lari saat aku dalam kesulitan.”
Keesokan harinya, rencana itu dilaksanakan. Berita konferensi pers diadakan di lobi utama gedung perusahaan, tempat yang terbuka dan bisa dilihat oleh siapa saja. Berita itu menyebar cepat, dan ratusan jurnalis datang memenuhi ruangan, membawa kamera, mikrofon, dan daftar pertanyaan yang sudah disiapkan.
Saat Argan didorong masuk ke tengah ruangan diikuti Aruna di sampingnya, suara keributan perlahan berubah menjadi keheningan. Banyak yang penasaran, banyak yang meragukan, namun semuanya ingin mendengar apa yang akan dikatakan pemimpin yang dianggap sudah tak berdaya ini.
“Selamat pagi semuanya,” suara Argan terdengar jelas dan tenang, tanpa sedikit pun gemetar. “Aku tahu banyak dari kalian yang mendengar kabar-kabar tentangku, tentang perusahaanku, dan tentang pernikahanku. Sebagian besar adalah kebohongan yang disebarkan oleh mereka yang ingin mengambil keuntungan di saat aku sedang berjuang pulih.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap, lalu melanjutkan sambil menatap lurus ke arah kamera:
“Aku memang belum bisa berjalan seperti dulu. Tapi kemampuanku berpikir, bertindak, dan menjaga kepercayaan kalian—tidak pernah lumpuh sedikit pun. Dan di sini, di sampingku, berdiri istriku. Dia datang bukan untuk menggantikan siapa pun, melainkan untuk melengkapi apa yang mungkin sulit kulakukan sendirian. Dia tidak lari saat aku butuh bantuan. Dia justru datang saat dunia seakan berpaling dariku.”
Aruna berdiri lebih tegak, menatap para jurnalis dengan senyum yang tenang namun penuh wibawa. Saat ada yang bertanya tentang Aisyah, Argan menjawab dengan jujur namun berkelas:
“Kami berharap siapa pun yang merasa pergi adalah pilihan terbaiknya, dapat hidup tenang. Tapi jangan pernah berpikir bahwa kepergiannya bisa meruntuhkan apa yang sudah kami bangun selama puluhan tahun. Kami tetap berdiri, dan kami akan terus melangkah.”
Konferensi pers itu berakhir dengan tepuk tangan yang hangat dari mereka yang hadir. Berita buruk yang semula menyebar luas mulai dibantah oleh keberanian Argan dan keteguhan Aruna. Namun saat mereka kembali ke ruangan pribadi, wajah Argan tak tampak lega sepenuhnya.
“Kita sudah memenangkan hati mereka hari ini,” ucapnya pelan. “Tapi bayang itu belum hilang. Selama Dimas dan Aisyah masih berusaha mencari celah, kita harus tetap waspada. Mereka bisa menyerang dari mana saja, kapan saja.”
Aruna berdiri di belakang kursi roda itu, meletakkan kedua tangannya lembut di bahu Argan. “Biarkan mereka datang. Selama kita saling menjaga, tak ada bayang yang bisa menutupi cahaya kita sepenuhnya.”
Argan menutup matanya sejenak, menikmati kehangatan sentuhan itu. Di tengah ancaman yang masih mengintai, di tengah ketakutan akan masa depan yang belum pasti, ia merasa aman. Karena kini ia tak lagi sendirian di dalam kegelapan itu. Ada seseorang yang siap menemaninya melewati setiap sudut yang gelap, sampai mereka benar-benar keluar menuju cahaya yang terang.
Lanjut ke Bab 10?